مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, sesungguhnya waktu Allah pasti datang. Dia Yang Mendengar lagi Sang Berilmu.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِman kaana yarjuu liqaa'a llaahisiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Allah
- فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍfa-inna ajala llaahi la-aatinsesungguhnya waktu Allah pasti datang
- وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُwa-huwa s-samii'u l-'aliimudan Dia Yang Mendengar lagi Sang Berilmu
Terjemahan per kata (12 kata)
- مَنْmanorang yang
- كَانَkaanaadalah
- يَرْجُوyarjuumengharapkan
- لِقَاءَliqaa'apertemuan
- اللَّهِllaahiAllah
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- أَجَلَajalaajal
- اللَّهِllaahiAllah
- لَآتٍla-aatinbenar-benar akan datang
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- السَّمِيعُs-samii'uYang Mendengar
- الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu
Inti bacaan
Kata (لَآتٍ, la-aatin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:134 dan 29:5, dan di keduanya kata itu berdiri tanpa kata waktu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (مَنْ كَانَ يَرْجُو, man kaana yarjuu) yang berarti "siapa yang mengharapkan". Susunan kaana yarjuu muncul empat kali, yaitu di 18:110, 29:5, 33:21, dan 60:6, dan di keempatnya didahului man. Kata (كَانَ, kaana) tidak disusul kata waktu seperti "dahulu" atau "selalu" di satu pun ayat itu, sehingga terjemahan menulis "mengharapkan" tanpa menerjemahkan kaana secara terpisah. Kata kerja (يَرْجُو, yarjuu) berakar ر-ج-و. Objeknya berbeda-beda di keempat ayat, yaitu (لِقَاءَ اللَّهِ, liqaa'a llaahi) di 29:5, (لِقَاءَ رَبِّهِ, liqaa'a rabbihi) di 18:110, dan (اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ, llaaha wa-l-yawma l-aakhira) di 33:21 dan 60:6.
Rangkaian (لِقَاءَ اللَّهِ, liqaa'a llaahi) yang berarti "pertemuan dengan Allah" memuat kata (لِقَاءَ, liqaa'a) dari akar ل-ق-ي. Bentuk persis liqaa'a llaahi hanya muncul di 29:5, sedangkan bentuk (لِقَاءِ اللَّهِ, liqaa'i llaahi) muncul di 6:31 dan 10:45, dua-duanya pada ayat yang menyebut orang-orang yang mendustakan pertemuan itu. Sebaliknya, (يَرْجُونَ لِقَاءَنَا, yarjuuna liqaa'anaa) yang berarti "mengharapkan pertemuan dengan Kami" muncul empat kali, yaitu di 10:7, 10:11, 10:15, dan 25:21, dan di keempatnya didahului penyangkal, yaitu tentang orang-orang yang tidak mengharapkannya. Kata kerja yarjuu dengan objek pertemuan dengan Allah atau Tuhan tanpa penyangkal tercatat di 18:110 dan 29:5.
Kata (أَجَلَ, ajala) berakar ا-ج-ل dan di sini dimiliki Allah, (أَجَلَ اللَّهِ, ajala llaahi) yang berarti "waktu Allah". Rangkaian ajala llaahi muncul dua kali, yaitu di 29:5 dan 71:4. Di 71:4 rangkaian itu disusul (إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ, idzaa jaa'a laa yu'akhkharu) yang berarti "apabila datang, tidak dapat ditunda". Di ayat-ayat lain pemilik ajal adalah umat atau orang yang disebut sebelumnya, misalnya di 7:34, 10:49, 15:5, 16:61, 23:43, 35:45, dan 63:11, dan terjemahan memakai "ajal mereka" atau "ajalnya". Di 29:5 pemiliknya Allah, dan "ajal Allah" dalam bahasa Indonesia terbaca seperti akhir hidup Allah, sehingga terjemahan memakai "waktu Allah" yang tetap menyebut waktu itu milik-Nya. Kematian tidak muncul di ayat 29:5.
Kata (لَآتٍ, la-aatin) yang berarti "pasti datang" tersusun dari huruf la yang menegaskan dan kata (آتٍ, aatin) dari akar ا-ت-ي yang berarti "yang datang". Bentuk la-aatin muncul dua kali, yaitu di 6:134 dan 29:5. Di 6:134 bunyinya (إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ, inna maa tuu'aduuna la-aatin) yang berarti "sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti datang". Pada kedua ayat kata itu berdiri tanpa kata waktu, dan terjemahan menulis "pasti datang" tanpa "akan".
Rangkaian (وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, wa-huwa s-samii'u l-'aliimu) yang berarti "dan Dia Yang Mendengar lagi Sang Berilmu" menutup ayat dengan dua sebutan Allah yang memakai kata sandang al-, dari akar س-م-ع dan ع-ل-م. Rangkaian persis ini muncul enam kali di empat surah, yaitu di 2:137, 6:13, 6:115, 21:4, 29:5, dan 29:60. Surah 29 memuatnya dua kali. Di 29:60 rangkaian itu menutup ayat tentang makhluk bergerak yang tidak membawa rezekinya sendiri, (اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ, allaahu yarzuquhaa wa-iyyaakum) yang berarti "Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian".
Tafsiran
Ayat ini berdiri sesudah dua pertanyaan tentang anggapan, yaitu 29:2 dan 29:4, dan membawa pembicaraan dari apa yang dikira ke apa yang diharapkan. Perpindahan itu memakai kata kerja yang berbeda, yarjuu "mengharapkan" sesudah hasiba "mengira", dan pelakunya digambarkan dengan man, "siapa yang", tanpa keterangan golongan. Orang yang mengharapkan itu tidak digolongkan sebagai orang yang diuji di 29:3 atau sebagai pelaku keburukan di 29:4, sehingga pembacaan yang menyamakannya dengan salah satunya tidak ditopang teks. Kalimatnya tidak berupa perintah atau larangan, dan memuat satu kepastian, yaitu waktu Allah pasti datang.
Ayat ini tidak menyebut kapan waktu itu datang dan apa yang terjadi pada saat tiba. Hal yang tertulis adalah kepastiannya dan dua sebutan Allah yang menutupnya. Ayat 29:3 memakai akar ع-ل-م sebagai kata kerja untuk Allah, dan 29:5 memakai akar yang sama sebagai sebutan Sang Berilmu, sehingga pengetahuan Allah muncul di surah ini dalam dua bentuk pada dua ayat yang berdekatan. Di 29:60 rangkaian penutup yang sama menutup ayat tentang rezeki, dan dengan begitu penutup 29:5 tidak terikat pada pembicaraan tentang waktu saja.
Ayat 29:6 melanjutkan dengan usaha demi diri sendiri, dan 29:7 dengan keburukan yang dihapus serta balasan yang lebih baik. Rangkaian 29:5 sampai 29:7 dengan begitu menaruh harapan bertemu Allah di antara pertanyaan-pertanyaan di awal surah dan uraian tentang usaha serta balasan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut waktu Allah pasti datang dan tidak menyebut kapan, sehingga kepastian dan ketiadaan tanggal berada dalam satu kalimat. Kepastian itu tidak bergantung pada apakah pembaca mengetahui harinya. Orang yang menyusun hari-harinya dengan tanggal tenggat dapat menimbang bagaimana hari-hari terasa bila hal pasti yang disebut ayat ini tidak punya tanggal. Ayat ini tidak menyediakan jadwal untuk hal yang dinyatakannya pasti. Apa yang tersisa dari rasa terburu-buru pembaca bila hal yang pasti ternyata tidak bisa diberi tanggal?
- Harapan di ayat ini punya alamat, yaitu pertemuan dengan Allah. Di 18:110 alamat yang sama disebut pertemuan dengan Tuhan, di 33:21 dan 60:6 harapan itu ditujukan kepada Allah dan hari akhir, dan di 10:7 serta 25:21 ada orang-orang yang disebut tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami. Harapan seseorang dengan begitu dapat dibaca dari alamatnya. Pembaca dapat mendaftar harapan yang paling sering disebutnya dalam sehari, lalu melihat ke mana tiap harapan itu menunjuk. Kepada apa harapan pembaca paling sering ditujukan, dan seberapa sering alamatnya berupa sebuah pertemuan?
- Ayat ini ditutup dengan dua sebutan, Yang Mendengar dan Sang Berilmu, tanpa menyebut apa yang didengar dan apa yang diketahui. Pembaca yang sedang menanti dapat mengisi kekosongan itu dengan penantiannya sendiri. Penutup yang sama dipakai di 29:60 untuk ayat tentang rezeki makhluk bergerak yang tidak membawa rezekinya sendiri, dan Allah di sana disebut memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian. Dua tempat itu menempatkan pendengar dan yang berilmu di dekat soal makan dan soal menanti. Apa yang berubah pada cara pembaca menanti bila yang mendengar penantian itu juga yang memberi rezeki?
- Surah ini memuat dua kata kerja batin yang berbeda, mengira di 29:2 dan 29:4, lalu mengharapkan di 29:5. Anggapan dipertanyakan dua kali, sedangkan harapan dijawab dengan kepastian bahwa waktu Allah datang. Pembaca dapat memperhatikan kata kerja batin mana yang lebih banyak menggerakkan hari-harinya. Orang yang hidup dengan anggapan memegang sesuatu yang belum diperiksa, sedangkan orang yang hidup dengan harapan menghadap sesuatu yang dinyatakan pasti. Hari-hari pembaca lebih banyak digerakkan oleh yang mana, dan ke arah pertemuan dengan Allah atau menjauhinya?
- Ayat ini menyebut harapan bertemu Allah tanpa menuliskan amal atau syarat yang menyertainya. Di 18:110 harapan yang sama disambung dengan perintah untuk beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhan, dan kedua ayat itu tidak saling menggantikan. Pembaca 29:5 mendapati kepastian tentang waktu, sedangkan pembaca 18:110 mendapati kaitan harapan dengan perbuatan. Ayat 29:6 dan 29:7 yang menyusul memuat usaha dan amal saleh. Apa yang dikerjakan pembaca hari ini yang sejalan dengan harapan yang dikatakannya, dan apa yang berjalan ke arah lain?
- Waktu dalam ayat ini disebut milik Allah, dan di 71:4 waktu yang sama disebut tidak dapat ditunda apabila telah datang. Pembaca yang memegang kalender mengelola waktu sebagai miliknya, dan ayat ini menyebut ada waktu yang tidak dipegang pembaca dan tidak bisa ditundanya. Pembaca dapat membayangkan bagaimana sebuah hari terasa bila sebagian dari waktunya ternyata tidak berada dalam wewenangnya untuk diatur. Waktu mana dalam hidup pembaca yang diperlakukan sebagai milik pribadi, dan apa yang berubah bila ada waktu yang disebut milik Allah?