قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah, "Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan. Kemudian, Allah menumbuhkan kejadian yang akhir. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu."
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَqul siiruu fii l-ardhi fa-nzhuruu kayfa bada'a l-khalqakatakanlah, berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Dia memulai penciptaan
- ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآخِرَةَtsumma llaahu yunsyi'u n-nasy'ata l-aakhiratakemudian Allah menumbuhkan kejadian yang akhir
- إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌinna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirunsesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu
Terjemahan per kata (19 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- سِيرُواsiiruuberjalanlah kalian
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- فَانْظُرُواfa-nzhuruumaka perhatikanlah kalian
- كَيْفَkayfabagaimana
- بَدَأَbada'amemulai
- الْخَلْقَl-khalqapenciptaan
- ثُمَّtsummakemudian
- اللَّهُllaahuAllah
- يُنْشِئُyunsyi'umenumbuhkan
- النَّشْأَةَn-nasy'atakejadian
- الْآخِرَةَl-aakhirataakhirat
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- كُلِّkullisegala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- قَدِيرٌqadiirunberkuasa
Inti bacaan
Kalimat (قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ, qul siiruu fii l-ardhi) muncul empat kali di Al-Qur'an (6:11, 27:69, 29:20, 30:42), dan hanya di 29:20 pertanyaan sesudahnya menyangkut awal penciptaan, bukan akhir kaum terdahulu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah", perintah untuk satu orang, lalu (سِيرُوا, siiruu) yang berarti "berjalanlah kalian", perintah untuk banyak orang dari akar س-ي-ر. Satu orang karena itu diminta berbicara kepada banyak orang. Kalimat persis (قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ, qul siiruu fii l-ardhi) muncul empat kali, yaitu di 6:11, 27:69, 29:20, dan 30:42. Perintah berjalan yang sama dengan awalan fa, (فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ, fa-siiruu fii l-ardhi), ada di 3:137 dan 16:36. Dari keenam ayat itu, lima menyusulkan perintah memperhatikan yang berisi (كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ, kayfa kaana 'aaqibatu) yang berarti "bagaimana akhir", yaitu 3:137, 6:11, 16:36, 27:69, dan 30:42. Ayat 29:20 menyusulkan (كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ, kayfa bada'a l-khalqa) yang berarti "bagaimana Dia memulai penciptaan", rangkaian yang hanya muncul di ayat ini. Kata (فَانْظُرُوا, fa-nzhuruu) yang berarti "maka perhatikanlah" berakar ن-ظ-ر, berbeda dari akar yaraw di 29:19, tetapi terjemahan memakai kata "memperhatikan" untuk keduanya, sehingga perbedaan akar itu terbaca dari Arabnya saja.
Kata kerja (بَدَأَ, bada'a) yang berarti "memulai" tidak menyebut pelakunya dengan nama. Terjemahan menulis Allah sebagai pelakunya, mengikuti 29:19 yang memakai akar yang sama dengan Allah sebagai pelaku, (يُبْدِئُ اللَّهُ, yubdi'u llaahu), dan mengikuti kalimat berikutnya yang dibuka (ثُمَّ اللَّهُ, tsumma llaahu) yang berarti "kemudian Allah". Kata (الْخَلْقَ, l-khalqa) yang berarti "penciptaan" berakar خ-ل-ق. Kata benda kedua, (النَّشْأَةَ, n-nasy'ata) yang berarti "kejadian", berakar ن-ش-أ dan muncul di tiga ayat, yaitu 29:20, 53:47, dan 56:62. Di 53:47 bunyinya (النَّشْأَةَ الْأُخْرَىٰ, n-nasy'ata l-ukhraa) yang berarti "kejadian yang lain", dan di 56:62 (النَّشْأَةَ الْأُولَىٰ, n-nasy'ata l-uulaa) yang berarti "kejadian yang pertama". Ketiga ayat itu memakai kata "kejadian" untuk nasy'ah, sehingga kata "penciptaan" tersisa untuk khalq dan 29:20, yang memuat keduanya dalam satu ayat, menampakkan dua kata Arab yang berbeda dengan dua kata Indonesia yang berbeda.
Kata kerja (يُنْشِئُ, yunsyi'u) yang berarti "menumbuhkan" berakar sama dengan nasy'ah dan muncul di dua ayat, yaitu 13:12 dan 29:20. Di 13:12 objeknya awan, (وَيُنْشِئُ السَّحَابَ, wa-yunsyi'u as-sahaaba) yang berarti "dan menumbuhkan awan", sehingga terjemahan memakai "menumbuhkan" di kedua tempat. Kata (الْآخِرَةَ, l-aakhirata) yang berarti "yang akhir" mengikuti n-nasy'ata dengan kata sandang al- dan akhiran yang sama, sehingga kata itu menerangkan kejadian tadi. Terjemahan "kejadian yang akhir" karena itu tidak memakai kata "akhirat" sebagai nama sebuah tempat atau masa, sebab di sini kata itu melekat pada n-nasy'ata.
Kalimat penutup (إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, inna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirun) yang berarti "sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu" muncul delapan kali, yaitu di 2:20, 2:109, 2:148, 3:165, 16:77, 24:45, 29:20, dan 35:1. Kata (قَدِيرٌ, qadiirun) berakar ق-د-ر, dan terjemahan di kedelapan ayat itu sama, "berkuasa atas segala sesuatu". Di 24:45 dan 35:1 kalimat itu menutup ayat yang menyebut penciptaan, seperti di 29:20.
Tafsiran
Ayat ini mengubah pertanyaan di 29:19 menjadi perintah untuk berangkat. Di 29:19 mereka ditanya apakah tidak memperhatikan, sedangkan di 29:20 satu orang diminta berkata kepada banyak orang agar berjalan di bumi lalu memperhatikan. Tujuan perjalanannya berbeda dari ayat-ayat lain yang memakai perintah yang sama. Di 3:137, 6:11, dan 16:36 perjalanan berakhir pada akhir orang-orang yang mendustakan, di 27:69 pada akhir para pendosa, dan di 30:42 pada akhir orang-orang sebelumnya. Di 29:20 perjalanan berakhir pada pertanyaan tentang awal penciptaan. Tidak ada rincian tentang apa yang dijumpai di sepanjang jalan, sehingga hubungan antara berjalan di bumi dan cara penciptaan dimulai dibiarkan terbuka.
Sesudah itu ayat ini menyebut tahap kedua dengan kata yang tidak dipakai di 29:19. Ayat 29:19 menyebutnya mengembalikan penciptaan, (يُعِيدُهُ, yu'iiduhu), dan 29:20 menyebutnya menumbuhkan kejadian yang akhir. Kedua ayat sama-sama merangkai tahap pertama dan tahap kedua dengan kata kemudian, tetapi tidak ada keterangan apakah mengembalikan dan menumbuhkan kejadian yang akhir menunjuk satu peristiwa yang sama. Kata nasy'ah muncul juga di dua ayat lain: 53:47 menyebut kejadian yang lain, dan 56:62 menyebut kejadian yang pertama sebagai sesuatu yang sudah diketahui. Ketiga ayat itu menempatkan kata kejadian dalam tiga sebutan yang berbeda, yaitu yang pertama, yang lain, dan yang akhir.
Kalimat penutup menaruh kedua tahap di bawah satu pernyataan tentang kuasa Allah atas segala sesuatu. Ayat 29:21 kemudian menyebut kembali kepada-Nya, sehingga tiga ayat berurutan bergerak dari mengamati, ke berjalan, ke kembali.
Renungan dan Hikmah
- Dalam ayat ini perintah berjalan mendahului perintah memperhatikan, dan keduanya disambung dengan kata maka. Seseorang yang ingin memahami sebuah bukti dan menunggunya datang ke tempat duduknya dapat memeriksa pengetahuan apa yang tidak sampai kepadanya karena tempat itu tidak pernah didatangi. Ayat 29:20 tidak merinci ke mana harus berjalan dan apa yang akan dilihat, jadi arah perjalanan itu ditentukan oleh pembaca sendiri. Kapan terakhir pembaca berangkat ke suatu tempat hanya untuk memperhatikan bagaimana sesuatu bermula?
- Ayat ini memerintahkan satu orang untuk berkata kepada banyak orang, dan isi perkataannya adalah ajakan berjalan dan memperhatikan, tanpa uraian tentang apa yang akan terlihat. Seseorang yang ingin orang lain memahami sesuatu dapat menimbang dua cara, menjelaskannya sampai habis atau mengajak orang itu pergi dan melihat sendiri. Ayat 29:20 memuat cara kedua dan menyertakan satu pertanyaan sebagai arah pandang. Apa yang tertinggal pada orang yang menerima penjelasan paling lengkap tetapi tidak pernah diajak melihat sendiri?
- Tahap kedua dalam ayat ini disebut sebagai sesuatu yang ditumbuhkan oleh Allah. Pembaca yang memikirkan apa yang datang sesudah hidup ini dapat memeriksa gambar yang dipakainya: gambar penutup atau gambar pertumbuhan. Ayat tidak merinci isi kejadian yang akhir itu, sehingga gambar apa pun yang ditambahkan pembaca berasal dari dirinya, sedangkan kata yang tertulis adalah kata tentang menumbuhkan. Gambar mana yang selama ini dipakai ketika memikirkan sesudah ini, dan dari mana gambar itu datang?
- Pelaku memulai tidak disebut dengan nama dalam ayat ini, sedangkan tahap kedua dibuka dengan kata kemudian Allah. Pembaca yang memperhatikan susunan itu dapat bertanya apakah kedua tahap dihubungkannya pada satu pelaku, sebagaimana kata kemudian menghubungkan keduanya dalam kalimat. Ayat 29:19 menyebut Allah sebagai pelaku memulai, jadi hubungan itu sudah tertulis di ayat sebelumnya. Bila pembaca mengakui salah satu tahap dan ragu pada tahap lain, siapa yang dianggapnya sebagai pelaku di masing-masing tahap?
- Kalimat penutup menaruh memulai dan menumbuhkan di bawah satu pernyataan, yaitu Allah berkuasa atas segala sesuatu. Seseorang yang daftar perkara mustahilnya panjang dapat menuliskannya satu per satu dan membaca kalimat itu di sebelahnya. Ayat ini tidak menyebut perkara pribadi apa pun dan tidak menjanjikan hasil tertentu bagi pembaca, sehingga yang dapat dilakukan pembaca sebatas mengamati ukuran yang dipakainya sendiri. Perkara mana dalam daftar itu yang ukurannya berasal dari dirinya, bukan dari kuasa yang disebut ayat?
- Ayat-ayat lain dengan perintah yang sama membawa pembaca ke akhir orang-orang terdahulu, dan ayat ini membawanya ke awal. Pembaca dapat memeriksa dari mana pelajaran yang selama ini dicarinya berasal, dari akhir yang menimpa pihak lain atau dari cara sesuatu bermula. Ayat 29:20 tidak merinci pelajaran apa yang akan diperoleh dari awal itu, dan yang tertulis hanya perintah memperhatikan cara Allah memulai penciptaan. Awal apa yang belum pernah ditelusuri pembaca sampai paham cara bermulanya?