أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Ataukah Dia yang mengabulkan orang yang terdesak apabila ia berseru kepada-Nya, dan menghilangkan keburukan, dan menjadikan kalian khalifah di bumi? Apakah ada tuhan bersama Allah? Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَam-man yujiibu l-mudhtharra idzaa da'aahu wa-yaksyifu s-suu'aataukah Dia yang mengabulkan orang yang terdesak apabila ia berseru kepada-Nya, dan menghilangkan keburukan
- وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِwa-yaj'alukum khulafaa'a l-ardhidan menjadikan kalian khalifah di bumi
- أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَa-ilaahun ma'a llaahi qaliilan maa tadzakkaruunaapakah ada tuhan bersama Allah? Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran
Terjemahan per kata (16 kata)
- أَمَّنْammanataukah siapa
- يُجِيبُyujiibumemperkenankan
- الْمُضْطَرَّl-mudhtharraorang yang terdesak
- إِذَاidzaaapabila
- دَعَاهُda'aahumenyeru-Nya
- وَيَكْشِفُwa-yaksyifudan Dia menyingkap
- السُّوءَs-suu'akeburukan
- وَيَجْعَلُكُمْwa-yaj'alukumdan Dia menjadikan kalian
- خُلَفَاءَkhulafaa'akhalifah-khalifah
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- أَإِلَٰهٌa-ilaahunapakah ada tuhan
- مَعَma'abersama
- اللَّهِllaahiAllah
- قَلِيلًاqaliilansedikit
- مَاmaasedikit sekali
- تَذَكَّرُونَtadzakkaruunakalian mengambil pelajaran
Inti bacaan
Argumen personal yang kuat: 'yang mengabulkan doa orang yang terdesak apabila ia berseru. menjadikan kalian khalifah di bumi', pengalaman pribadi tentang doa yang terkabul menjadi bukti yang lebih dekat dan personal dibanding argumen kosmis abstrak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini mengajukan pertanyaan yang jawabannya tidak diambil dari dalil, melainkan dari ingatan orang yang ditanya.
Yang disebut “orang yang terdesak” (الْمُضْطَرَّ, al-mudhtharra), dan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Syaratnya keadaan, bukan pangkat. Bukan orang saleh, bukan orang berilmu, melainkan siapa pun yang sedang terjepit. Karena itulah pertanyaan ini bisa diajukan kepada semua orang: hampir tak ada yang belum pernah berada dalam keadaan itu.
Tiga hal disebut berurutan dan ukurannya berbeda-beda: mengabulkan seruan orang terdesak, menghilangkan keburukan, dan menjadikan mereka “khalifah di bumi” (خُلَفَاءَ الْأَرْضِ, khulafaa'a l-ardhi). Bentuk jamak yang terakhir itu muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (7:69, 7:74, 27:62). Yang paling pribadi dan yang paling luas diletakkan dalam satu kalimat, sebagai perbuatan pihak yang sama.
Penutupnya bukan kecaman melainkan keterangan, yaitu sedikit sekali kalian mengambil pelajaran. Yang kurang bukan pengalamannya. Pertolongan yang pernah diterima itu ada pada hampir setiap orang, tetapi jarang dihubungkan dengan kesimpulan yang sedang ditawarkan ayat ini.
Pekerjaan kedua yang disebut memakai rumusan yang tak terulang. Rangkaian “dan menghilangkan keburukan” (وَيَكْشِفُ السُّوءَ, wa-yaksyifu s-suu'a) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata kerjanya berarti menyingkap atau membuka penutup, bukan menghancurkan. Yang digambarkan bukan keburukan yang dimusnahkan, melainkan keburukan yang diangkat sehingga yang di bawahnya kembali terlihat.
Tiga hal yang disebut berurutan pun bergerak dari yang paling pribadi ke yang paling luas: menjawab seruan seorang yang terdesak, mengangkat keburukan, lalu menjadikan mereka pengganti di bumi. Yang pertama dialami sendirian pada saat tertentu; yang terakhir berlaku pada seluruh manusia sepanjang zaman. Ketiganya disebut sebagai perbuatan pihak yang sama, dan pembacanya diajak menyambung pengalaman kecilnya dengan perkara sebesar itu.
Bentuk pertanyaannya sendiri patut diperhatikan. Kata pembukanya menyodorkan pilihan, yaitu ataukah Dia. Susunan itu mengandaikan sudah ada pihak lain yang disebut sebelumnya, dan pembaca diminta membandingkan. Yang dibandingkan bukan kekuasaan melainkan riwayat pertolongan, dan riwayat itu ada pada ingatan masing-masing orang.
Penutupnya bukan kecaman melainkan keterangan yang tenang, yaitu sedikit sekali kalian mengambil pelajaran. Yang kurang bukan pengalamannya, sebab hampir tak ada orang yang belum pernah terdesak lalu tertolong. Yang kurang penyambungan antara pengalaman itu dan kesimpulan yang sedang ditawarkan, dan penyambungan itulah pekerjaan yang diminta ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rangkaian pertanyaan dengan yang paling sulit dielakkan, sebab jawabannya tidak diambil dari dalil melainkan dari ingatan orang yang ditanya. Sebuah dalil bisa dibantah dengan dalil; sebuah ingatan tidak bisa dibantah tanpa berdusta kepada diri sendiri.
Syarat yang dipakai untuk menyebut orangnya sengaja dibuat serendah mungkin. Bukan orang saleh, bukan orang berilmu, bukan pula orang yang tekun beribadah. Yang disebut orang yang terdesak. Dengan syarat serendah itu, hampir tidak ada pembaca yang bisa berdiri di luar jangkauan pertanyaannya.
Tiga hal yang disebut berurutan bergerak dari yang paling pribadi ke yang paling luas, yaitu dari seruan seorang di saat terjepit sampai kedudukan seluruh manusia di bumi. Menaruh ketiganya sebagai perbuatan pihak yang sama menyambungkan pengalaman kecil dengan perkara besar, dan penyambungan itulah yang sebenarnya diminta. Orang biasanya menyimpan keduanya di laci yang berbeda.
Penutupnya menyatakan apa yang kurang, dan yang kurang bukan pengalaman. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran, kata ayat ini. Hampir setiap orang punya bahan untuk menjawab pertanyaan di ayat ini; yang jarang terjadi adalah bahan itu diambil, ditimbang, dan dijadikan kesimpulan. Pertolongan yang pernah diterima biasanya tersimpan sebagai kenangan pribadi, bukan sebagai keterangan tentang siapa yang menolong. Ayat ini melanjutkan dengan pertanyaan retoris ketiga: respons terhadap doa dalam keterdesakan dan pemberian peran sebagai khalifah di bumi.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai pengalaman pribadi sebagai bukti. Pernahkah kau terdesak lalu ditolong. Argumennya masuk lewat ingatan. Cara seperti ini tidak bisa dijawab dengan bacaan. Orang boleh menolak sebuah dalil yang disusun rapi, tetapi ia tidak bisa menolak sesuatu yang pernah ia alami sendiri. Yang diajukan di sini bukan susunan pikiran, melainkan catatan hidup yang sudah ada di tangan orangnya sejak lama, dan catatan itu tidak bisa dipinjam dari siapa pun.
- Yang disebut orang terdesak, bukan orang saleh. Syaratnya keadaan, bukan pangkat. Siapa pun yang terjepit. Pilihan itu meniadakan seluruh perhitungan yang biasa dipakai orang untuk mengukur kelayakan diri. Tidak disebut amalnya, tidak disebut asalnya, tidak disebut sudah berapa lama ia mengenal Tuhannya. Yang disebut cuma keadaannya pada saat ia berseru, dan keadaan itu bisa datang kepada siapa saja tanpa pemberitahuan.
- Khalifah di bumi disebut Allah di kalimat yang sama. Ditolong dan diberi kuasa. Dua pemberian berbeda ukuran. Menaruh keduanya dalam satu kalimat menyamakan sumbernya. Yang menolong seorang diri di titik paling sempit dan yang menyerahkan pengurusan bumi kepada manusia disebut sebagai pihak yang sama. Pertolongan kecil dan kepercayaan besar keluar dari satu tangan.
- Allah tidak mengajukan dalil di sini; Dia menanyakan pengalaman, yaitu siapa yang mengabulkan orang terdesak ketika ia berseru. Kalau hampir setiap orang pernah berada di keadaan itu, ke mana perginya kesimpulan yang seharusnya kita ambil sesudah pertolongan datang? Kesimpulan yang tidak segera diambil biasanya tidak pernah diambil, sebab rasa lega menghapus ingatan lebih cepat daripada rasa sakit.
- Ayat ini memuat dua rangkaian yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: الْمُضْطَرَّ dan خُلَفَاءَ الْأَرْضِ. Yang pertama menyebut orang yang terhimpit sampai tidak punya pilihan lain, dan yang kedua menyebut kedudukan tertinggi yang pernah diserahkan kepada manusia di bumi. Keduanya berdiri dalam satu kalimat pendek, dan keduanya tidak pernah dipakai lagi. Titik paling rendah dan titik paling tinggi disebut berdampingan, dan yang menempatkan seseorang di salah satunya Allah yang sama. Orang yang pernah berada di titik terhimpit biasanya lebih paham arti kedudukan daripada orang yang cuma pernah memegangnya.
- Pertanyaan أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ muncul lima kali di seluruh Al-Quran, dan kelimanya berkumpul di surah ini saja, yaitu 27:60, 27:61, 27:62, 27:63, dan 27:64, berturut-turut tanpa satu pun ayat yang menyela. Tidak ada pertanyaan lain dalam kitab ini yang diulang sepadat itu di satu tempat. Setiap kali diajukan, ia didahului satu pekerjaan yang nyata: menurunkan hujan, menjaga bumi, menolong yang terhimpit, memberi petunjuk di kegelapan, memberi penghidupan. Pertanyaannya tetap, buktinya berganti, dan tak satu pun dari lima kali itu dijawab di dalam ayatnya. Allah membiarkan jawabannya diucapkan oleh pembacanya sendiri.