وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya dia sedang berusaha untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar berkecukupan dari seisi alam.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِwa-man jaahada fa-innamaa yujaahidu li-nafsihidan siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya dia sedang berusaha untuk dirinya sendiri
  2. إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَinna llaaha la-ghaniyyun 'ani l-'aalamiinasesungguhnya Allah benar-benar berkecukupan dari seisi alam

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. جَاهَدَjaahadaberjihad
  3. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanya
  4. يُجَاهِدُyujaahiduberjihad
  5. لِنَفْسِهِli-nafsihiuntuk dirinya
  6. إِنَّinnasesungguhnya
  7. اللَّهَllaahaAllah
  8. لَغَنِيٌّla-ghaniyyunbenar-benar Mahakaya
  9. عَنِ'anidari
  10. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

Rumus (غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ, ghaniyyun 'ani l-'aalamiina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:97 dan 29:6.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَنْ جَاهَدَ, wa-man jaahada) yang berarti "dan siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh". Kata kerja (جَاهَدَ, jaahada) berakar ج-ه-د. Bentuk persis jaahada untuk satu pelaku laki-laki muncul dua kali, yaitu di 9:19 dan 29:6. Di 9:19 bunyinya (وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ, wa-jaahada fii sabiili llaahi) yang berarti "serta berjihad di jalan Allah", lengkap dengan sasaran, sedangkan di 29:6 kata kerja itu berdiri tanpa sasaran. Di 8:72, 9:20, dan 49:15 kata kerja yang sama disusul (بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ, bi-amwaalihim wa-anfusihim) yang berarti "dengan harta dan jiwa mereka", dan di 29:6 keterangan semacam itu tidak ada. Akar yang sama dipakai juga untuk tekanan orang tua di 29:8 dan 31:15, (جَاهَدَاكَ, jaahadaaka) yang berarti "keduanya memaksamu", dan untuk usaha yang diarahkan kepada Kami di 29:69, (جَاهَدُوا فِينَا, jaahaduu fiinaa) yang berarti "berjuang untuk Kami". Dari sebaran itu terlihat bahwa akar ini tidak terikat pada satu medan, dan karena 29:6 tidak memuat keterangan medan, terjemahan memakai "berusaha dengan sungguh-sungguh" dan tidak mempersempitnya menjadi perang.

Kalimat (فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ, fa-innamaa yujaahidu) yang berarti "sesungguhnya dia sedang berusaha" mengulang kata kerja yang sama dengan pelaku yang sama. Bentuk yujaahidu untuk satu pelaku hanya muncul di 29:6, sedangkan di 5:54, 9:44, dan 9:81 pelakunya jamak. Susunan yang terdiri dari man, lalu sebuah kata kerja, lalu fa-innamaa dengan kata kerja yang sama diulang, lalu (لِنَفْسِهِ, li-nafsihi) yang berarti "untuk dirinya sendiri", dipakai di enam ayat. Di 10:108, 17:15, dan 27:92 bunyinya (فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ, fa-innamaa yahtadii li-nafsihi) yang berarti "sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri", dan di 27:40 serta 31:12 bunyinya (فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, fa-innamaa yasykuru li-nafsihi) yang berarti "sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri". Di 29:6 kata kerjanya usaha. Akhiran -hi pada li-nafsihi menunjuk pelaku kata kerja itu, sehingga terjemahan memakai "dirinya sendiri" dan menyebut pelaku sebagai pihak yang dituju.

Kalimat kedua, (إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ, inna llaaha la-ghaniyyun 'ani l-'aalamiina) yang berarti "sesungguhnya Allah benar-benar berkecukupan dari seisi alam", memuat kata (غَنِيٌّ, ghaniyyun) dari akar غ-ن-ي. Bentuk ghaniyyun muncul sembilan kali, yaitu di 2:263, 2:267, 3:97, 14:8, 27:40, 29:6, 31:12, 39:7, dan 64:6. Dengan huruf la yang menegaskan, bentuknya muncul dua kali, yaitu di 14:8 dan 29:6. Rangkaian (غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ, ghaniyyun 'ani l-'aalamiina) muncul dua kali, yaitu di 3:97 dan 29:6. Arti kata itu terlihat di 39:7, (غَنِيٌّ عَنْكُمْ, ghaniyyun 'ankum) yang berarti "tidak memerlukan kalian", sehingga 'an menunjuk pihak yang tidak diperlukan, dan di 29:6 pihak itu adalah seisi alam. Terjemahan memakai "berkecukupan" di 29:6, 3:97, 14:8, 27:40, dan 31:12, dan kata (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) diterjemahkan "seisi alam".

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian awal surah dengan jawaban tentang apa arti usaha bagi orang yang berharap di 29:5, dan jawabannya mengarah kembali kepada pelaku sendiri. Ayat 29:5 menyebut waktu Allah yang pasti datang, dan 29:6 menyebut usaha seseorang dengan pelaku dan penerima manfaat yang sama. Ayat ini tidak menyebut sasaran usaha, dan sasarannya baru tertulis di tempat lain di surah yang sama. Di 29:8 akar yang sama dipakai untuk tekanan orang tua agar seseorang mempersekutukan, dan di 29:69, ayat terakhir surah yang berjumlah 69 ayat, akar itu dipakai untuk orang yang berjuang untuk Kami, dengan penutup bahwa Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. Usaha yang di 29:6 berdiri tanpa sasaran dengan begitu mendapat dua sasaran di surah yang sama, dan akar yang sama muncul di rangkaian awal surah serta di ayat penutupnya.

Kalimat kedua menyebut Allah berkecukupan dari seisi alam. Di 27:40 dan 31:12, bersyukur untuk diri sendiri disusul pernyataan bahwa Allah berkecukupan terhadap orang yang kufur. Di 29:6 susunan itu dipakai untuk usaha, dan kalimat kecukupan Allah menyusul langsung sesudah pernyataan manfaat bagi diri sendiri.

Ayat 29:7 yang menyusul menyebut bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh akan dihapus keburukan-keburukannya oleh Kami dan dibalas dengan yang terbaik dari apa yang mereka kerjakan. Kecukupan Allah di 29:6 dan balasan dari Kami di 29:7 ditaruh berurutan dalam dua ayat, dengan hubungan keduanya dibiarkan terbuka.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang berusaha dan penerima hasilnya satu pihak, dinyatakan lewat kata untuk dirinya sendiri. Pembaca yang mencatat jasa dari usahanya mendapati bahwa ayat ini tidak menyediakan pihak ketiga yang berutang kepadanya. Kata untuk dirinya sendiri dipakai juga di 27:40 dan 31:12 untuk bersyukur. Siapa saja yang selama ini pembaca anggap berutang budi atas usahanya, dan bagaimana catatan itu berubah bila hasil usaha itu ternyata kembali kepada pelakunya?
  • Ayat ini menyebut usaha tanpa menyebut sasarannya, sehingga pembaca bisa mengisinya dengan perkara yang sedang diusahakannya. Di 29:69 usaha yang sama punya sasaran, yaitu orang yang berjuang untuk Kami, dan ayat itu menutup dengan pernyataan bahwa Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. Dua tempat itu menaruh usaha di pangkal dan di ujung surah. Pembaca dapat memeriksa apa yang selama ini diusahakannya dengan sungguh-sungguh, dan untuk siapa usaha itu sebenarnya ditujukan. Apa yang berubah dari usaha itu bila sasarannya disebut sebagai Kami?
  • Allah disebut berkecukupan dari seisi alam, dan di 39:7 kata yang sama berarti tidak memerlukan kalian. Pembaca yang membayangkan usahanya memberi sesuatu kepada pihak yang dituju mendapati bahwa ayat ini menaruh Allah di luar hitungan itu. Usaha tetap bernilai bagi pelakunya, tetapi tidak menambah apa pun bagi Allah menurut ayat ini. Bagaimana usaha terasa bila tidak ada pihak yang membutuhkan hasilnya, termasuk pihak yang paling sering dibayangkan pembaca ketika berusaha?
  • Mendapat petunjuk di 10:108, bersyukur di 27:40, dan berusaha di 29:6 memakai kerangka yang sama, yaitu sesungguhnya dia melakukannya untuk dirinya sendiri. Di 27:40 kerangka itu disusul pernyataan bahwa Tuhanku berkecukupan lagi mulia, dan di 29:6 disusul pernyataan bahwa Allah berkecukupan dari seisi alam. Tiga kegiatan itu, petunjuk, syukur, dan usaha, dengan begitu diperlakukan serupa. Pembaca dapat bertanya apakah ketiganya pernah dianggap urusan dirinya sendiri, atau sebagai sesuatu yang dikerjakan untuk orang lain atau untuk kesan orang lain?
  • Akar usaha muncul di 29:6 dan di ayat terakhir surah, 29:69, dan di keduanya kata itu menyertai pernyataan tentang Allah, yaitu berkecukupan dari seisi alam di 29:6 dan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan di 29:69. Pembaca yang melewati enam puluh dua ayat di antara keduanya bertemu usaha yang sama dengan gambaran Allah yang berbeda. Pembaca dapat mempertimbangkan bahwa usaha yang tidak diperlukan Allah adalah usaha yang sama dengan yang ditemani-Nya. Bagaimana pembaca mempertemukan dua gambaran itu ketika sedang berusaha?
  • Ayat 29:5 menyebut orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah, dan 29:6 langsung menyebut orang yang berusaha. Dua ayat itu berurutan, harapan lebih dulu lalu usaha. Pembaca yang menanti pertemuan itu dapat memperhatikan apakah penantiannya disertai usaha, atau berhenti sebagai harapan yang tidak pernah bergerak. Ayat 29:6 tidak menyebut usaha itu sebagai syarat harapan, dan menempatkannya berdampingan. Apa yang dikerjakan pembaca hari ini yang dapat disebut usaha dengan sungguh-sungguh, di samping harapan yang disebutnya?