قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Ia berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku." Maka Dia mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِيqaala rabbi innii zhalamtu nafsii fa-ghfir liiia berdoa, ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku
- فَغَفَرَ لَهُfa-ghafara lahumaka Dia mengampuninya
- إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُinnahu huwa l-ghafuuru r-rahiimusesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. terjemahan ini: kata sandang berarti “the” (kepastian), superlatif; “Maha” adalah tambahan yang tak ada di teks. Bedakan dari 58 ayat rumus indefinit (mis. 2:173) yang jadi (huruf kecil): di SANA sebutan indefinit, di SINI takrif. Corpus yang memutuskan, bukan pola teks Indonesia. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,.
Aplikasi
Doa pertobatan yang tulus: 'sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku' langsung dijawab: 'Dia lalu mengampuninya', pengakuan jujur dan segera atas kesalahan dijawab dengan pengampunan yang juga segera. Konkretnya: mengakui kesalahan secara langsung dan jujur (tanpa menunda atau mencari alasan) membuka jalan bagi pemulihan yang lebih cepat, kejujuran instan terhadap kesalahan sendiri adalah langkah pertama menuju perbaikan.