أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ ۖ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Apakah kalian benar-benar mendatangi lelaki, memotong jalan, dan melakukan kemungkaran di majelis kalian?" Maka tidak ada jawaban kaumnya kecuali mereka berkata, "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar!"

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَa-innakum la-ta'tuuna r-rijaala wa-taqtha'uuna s-sabiila wa-ta'tuuna fii naadiikumu l-munkaraapakah kalian benar-benar mendatangi lelaki, memotong jalan, dan melakukan kemungkaran di majelis kalian
  2. فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَfa-maa kaana jawaaba qawmihi illaa an qaaluu tinaa bi-'adzaabi llaahi in kunta mina sh-shaadiqiinamaka tidak ada jawaban kaumnya kecuali mereka berkata, datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. أَئِنَّكُمْa-innakumapakah sesungguhnya kalian
  2. لَتَأْتُونَla-ta'tuunasungguh kalian mendatangi
  3. الرِّجَالَr-rijaalapara lelaki
  4. وَتَقْطَعُونَwa-taqtha'uunadan kalian memutuskan
  5. السَّبِيلَs-sabiilajalan
  6. وَتَأْتُونَwa-ta'tuunadan kalian mendatangi
  7. فِيfiidi
  8. نَادِيكُمُnaadiikumutempat pertemuan kalian
  9. الْمُنْكَرَl-munkarakemungkaran
  10. فَمَاfa-maamaka tidaklah
  11. كَانَkaanaadalah
  12. جَوَابَjawaabajawaban
  13. قَوْمِهِqawmihikaumnya
  14. إِلَّاillaakecuali
  15. أَنْanbahwa
  16. قَالُواqaaluumereka berkata
  17. ائْتِنَاtinaadatangkanlah kepada kami
  18. بِعَذَابِbi-'adzaabidengan azab
  19. اللَّهِllaahiAllah
  20. إِنْinjika
  21. كُنْتَkuntaengkau adalah
  22. مِنَminadari
  23. الصَّادِقِينَsh-shaadiqiinaorang-orang yang benar

Inti bacaan

Frasa (بِعَذَابِ اللَّهِ, bi-'adzaabi llaahi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:29, sedangkan permintaan serupa di 8:32 memakai (ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ, tinaa bi-'adzaabin aliimin).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ, a-innakum la-ta'tuuna) yang berarti "apakah sesungguhnya kalian benar-benar mendatangi", dan huruf (أَ, a) di awalnya menandai pertanyaan. Rangkaian (إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ, innakum la-ta'tuuna) di 29:28 dan 7:81 tanpa huruf itu berupa pernyataan, sedangkan rangkaian dengan huruf itu ada di 27:55 dan 29:29 sebagai pertanyaan. Karena itu 29:28 dan 29:29 memuat kata yang sama dalam dua bentuk, pernyataan lalu pertanyaan. Kata (الرِّجَالَ, r-rijaala) yang berarti "para lelaki" muncul sebagai objek di 7:81, 27:55, dan 29:29, dan terjemahan memakai "mendatangi lelaki" di ketiganya.

Kata kerja (تَأْتُونَ, ta'tuuna) berakar أ-ت-ي. Di dua ayat 29:28 dan 29:29 akar ini muncul empat kali: (تَأْتُونَ, ta'tuuna) pada 29:28, (لَتَأْتُونَ, la-ta'tuuna) dan (وَتَأْتُونَ, wa-ta'tuuna) pada 29:29, serta (ائْتِنَا, tinaa) yang berarti "datangkanlah kepada kami" pada 29:29. Kaum itu ditanya tentang apa yang didatangi, lalu menjawab dengan kata kerja dari akar yang sama. Terjemahan memakai "mendatangi" untuk lelaki, "melakukan" untuk kemungkaran, dan "datangkanlah" untuk perintah, sesuai objeknya.

Bagian (وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ, wa-taqtha'uuna s-sabiila) yang berarti "dan kalian memotong jalan" hanya ada di 29:29. Kata kerja (تَقْطَعُونَ, taqtha'uuna) berakar ق-ط-ع, dan kata (السَّبِيلَ, s-sabiila) yang berarti "jalan" muncul tujuh kali, yaitu di 4:44, 25:17, 29:29, 33:4, 33:67, 76:3, dan 80:20. Ayat 29:29 tidak mengatakan cara kaum itu memotong jalan atau siapa yang menjadi korbannya, dan terjemahan tidak menambah keterangan seperti "merampok" atau "menyamun".

Kata benda (نَادِي, naadii) berakar ن-د-و dan muncul dua kali sebagai kata benda, yaitu di 29:29 dan 96:17. Di 96:17 bunyinya (فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ, fa-l-yad'u naadiyahu) yang berarti "maka biarlah dia memanggil golongannya", dan kata itu menjadi sasaran kata kerja memanggil, sehingga menunjuk orang-orangnya. Di 29:29 bunyinya (فِي نَادِيكُمُ, fii naadiikumu) yang berarti "di majelis kalian", dan kata itu didahului (فِي, fii) yang berarti "di", sehingga menunjuk tempat. Karena itu terjemahannya "majelis kalian". Kata (الْمُنْكَرَ, l-munkara) yang berarti "kemungkaran" berakar ن-ك-ر dan bentuk persisnya ada dua kali, yaitu di 22:72 dan 29:29. Bentuk lain dari kata yang sama, (الْمُنْكَرِ, l-munkari), ada di 29:45 bersama (الْفَحْشَاءِ, l-fahsyaa'i).

Rangkaian (فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا, fa-maa kaana jawaaba qawmihi illaa an qaaluu) yang berarti "maka tidak ada jawaban kaumnya kecuali mereka berkata" muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 27:56, 29:24, dan 29:29. Bagian (جَوَابَ قَوْمِهِ, jawaaba qawmihi) yang berarti "jawaban kaumnya" muncul empat kali, yaitu di 7:82, 27:56, 29:24, dan 29:29. Di 29:24 jawaban kaum Ibrahim berupa suruhan membunuh atau membakar, dan di 29:29 jawaban kaum Lut berupa tuntutan kepada pembicara.

Perintah (ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ, tinaa bi-'adzaabi llaahi) yang berarti "datangkanlah kepada kami azab Allah" memakai (بِعَذَابِ اللَّهِ, bi-'adzaabi llaahi), dan frasa itu hanya ada di 29:29. Perintah dengan kata kerja yang sama ada di 4 ayat, yaitu 6:71, 7:77, 8:32, dan 29:29. Di 8:32 permintaannya berbunyi (ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ, tinaa bi-'adzaabin aliimin) yang berarti "datangkanlah kepada kami azab yang pedih", dan di 7:77 berbunyi (ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا, tinaa bi-maa ta'idunaa) yang berarti "datangkanlah kepada kami apa yang engkau janjikan". Ungkapan (إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ, in kunta mina sh-shaadiqiina) yang berarti "jika engkau termasuk orang-orang yang benar" muncul sembilan kali, yaitu di 7:70, 7:106, 11:32, 15:7, 26:31, 26:154, 26:187, 29:29, dan 46:22, dan di kesembilannya ungkapan itu mengikuti tuntutan agar sesuatu didatangkan, ditunjukkan, atau dijatuhkan.

Tafsiran

Ayat ini menutup teguran Lut dengan pertanyaan yang memerinci, lalu mencatat jawaban kaum itu dalam satu kalimat. Pertanyaannya menyebut tiga perbuatan: mendatangi lelaki, memotong jalan, dan melakukan kemungkaran di majelis. Ketiganya sejajar karena sama-sama memakai kata kerja kalian dalam bentuk yang sedang berlangsung. Pernyataan di 29:28 tentang perbuatan keji yang tak punya pendahulu disusul daftar tiga perbuatan ini, walaupun ayat tidak mengatakan bahwa ketiganya sama dengan perbuatan keji itu.

Jawaban kaum itu memakai pola yang sudah dipakai di 29:24. Di sana teguran Ibrahim tentang berhala dijawab dengan suruhan membunuh atau membakarnya, dan di sini teguran Lut dijawab dengan tuntutan azab. Di kedua ayat jawaban itu tidak membantah isi teguran. Ayat 29:29 tidak mencatat sangkalan atas ketiga perbuatan itu.

Tuntutan itu mengikat kebenaran pembicara pada datangnya azab. Ungkapan jika engkau termasuk orang-orang yang benar dipakai di sembilan ayat untuk menuntut bukti, dan di 29:29 buktinya berupa azab dari Allah, sedangkan di ayat-ayat lain buktinya malaikat, tanda, atau kepingan dari langit. Sesudah ayat ini, 29:30 memuat doa pembicara yang menyebut Tuhanku, sehingga ayat 29:29 menjadi titik tempat percakapan dengan kaum berhenti dan permohonan kepada Tuhan dimulai.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 29:28 memuat rangkaian kata kerja kalian mendatangi sebagai pernyataan, dan ayat 29:29 memuat rangkaian yang sama sebagai pertanyaan, hanya dengan satu huruf tambahan di awalnya. Pernyataan memberi tahu, sedangkan pertanyaan menunggu jawaban dari lawan bicara. Kaum itu tidak menjawab pertanyaan itu di ayat ini, dan yang tercatat berupa tuntutan. Pembaca dapat melihat bahwa pertanyaan yang sama kata demi kata dapat meminta pengakuan, dan dapat pula dijawab dengan pengalihan. Ketika ditanya tentang sesuatu yang dikerjakannya, jawaban dapat menyentuh pertanyaan itu, dan dapat pula berpindah ke hal lain.
  • Akar kata datang muncul empat kali di dua ayat ini. Pembicara bertanya tentang apa yang kalian datangi, dan kaum itu menjawab dengan perintah datangkanlah kepada kami azab Allah. Kata kerja yang dipakai untuk menegur dikembalikan sebagai kata kerja untuk menantang. Pembaca dapat memperhatikan bahwa jawaban yang memakai kata yang sama dengan pertanyaan terdengar seperti balasan, sementara isinya berpindah dari perbuatan manusia ke tindakan dari Allah. Ketika sebuah pertanyaan tentang perbuatan dibalas dengan tantangan, apa sebenarnya yang sedang dijawab?
  • Kaum itu mengikat kebenaran pembicara pada satu peristiwa: bila engkau termasuk orang yang benar, datangkan azab Allah. Ukuran seperti itu menaruh kebenaran pada peristiwa yang harus terlihat lebih dulu, sebelum isi ucapan sempat ditimbang. Pembaca dapat memeriksa ukuran apa yang dipakainya untuk memutuskan apakah ucapan seseorang benar: isi ucapan itu, atau sesuatu yang harus terjadi lebih dulu? Dan bila ukuran itu berupa peristiwa, siapa yang berwenang mendatangkannya?
  • Ayat ini menyebut tempat kemungkaran itu dengan kata di majelis kalian. Kata kalian di sini menjadikan majelis itu milik bersama, dan ayat tidak menyebut seseorang yang berada di luarnya. Pembaca dapat memperhatikan perkumpulan yang diikutinya dan menanyakan apa yang biasa dibiarkan terjadi di sana tanpa dipersoalkan. Bila yang dibiarkan itu ditanyakan satu per satu, mana yang akan sulit dipertahankan?
  • Ayat ini menyebut kaum itu memotong jalan, tanpa menyebut cara atau korbannya. Kata jalan dipakai tanpa keterangan, sehingga pembaca bisa memikirkan jalan yang dilalui orang lain, entah di tanah, entah dalam urusan hidup. Ayat 29:29 tidak memberi tafsir, dan perbuatan itu cukup dicatat sebagai satu dari tiga hal yang ditanyakan. Pembaca dapat memandang jalan orang lain di sekitarnya dan menanyakan apa yang menghalangi, memperlambat, atau memutusnya, termasuk dari tindakannya sendiri. Pembaca dapat memeriksa apakah ada jalan yang dilalui orang lain yang ikut terpotong oleh kebiasaannya, tanpa pernah disadari.
  • Sesudah tuntutan kaum itu, ayat berikutnya memuat Tuhanku, tolonglah aku atas kaum yang berbuat kerusakan itu. Percakapan di 29:29 berakhir pada tantangan, dan 29:30 beralih dari kaum kepada Tuhan. Ayat ini sendiri tidak memuat kalimat yang ditujukan kepada Tuhan, sehingga perpindahan itu terjadi di antara dua ayat. Pembaca dapat memperhatikan pada titik mana sebuah percakapan yang tidak lagi menemukan titik temu berpindah arah, dari lawan bicara kepada Tuhan. Bila tantangan seperti itu datang kepadanya, apa yang pertama dilakukan, dan kepada siapa percakapan dilanjutkan sesudahnya?