قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Katakanlah, "Ia diturunkan oleh Yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia pengampun lagi pengasih."
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِqul anzalahu lladzii ya'lamu s-sirra fii s-samaawaati wa-l-ardhikatakanlah, ia diturunkan oleh Yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi
- إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًاinnahu kaana ghafuuran rahiimansesungguhnya Dia pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (12 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- أَنْزَلَهُanzalahumenurunkannya
- الَّذِيlladziiyang
- يَعْلَمُya'lamumengetahui
- السِّرَّs-sirrarahasia
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- كَانَkaanaadalah
- غَفُورًاghafuuranpengampun
- رَحِيمًاrahiimanpengasih
Inti bacaan
Jawaban tegas: diturunkan oleh 'yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia pengampun lagi pengasih', otoritas sumber ditegaskan lewat cakupan pengetahuan yang menyeluruh, bukan sekadar klaim kosong.
Penjelasan pilihan kata
'Anzalahu' ('ia diturunkan', akar nzl): objek yang diturunkan (al-Furqan) tidak disisipkan ulang sebagai '(Al-Qur'an)', cukup dirujuk dengan kata ganti '-hu' sebagaimana teks Arab sendiri. 'Ghafuuran rahiiman' dipertahankan tanpa 'Maha', konsisten registri di seluruh teks ini.
Tafsiran
Ayat ini menjawab tuduhan-tuduhan di ayat sebelumnya dengan menunjuk sumber wahyu: bukan buatan manusia yang dibantu pihak lain, melainkan diturunkan oleh Yang mengetahui rahasia di langit dan bumi, otoritas sumber ditegaskan lewat cakupan pengetahuan-Nya.
Renungan dan Hikmah
- Jawaban terhadap tuduhan kebohongan dan dongeng-didiktekan di 25:4-5 bukan lewat pembelaan personal, melainkan lewat penunjukan otoritas sumber yang mengetahui rahasia langit dan bumi, argumen dibangun bertahap dari tuduhan menuju jawaban.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.