إِلَّا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍ فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
kecuali orang yang berlaku zalim, kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya Aku pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِلَّا مَنْ ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسْنًا بَعْدَ سُوءٍillaa man zhalama tsumma baddala husnan ba'da suu'inkecuali orang yang berlaku zalim, kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan
- فَإِنِّي غَفُورٌ رَحِيمٌfa-innii ghafuurun rahiimunsesungguhnya Aku pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (11 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- مَنْmanorang yang
- ظَلَمَzhalamamenzalimi
- ثُمَّtsummakemudian
- بَدَّلَbaddalamengganti
- حُسْنًاhusnanyang baik
- بَعْدَba'dasesudah
- سُوءٍsuu'inkeburukan
- فَإِنِّيfa-inniimaka sesungguhnya Aku
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Pengecualian penting bagi yang zalim: 'kemudian mengganti keburukan dengan kebaikan. Aku pengampun lagi pengasih', jalur pemulihan yang jelas melalui transformasi nyata, bukan sekadar penyesalan verbal.
Penjelasan pilihan kata
'Ghafuurun rahiimun' ('pengampun lagi pengasih') dipertahankan tanpa 'Maha-', konsisten dengan pola bentuk tak-bertakrif yang sama seperti 25:70.
Tafsiran
Ayat ini menyisipkan pengecualian tentang pertobatan di tengah penenangan tentang ketakutan: sebuah jaminan pengampunan bagi siapa pun yang mengubah arah setelah kesalahan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menaruh pengecualian di tengah penenangan, bukan di bagian tersendiri. Yang salah pun disebut. Pintunya dibuka di tempat yang sama.
- Yang diminta bukan penyesalan, melainkan penggantian. Keburukan ditukar kebaikan. Ada barang yang harus dibawa.
- Sifat-Nya disebut sesudah syaratnya, bukan sebelumnya. Allah menyebut pengampun lagi pengasih di ujung. Jaminan datang sesudah tuntutan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.