وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا ۖ فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًا ۖ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ

Dan betapa banyak negeri yang Kami binasakan yang telah angkuh karena kesenangan hidupnya; maka itulah tempat-tempat tinggal mereka, tidak dihuni setelah mereka kecuali sedikit; dan Kamilah pewaris.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَاwa-kam ahlaknaa min qaryatin bathirat ma'iisyatahaadan betapa banyak negeri yang Kami binasakan yang telah angkuh karena kesenangan hidupnya
  2. فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلَّا قَلِيلًاfa-tilka masaakinuhum lam tuskan min ba'dihim illaa qaliilanmaka itulah tempat-tempat tinggal mereka, tidak dihuni setelah mereka kecuali sedikit
  3. وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَwa-kunnaa nahnu l-waaritsiinadan Kamilah pewaris

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. وَكَمْwa-kamdan betapa banyak
  2. أَهْلَكْنَاahlaknaaKami binasakan
  3. مِنْmindari
  4. قَرْيَةٍqaryatinnegeri
  5. بَطِرَتْbathiratsombong
  6. مَعِيشَتَهَاma'iisyatahaapenghidupannya
  7. فَتِلْكَfa-tilkamaka itulah
  8. مَسَاكِنُهُمْmasaakinuhumtempat tinggal mereka
  9. لَمْlamtidak
  10. تُسْكَنْtuskandihuni
  11. مِنْmindari
  12. بَعْدِهِمْba'dihimsesudah mereka
  13. إِلَّاillaakecuali
  14. قَلِيلًاqaliilansedikit
  15. وَكُنَّاwa-kunnaadan Kami adalah
  16. نَحْنُnahnuKami
  17. الْوَارِثِينَl-waaritsiinapara pewaris

Inti bacaan

Peringatan tentang bahaya kesombongan akibat kemakmuran: 'betapa banyak negeri yang Kami binasakan yang telah angkuh karena kesenangan hidupnya', kemakmuran yang tidak diimbangi kerendahan hati bisa berujung kehancuran.

Penjelasan pilihan kata

'Tilka' (demonstrativa jauh) sudah benar 'itulah' di sumber internal sendiri: dicek ulang sesuai disiplin dzalika/tilka, tidak perlu koreksi.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke peringatan bagi yang menolak: kehancuran negeri-negeri yang angkuh karena kemakmuran, kini menjadi reruntuhan yang nyaris kosong.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut sebabnya angkuh, bukan kaya. Kemakmurannya tidak dipersoalkan. Yang dipersoalkan sikapnya.
  • Rumah-rumahnya masih berdiri, cuma tidak dihuni. Bangunannya bertahan. Penghuninya tidak.
  • Kalimat penutupnya menyebut Allah sebagai pewaris. Yang ditinggalkan kembali kepada-Nya. Kepemilikan itu cuma dipinjamkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar h-l-k, q-r-y, b-t-r, '-y-sh, s-k-n, b-'-d, q-l-l, k-w-n, w-r-ts): ahlaknaa diterjemahkan 'membinasakan' (akar h-l-k); batirat ma'iishatahaa diterjemahkan 'angkuh (lalai) karena penghidupannya' (akar b-t-r + akar '-y-sh, kemakmuran yang melahirkan kelalaian); masaakin diterjemahkan 'tempat tinggal' (akar s-k-n); waarithiin diterjemahkan 'pewaris' (akar w-r-ts).