فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Maka tidak ada jawaban kaumnya selain mengatakan, "Bunuhlah atau bakarlah dia!" Lalu, Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُfa-maa kaana jawaaba qawmihi illaa an qaaluu qtuluuhu aw harriquuhumaka tidak ada jawaban kaumnya selain mengatakan, bunuhlah atau bakarlah dia
  2. فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِfa-anjaahu llaahu mina n-naarilalu Allah menyelamatkannya dari api
  3. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَinna fii dzaalika la-aayaatin li-qawmin yu'minuunasesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. فَمَاfa-maamaka tidaklah
  2. كَانَkaanaadalah
  3. جَوَابَjawaabajawaban
  4. قَوْمِهِqawmihikaumnya
  5. إِلَّاillaakecuali
  6. أَنْanbahwa
  7. قَالُواqaaluumereka berkata
  8. اقْتُلُوهُqtuluuhubunuhlah dia
  9. أَوْawatau
  10. حَرِّقُوهُharriquuhubakarlah dia
  11. فَأَنْجَاهُfa-anjaahumaka Allah menyelamatkannya
  12. اللَّهُllaahuAllah
  13. مِنَminadari
  14. النَّارِn-naariapi
  15. إِنَّinnasesungguhnya
  16. فِيfiipada
  17. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  18. لَآيَاتٍla-aayaatinbenar-benar tanda-tanda
  19. لِقَوْمٍli-qawminbagi kaum
  20. يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman

Inti bacaan

Kalimat (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ, inna fii dzaalika la-aayaatin li-qawmin yu'minuuna) muncul 5 kali di Al-Qur'an (16:79, 27:86, 29:24, 30:37, 39:52), dan hanya 29:24 yang menutupnya sesudah kisah, bukan sesudah pertanyaan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا, fa-maa kaana jawaaba qawmihi illaa an qaaluu) yang berarti "maka tidak ada jawaban kaumnya selain mengatakan". Rangkaian persis itu muncul 3 kali, yaitu di 27:56, 29:24, dan 29:29. Tanpa awalan fa, (وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ, wa-maa kaana jawaaba qawmihi) ada di 7:82, sehingga kata (جَوَابَ, jawaaba) yang berarti "jawaban" dan berakar ج-و-ب muncul bersama qawmihi di empat ayat. Kata (إِلَّا أَنْ قَالُوا, illaa an qaaluu) muncul di 9 ayat, yaitu 3:147, 6:23, 7:5, 7:82, 17:94, 27:56, 29:24, 29:29, dan 45:25. Kata (قَوْمِهِ, qawmihi) yang berarti "kaumnya" berakar ق-و-م, dan akhiran -hi menunjuk satu orang laki-laki yang namanya tidak ditulis di ayat ini. Di 29:29 dan 27:56 akhiran itu menunjuk Lut, yang disebut di 29:28 dan 27:54 dengan (وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ, wa-luuthan idz qaala li-qawmihi) yang berarti "dan Lut, ketika berkata kepada kaumnya". Di 29:24 akhiran itu terdekat dengan Ibrahim di 29:16, (وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ, wa-ibraahiima idz qaala li-qawmihi), dan ayat 29:17 sampai 29:23 tidak memuat nama orang lain, sehingga terjemahan membacanya sebagai kaum Ibrahim.

Perintah (اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ, qtuluuhu aw harriquuhu) yang berarti "bunuhlah dia atau bakarlah dia" memuat dua kata kerja perintah untuk banyak orang yang dihubungkan (أَوْ, aw) yang berarti "atau". Bentuk perintah akar ق-ت-ل dengan akhiran -hu untuk satu orang hanya ada di 29:24, sedangkan di 2:191, 4:89, dan 4:91 akhirannya -hum untuk banyak orang. Kata (حَرِّقُوهُ, harriquuhu) berakar ح-ر-ق dan muncul 2 kali, yaitu di 21:68 dan 29:24. Di 21:68 bunyinya (قَالُوا حَرِّقُوهُ, qaaluu harriquuhu) yang berarti "mereka berkata, bakarlah ia", tanpa pilihan membunuh di sampingnya.

Kata (فَأَنْجَاهُ, fa-anjaahu) yang berarti "lalu menyelamatkannya" berakar ن-ج-و, dan rangkaian (فَأَنْجَاهُ اللَّهُ, fa-anjaahu llaahu) muncul 1 kali, yaitu di 29:24. Pelakunya disebut dengan nama, Allah, sesudah kata kerja. Bentuk (فَأَنْجَيْنَاهُ, fa-anjaynaahu) yang berarti "maka Kami selamatkan dia" muncul 7 kali, yaitu di 7:64, 7:72, 7:83, 21:9, 26:119, 27:57, dan 29:15, dan di semuanya pelakunya Kami. Kata (النَّارِ, n-naari) yang berarti "api" berakar ن-و-ر, dan frasa (مِنَ النَّارِ, mina n-naari) yang berarti "dari api" muncul 10 kali, yaitu di 2:167, 3:103, 4:145, 5:37, 7:38, 28:29, 29:24, 38:27, 39:16, dan 40:47. Hanya di 29:24 frasa itu langsung mengikuti kata kerja penyelamatan yang pelakunya Allah.

Kalimat penutup (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ, inna fii dzaalika la-aayaatin li-qawmin yu'minuuna) yang berarti "sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman" muncul 5 kali, yaitu di 16:79, 27:86, 29:24, 30:37, dan 39:52. Huruf (لَ, la) di depan aayaatin diterjemahkan "benar-benar", dan kata (آيَاتٍ, aayaatin) yang berarti "tanda-tanda" tidak memakai kata sandang, sehingga tanda-tandanya tidak dibatasi pada satu tanda tertentu. Kata (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna) berakar أ-م-ن. Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "yang demikian itu" tidak diperinci menunjuk penyelamatan dari api saja atau seluruh rangkaian jawaban kaum dan penyelamatan itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup kisah yang dibuka di 29:16 dengan tiga bagian: jawaban kaum, penyelamatan, dan rumus penutup. Ayat 29:16 menyebut Ibrahim berkata kepada kaumnya, dan sesudah itu 29:17 sampai 29:23 berjalan tanpa menyebut nama manusia mana pun. Ayat 29:24 membawa pembicaraan kembali ke kaum yang disebut di 29:16 dengan menyatakan bahwa jawaban mereka tidak lain adalah satu ucapan, bunuhlah dia atau bakarlah dia. Tidak ada jawaban lain yang dicatat atas apa yang dikatakan kepada mereka.

Peristiwa antara perintah dan penyelamatan tidak diuraikan. Ayat 21:68 mencatat perintah membakar dan 21:69 mencatat apa yang Kami katakan kepada api, (يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ, yaa naaru kuunii bardan wa-salaaman 'alaa ibraahiima) yang berarti "wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim", sedangkan 29:24 hanya menyebut hasilnya, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Kedua ayat berasal dari penuturan yang berbeda, dan 29:24 tidak memuat cara penyelamatan itu. Akibat bagi kaumnya juga tidak ditulis di sini. Ayat 21:70 menyebut Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi, dan 37:98 menyebut orang-orang yang paling hina, dan kedua ayat itu tidak dipakai untuk menambah isi 29:24.

Rumus penutup 29:24 dipakai dalam empat ayat lain, dan keempatnya dibuka dengan pertanyaan tidakkah mereka: 16:79, 27:86, 30:37, dan 39:52. Ayat 27:86 dan 30:37 membuka dengan rangkaian yang sama dengan 29:19, (أَوَلَمْ يَرَوْا, a-wa-lam yaraw). Dengan demikian 29:24 menutup rangkaian enam ayat yang dibuka oleh pertanyaan tentang mereka dengan rumus yang di tempat lain menutup pertanyaan semacam itu, tetapi di sini rumus itu menutup sebuah kisah. Kata tanda-tanda juga muncul di 29:23 dengan arah yang berlawanan: di sana orang-orang kufur terhadap tanda-tanda Allah, dan di sini tanda-tanda disebut bagi kaum yang beriman. Ayat 29:24 tidak menyatakan apakah kaum yang beriman itu orang yang sama dengan mereka di 29:19.

Renungan dan Hikmah

  • Atas apa yang dikatakan kepada mereka, kaum itu tidak memberi jawaban lain selain perintah untuk membunuh atau membakar. Ayat ini tidak mencatat bantahan, pertanyaan, atau tawar-menawar dari mereka. Pembaca dapat memeriksa pola dirinya ketika mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya: menjawab isi perkataan itu atau menginginkan pembicaranya tidak ada lagi. Ayat 29:24 hanya menunjukkan pola kaum Ibrahim dan tidak memuat penilaian atas pola pembaca. Apa yang pertama kali muncul di dalam diri pembaca ketika sebuah kalimat terasa mengganggu?
  • Kedua kata kerja perintah dalam (اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ, qtuluuhu aw harriquuhu) berbentuk jamak, artinya diucapkan kepada banyak orang sekaligus, tanpa menyebut siapa yang akan melaksanakannya. Dalam sekelompok orang yang diberi perintah bersama, tanggung jawab dapat terasa terbagi tipis sampai tak ada yang merasa memegangnya. Ayat 29:24 tidak menyebut siapa yang bergerak sesudah perintah itu, dan hanya mencatat ucapannya. Pembaca yang pernah berada di tengah sekelompok orang ketika sebuah perintah dilontarkan dapat mengingat di bagian mana dari kalimat itu dirinya berdiri. Siapa yang memegang perbuatan bila perintah diucapkan kepada semua orang?
  • Di 29:15 penyelamatan Nuh disebut dengan kata Kami, sedangkan di 29:24 pelaku penyelamatan disebut dengan nama setelah kata kerjanya: lalu Allah menyelamatkannya. Pembaca yang pernah terhindar dari sesuatu yang direncanakan pihak lain dapat memperhatikan siapa yang disebutnya sebagai penyelamat dalam ceritanya sendiri: keadaan, orang, kemampuan, atau Allah. Ayat ini menyebut nama pelaku tanpa menyebut sarana yang dipakai, sehingga perhatian pembaca mengarah pada pelakunya, bukan pada caranya. Dalam cerita keselamatan yang pernah dialami pembaca, nama siapa yang paling sering disebut?
  • Penyelamatan dalam ayat ini disebut dari api, bukan dari kaumnya. Kaum itu hilang dari kalimat sesudah ucapan mereka, dan perhatian ayat tinggal pada yang diselamatkan dan pada api. Pembaca dapat memeriksa apa yang disebutnya sebagai bahaya ketika bercerita tentang masa sulitnya: orang-orang yang mengancam atau benda yang mengancam. Ayat 29:24 menaruh bahaya pada api yang nyata, dan tidak menyebut sikap yang diselamatkan terhadap orang-orang di sekitar api itu. Bahaya mana dalam hidup pembaca yang selama ini diberi nama orang, padahal bentuknya keadaan?
  • Kalimat penutup menyebut tanda-tanda bagi kaum yang beriman, dan tidak menyebut bahwa kaum lain tidak bisa melihatnya. Sebuah kisah yang sudah lama dikenal dapat berubah menjadi cerita biasa bila tanda di dalamnya tidak lagi diperhatikan. Pembaca dapat membaca ulang kisah yang paling sering didengarnya dengan satu pertanyaan, tanda apa yang tertulis di sana dan selama ini terlewat. Di ayat sebelumnya tanda-tanda Allah disebut sebagai yang dikufuri, sehingga kata yang sama berdiri di dua sisi. Di sisi mana pembaca meletakkan dirinya ketika membaca kata tanda-tanda?
  • Penyelamatan datang dengan kata lalu, tepat sesudah ucapan kaum, dan ayat tidak mencatat berapa lama jarak antara keduanya. Pembaca yang sedang menunggu pertolongan dapat memeriksa jeda yang dibayangkannya sendiri, apakah panjang, pendek, atau tanpa batas. Jeda itu berasal dari pembaca dan tidak tertulis, karena yang tertulis hanya urutannya: ucapan, lalu penyelamatan oleh Allah. Menunggu tanpa kepastian jeda, dengan ukuran apa pembaca mengetahui bahwa urutan itu masih berjalan?