فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

Ketika Musa mendatangi mereka dengan tanda-tanda Kami yang nyata, mereka berkata, "Ini hanyalah sihir yang dibuat-buat, dan kami tidak pernah mendengar tentang ini dari nenek moyang kami dahulu."

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍfa-lammaa jaa'ahum muusaa bi-aayaatinaa bayyinaatinketika Musa mendatangi mereka dengan tanda-tanda Kami yang nyata
  2. قَالُوا مَا هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُفْتَرًىqaaluu maa haadzaa illaa sihrun muftaranmereka berkata, ini hanyalah sihir yang dibuat-buat
  3. وَمَا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَwa-maa sami'naa bi-haadzaa fii aabaa'inaa l-awwaliinadan kami tidak pernah mendengar tentang ini dari nenek moyang kami dahulu

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  2. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  3. مُوسَىٰmuusaaMusa
  4. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  5. بَيِّنَاتٍbayyinaatinyang nyata
  6. قَالُواqaaluumereka berkata
  7. مَاmaatidaklah
  8. هَٰذَاhaadzaaini
  9. إِلَّاillaakecuali
  10. سِحْرٌsihrunsihir
  11. مُفْتَرًىmuftaranyang diada-adakan
  12. وَمَاwa-maadan tidaklah
  13. سَمِعْنَاsami'naakami mendengar
  14. بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
  15. فِيfiidi
  16. آبَائِنَاaabaa'inaabapak-bapak kami
  17. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Respons penolakan yang familiar: 'sihir yang dibuat-buat. kami tidak pernah mendengar ini dari nenek moyang kami', pola penolakan yang sama muncul lagi, kombinasi tuduhan dan dalih tradisi.

Penjelasan pilihan kata

'Haadzaa' (demonstrativa dekat) muncul dua kali, keduanya benar 'ini': merujuk pada tanda-tanda yang baru saja disaksikan langsung.

Tafsiran

Ayat ini menampilkan penolakan Firaun dan pembesarnya: tuduhan sihir yang sama muncul berulang di berbagai kisah nabi lain di sepanjang teks ini.

Renungan dan Hikmah

  • Dua alasan dipakai sekaligus. Sihir buatan. Allah merekam yang kedua: tidak ada dalam warisan nenek moyang.
  • Yang dijadikan ukuran kebiasaan leluhur. Kalau belum pernah terdengar, berarti tidak benar. Ukurannya masa lalu.
  • Tanda-tandanya disebut Allah nyata sebelum tuduhan mereka. Yang jelas dinamai sihir. Urutannya menyingkap ketidakjujuran itu.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

akar a-y (aayah) diterjemahkan 'tanda'. Ayat ini termasuk 55 yang SENGAJA ditunda di rollout pertama karena terjemahan lain memakai 'bukti/mukjizat/keterangan', kata yang bisa menerjemahkan bayyinah/sultaan, bukan aayah. Diselesaikan setelah pemilahan per-LEMA (bukan akar: akar byn mencakup bayyinah/bayna/mubiin yang beda-beda) dan pembacaan teks per-ayat. Padanan pesaing (bayyinah/sultaan) SENGAJA dipertahankan, hanya aayah yang diganti. '