قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

Katakanlah, "Tuhanku tidak mengindahkan kalian kalau bukan karena seruan kalian; padahal sungguh kalian telah mendustakan, maka kelak akan menjadi kepastian yang melekat."

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْqul maa ya'ba'u bikum rabbii lawlaa du'aa'ukumkatakanlah, Tuhanku tidak mengindahkan kalian kalau bukan karena seruan kalian
  2. فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًاfa-qad kadzdzabtum fa-sawfa yakuunu lizaamanpadahal sungguh kalian telah mendustakan, maka kelak akan menjadi kepastian yang melekat

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. مَاmaatidaklah
  3. يَعْبَأُya'ba'umemperdulikan
  4. بِكُمْbikumkepada kalian
  5. رَبِّيrabbiiTuhanku
  6. لَوْلَاlawlaamengapa tidak
  7. دُعَاؤُكُمْdu'aa'ukumdoa kalian
  8. فَقَدْfa-qadmaka sungguh
  9. كَذَّبْتُمْkadzdzabtumkalian dustakan
  10. فَسَوْفَfa-sawfamaka kelak
  11. يَكُونُyakuunuadalah
  12. لِزَامًاlizaamanyang pasti

Inti bacaan

Penutup surah dengan pengingat penting: 'Tuhanku tidak mengindahkan kalian kalau bukan karena seruan kalian', nilai dan makna keberadaan seseorang di hadapan-Nya terkait erat dengan kualitas doa dan hubungan yang dibangun, bukan sekadar eksistensi pasif.

Penjelasan pilihan kata

'Du'aa'ukum' ('seruan kalian', akar dEw): akar yang sama dengan 'yad'uuna' (menyeru) di 25:68, pembukaan segmen ciri ibaad ar-Rahmaan; di sana akar ini dipakai untuk larangan menyeru tuhan lain, di sini untuk nilai seruan kepada Tuhan yang sesungguhnya, sebuah gema penutup yang membingkai seluruh segmen. 'Lizaaman' ('kepastian yang melekat', akar lzm) dipertahankan tanpa menambahkan '(azab)': rujukannya tetap terbuka, bisa mencakup keseluruhan konsekuensi pendustaan, bukan dipersempit pada satu jenis hukuman.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini membalikkan kerangka nilai: keberadaan manusia di hadapan Tuhan justru terletak pada seruannya kepada-Nya, bukan pada eksistensi semata, sebuah penutup yang menggemakan tema 'menyeru' yang membuka segmen ciri-ciri hamba beberapa ayat sebelumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang diterjemahkan “kepastian yang melekat” hanya terpakai di dua ayat. Yang satunya 20:129, dan di sana ia justru tidak jadi: kalau bukan karena satu kalimat yang sudah mendahului dan ajal yang sudah ditentukan, hal itu tentulah menjadi keharusan. Ayat ini memakai kata yang sama untuk sesuatu yang tidak lagi ditangguhkan.
  • Susunan “maka sungguh kalian telah mendustakan” diikuti penanda waktu yang akan datang menutup surah ini, dan susunan yang sama persis, hanya berganti orang, membuka bagian awal surah sesudahnya di 26:6; di sana “mereka”, di sini “kalian”. Yang di surah berikutnya diceritakan tentang orang lain, di sini masih dialamatkan langsung kepada pendengarnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, '-b-a, r-b-b, d-'-w, k-dz-b, k-w-n, l-z-m): maa ya'ba'u bikum rabbii lawlaa du'aa'ukum diterjemahkan 'Tuhanku tidak mengindahkan kalian kalau bukan karena doa/seruan kalian' (akar '-b-' + akar d-'-w, du'aa'=da'aa; nilai manusia justru pada seruannya kepada Allah); kadhdhabtum diterjemahkan 'kalian mendustakan' (akar k-dz-b); lizaaman diterjemahkan 'melekat (kepastian)' (akar l-z-m). gloss '(Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik)/(azab)/(menimpamu)' dibuang.