أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُa-wa-lam yaraw kayfa yubdi'u llaahu l-khalqa tsumma yu'iiduhuapakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan, kemudian mengembalikannya
  2. إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌinna dzaalika 'alaa llaahi yasiirunsesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
  2. يَرَوْاyarawmereka melihat
  3. كَيْفَkayfabagaimana
  4. يُبْدِئُyubdi'umemulai
  5. اللَّهُllaahuAllah
  6. الْخَلْقَl-khalqapenciptaan
  7. ثُمَّtsummakemudian
  8. يُعِيدُهُyu'iiduhumengulanginya
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  11. عَلَى'alaaatas
  12. اللَّهِllaahiAllah
  13. يَسِيرٌyasiirunmudah

Inti bacaan

Rangkaian (أَوَلَمْ يَرَوْا, a-wa-lam yaraw) muncul 13 kali di Al-Qur'an (13:41, 16:48, 17:99, 26:7, 27:86, 29:19, 29:67, 30:37, 32:27, 36:71, 41:15, 46:33, 67:19), dan hanya 29:19 yang menyambungnya dengan kayfa, 'bagaimana'.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَوَلَمْ يَرَوْا, a-wa-lam yaraw) yang berarti "apakah mereka tidak melihat". Huruf tanya (أَ, a) dan kata penyangkal (لَمْ, lam) membuat kalimatnya berupa pertanyaan yang diawali penyangkalan, dan kata kerja (يَرَوْا, yaraw) berakar ر-أ-ي dengan akhiran yang menunjuk banyak orang. Rangkaian persis (أَوَلَمْ يَرَوْا, a-wa-lam yaraw) muncul di 13 ayat dalam 12 surah, yaitu 13:41, 16:48, 17:99, 26:7, 27:86, 29:19, 29:67, 30:37, 32:27, 36:71, 41:15, 46:33, dan 67:19. Di sembilan ayat rangkaian itu disambung kata (أَنَّ, anna) yang berarti "bahwa", yaitu 13:41, 17:99, 27:86, 29:67, 30:37, 32:27, 36:71, 41:15, dan 46:33. Di tiga ayat rangkaian itu disambung (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "kepada", yaitu 16:48, 26:7, dan 67:19. Hanya 29:19 yang menyambungnya dengan (كَيْفَ, kayfa) yang berarti "bagaimana". Karena itu pengamatan di sini mengarah pada cara sesuatu terjadi, sedangkan sembilan ayat yang memakai anna mengarahkannya pada sebuah kenyataan. Terjemahan memakai "memperhatikan" untuk yaraw karena kata tanya kayfa meminta pengamatan yang berjalan, tidak cukup sekali melihat.

Kata kerja (يُبْدِئُ, yubdi'u) yang berarti "memulai" berakar ب-د-أ dan berbentuk perbuatan yang belum selesai. Bentuk persis ini muncul di tiga ayat, yaitu 29:19, 34:49, dan 85:13. Di 85:13 bunyinya (إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ, innahu huwa yubdi'u wa-yu'iidu) yang berarti "sesungguhnya Dialah yang memulai dan mengembalikan", dan di 34:49 bunyinya (وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ, wa-maa yubdi'u l-baathilu wa-maa yu'iidu) yang berarti "dan kebatilan tidak memulai dan tidak mengembalikan". Di kedua ayat itu tidak ada objek penciptaan. Akar yang sama dalam bentuk lain, (يَبْدَأُ الْخَلْقَ, yabda'u l-khalqa) yang berarti "memulai penciptaan", muncul di lima ayat, yaitu 10:4, 10:34, 27:64, 30:11, dan 30:27, dan di kelimanya disusul (ثُمَّ يُعِيدُهُ, tsumma yu'iiduhu). Terjemahan memakai "memulai" untuk yubdi'u dan yabda'u karena objeknya sama dan pasangannya sama. Di ayat berikutnya, 29:20, kata kerja dari akar yang sama berbentuk selesai, (بَدَأَ, bada'a), sehingga 29:19 menyebut pemulaian sebagai perbuatan yang belum selesai dan 29:20 menyebutnya sebagai perbuatan yang sudah terjadi.

Kata (الْخَلْقَ, l-khalqa) yang berarti "penciptaan" berakar خ-ل-ق dan memakai kata sandang al-, sehingga penciptaan yang dimulai itu disebut secara umum. Teks ayat ini tidak menyebut jenis makhluk apa pun. Akhiran -hu pada (يُعِيدُهُ, yu'iiduhu) menunjuk kembali ke al-khalq. Kata kerja yu'iidu berakar ع-و-د, akar yang sama dengan (تَعُودُونَ, ta'uuduuna) di 7:29, (كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ, ka-maa bada'akum ta'uuduuna) yang berarti "sebagaimana Dia memulai kalian, kalian akan kembali". Dari pasangan itu terjemahan 29:19 memakai "mengembalikannya", seperti di 10:4, 10:34, 30:11, dan 30:27. Rangkaian (ثُمَّ يُعِيدُهُ, tsumma yu'iiduhu) muncul di enam ayat, yaitu 10:4, 10:34, 27:64, 29:19, 30:11, dan 30:27.

Kata (يَسِيرٌ, yasiirun) yang berarti "mudah" berakar ي-س-ر dan muncul di tujuh ayat, yaitu 12:65, 22:70, 29:19, 35:11, 50:44, 57:22, dan 64:7. Kalimat (إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ, inna dzaalika 'alaa llaahi yasiirun) muncul di empat ayat, yaitu 22:70, 29:19, 35:11, dan 57:22. Di 22:70, 35:11, dan 57:22 kalimat itu menutup ayat yang menyebut sebuah Kitab, sedangkan di 29:19 kalimat itu menutup ayat tentang memulai dan mengembalikan penciptaan. Di 64:7 bunyinya (وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ, wa-dzaalika 'alaa llaahi yasiirun), dan kalimat itu menutup pernyataan tentang dibangkitkan dan diberitakan. Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "yang demikian itu" tidak diberi rincian di 29:19 apakah menunjuk memulai, mengembalikan, atau keduanya sekaligus, dan terjemahan membiarkannya terbuka. Di 30:27 kata kemudahan memakai bentuk perbandingan, (أَهْوَنُ, ahwanu) yang berarti "lebih mudah", sedangkan 29:19 memakai yasiirun tanpa perbandingan, sehingga terjemahan tidak menambahkan kata "lebih".

Tafsiran

Ayat ini berbentuk satu pertanyaan dan satu pernyataan penutup. Pertanyaannya menyebut apa yang bisa diamati, yaitu cara Allah memulai penciptaan lalu mengembalikannya, dan pernyataannya menyebut bahwa hal itu mudah bagi Allah. Ayat 29:18 menyapa dengan kata kalian, misalnya pada (وَإِنْ تُكَذِّبُوا, wa-in tukadzdzibuu) yang berarti "dan jika kalian mendustakan", sedangkan 29:19 berbicara tentang mereka. Tidak ada keterangan di antara kedua ayat tentang apakah kalian dan mereka menunjuk kumpulan orang yang sama.

Kata kebangkitan tidak muncul di ayat ini. Yang tertulis adalah memulai dan mengembalikan penciptaan. Ayat 29:20 menyebut kejadian yang akhir dan 29:21 menyebut kembali kepada Allah, sehingga ketiga ayat itu dapat dibaca sebagai satu rangkaian yang dibuka oleh pertanyaan di 29:19. Pembacaan ini bertumpu pada urutan ayatnya, dan 29:19 sendiri tidak menyebut hari atau peristiwa apa pun sesudah penciptaan dikembalikan.

Ayat lain membuat pembuktian dengan arah yang berbeda. Di 17:99 dan 46:33 pertanyaan dengan rangkaian yang sama menyebut Allah yang menciptakan langit dan bumi, lalu menyatakan bahwa Dia kuasa menciptakan yang serupa dengan mereka (17:99) atau kuasa menghidupkan yang mati (46:33), sehingga pengamatan diarahkan pada sebuah kemampuan. Di 29:19 pengamatan diarahkan pada proses yang berjalan dari memulai ke mengembalikan. Di 10:4 dan 30:11 urutan yang sama muncul sebagai pernyataan, dan kembali kepada-Nya disebut langsung berdampingan dengannya, sedangkan di 29:19 kalimat tentang kembali kepada-Nya baru datang di 29:21 sesudah satu ayat di antaranya.

Sesudah pertanyaan ini teks tidak mencatat jawaban dari siapa pun. Ayat 29:20 langsung memuat perintah (قُلْ سِيرُوا, qul siiruu) yang berarti "katakanlah, berjalanlah", sehingga pertanyaan di 29:19 disusul ajakan untuk pergi dan melihat sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 29:19 meminta pembaca memperhatikan sesuatu yang dapat diamati, yaitu cara Allah memulai penciptaan, sebelum menyebut mengembalikannya. Pembaca yang menunggu tanda baru sebelum percaya dapat bertanya pada dirinya sendiri, bukti apa yang selama ini sudah ada di depannya tetapi belum pernah diperhatikan. Tidak satu contoh pun tertulis di ayat ini, sehingga daftar itu diisi pembaca dari hidupnya sendiri, misalnya pagi yang datang lagi, anak yang tumbuh, atau benih yang muncul sebagai tunas. Apa yang sudah berkali-kali dilihat pembaca tanpa pernah menjadi bahan berpikir?
  • Setelah pertanyaannya, ayat ini langsung memuat kalimat penutup dan tidak mencatat jawaban siapa pun, jadi jawabannya jatuh ke tangan pembaca. Seseorang dapat memperhatikan bagaimana pertanyaan yang tidak dijawab orang lain untuknya biasanya diperlakukan: dijawab dalam hati, dialihkan ke urusan lain, atau disimpan sampai terlupa. Pertanyaan tentang bagaimana Allah memulai penciptaan meminta pengamatan, dan ayat tidak menyebut syarat pengetahuan apa pun untuk menjawabnya. Kapan terakhir pertanyaan semacam itu dijawab sungguh-sungguh?
  • Ayat 29:18 memakai kata kalian, lalu 29:19 memakai kata mereka, tanpa keterangan apakah keduanya menunjuk kumpulan orang yang sama. Pembaca dapat membaca kata mereka sebagai ucapan tentang orang lain di luar dirinya, dan dapat juga mencoba menaruh dirinya di tempat mereka. Pada pembacaan kedua, pertanyaan di ayat ini berubah dari kabar tentang orang lain menjadi pertanyaan yang menunggu jawaban pembacanya sendiri. Bila pembaca menjadi salah satu dari mereka yang ditanya, apa yang akan dikatakannya tentang cara Allah memulai penciptaan, dan dari pengamatan yang mana kata-kata itu berasal?
  • Kalimat penutup ayat ini menyebut bahwa hal itu mudah bagi Allah, dan ukuran itu dapat dibandingkan pembaca dengan ukuran yang dipakainya ketika menimbang dirinya sendiri. Pembaca yang menimbang sesuatu dengan kemampuannya sendiri, misalnya apakah awal yang baru masih mungkin sesudah sebuah kegagalan, dapat memperhatikan ukuran apa yang sedang dipakainya. Ayat ini tidak berbicara tentang kegagalan pembaca dan tidak menjanjikan awal baru bagi perkara pribadi apa pun, sehingga hubungannya sebatas ini: ukuran mudah dan sulit di dalam ayat dinyatakan bagi Allah, sedangkan ukuran pembaca berasal dari dirinya. Ukuran mana yang dipakai ketika berkata sesuatu tidak mungkin lagi?
  • Ayat ini meminta pembaca memperhatikan cara sesuatu terjadi, dan lamanya pengamatan tidak ditentukan, sehingga ukurannya ditetapkan pembaca sendiri. Seseorang dapat memeriksa kapan terakhir berdiri di depan sebuah benda atau peristiwa sampai tahu bagaimana benda atau peristiwa itu terjadi, dan tidak berhenti pada pengetahuan bahwa semuanya ada. Pengamatan dalam ayat ini berjalan dari memulai sampai mengembalikan, dan Allah disebut sebagai pelaku di kedua ujungnya. Berapa lama pembaca bersedia memperhatikan sebelum merasa sudah tahu caranya?
  • Dua kata kerja dalam ayat ini dihubungkan oleh kata kemudian: memulai, lalu mengembalikan, dengan Allah sebagai pelaku yang sama pada keduanya. Pembaca dapat bertanya apakah hidupnya diperlakukan sebagai potongan yang berdiri sendiri atau sebagai bagian dari rangkaian yang punya awal dan punya kelanjutan. Ayat 29:19 tidak merinci isi rangkaian itu bagi seseorang, dan 29:21 menyebut kembali kepada-Nya dengan susunan tersendiri. Bila hidup dibaca sebagai bagian dari rangkaian yang dimulai dan dikembalikan oleh Allah, keputusan apa yang akan ditimbang dengan cara berbeda?