وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Dan Rasul berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang terabaikan."

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَقَالَ الرَّسُولُwa-qaala r-rasuuludan Rasul berkata
  2. يَا رَبِّyaa rabbiwahai Tuhanku
  3. إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًاinna qawmii ttakhadzuu haadzaa l-qur'aana mahjuuransesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang terabaikan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَقَالَwa-qaaladan berkata
  2. الرَّسُولُr-rasuuluRasul
  3. يَاyaawahai
  4. رَبِّrabbiTuhan
  5. إِنَّinnasesungguhnya
  6. قَوْمِيqawmiikaumku
  7. اتَّخَذُواttakhadzuumereka mengambil
  8. هَٰذَاhaadzaaini
  9. الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
  10. مَهْجُورًاmahjuuranyang ditinggalkan

Inti bacaan

Keluhan Rasul yang jujur: 'kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang terabaikan', pengakuan langsung tentang kesedihan menyaksikan pesan penting diabaikan oleh mereka yang seharusnya menerimanya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini merekam sebuah pengaduan, dan yang mengadu adalah pembawa pesannya sendiri.

Yang diadukan bukan penolakan. Kata yang dipakai “terabaikan” (مَهْجُورًا, mahjuuran), dan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya sama dengan akar kata yang berarti meninggalkan atau berpindah menjauh. Jadi yang dikeluhkan adalah sesuatu yang ditinggalkan begitu saja, bukan sesuatu yang dilawan.

Perbedaan itu menentukan. Penolakan terang-terangan selalu meninggalkan jejak: ada bantahan yang bisa dijawab, ada keberatan yang bisa diperiksa. Pengabaian tidak meninggalkan apa-apa. Tidak ada yang perlu dijawab, sebab tidak ada yang dikatakan.

Yang disebut pun “kaumku”, bukan orang lain. Yang mengabaikan justru pihak yang paling dekat, yang paling mungkin membacanya, dan yang bahasanya sendiri dipakai kitab itu. Sebuah kitab bisa dimiliki, dihormati, bahkan dibanggakan, dan tetap termasuk dalam pengaduan ini.

Sapaan yang dipakai pun tak sering muncul. Bentuk “wahai Tuhanku” (يَا رَبِّ, yaa rabbi) hanya dua kali disebut di dalam Al-Qur'an (25:30, 43:88), dan perbandingannya menerangkan sesuatu. Di tempat yang satu lagi, kalimatnya berbunyi bahwa mereka ini kaum yang tidak beriman. Jadi dua kali sapaan itu dipakai, dan dua-duanya berupa pengaduan seorang utusan kepada Tuhannya tentang kaumnya sendiri. Tidak ada pemakaian lain.

Kata kerja yang dipakai untuk perbuatan mereka juga bukan kata pasif. Rangkaian “mereka menjadikan Al-Qur'an ini” (اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ, ittakhadzuu haadza l-qur'aana) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya menyatakan pengambilan keputusan, bukan kelalaian. Mereka tidak kebetulan lupa; mereka menempatkannya pada kedudukan itu. Pengabaian di sini karena itu bukan kealpaan melainkan pilihan, meski pilihan yang barangkali tak pernah diucapkan.

Yang menyusul di ayat berikutnya bukan hukuman bagi kaum itu, melainkan penghiburan bagi yang mengadu. Di 25:31 disebut bahwa bagi setiap nabi memang dijadikan musuh dari kalangan para pendosa, dan bahwa Tuhanmu cukup sebagai pemberi petunjuk dan penolong. Susunan itu mengubah kedudukan pengaduannya. Ia tidak dijawab dengan janji bahwa keadaannya akan berubah, melainkan dengan keterangan bahwa keadaan itu memang bagian dari pekerjaannya.

Ayat sesudahnya lagi merekam keberatan mereka yang berikutnya, yaitu mengapa kitab itu tidak diberikan sekaligus (25:32), dan jawabannya agar hati penerimanya diteguhkan. Tiga ayat berurutan karena itu menyusun satu gambaran yang utuh tentang keadaan pembawa pesan: kitabnya diabaikan, dirinya dimusuhi, dan cara penyampaiannya dipersoalkan. Ketiganya dijawab bukan dengan mengubah keadaannya, melainkan dengan menerangkan sebabnya.

Tafsiran

Ayat ini merekam sebuah keluhan yang jujur dan personal, bukan pengaduan tentang penolakan aktif semata, melainkan tentang pengabaian, sebuah bentuk penolakan yang lebih halus namun tak kalah menyakitkan bagi pembawa pesan. Yang perlu diperhatikan, keluhan itu tidak disensor. Ia dibiarkan berdiri di dalam kitab yang justru sedang dibicarakannya.

Perbedaan antara ditolak dan diabaikan itulah yang membuat ayat ini bekerja. Penolakan terang-terangan meninggalkan jejak yang bisa ditangani: ada bantahan yang bisa dijawab, ada keberatan yang bisa diperiksa, dan ada percakapan yang bisa diteruskan. Pengabaian tidak meninggalkan apa-apa. Tidak ada yang perlu dijawab sebab tidak ada yang dikatakan, dan tidak ada yang bisa diperbaiki sebab tidak ada yang rusak secara kasatmata.

Yang membuatnya lebih menusuk adalah siapa yang diadukan. Bukan orang asing, bukan musuh, melainkan kaumnya sendiri. Justru pihak yang paling dekat, yang bahasanya dipakai kitab itu dan yang paling mungkin membacanya. Sebuah kitab bisa dimiliki, dihormati, dijadikan hiasan, bahkan dibanggakan sebagai warisan, dan tetap masuk ke dalam pengaduan ini. Tidak ada satu pun dari perlakuan itu yang bertentangan dengan kata yang dipakai di sini.

Yang paling menentukan justru jawabannya di ayat berikutnya. Pengaduan itu tidak dijawab dengan janji bahwa keadaan akan berubah, dan tidak pula dengan hukuman bagi yang mengabaikan. Yang disebut, bagi setiap nabi memang dijadikan musuh dari kalangan para pendosa (25:31). Keluhan yang sah dijawab dengan keterangan bahwa hal itu bagian dari pekerjaannya, bukan tanda kegagalannya. Penghiburan semacam ini tidak meringankan bebannya, tetapi mengubah artinya.

Renungan dan Hikmah

  • Pengaduan ini bukan tentang penolakan terang-terangan, melainkan tentang diabaikan, sebuah peringatan bahwa membiarkan pesan penting tanpa perhatian adalah bentuk penolakan tersendiri, sekalipun tanpa penentangan terbuka. Pengabaian juga lebih sulit dibantah daripada penolakan. Orang yang menolak masih bisa diajak berbicara karena ia sudah mengambil sikap. Orang yang mengabaikan tidak mengambil sikap apa pun, sehingga tidak ada yang bisa dipegang untuk memulai pembicaraan dengannya.
  • Kata yang Allah rekam dari mulut Rasul-Nya adalah terabaikan, dan kata itu cuma sekali muncul di seluruh Al-Quran. Sekali saja. Untuk keadaan yang paling sering terjadi. Kata itu مَهْجُورًا, dan ia hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Tidak ada tempat kedua yang memakainya, sehingga tidak ada ayat lain yang bisa dipakai untuk melunakkan bunyinya.
  • Yang diadukan bukan orang jauh. Kaumku, kata Rasul itu. Yang paling dekat dan paling mungkin membacanya justru yang disebut meninggalkannya. Kalimat itu diucapkan sebagai pengaduan kepada Allah, bukan sebagai teguran kepada kaumnya. Bentuk pengaduan menaruhnya di luar jangkauan bantahan mereka. Mereka tidak sedang ditegur di depan wajahnya; mereka sedang dibicarakan di hadapan Yang tidak bisa dibantah keterangannya.
  • Yang diadukan kepada Allah bukan penolakan, melainkan pengabaian, dan yang mengabaikan disebut kaumnya sendiri. Sebuah kitab bisa dimiliki, dihormati, bahkan dibanggakan, dan tetap masuk dalam pengaduan ini. Ada di sebelah mana kita berdiri terhadap kitab yang ada di rumah kita? Jawabannya tidak bisa diukur dari perasaan hormat, sebab pengaduan ini justru dilontarkan atas kaum yang tidak pernah menghinanya. Hormat yang tidak disertai pembacaan justru bagian dari keluhan itu sendiri, bukan penawarnya.
  • Pengaduan ini direkam di dalam kitab yang sedang diadukan keadaannya. Susunan seperti itu punya akibat yang aneh: siapa pun yang membiarkan kitab ini teronggok juga sedang membiarkan kalimat yang mengeluhkan hal itu. Keluhannya tersimpan persis di tempat yang paling jarang dibuka. Allah tidak menaruhnya di kitab lain, tidak pula menyampaikannya lewat perantara. Dia menaruhnya di dalam, sehingga orang baru menemukannya ketika ia sudah berhenti melakukan apa yang diadukan. Yang membaca kalimat ini, dengan sendirinya, sudah tidak sepenuhnya termasuk di dalamnya.
  • Kata مَهْجُورًا dipakai sekali saja di seluruh Al-Quran, dan bahasa Arab memakai akar yang sama untuk hijrah, yaitu meninggalkan satu tempat menuju tempat lain. Dalam hijrah, yang ditinggalkan adalah negeri, dan yang dituju sesuatu yang lebih baik. Di sini yang ditinggalkan kitab Allah, dan tidak disebutkan apa pun yang dituju. Perpindahan tanpa tujuan itu yang membuat pengaduannya berat. Orangnya tidak pergi ke mana-mana; ia cuma menjauh.