قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, "Aku akan membawanya kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka ketika ia melihatnya tersedia di sisinya, ia berkata, "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur. Siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku berkecukupan lagi mulia."

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِqaala lladzii 'indahu 'ilmun mina l-kitaabiseorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata
  2. أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَanaa aatiika bihi qabla an yartadda ilayka tharfukaaku akan membawanya kepadamu sebelum matamu berkedip
  3. فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُfa-lammaa ra'aahu mustaqirran 'indahumaka ketika ia melihatnya tersedia di sisinya
  4. قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُqaala haadzaa min fadhli rabbii li-yabluwanii a-asykuru am akfuruia berkata, ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur
  5. وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِwa-man syakara fa-innamaa yasykuru li-nafsihisiapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri
  6. وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌwa-man kafara fa-inna rabbii ghaniyyun kariimunsiapa yang berbuat kufur, maka sesungguhnya Tuhanku berkecukupan lagi mulia

Terjemahan per kata (38 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. عِنْدَهُ'indahudi sisi-Nya
  4. عِلْمٌ'ilmunpengetahuan
  5. مِنَminadari
  6. الْكِتَابِl-kitaabiKitab
  7. أَنَاanaaaku
  8. آتِيكَaatiikamembawakannya kepadamu
  9. بِهِbihidengannya
  10. قَبْلَqablasebelum
  11. أَنْanbahwa
  12. يَرْتَدَّyartaddakembali
  13. إِلَيْكَilaykakepadamu
  14. طَرْفُكَtharfukapandanganmu
  15. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  16. رَآهُra'aahumelihatnya
  17. مُسْتَقِرًّاmustaqirrantempat menetap
  18. عِنْدَهُ'indahudi sisi-Nya
  19. قَالَqaalaberkata
  20. هَٰذَاhaadzaaini
  21. مِنْmindari
  22. فَضْلِfadhlikarunia
  23. رَبِّيrabbiiTuhanku
  24. لِيَبْلُوَنِيli-yabluwaniiuntuk mengujiku
  25. أَأَشْكُرُa-asykuruapakah aku bersyukur
  26. أَمْamatau
  27. أَكْفُرُakfuruaku kufur
  28. وَمَنْwa-mandan orang yang
  29. شَكَرَsyakarabersyukur
  30. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  31. يَشْكُرُyasykurubersyukur
  32. لِنَفْسِهِli-nafsihiuntuk dirinya
  33. وَمَنْwa-mandan orang yang
  34. كَفَرَkafarakufur
  35. فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
  36. رَبِّيrabbiiTuhanku
  37. غَنِيٌّghaniyyunMahakaya
  38. كَرِيمٌkariimunyang mulia

Inti bacaan

Tawaran yang lebih cepat lagi dari seorang yang memiliki pengetahuan kitab: 'sebelum matamu berkedip' diikuti respons rendah hati Sulaiman: 'Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau berbuat kufur', pencapaian luar biasa langsung dikembalikan sebagai ujian syukur, bukan kebanggaan pribadi. Konkretnya: menafsirkan pencapaian luar biasa atau keberhasilan besar sebagai ujian rasa syukur (bukan alasan kebanggaan diri) adalah kerangka berpikir yang dicontohkan Sulaiman meski memiliki kekuasaan dan sumber daya yang luar biasa.

Penjelasan pilihan kata

'Ghaniyyun kariimun' ('berkecukupan lagi mulia', akar gny+krm) dipertahankan tanpa 'Maha-', konsisten dengan pola bentuk tak-bertakrif yang sama seperti 25:70 dan 27:11: internal sendiri sudah benar di sini. Ayat ini memuat dua kutipan terpisah: tawaran orang berilmu, lalu refleksi Sulaiman atas keajaiban yang terjadi.

Tafsiran

Ayat ini menampilkan tawaran kedua yang jauh lebih cepat: kemudian langsung dilanjutkan dengan refleksi Sulaiman yang menempatkan mukjizat ini sebagai ujian, bukan pencapaian pribadi.

Renungan dan Hikmah

  • Lima rangkaian di ayat ini tak berulang di mana pun: عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ, يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ, مُسْتَقِرًّا, أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ, dan غَنِيٌّ كَرِيمٌ. Yang pertama menarik justru karena kabur, sosok itu tak disebut namanya, cuma dikenali dari apa yang ada padanya, dan “ilmu dari Kitab” itu pun tak diterangkan Kitab yang mana. Yang terhitung dari korpus cuma satu hal: sebutan itu tak dipakai untuk siapa pun yang lain.
  • Sifat penutupnya, غَنِيٌّ كَرِيمٌ, memasangkan berkecukupan dengan mulia, dan pasangan itu diletakkan tepat sesudah kalimat tentang orang yang kufur. Jadi yang ditegaskan bukan ancaman melainkan ketiadaan kerugian di pihak yang diingkari. Pola menanggapi karunia dengan mengembalikannya sebagai ujian sudah dua kali muncul di surah ini sebelum ayat ini: 27:15 ketika ilmu dianugerahkan kepada Dawud dan Sulaiman, dan 27:19 ketika Sulaiman memohon diilhami untuk bersyukur.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

'mendatangimu'/'matamu' SAH, aatiiKA/ilayKA tarfuKA = 2MS (kpd Sulaiman). Lem catatan kaki 550 dibuang. Ayat antonim: a-ashkuru am AKFURU, syukur⟷kufr. Konvensi shkr: manusia diterjemahkan 'bersyukur' (tanpa penanda intensitas; contoh serupa ghaffaar), Allah diterjemahkan 'mengganjar'/'pengganjar' (6 ayat, SEMUA indefinit diterjemahkan kecil tanpa 'Maha'), masykuur diterjemahkan 'diganjar'. Pembeda: 76:22 jazaa'≠mashkuur sesisian; 'menerima' milik akar q-b-l, 'menyambut' milik akar t-w-b; antonim kufr (76:3, 14:7, 27:40). Antonim resmi kufr ('contr. of kufraan') = menutupi (nikmat).