أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُواa-hasiba n-naasu an yutrakuuapakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan
- أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَan yaquuluu aamannaa wa-hum laa yuftanuunaberkata, kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji
Terjemahan per kata (10 kata)
- أَحَسِبَa-hasibaapakah mengira
- النَّاسُn-naasumanusia
- أَنْanbahwa
- يُتْرَكُواyutrakuumereka dibiarkan
- أَنْanbahwa
- يَقُولُواyaquuluumereka berkata
- آمَنَّاaamannaakami beriman
- وَهُمْwa-humdan mereka
- لَاlaatidak
- يُفْتَنُونَyuftanuunamereka diuji
Inti bacaan
Kata kerja (يُفْتَنُونَ, yuftanuuna) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:126, 29:2, dan 51:13, dan hanya di 29:2 kata kerja itu didahului kata penyangkal.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَحَسِبَ النَّاسُ, a-hasiba n-naasu) yang berarti "apakah manusia mengira". Awalan (أَ, a-) yang berarti "apakah" melekat pada kata kerja (حَسِبَ, hasiba) yang berarti "mengira" dan berakar ح-س-ب. Bentuk persis a-hasiba hanya muncul di 29:2. Kata kerja hasiba untuk satu pelaku laki-laki muncul lima kali, yaitu di 18:102, 29:2, 29:4, 45:21, dan 47:29, dan kelimanya berada dalam pertanyaan. Di 29:4, 45:21, dan 47:29 pertanyaannya dibuka dengan (أَمْ حَسِبَ, am hasiba) yang berarti "ataukah mengira", sedangkan di 18:102 dibuka dengan (أَفَحَسِبَ, a-fa-hasiba) yang berarti "maka apakah mengira". Terjemahan memakai "mengira" untuk sesuatu yang dipegang sebagai anggapan, sama dengan 75:36, (أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ, a-yahsabu l-insaanu) yang berarti "apakah manusia mengira", yang pelakunya juga manusia secara umum.
Kata (النَّاسُ, n-naasu) yang berarti "manusia" memakai kata sandang al-, dan ayat ini tidak membatasinya dengan keterangan seperti "orang-orang yang beriman". Terjemahan karena itu memakai "manusia" tanpa tambahan. Kata yang sama dipakai di 2:8 dan 29:10 pada kalimat (وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ, wa-mina n-naasi man yaquulu aamannaa bi-llaahi) yang berarti "dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah'". Kalimat itu memilih sebagian dari manusia, sedangkan 29:2 tidak memilih.
Frasa (أَنْ يُتْرَكُوا, an yutrakuu) yang berarti "bahwa mereka akan dibiarkan" memuat kata kerja dari akar ت-ر-ك dalam bentuk yang tidak menyebut siapa yang membiarkan. Bentuk semacam ini tercatat empat kali. Di 9:16 bunyinya (أَنْ تُتْرَكُوا, an tutrakuu) yang berarti "bahwa kalian akan dibiarkan", di 26:146 bunyinya (أَتُتْرَكُونَ, a-tutrakuuna) yang berarti "apakah kalian akan dibiarkan", di 29:2 bunyinya yutrakuu, dan di 75:36 bunyinya (أَنْ يُتْرَكَ, an yutraka) yang berarti "bahwa dia dibiarkan". Di tiga ayat, yaitu 9:16, 29:2, dan 75:36, kata kerja itu menjadi isi sebuah anggapan yang dibuka dengan kata kerja mengira. Di 75:36 anggapan itu disusul kata (سُدًى, sudan) yang berarti "begitu saja", di 9:16 disusul keterangan bahwa Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara mereka, dan di 29:2 disusul kalimat tentang ucapan dan ujian. Terjemahan memakai "dibiarkan" di ketiga ayat itu dan di 26:146.
Dua frasa berawalan an menyusul berurutan di ayat ini. Frasa kedua adalah (أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا, an yaquuluu aamannaa) yang berarti "bahwa mereka berkata, 'Kami telah beriman'", dan frasa persis itu hanya muncul di 29:2. Antara kedua frasa tidak ada kata penghubung yang menyatakan sebab atau batasan, sehingga terjemahan menulis "dibiarkan berkata" dan tidak menambahkan "hanya karena" atau "cukup dengan". Ucapan (آمَنَّا, aamannaa) yang berarti "kami telah beriman" dikutip antara lain di 2:8 dan 29:10, dan di kedua tempat itu ucapannya disusul (بِاللَّهِ, bi-llaahi) yang berarti "kepada Allah". Di 29:2 ucapan itu berhenti tanpa objek, sehingga terjemahan tidak menambahkan "kepada Allah".
Kalimat penutup (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ, wa-hum laa yuftanuuna) yang berarti "sedang mereka tidak diuji" memuat kata kerja dari akar ف-ت-ن dalam bentuk yang tidak menyebut siapa yang menguji. Bentuk persis (يُفْتَنُونَ, yuftanuuna) muncul tiga kali, yaitu di 9:126, 29:2, dan 51:13. Di 9:126 ujiannya disebut berlangsung (فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ, fii kulli 'aamin marratan aw marratayni) yang berarti "setiap tahun sekali atau dua kali", dan di 51:13 ujiannya terjadi (عَلَى النَّارِ, 'alaa n-naari) yang berarti "di atas api". Di 29:2 kata kerjanya didahului penyangkal, dan hanya di sini ujian disebut tidak terjadi. Terjemahan memakai "diuji" di ketiga ayat itu. Pelaku ujian baru tertulis di 29:3, yaitu kata kerja (فَتَنَّا, fatannaa) yang berarti "Kami menguji".
Tafsiran
Ayat ini membuka isi Surah 29 dengan pertanyaan tentang manusia secara umum dan satu kalimat yang dikutip dari mulut mereka, "Kami telah beriman". Pertanyaan itu tidak menyebut ucapan tersebut dusta, dan ayat ini tidak menilai isinya sama sekali. Kalimat yang sama bahkan diperintahkan untuk diucapkan di 29:46, (وَقُولُوا آمَنَّا, wa-quuluu aamannaa) yang berarti "dan ucapkanlah, 'Kami beriman'", dengan objek yang disebut dan dalam percakapan dengan pihak lain, sehingga 29:2 tidak dapat dibaca sebagai penolakan atas kalimatnya. Pertanyaan itu menyasar anggapan bahwa pengucapnya akan dibiarkan tanpa ujian.
Ayat 29:3 menjawab dengan menyebut bahwa Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, lalu menyebut bahwa Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan para pendusta. Pertanyaan dan jawabannya dengan begitu tersusun dalam dua ayat berurutan. Susunan yang sebangun ada di 9:16, tempat pertanyaan dengan kata kerja mengira dan dibiarkan disusul keterangan bahwa Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad. Di 29:3 pengetahuan Allah dinyatakan pasti, tanpa kata belum, dan ujiannya sudah dialami orang-orang sebelumnya.
Gambaran tentang ucapan yang bertemu ujian terdapat di 29:10, tempat sebagian manusia berkata "Kami beriman kepada Allah", lalu disakiti karena Allah dan menganggap cobaan manusia seperti siksaan Allah. Ayat 29:2 sendiri tidak memuat gambaran itu. Pertanyaan kedua dengan kata kerja yang sama, yaitu di 29:4, mengarah pada pihak lain, yaitu orang-orang yang mengerjakan keburukan, sehingga dua pertanyaan pertama surah ini mengajukan dua anggapan yang berbeda dengan kata kerja yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat "Kami telah beriman" diletakkan di 29:2 tanpa objek dan tanpa penilaian, seperti benda yang disodorkan untuk diperiksa. Ayat itu tidak menyebut pengucapnya berdusta, dan 29:3 kemudian menyebut bahwa Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan para pendusta. Pembaca yang pernah mengucapkan kalimat serupa dapat melihat bahwa kalimat itu, di ayat ini, belum dinilai benar atau salah. Bila kalimat itu dibawa ke 29:3, apa yang tersisa dari ucapan yang hanya dikenal oleh pengucapnya sendiri?
- Kata dibiarkan hadir di 29:2 sebagai isi sebuah anggapan, dan tidak sebagai janji. Di 26:146 kata itu menjadi pertanyaan tentang tinggal dalam keadaan aman, di 75:36 pertanyaannya ditutup dengan kata begitu saja, dan di 9:16 pertanyaannya disusul keterangan bahwa Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad. Di keempat tempat itu keadaan dibiarkan hadir sebagai sesuatu yang dipertanyakan, dan tak satu pun ayat menyatakannya sebagai kenyataan. Pembaca dapat bertanya, keadaan mana dalam hidupnya yang disebut tenang, padahal tidak pernah diperiksa?
- Kata kerja mengira menunjuk sesuatu yang berlangsung di dalam diri, dan tidak terdengar oleh siapa pun. Ayat 29:2 menanyakan anggapan itu, sehingga pemeriksaannya sampai ke tempat yang tidak dapat dilihat orang lain. Ayat 29:10 menutup dengan pertanyaan, "Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada seisi alam?", dan pertanyaan itu menjangkau tempat yang sama. Pembaca dapat menyadari bahwa anggapan yang tidak pernah diucapkannya pun termasuk yang ditanyakan. Anggapan apa yang selama ini dipegang pembaca tanpa pernah disebutkan?
- Di 29:2 ujian digambarkan tanpa pelaku, dan kata kerjanya memakai bentuk yang tidak menyebut siapa yang menguji. Pembaca yang membayangkan ujian sebagai urusan dengan orang di sekitarnya, dengan keadaan, atau dengan dirinya sendiri mendapati bahwa ayat ini tidak memilih salah satunya. Ayat 29:3 kemudian memakai kata Kami untuk ujian atas orang-orang sebelum mereka, dan menyebut Allah sebagai pihak yang pasti mengetahui. Urutan itu memberi pembaca satu ayat untuk memikirkan ujiannya lebih dulu, sebelum tahu siapa yang berada di baliknya. Bagaimana ujian terasa bila pelakunya belum disebut?
- Pertanyaan di 29:2 ditujukan kepada manusia, dan ayat ini tidak menambahkan keterangan yang memisahkan sebagian dari sebagian lain. Pada 75:36 pertanyaan serupa diajukan tentang manusia juga, dengan sebutan al-insaan. Pembaca yang membaca kata manusia sebagai orang lain, entah yang jauh atau yang berbeda keyakinan, mendapati bahwa ayat ini tidak menyediakan tempat di luar kata itu. Siapa pun yang membaca dan mengucapkan kalimat itu sudah termasuk. Tempat apa yang tersisa bagi pembaca untuk menjadi penonton?
- Di 9:126 ujian disebut berlangsung setiap tahun sekali atau dua kali, namun pertanyaannya mengarah pada orang-orang yang tidak memperhatikannya, tidak bertobat, dan tidak mengambil pelajaran. Ujian yang berlangsung terus dapat terlewat tanpa dikenali sebagai ujian. Di 29:2 anggapan yang dipertanyakan ialah tidak ada ujian sama sekali. Kedua ayat itu berdampingan, yang satu menyebut ujian datang berulang dan yang lain menyebut anggapan bahwa ujian tidak datang. Pembaca dapat menimbang peristiwa dalam setahun terakhir yang kini bisa dibaca ulang sebagai ujian. Peristiwa apa yang dulu terlewat tanpa dikenali?