الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا
Yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Ar-Rahman, maka tanyakanlah tentang Dia kepada yang waskita.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍalladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha wa-maa baynahumaa fii sittati ayyaaminyang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa
- ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِtsumma stawaa 'alaa l-'arsyikemudian Dia bersemayam di atas Arasy
- الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahman
- فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًاfa-s'al bihi khabiiranmaka tanyakanlah tentang Dia kepada yang waskita
Terjemahan per kata (17 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- وَمَاwa-maadan apa yang
- بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
- فِيfiidalam
- سِتَّةِsittatienam
- أَيَّامٍayyaaminhari
- ثُمَّtsummakemudian
- اسْتَوَىٰstawaaDia menuju
- عَلَى'alaaatas
- الْعَرْشِl-'arsyiArasy
- الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahman
- فَاسْأَلْfa-s'almaka tanyakanlah
- بِهِbihitentang-Nya
- خَبِيرًاkhabiiranwaskita
Inti bacaan
Skala penciptaan yang menakjubkan 'dalam enam masa' dipasangkan dengan instruksi: 'Tanyakanlah tentang Dia kepada yang waskita', mengundang pencarian pengetahuan lebih dalam dari sumber yang benar-benar memahami secara menyeluruh.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut skala penciptaan yang paling luas, lalu menutupnya dengan satu nama dan satu perintah pendek.
Rangkaian “enam masa” lalu bersemayam di atas Arasy bukan milik ayat ini saja. Ia berulang di beberapa tempat lain (7:54, 10:3, 32:4, 57:4, dan dengan susunan sedikit berbeda di 13:2). Yang membedakan ayat ini adalah apa yang diletakkan sesudahnya.
Sesudah gambaran sebesar itu, yang disebut adalah nama Ar-Rahman. Bukan nama yang menunjuk kekuasaan atau keperkasaan, padahal kalimat sebelumnya persis tentang itu. Penempatan ini bukan kebetulan, sebab ayat berikutnya justru merekam orang yang balik bertanya apa itu Ar-Rahman. Namanya diperkenalkan lebih dahulu, baru penolakannya ditampilkan.
Perintah penutupnya tak biasa, “maka tanyakanlah tentang Dia kepada yang waskita” (فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا, fa-s'al bihi khabiiran). Pendengarnya disuruh bertanya, tetapi pihak yang ditanya tidak disebut namanya. Yang disebut hanya sifatnya, yaitu yang mengetahui perkara sampai ke seluk-beluknya. Bentuk perintah semacam ini tidak menutup pemeriksaan, melainkan justru mengarahkannya.
Perintah penutupnya tak terulang di mana pun. Rangkaian “maka tanyakanlah tentang Dia kepada yang waskita” (فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا, fa-s'al bihi khabiiran) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuknya ganjil untuk sebuah perintah: pihak yang harus ditanya tidak disebut namanya, dan tidak pula ditunjuk. Yang disebut hanya sifat yang harus dipenuhinya, yaitu mengetahui perkara sampai ke seluk-beluknya.
Cara menyebut seperti itu memindahkan pekerjaan kepada pembacanya. Ia tidak diberi daftar orang yang boleh ditanya; ia diberi ukuran untuk menilai siapa yang layak ditanya. Perbedaan antara keduanya besar. Daftar bisa kedaluwarsa dan bisa disalahgunakan; ukuran tetap bisa dipakai di zaman mana pun, dan justru menuntut penilaian dari orang yang memakainya.
Nama Ar-Rahman diletakkan tepat di antara gambaran penciptaan dan perintah bertanya itu. Letaknya bukan kebetulan. Nama itu berdiri sendiri sebagai satu kata, tanpa kata kerja dan tanpa keterangan, seolah disodorkan untuk diperhatikan. Dan ayat berikutnya (25:60) merekam orang yang mendengar nama itu lalu bertanya apa gerangan Ar-Rahman. Dua ayat berurutan: yang satu memperkenalkan, yang satu merekam penolakannya. Susunan sedekat itu membuat penolakan di ayat berikutnya tidak bisa dibaca sebagai ketidaktahuan yang wajar, sebab keterangannya baru saja diberikan selengkap mungkin, mulai dari penciptaan langit dan bumi sampai kepada nama yang memilikinya.
Tafsiran
Ayat ini menyandingkan skala penciptaan yang menakjubkan dengan pengenalan nama Ar-Rahman: persiapan langsung bagi ayat berikutnya yang menunjukkan betapa nama ini justru asing bagi para penolak. Susunan tiga bagiannya, yaitu penciptaan, nama, lalu perintah bertanya, bergerak dari yang paling luas ke yang paling pribadi.
Bagian pertamanya memakai gambaran yang berulang di beberapa tempat lain, sehingga pembacanya berpijak pada sesuatu yang sudah dikenal. Bagian keduanya menyodorkan satu kata yang berdiri sendiri, tanpa kata kerja dan tanpa keterangan. Kalau gambaran sebesar itu ditutup dengan sebuah nama yang dibiarkan berdiri sendirian, namanya menjadi tempat berhentinya seluruh kalimat.
Yang paling tidak biasa justru bagian ketiganya. Sesudah menyebut penciptaan langit dan bumi, yang diperintahkan bukan mempercayai, bukan tunduk, dan bukan pula merenung. Yang diperintahkan bertanya. Perintah bertanya sesudah pernyataan sebesar itu menyiratkan bahwa yang dibicarakan bukan perkara yang tertutup bagi pemeriksaan, melainkan perkara yang ada orang yang mengetahuinya.
Cara menyebut pihak yang ditanya menambah satu lapis lagi. Ia tidak dinamai dan tidak ditunjuk; yang disebut hanya sifat yang harus dipenuhinya. Pembacanya tidak diberi daftar, melainkan diberi ukuran. Perbedaan itu penting bagi siapa pun yang hidup jauh dari zaman ayat ini diturunkan, sebab daftar akan kedaluwarsa sedangkan ukuran tidak. Yang diwariskan bukan nama-nama, melainkan cara menilai.
Renungan dan Hikmah
- Perintah فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا cuma sekali muncul, dan bentuknya tak biasa: pendengarnya disuruh bertanya, tetapi pihak yang ditanya tak disebut namanya; cuma disifati خَبِيرًا. Sifat itu terpakai dua belas kali di lima surah, dan pemakaian terdekatnya persis di ayat sebelumnya: 25:58 menyandangkannya kepada Allah sendiri, “cukuplah Dia yang waskita terhadap dosa hamba-hamba-Nya”. Dua ayat berdampingan memakai satu kata untuk dua kedudukan, sekali sebagai pihak yang mengetahui, sekali sebagai pihak yang hendaknya didatangi.
- Rangkaian سِتَّةِ أَيَّامٍ lalu اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ berulang di lima ayat lain (7:54, 10:3, 32:4, 57:4, dan 13:2 dengan susunan sedikit berbeda). Yang membedakan ayat ini justru nama yang menyusulnya: الرَّحْمَٰنُ. Di kelima ayat itu, sesudah singgasana disebut, yang menyusul selalu urusan mengendalikan; mengatur perkara, menundukkan matahari dan bulan. Di sini yang menyusul sebuah nama saja, dan nama itu tak berbicara soal kendali.
- Sesudah menyebut penciptaan langit dan bumi serta Arasy, nama yang Allah pakai justru Ar-Rahman. Bukan nama yang menunjuk kekuatan. Padahal kalimat sebelumnya persis tentang itu. Nama itu berdiri sendiri di tengah kalimat, tanpa kata penghubung yang mengikatnya ke bagian sebelumnya. Susunan seperti itu membuatnya terbaca seperti jawaban atas pertanyaan yang belum diucapkan, yaitu siapa sebenarnya yang baru saja diceritakan pekerjaannya. Jawabannya bukan gelar kekuasaan, melainkan nama kasih.
- Sesudah menyebut penciptaan langit dan bumi, Allah tidak menyuruh percaya, melainkan menyuruh bertanya kepada yang mengetahui perkara sampai ke seluk-beluknya. Kepada siapa kita biasanya bertanya ketika ragu, dan apakah mereka memang memenuhi sifat yang disebutkan di sini? Perintah bertanya juga menaruh pembacanya sebagai pihak yang masih boleh belum tahu. Tidak ada celaan atas ketidaktahuan di sini. Yang dicela hanya berhenti pada ketidaktahuan itu tanpa melangkah ke mana pun sesudahnya.
- Rangkaian سِتَّةِ أَيَّامٍ muncul tujuh kali dalam tujuh surah, di 7:54, 10:3, 11:7, 25:59, 32:4, 50:38, dan 57:4. Tidak satu pun dari ketujuhnya menerangkan apa yang dimaksud dengan satu masa di sana, dan tidak ada ayat lain yang menjelaskannya. Diulang tujuh kali dengan bunyi yang sama, tanpa sekali pun ditambah keterangan. Pengulangan sebanyak itu menutup dugaan bahwa keterangannya kebetulan terlewat. Allah menyebutnya berulang kali dan tetap tidak menguraikannya, dan diamnya yang berulang itu sendiri sebuah keterangan.
- Perintah فَاسْأَلْ di ayat ini menyuruh bertanya kepada pihak yang tidak disebut namanya, hanya disifati. Di 21:7 ada perintah serupa, فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ, dan di sana yang ditanya justru disebutkan siapa. Dua perintah yang sama bentuknya menghasilkan dua sikap yang berbeda pada pembacanya. Yang satu menyuruhnya mencari orang tertentu; yang satu lagi menyuruhnya mencari sifat tertentu, dan mencari sifat jauh lebih sulit karena tidak ada daftar yang bisa disalin. Keduanya perintah dari Allah, dan keduanya menuntut pembacanya bergerak lebih dahulu.