وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَٰئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah dan pertemuan dengan-Nya, mereka itu berputus asa dari rahmat-Ku dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِwa-lladziina kafaruu bi-aayaati llaahi wa-liqaa'ihiorang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah dan pertemuan dengan-Nya
  2. أُولَٰئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِيulaa'ika ya'isuu min rahmatiimereka itu berputus asa dari rahmat-Ku
  3. وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌwa-ulaa'ika lahum 'adzaabun aliimundan mereka itu mendapat azab yang pedih

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. كَفَرُواkafaruukufur
  3. بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. وَلِقَائِهِwa-liqaa'ihidan pertemuan dengan-Nya
  6. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  7. يَئِسُواya'isuumereka berputus asa
  8. مِنْmindari
  9. رَحْمَتِيrahmatiirahmat-Ku
  10. وَأُولَٰئِكَwa-ulaa'ikadan mereka itu
  11. لَهُمْlahumbagi mereka
  12. عَذَابٌ'adzaabunazab
  13. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Kata (يَئِسُوا, ya'isuu) yang berarti 'mereka berputus asa' muncul 2 kali di Al-Qur'an (29:23, 60:13), dan hanya di 29:23 objeknya rahmat, bukan akhirat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَالَّذِينَ كَفَرُوا, wa-lladziina kafaruu) yang berarti "dan orang-orang yang kufur". Kata kerja (كَفَرُوا, kafaruu) berakar ك-ف-ر dan berbentuk perbuatan yang sudah selesai untuk banyak orang. Rangkaian (الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ, alladziina kafaruu bi-aayaati llaahi) yang berarti "orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah" muncul 3 kali, yaitu di 3:4, 29:23, dan 39:63. Terjemahan tidak menulis kata "dan" di awal ayat. Pembuka (وَالَّذِينَ كَفَرُوا, wa-lladziina kafaruu) juga ditulis tanpa "dan" di 39:63 dan 45:11, sedangkan 8:73, 24:39, 35:36, dan 47:8 menuliskannya. Kata (آيَاتِ, aayaati) yang berarti "tanda-tanda" berakar أ-ي-ي.

Kata (لِقَائِهِ, liqaa'ihi) yang berarti "pertemuan dengan-Nya" berakar ل-ق-ي, dan akhiran -hi menunjuk Allah yang disebut tepat sebelumnya, (بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ, bi-aayaati llaahi wa-liqaa'ihi). Kata (وَلِقَائِهِ, wa-liqaa'ihi) muncul 2 kali, yaitu di 18:105 dan 29:23; di 18:105 bunyinya (بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ, bi-aayaati rabbihim wa-liqaa'ihi) yang berarti "terhadap tanda-tanda Tuhan mereka dan pertemuan dengan-Nya". Kata benda yang sama dalam bentuk lain, (بِلِقَاءِ, bi-liqaa'i) yang berarti "terhadap pertemuan dengan", muncul 7 kali, yaitu di 6:31, 6:154, 10:45, 13:2, 23:33, 30:8, dan 32:10. Di 32:10 bunyinya (بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ, bal hum bi-liqaa'i rabbihim kaafiruuna) yang berarti "bahkan mereka kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka", dan di 30:8 (لَكَافِرُونَ, la-kaafiruuna) yang berarti "benar-benar kufur", sesudah pernyataan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Terjemahan memakai "pertemuan" di semua tempat itu.

Kata (يَئِسُوا, ya'isuu) yang berarti "mereka berputus asa" berakar ي-ئ-س dan berbentuk perbuatan yang sudah selesai. Bentuk persis ini muncul 2 kali, yaitu di 29:23 dan 60:13, dalam (قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ, qad ya'isuu mina l-aakhirati) yang berarti "sungguh mereka telah putus asa dari akhirat". Di keduanya putus asa disambung kata (مِنْ, min) yang berarti "dari". Rangkaian (أُولَٰئِكَ يَئِسُوا, ulaa'ika ya'isuu) yang berarti "mereka itu berputus asa" hanya ada di ayat ini. Akar ي-ئ-س dipakai juga di 12:87, (إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ, innahu laa yay'asu min rawhi llaahi illaa l-qawmu l-kaafiruuna) yang berarti "sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari kelegaan Allah kecuali kaum yang kafir".

Kata (رَحْمَتِي, rahmatii) yang berarti "rahmat-Ku" berakar ر-ح-م, akar yang sama dengan (يَرْحَمُ, yarhamu) di 29:21. Akhiran -ii berarti "ku", sehingga pembicaranya menyebut rahmat sebagai miliknya sendiri, sedangkan di awal ayat yang sama Allah disebut dengan nama, (اللَّهِ, llaahi). Kata rahmat-Ku muncul 2 kali, yaitu di 7:156 dan 29:23. Di 7:156 bunyinya (وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ, wa-rahmatii wasi'at kulla syay'in) yang berarti "dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu", dalam ucapan yang dibuka (قَالَ, qaala) dan diterjemahkan "Dia berfirman". Terjemahan 29:23 menulis -Ku dengan huruf besar mengikuti ayat itu.

Kata (عَذَابٌ أَلِيمٌ, 'adzaabun aliimun) yang berarti "azab yang pedih" memuat sifat dari akar أ-ل-م. Rangkaian (أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ, ulaa'ika lahum 'adzaabun aliimun) muncul 3 kali, yaitu di 3:91, 29:23, dan 42:42. Di 29:23 rangkaian itu didahului huruf wa, (وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ, wa-ulaa'ika lahum 'adzaabun aliimun), dan susunan itu hanya ada di sini. Terjemahan memakai "mendapat" untuk (لَهُمْ, lahum) yang berarti "bagi mereka", seperti di 42:42 yang berbunyi "mereka itu mendapat azab yang pedih", dan tidak memakai kata "akan" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Tafsiran

Ayat ini menyebut siapa yang berputus asa dari rahmat, yaitu orang-orang yang kufur terhadap dua hal: tanda-tanda Allah dan pertemuan dengan-Nya. Dua hal itu berdampingan dengan isi tiga ayat sebelumnya. Ayat 29:19 dan 29:20 meminta memperhatikan penciptaan, dan 29:21 menyebut kalian dibalikkan kepada-Nya. Pembacaan bahwa tanda-tanda menunjuk apa yang diamati dan pertemuan menunjuk kembali kepada-Nya bersandar pada urutan itu, dan ayat 29:23 sendiri tidak menyatakannya. Di 13:2 tanda-tanda dirinci agar kalian yakin akan pertemuan dengan Tuhan kalian, dan di 30:8 serta 32:10 kufur terhadap pertemuan datang dekat dengan pembicaraan tentang penciptaan. Ketiga ayat itu menopang urutan di surah ini tanpa menyamakan konteksnya.

Ayat ini menyapa dengan cara baru. Dari 29:20 sampai 29:22 pembicaraan memakai kalian, sedangkan di sini pembicaraan menyebut mereka dengan dua kata penunjuk, (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika) yang berarti "mereka itu", dan menyebut rahmat dengan akhiran orang pertama. Keputusasaan disebut dengan kata kerja yang pelakunya mereka, tanpa pernyataan bahwa rahmat ditutup bagi mereka. Akar rahmat sudah muncul di 29:21 sebagai perbuatan Dia yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, sehingga 29:23 menyebut akar yang sama dari sisi orang yang berputus asa darinya.

Dalam surah-surah lain keputusasaan dari rahmat atau kelegaan dikaitkan dengan pihak tertentu. Ayat 12:87 menyebut kaum yang kafir, dan 15:56 menyebut orang-orang yang sesat dalam pertanyaan (وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ, wa-man yaqnathu min rahmati rabbihi) yang berarti "dan siapa yang berputus asa dari rahmat Tuhannya". Ayat 39:53 menyapa hamba-hamba yang melampaui batas atas diri mereka dengan larangan (لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ, laa taqnathuu min rahmati llaahi). Konteks ketiga ayat itu berbeda dari 29:23, dan tidak ada keterangan di 29:23 tentang apakah keputusasaan itu dapat berakhir.

Ayat ini memuat dua kalimat tentang kelompok yang sama, masing-masing dibuka dengan kata penunjuk yang diulang: yang pertama tentang keadaan di dalam, berputus asa, dan yang kedua tentang azab yang pedih. Urutan keduanya tertulis, dan hubungan sebab di antaranya tidak ditulis.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua objek kekufuran yang berdampingan, yaitu tanda-tanda Allah dan pertemuan dengan-Nya. Tanda-tanda dapat diperhatikan seperti yang diminta 29:19 dan 29:20, sedangkan pertemuan disebut tanpa perincian cara terjadinya. Pembaca dapat menimbang apakah dua objek itu terasa sama mudahnya atau sama sulitnya untuk diakui, dan di antara keduanya mana yang lebih sering dipertimbangkan dalam keputusan sehari-hari. Ayat 29:23 tidak menyebut mana yang lebih berat, dan hanya menempatkan keduanya dalam satu rangkaian kufur. Bagaimana pertemuan dengan-Nya ikut menentukan satu keputusan yang sedang ditimbang pembaca hari ini?
  • Kata kerja berputus asa dalam ayat ini memiliki pelaku, yaitu mereka, dan ayat tidak menyebut bahwa Allah menutup rahmat bagi mereka. Pembaca dapat memperhatikan kalimat yang diucapkannya ketika menghadapi buntu, misalnya sudah tidak ada lagi jalan, dan memeriksa apakah kalimat itu laporan tentang keadaan di luar atau perbuatan batin yang dijalankan sendiri. Ayat ini hanya menyebut perbuatan batin mereka dan tidak merinci apa yang terjadi pada rahmat itu sendiri. Bagaimana pembaca membedakan keadaan yang tertutup dari keadaan yang ditutup oleh dirinya sendiri?
  • Di awal ayat Allah disebut dengan nama, dan di tengah ayat rahmat disebut dengan akhiran orang pertama, rahmat-Ku. Pembaca yang mengikuti pergantian itu menerima kata rahmat dalam bentuk milik pembicara, tidak lewat penuturan pihak ketiga. Di 7:156 kata yang sama diucapkan dalam sebuah ucapan Allah, dan di 29:23 kata itu dipakai untuk menggambarkan orang yang berputus asa darinya. Bila rahmat dibaca sebagai milik yang disebut pemiliknya sendiri, bagaimana jarak antara pembaca dan kata itu berubah?
  • Kelompok yang sama menerima dua kalimat: mereka berputus asa dari rahmat, dan mereka mendapat azab yang pedih. Kalimat pertama menyangkut keadaan di dalam, kalimat kedua menyangkut apa yang menimpa dari luar. Tidak ada keterangan mana yang datang lebih dulu, dan tidak ada kata sebab di antara keduanya. Pembaca dapat memeriksa kekhawatirannya sendiri dan menimbang yang mana yang lebih sering terpikir, kehilangan harapan atau kehilangan keselamatan. Kekhawatiran jenis apa yang paling sering mengisi pikiran pembaca, dan apakah kekhawatiran itu menjawab kalimat pertama atau kalimat kedua?
  • Rahmat disebut dua ayat sebelumnya sebagai sesuatu yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, sehingga pembaca yang tiba di ayat ini sudah memegang kata itu. Orang yang berputus asa dalam ayat ini berdiri di depan kata yang sama dan berpaling darinya. Ayat 29:23 hanya menyebut bahwa mereka berputus asa dari rahmat-Ku, dan tidak menjelaskan apakah rahmat itu tidak ada atau tidak dikejar. Apa yang tersisa bagi pembaca jika kata rahmat dibaca dari dua ayat sekaligus dan pertanyaan tentang ada atau tidaknya rahmat dibiarkan terbuka?
  • Azab dalam ayat ini hanya diberi satu sifat, pedih, tanpa uraian bentuk, lama, atau tempat. Pembaca dapat memperhatikan dorongan untuk melengkapi gambar itu dengan rincian dari ingatan, lalu memisahkan rincian yang tertulis dari rincian yang ditambahkan sendiri. Bobot ayat terletak pada kata yang tertulis, bukan pada gambar yang disusun pembaca. Bagaimana timbangan peringatan itu berubah bila setiap tambahan dari ingatan dikurangi?