وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ

Dan bertawakallah kepada Sang Digdaya lagi Sang Pengasih,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِwa-tawakkal 'alaa l-'aziizi r-rahiimidan bertawakallah kepada Sang Digdaya lagi Sang Pengasih

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَتَوَكَّلْwa-tawakkaldan bertawakallah
  2. عَلَى'alaaatas
  3. الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
  4. الرَّحِيمِr-rahiimiSang Pengasih

Inti bacaan

Instruksi penopang: 'Bertawakallah kepada Sang Digdaya lagi Sang Pengasih', sandaran kepercayaan yang kokoh disediakan menghadapi penolakan yang mungkin terjadi.

Penjelasan pilihan kata

'Al-aziizi r-rahiimi' ('Sang Digdaya lagi Sang Pengasih'): pasangan sifat yang sama persis dengan refrain penutup delapan kisah sebelumnya (26:9 dst.), kini muncul di luar refrain sebagai instruksi langsung kepada Nabi, tanpa prefiks 'Maha-'.

Tafsiran

Ayat ini menghubungkan instruksi tawakal langsung dengan pasangan sifat yang telah membingkai seluruh surah: Sang Digdaya lagi Sang Pengasih menjadi sandaran nyata, bukan sekadar refrain penutup kisah.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyuruh bertawakal kepada Sang Digdaya lagi Sang Pengasih. Dua sifat. Kuat saja tak cukup untuk disandari, dan pengasih saja tak cukup untuk melindungi.
  • Pasangan sifat itu sama persis dengan penutup delapan kisah sebelumnya. Kalimat yang berulang. Yang tadinya menutup cerita kini menjadi perintah.
  • Allah memberikan perintah ini sesudah menyuruh berlepas diri. Berurutan. Yang melepaskan diberi tahu kepada siapa ia berpegang.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: “Maha Penyayang.” diterjemahkan “Sang Pengasih.”. Dalam ayat ini, 'rahiim' bertakrif (memakai kata sandang al-). al-rahiim TAKRIF diterjemahkan 'Sang Pengasih' (: al-='Sang', bukan 'Yang Maha').