وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Sujudlah kalian kepada Ar-Rahman," mereka berkata, "Dan apakah Ar-Rahman itu? Apakah kami akan sujud kepada apa yang engkau perintahkan kepada kami?" Dan hal itu menambah mereka menjauh.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِwa-idzaa qiila lahumu sjuduu li-r-rahmaanidan apabila dikatakan kepada mereka, sujudlah kalian kepada Ar-Rahman
- قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُqaaluu wa-maa r-rahmaanumereka berkata, dan apakah Ar-Rahman itu
- أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَاa-nasjudu li-maa ta'murunaaapakah kami akan sujud kepada apa yang engkau perintahkan kepada kami
- وَزَادَهُمْ نُفُورًاwa-zaadahum nufuurandan hal itu menambah mereka menjauh
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- قِيلَqiiladikatakan
- لَهُمُlahumubagi mereka
- اسْجُدُواsjuduusujudlah kalian
- لِلرَّحْمَٰنِli-r-rahmaanibagi Ar-Rahman
- قَالُواqaaluumereka berkata
- وَمَاwa-maadan apa yang
- الرَّحْمَٰنُr-rahmaanuAr-Rahman
- أَنَسْجُدُa-nasjuduapakah kami bersujud
- لِمَاli-maabagi apa yang
- تَأْمُرُنَاta'murunaaengkau menyuruh kami
- وَزَادَهُمْwa-zaadahumdan menambah mereka
- نُفُورًاnufuurankebencian
Inti bacaan
Penolakan yang mengherankan: 'Apakah Ar-Rahman itu? Apakah kami bersujud kepada yang engkau perintahkan?', reaksi defensif terhadap nama yang tidak dikenal justru 'menambah mereka makin lari' alih-alih mendorong rasa ingin tahu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini merekam sebuah pertanyaan, dan pertanyaan itu sendiri yang menjadi buktinya.
Jawaban mereka berbunyi “dan apakah Ar-Rahman itu” (وَمَا الرَّحْمَٰنُ, wa-maa r-rahmaanu). Rangkaian kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kebingungan semacam itu hanya masuk akal kalau yang mereka dengar terdengar sebagai nama yang belum mereka kenal. Seandainya ia sekadar kata sifat yang lazim, pertanyaan itu tak punya alasan untuk diajukan. Justru penolakan merekalah yang menunjukkan bahwa Ar-Rahman berfungsi sebagai nama, dan itu sebabnya di dalam terjemahan ini ia tidak dialihbahasakan.
Kalimat kedua mereka menyingkap yang sebenarnya: “apakah kami akan sujud kepada apa yang engkau perintahkan kepada kami”. Keberatannya berpindah dari nama kepada orang yang menyampaikannya. Yang ditolak ternyata bukan sesuatu yang tak dikenal, melainkan kedudukan orang yang menyuruh.
Akibatnya disebut dengan kata “menjauh” (نُفُورًا, nufuuran), yang muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (17:41, 17:46, 25:60, 35:42). Di keempat tempat itu polanya sama: peringatan diberikan, dan yang bertambah bukan kedekatan melainkan jarak. Ajakan yang sama bisa mendekatkan seseorang dan menjauhkan yang lain, dan yang menentukan bukan ajakannya.
Perintah yang mereka tolak pun tak terulang bentuknya. Rangkaian “sujudlah kalian kepada Ar-Rahman” (اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ, usjuduu li-r-rahmaani) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Yang diperintahkan bukan mempercayai dan bukan mengakui, melainkan sujud, yaitu perbuatan badan yang paling menyatakan penyerahan. Penolakan terhadap perintah semacam itu karena itu juga bukan penolakan gagasan, melainkan penolakan untuk merendahkan diri.
Bentuk penolakannya berlapis. Kalimat pertama mereka mempertanyakan namanya, kalimat kedua mempertanyakan kewenangan orang yang memerintah. Urutan itu lazim pada penolakan yang sebenarnya bukan soal pengetahuan: pertanyaan tentang isi dipakai lebih dahulu, dan keberatan yang sesungguhnya, yaitu soal siapa yang berhak menyuruh, disebut belakangan.
Letaknya di dalam surah menutup satu rangkaian. Di ayat sebelumnya nama itu baru saja diperkenalkan sesudah gambaran penciptaan langit dan bumi (25:59). Jarak antara perkenalan dan penolakan cuma satu ayat. Susunan sedekat itu membuat penolakan mereka terbaca bukan sebagai ketidaktahuan yang wajar, melainkan sebagai jawaban atas sesuatu yang baru saja disodorkan dengan lengkap. Yang mereka tolak bukan kabar yang samar, melainkan keterangan yang baru selesai diberikan.
Tafsiran
Ayat ini menutup segmen dengan momen penolakan yang tajam: nama yang baru saja diperkenalkan di ayat sebelumnya justru dijawab dengan pertanyaan balik yang menunjukkan penolakan terhadap otoritas di baliknya, bukan sekadar ketidaktahuan. Jarak antara perkenalan dan penolakan itu cuma satu ayat, dan kedekatan itu bagian dari maksudnya.
Pertanyaan mereka, kalau dibaca apa adanya, justru menjadi bukti bagi hal yang sedang mereka tolak. Orang tidak bertanya apa gerangan sebuah kata sifat yang sudah dikenalnya. Kebingungan semacam itu hanya masuk akal kalau yang mereka dengar berfungsi sebagai nama. Penolakan mereka karena itu tidak melemahkan pernyataan ayat sebelumnya; ia justru memperkuatnya dari arah yang tidak mereka kehendaki.
Kalimat kedua mereka menyingkap apa yang sebenarnya diperkarakan. Yang disebut bukan lagi nama itu, melainkan orang yang memerintahkan. Perpindahan dari isi kepada pembawa adalah pola yang mudah dikenali pada penolakan yang bukan bersumber dari pengetahuan. Keberatan yang sesungguhnya biasanya baru muncul di kalimat kedua, sesudah kalimat pertama menyediakan alasan yang terdengar lebih pantas.
Penutupnya menyebut akibat yang berlawanan arah dengan maksud ajakan. Yang bertambah bukan kedekatan, melainkan jarak. Ini bukan satu-satunya tempat kata itu dipakai; ia muncul juga di 17:41, 17:46, dan 35:42, dan di keempat tempat polanya sama. Peringatan diberikan, lalu yang bertambah justru penjauhan. Susunan yang berulang seperti itu mengatakan sesuatu yang tidak nyaman: ajakan yang sama bisa mendekatkan seseorang dan menjauhkan yang lain, dan yang menentukan bukan mutu ajakannya.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan 'apakah kami akan sujud kepada apa yang engkau perintahkan kepada kami' menyingkap bahwa penolakan ini bukan tentang nama yang tidak dikenal, melainkan tentang keengganan tunduk pada otoritas yang diperintahkan, nama hanya menjadi dalih permukaan. Dalih itu bekerja karena terdengar masuk akal. Menanyakan sesuatu yang belum dikenal adalah sikap yang wajar, dan karena itu ia menjadi tempat sembunyi yang paling nyaman bagi keengganan yang sebenarnya.
- Allah merekam pertanyaan mereka apa itu Ar-Rahman. Pertanyaan itu sendiri buktinya. Orang tak bertanya begitu tentang kata sifat yang sudah dikenalnya. Nama itu sudah dipakai berkali-kali di sekitar mereka, termasuk di surah ini sendiri, sehingga pertanyaan mereka bukan pertanyaan orang yang belum pernah mendengar. Ia pertanyaan orang yang menolak mengakui apa yang sudah sampai kepadanya, dan bentuk kalimatnya sendiri yang membongkarnya.
- Allah menutup dengan menyebut hal itu menambah mereka menjauh. Bukan mendekat. Ajakan yang sama bisa berakibat dua arah, dan yang menentukan bukan ajakannya. Yang menentukan arahnya keadaan orang yang menerimanya. Ajakan yang sama bisa mendekatkan satu orang dan menjauhkan orang lain, dan Al-Quran menyebut kedua akibat itu tanpa mengubah ajakannya sedikit pun.
- Kalimat kedua mereka menyingkap bahwa yang ditolak bukan nama yang asing, melainkan kedudukan orang yang menyampaikannya. Berapa kali keberatan kita terhadap suatu kebenaran sebenarnya keberatan terhadap orang yang membawakannya? Keberatan pada pembawa pesan lebih mudah dipertahankan karena ia tidak menuntut kita memeriksa isinya sama sekali. Ia juga tidak pernah bisa dibantah dengan keterangan, sebab yang dipersoalkan memang bukan keterangannya. Keberatan semacam itu bertahan sampai orangnya sendiri memutuskan menurunkannya.
- Ayat ini memuat dua rangkaian yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ pada ajakannya dan وَمَا الرَّحْمَٰنُ pada jawabannya. Ajakan dan bantahan sama-sama tidak dipakai ulang di mana pun. Yang terekam di sini bukan perdebatan yang berlangsung terus-menerus, melainkan satu peristiwa yang dipotret sekali lalu disimpan. Allah menyimpan bantahan itu apa adanya, lengkap dengan bunyinya yang meremehkan, tanpa memperhalus dan tanpa memotong.
- Kata نُفُورًا muncul empat kali di tiga surah, di 17:41, 17:46, 25:60, dan 35:42; empat kemunculan tetapi tiga surah karena surah 17 memakainya dua kali. Tiga di antaranya berdiri di tempat yang sama dalam alur pembicaraan: sesudah ayat dibacakan, sesudah nama Allah disebut sendirian, dan sesudah ajakan bersujud kepada Ar-Rahman. Semakin dekat panggilannya, semakin keras larinya. Kata itu tidak pernah dipakai untuk menggambarkan orang yang menjauh karena diusir, selalu untuk orang yang menjauh karena didekati.