أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi wakil atasnya?

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُa-ra'ayta mani ttakhadza ilaahahu hawaahusudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya
  2. أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًاa-fa-anta takuunu alayhi wakiilanapakah engkau akan menjadi wakil atasnya
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar r-a-y, a-kh-dz, a-l-h, h-w-y, k-w-n, w-k-l): ittakhadha ilaahahu hawaahu diterjemahkan 'menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya' (akar '-kh-dz + ilaah + akar h-w-y, syirik puncak: menyembah kehendak sendiri, sepasang 23:71 & 45:23); a-fa-anta takuunu alayhi wakiilan diterjemahkan 'apakah engkau menjadi wakil atasnya' (akar w-k-l, peran-disangkal: Nabi BUKAN wakiil atas manusia, cf. 6:66, 6:107, 10:108, 42:48). gloss '(Nabi Muhammad)' dibuang.

Aplikasi

Kritik mendalam tentang penyembahan hawa nafsu: 'orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya', bentuk penyembahan yang paling halus dan sering tidak disadari, mengikuti keinginan sendiri tanpa batas sebagai otoritas tertinggi. Konkretnya: mengenali kapan keinginan atau hawa nafsu pribadi sudah diperlakukan seolah otoritas tertinggi (dipatuhi tanpa pertanyaan) adalah bentuk penyembahan diri yang perlu diwaspadai, evaluasi jujur terhadap apa yang sebenarnya mengarahkan keputusan hidup.