الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ ۚ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا
Kerajaan yang hak pada hari itu milik Ar-Rahman, dan itu adalah hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِal-mulku yawma'idzini l-haqqu li-r-rahmaanikerajaan yang hak pada hari itu milik Ar-Rahman
- وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًاwa-kaana yawman 'alaa l-kaafiriina 'asiirandan itu adalah hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir
Terjemahan per kata (9 kata)
- الْمُلْكُal-mulkukerajaan
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinipada hari itu
- الْحَقُّl-haqqukebenaran
- لِلرَّحْمَٰنِli-r-rahmaanibagi Ar-Rahman
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- يَوْمًاyawmansuatu hari
- عَلَى'alaaatas
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
- عَسِيرًا'asiiranyang sulit
Inti bacaan
Kejelasan otoritas final: 'Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Ar-Rahman' disertai peringatan: 'hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir', kepemilikan yang tidak terbagi menjadi jelas pada momen yang paling krusial.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut siapa pemilik kerajaan pada hari itu, dan pilihan namanya mengejutkan.
Kata “hak” disisipkan ke dalam sebutannya: bukan sekadar kerajaan, melainkan “kerajaan yang hak”. Penambahan itu berbicara ke belakang. Ia mengandaikan ada kerajaan-kerajaan lain yang selama ini berdiri, disebut kerajaan, dan diperlakukan sebagai kerajaan, tetapi bukan yang sebenarnya. Yang berubah pada hari itu bukan siapa yang berkuasa, melainkan apa yang selama ini disangka kekuasaan.
Nama yang dipakai adalah Ar-Rahman. Di dalam terjemahan ini nama itu tidak dialihbahasakan, melainkan dibiarkan sebagai nama, sama seperti pada seluruh kemunculannya yang lain (13:30, 17:110, 19:18, 20:5, 21:26). Yang perlu diperhatikan adalah letaknya. Di antara semua nama yang bisa dipilih untuk menyebut pemilik kerajaan pada hari yang paling menakutkan, yang dipilih justru nama yang menunjuk kasih.
Beratnya hari itu pun disebut dengan kata yang tak dipakai di tempat lain mana pun, “sangat sulit” (عَسِيرًا, 'asiiran). Kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Dan ia dibatasi: sulit “bagi orang-orang kafir”. Batasan itu penting. Hari yang sama tidak digambarkan sama beratnya bagi semua orang, sehingga yang menentukan bukan harinya, melainkan hubungan seseorang dengan Yang memiliki hari itu.
Susunan kata pembukanya tak terulang di mana pun. Rangkaian “yang hak pada hari itu milik Ar-Rahman” (الْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ, al-haqqu li-r-rahmaani) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Yang menarik pada susunannya, kata yang menyatakan kepemilikan diletakkan sesudah kata yang menyatakan keabsahan. Bukan kerajaan milik Ar-Rahman yang kebetulan hak, melainkan yang hak itulah yang milik-Nya. Kata yang dipakai untuk kerajaan itu sendiri (الْمُلْكُ, l-mulku) memakai kata sandang, sehingga yang disebut bukan sembarang kekuasaan melainkan kekuasaan yang sudah dikenal sebutannya.
Nama Ar-Rahman dalam bentuk yang dipakai di sini muncul dua puluh satu kali di dalam Al-Qur'an, tersebar di sebelas surah (2:163, 19:61, 19:75, 19:88, 19:96, 20:5, 20:90, 20:109, 21:26, 21:112, 25:59, 25:60, 36:15, 36:23, 36:52, 43:20, 55:1, 59:22, 67:19, 67:29, 78:38). Dua di antaranya berada di surah ini juga, dan di sana nama itu justru dipertanyakan orang. Jadi di dalam satu surah yang sama, nama itu sekali disebut sebagai pemilik kerajaan pada hari perhitungan, dan sekali disebut sebagai sesuatu yang tak dikenali orang yang diajak sujud kepadanya.
Batasan pada penutupnya perlu dibaca teliti. Yang disebut sulit bukan harinya, melainkan harinya bagi orang-orang yang kufur. Sebuah hari yang sama tidak diberikan satu sifat untuk semua orang. Sifatnya bergantung pada hubungan orang itu dengan Yang memiliki hari tersebut, dan susunan seperti ini menutup pembacaan bahwa yang menakutkan adalah peristiwanya.
Tafsiran
Ayat ini menyingkap sesuatu tentang kekuasaan dengan cara menyisipkan satu kata yang mudah terlewat. Kerajaan pada hari itu tidak sekadar disebut milik-Nya; yang disebut milik-Nya adalah kerajaan yang hak. Penambahan itu berbicara ke belakang, kepada seluruh kekuasaan yang pernah berdiri di dunia dan disebut kerajaan oleh penghuninya. Yang berubah pada hari itu bukan siapa yang memerintah, melainkan penilaian atas apa yang selama ini disangka pemerintahan.
Pilihan namanya justru yang paling menuntut perhatian. Untuk hari yang di tempat-tempat lain digambarkan dengan kata-kata yang menggetarkan, di sini yang disebut sebagai pemiliknya adalah Ar-Rahman. Sebuah pilihan yang berlawanan dengan harapan pembacanya, dan justru karena berlawanan, ia mengatakan sesuatu. Hari yang paling ditakuti berada di tangan yang paling menunjukkan kasih, dan kedua hal itu tidak disajikan sebagai pertentangan yang perlu didamaikan.
Batasan pada penutupnya menyempurnakan bacaan itu. Beratnya hari itu tidak dinyatakan berlaku umum, melainkan bagi orang-orang yang kufur. Sifat sebuah hari karena itu bukan sifat yang melekat pada harinya, melainkan pada hubungan orang dengan pemiliknya. Dua orang bisa berdiri pada hari yang sama dan mengalaminya sebagai dua hal yang sama sekali berbeda, dan yang menentukan bukan peristiwanya.
Kalau ketiga hal itu dibaca bersama-sama, ayat ini menegaskan kepemilikan kerajaan yang sesungguhnya pada hari itu tanpa sengketa: sebuah kejelasan otoritas yang muncul tepat pada momen paling menentukan, disertai peringatan tentang beratnya hari itu bagi mereka yang mengingkari. Yang ditawarkan bukan gambaran untuk ditakuti, melainkan pertanyaan tentang di sisi mana pembacanya sedang berdiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kerajaan yang hak pada hari itu milik Ar-Rahman. Kata hak ditambahkan. Kerajaan lain yang selama ini ada disebut bukan yang sebenarnya. Kata itu bekerja mundur. Ia tidak cuma menerangkan kerajaan pada hari itu, melainkan sekaligus menilai semua kerajaan yang pernah berdiri sebelumnya. Yang ditolak bukan keberadaannya, sebab kerajaan-kerajaan itu memang pernah ada dan memang pernah berkuasa atas orang banyak. Yang ditolak kedudukannya sebagai yang sebenarnya.
- Nama yang Dia pakai Ar-Rahman. Di hari yang paling menakutkan. Yang memegang kerajaan pada hari itu disebut dengan sifat kasih-Nya. Pembandingnya ada di 22:56. Rangkaian الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ dipakai dua kali di seluruh Al-Quran dan hari yang dibicarakan sama. Di sana penutupnya لِلَّهِ, di sini لِلرَّحْمَٰنِ. Satu hari, dua sebutan, dan yang dipilih untuk ayat ini sebutan yang paling lembut di antara keduanya.
- Allah menyebutnya hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir. Bagi mereka saja. Hari yang sama dirasakan berbeda oleh dua pihak. Beratnya dilekatkan pada pihaknya, bukan pada harinya. Susunan kalimat ini penting: hari itu tidak disebut sulit begitu saja, melainkan sulit atas mereka. Beratnya lahir dari perjumpaan antara hari itu dan orang yang tak pernah bersiap menghadapinya, bukan dari watak hari itu sendiri.
- Dari semua nama yang bisa dipakai untuk menyebut pemilik kerajaan pada hari yang paling menakutkan, Allah memilih Ar-Rahman. Kalau nama itu yang Dia pilih sendiri untuk hari itu, apa yang selama ini membentuk bayangan kita tentang hari tersebut, dan dari mana bayangan itu datang? Bayangan yang kita bawa biasanya diwarisi dari cerita orang, bukan dibaca dari ayatnya. Dan cerita orang hampir selalu memilih nama yang berbeda dari yang dipilih Allah di sini.
- Rangkaian الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ hanya dipakai dua kali di seluruh Al-Quran, di 22:56 dan di ayat ini. Keduanya berbicara soal hari yang sama, dan keduanya menyebut kerajaan hari itu berpulang kepada satu pihak. Bedanya cuma pada nama yang dipakai. Di 22:56 yang disebut nama Allah, lalu kalimat sesudahnya berbicara soal keputusan di antara manusia. Di sini yang disebut Ar-Rahman, lalu kalimat sesudahnya berbicara soal beratnya hari itu bagi yang mengingkari. Sebutan yang lebih lembut dipasangkan dengan kalimat yang lebih keras, dan susunan seperti itu tidak mungkin kebetulan.
- Hari yang sama disebut berat hanya bagi sebagian pihak, dan ayat ini tidak menyebut apa yang dirasakan pihak yang lain. Pembedanya bukan besar kejadiannya, sebab kejadiannya satu dan sama bagi semua orang. Pembedanya hubungan yang sudah terbangun jauh sebelum hari itu datang. Allah memakai nama kasih-Nya untuk menyebut siapa yang memegang segalanya pada hari itu. Bagi yang mengenal nama itu sejak lama, kalimatnya berbunyi seperti kabar kepulangan. Bagi yang tidak pernah mengenalnya, kalimat yang sama berbunyi seperti habisnya semua tempat berlindung.