قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Ia berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku." Maka Dia mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِيqaala rabbi innii zhalamtu nafsii fa-ghfir liiia berdoa, ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku
- فَغَفَرَ لَهُfa-ghafara lahumaka Dia mengampuninya
- إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُinnahu huwa l-ghafuuru r-rahiimusesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (13 kata)
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- ظَلَمْتُzhalamtuaku menzalimi
- نَفْسِيnafsiidiriku
- فَاغْفِرْfa-ghfirmaka ampunilah
- لِيliibagiku
- فَغَفَرَfa-ghafaramaka Dia mengampuni
- لَهُlahubaginya
- إِنَّهُinnahusesungguhnya
- هُوَhuwaDialah
- الْغَفُورُl-ghafuuruMaha Pengampun
- الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih
Inti bacaan
Doa pertobatan yang tulus: 'sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku' langsung dijawab: 'Dia lalu mengampuninya', pengakuan jujur dan segera atas kesalahan dijawab dengan pengampunan yang juga segera. Konkretnya: mengakui kesalahan secara langsung dan jujur (tanpa menunda atau mencari alasan) membuka jalan bagi pemulihan yang lebih cepat, kejujuran instan terhadap kesalahan sendiri adalah langkah pertama menuju perbaikan.
Penjelasan pilihan kata
Subjek pembicara ('ia') dan yang mengampuni ('Dia') dipertahankan sebagai kata ganti tanpa tambahan '(Musa)'/'(Allah)', sudah jelas dari kaidah tata bahasa: yang mendoa memohon ampun tidak mungkin sekaligus yang mengampuni.
Tafsiran
Ayat ini menampilkan pengakuan langsung Musa atas kesalahannya: pembunuhan tak sengaja tetap diakui sebagai bentuk kezaliman terhadap diri sendiri, direspons segera dengan ampunan.
Renungan dan Hikmah
- Yang diucapkan bukan aku bersalah kepada orang itu, melainkan aku telah menzalimi diriku sendiri. Kerugian pertama disebut jatuh pada dirinya. Orang yang sanggup melihat begitu tidak sedang mengecilkan perbuatannya; ia sedang melihat sampai ke pangkalnya.
- Antara permohonan dan pengampunan tidak ada satu kalimat pun di antaranya. Allah mengampuninya pada kalimat yang sama. Jarak sependek itu bagian dari kabarnya, bukan cuma cara menceritakannya.
- Sesudah pengampunan diberikan, Allah masih menyebut diri-Nya Sang Pengampun lagi Sang Pengasih. Perbuatannya sudah selesai, sifatnya tetap disebutkan. Yang barusan terjadi diterangkan bukan sebagai kekecualian, melainkan sebagai memang begitulah Dia.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Bedakan dari 58 ayat rumus indefinit (mis. 2:173) yang jadi “pengampun lagi pengasih” (huruf kecil): di SANA sebutan indefinit, di SINI takrif. Corpus yang memutuskan, bukan pola teks Indonesia. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap.