قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ
Ia berkata, "Tuhanku, tolonglah aku atas kaum yang berbuat kerusakan itu."
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَqaala rabbi nshurnii 'alaa l-qawmi l-mufsidiinaia berkata, Tuhanku, tolonglah aku atas kaum yang berbuat kerusakan itu
Terjemahan per kata (6 kata)
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- انْصُرْنِيnshurniitolonglah aku
- عَلَى'alaaatas
- الْقَوْمِl-qawmikaum
- الْمُفْسِدِينَl-mufsidiinaorang-orang yang berbuat kerusakan
Inti bacaan
Rangkaian (رَبِّ انْصُرْنِي, rabbi nshurnii) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:26, 23:39, dan 29:30.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالَ, qaala) yang berarti "ia berkata", dan nama pembicaranya tidak disebut. Di 29:28 Lut berkata kepada kaumnya, dan 29:29 mencatat jawaban kaumnya, sehingga kata kerja ini terbaca sebagai lanjutan dari pembicara yang sama. Terjemahan memakai "ia" tanpa nama, sama seperti Arabnya.
Kata (رَبِّ, rabbi) yang berarti "Tuhanku" berakar ر-ب-ب dan dipakai untuk memanggil. Dua ayat sebelumnya, di 29:26, kata (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku" dipakai untuk menunjuk tujuan, (إِلَىٰ رَبِّي, ilaa rabbii) yang berarti "kepada Tuhanku". Di 29:30 Tuhan itu diajak bicara langsung, tidak disebut sebagai tujuan. Rangkaian (رَبِّ انْصُرْنِي, rabbi nshurnii) yang berarti "Tuhanku, tolonglah aku" muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:26, 23:39, dan 29:30, dan di ketiganya didahului (قَالَ رَبِّ, qaala rabbi) yang berarti "ia berkata, Tuhanku".
Kata (انْصُرْنِي, nshurnii) yang berarti "tolonglah aku" berakar ن-ص-ر dan berbentuk perintah kepada satu orang, dengan akhiran -nii yang berarti "aku". Di 23:26 dan 23:39 doanya disambung (انْصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ, nshurnii bi-maa kadzdzabuuni) yang berarti "tolonglah aku sebab mereka mendustakanku", yaitu dengan alasan yang disebut. Di 29:30 alasan seperti itu tidak ada, dan sasarannya dinamai lewat (عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ, 'alaa l-qawmi l-mufsidiina) yang berarti "atas kaum yang berbuat kerusakan itu". Kata kerja perintah dari akar yang sama dengan kata (عَلَى, 'alaa) yang berarti "atas" dan (الْقَوْمِ, l-qawmi) yang berarti "kaum" ada di empat ayat, yaitu 2:250, 2:286, 3:147, dan 29:30. Di 2:250 dan 3:147 bunyinya (وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ, wa-nshurnaa 'alaa l-qawmi l-kaafiriina) yang berarti "dan tolonglah kami atas kaum yang kufur", dengan pelaku "kami" dan sasaran "kaum yang kufur". Di 29:30 pelakunya "aku" dan sasarannya kaum yang berbuat kerusakan.
Akar ن-ص-ر muncul empat kali di surah ini, yaitu di 29:10, 29:22, 29:25, dan 29:30. Di 29:10 kata kerja datang bersama (جَاءَ نَصْرٌ, jaa'a nashrun) yang berarti "datang pertolongan", dengan keterangan bahwa pertolongan itu berasal dari Tuhanmu. Di 29:22 dan 29:25 penolong dinafikan, lewat (وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ, waliyyin wa-laa nashiirin) yang berarti "pelindung dan penolong" dan (نَاصِرِينَ, naashiriina) yang berarti "para penolong". Di 29:30 kata dari akar itu berbentuk permintaan, bukan pernyataan. Di 21:68 akar yang sama dipakai oleh pihak lain, (وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ, wa-nshuruu aalihatakum) yang berarti "dan bantulah tuhan-tuhan kalian", dalam kata-kata kaum yang berbicara kepada sesamanya.
Kata (الْمُفْسِدِينَ, l-mufsidiina) yang berarti "orang-orang yang berbuat kerusakan" berakar ف-س-د dan bentuk persisnya muncul tiga belas kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:63, 5:64, 7:86, 7:103, 7:142, 10:40, 10:81, 10:91, 27:14, 28:4, 28:77, 29:30, dan 38:28. Di 28:77, (لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ, laa yuhibbu l-mufsidiina) yang berarti "tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan", sebutan itu dipakai oleh pembicara yang berbeda dari pembicara 29:30. Rangkaian (الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ, l-qawmi l-mufsidiina) yang berarti "kaum yang berbuat kerusakan" hanya ada di 29:30. Di 29:28 dan 29:29 kata untuk kaum itu adalah kaumnya, sedangkan di 29:30 pembicara memakai kata kaum dengan kata sandang al-, tanpa kata ganti miliknya, sehingga terjemahan memakai "kaum yang berbuat kerusakan itu".
Kata azab tidak ada di ayat ini, dan tuntutan azab Allah di 29:29 tidak diulang dalam permintaan ini. Bentuk pertolongan yang diminta juga tidak dirinci, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan seperti "dengan menimpakan azab".
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian Lut dengan satu doa pendek yang memuat tiga hal: kepada siapa pembicara berbicara, apa yang diminta, dan terhadap siapa. Rangkaian sebelumnya, 29:28 dan 29:29, seluruhnya ditujukan kepada kaum itu, dan di 29:30 arah ucapan berganti kepada Tuhan. Perpindahan itu tidak diberi kata penghubung selain kata kerja berkata.
Doa ini mengikuti bentuk yang sama dengan doa di 23:26 dan 23:39, tetapi tidak memuat alasan yang disebut di sana. Di 23:26 dan 23:39 alasannya adalah bahwa mereka mendustakan, sedangkan di 29:30 alasannya diganti sebutan bagi kaum itu, yaitu yang berbuat kerusakan. Tuduhan di 29:28 dan 29:29 tentang perbuatan keji, jalan yang dipotong, dan kemungkaran di majelis disusul satu sebutan bagi kaum itu, yaitu yang berbuat kerusakan, walaupun ayat tidak mengatakan bahwa tiga perbuatan itu yang dimaksud dengan kerusakan.
Pertolongan yang diminta disebut sebagai milik pembicara, tolonglah aku, dan tidak sebagai hukuman bagi kaum itu. Dari akar ن-ص-ر di surah ini, pola yang terbentuk berurutan: pertolongan dari Tuhanmu di 29:10, ketiadaan penolong selain Allah di 29:22, ketiadaan penolong bagi kaum yang saling melaknat di 29:25, dan permintaan tolong kepada Tuhan di 29:30. Permintaan itu adalah penggunaan akar tersebut yang berbentuk seruan langsung, sedangkan tiga lainnya berupa kata benda.
Renungan dan Hikmah
- Doa di ayat ini memilih kata tolonglah aku dan tidak kata binasakanlah mereka, meski 29:29 baru saja memuat tuntutan azab. Pembicara menyebut dirinya sebagai pihak yang butuh pertolongan, sedangkan kaum itu hanya disebut lewat sebutannya. Tuhan yang dipanggil di sini adalah Tuhanku, kata yang sama yang dipakai di 29:26 untuk menyebut tujuan. Pembaca dapat memperhatikan bentuk permintaan yang diucapkannya di saat kesal: apakah permintaan itu berpusat pada hukuman bagi orang lain, atau pada kebutuhan sendiri? Dan bila dua hal itu dipisah, mana yang lebih sulit diucapkan kepada Tuhan?
- Doa serupa di 23:26 dan 23:39 menyebut alasan, yaitu mereka mendustakanku, sedangkan doa di 29:30 menyebut sebutan bagi kaum itu, yaitu yang berbuat kerusakan. Satu doa membawa kisah pribadi tentang diperlakukan, dan satu doa membawa penilaian tentang perbuatan. Alasan pembicara memilih penilaian tidak dinyatakan, dan kedua doa itu belum tentu diucapkan oleh orang yang sama. Pembaca dapat bertanya bagaimana alasan disusun ketika meminta tolong kepada Tuhan: dengan menceritakan apa yang menimpa dirinya, atau dengan menilai perbuatan orang lain? Menceritakan apa yang menimpa diri terasa lain daripada menilai perbuatan orang, dan salah satunya lebih terbuka bagi koreksi.
- Selama 29:28 dan 29:29 pembicara menyebut kaum itu kaumnya, sebuah kata yang menandai kedekatan. Di 29:30 kata itu berubah menjadi kaum yang berbuat kerusakan itu, dengan kata sandang, tanpa kata ganti milik. Pergantian ini terjadi dalam doa yang ditujukan kepada Tuhan, di hadapan-Nya. Pembaca dapat memperhatikan perubahan kata yang dipakainya saat berbicara tentang orang dekat dengan orang lain dan saat berbicara tentang orang yang sama kepada Tuhan. Kata yang dipakai kepada Tuhan dapat lebih berjarak atau lebih terus terang daripada kata yang dipakai kepada sesama.
- Ayat ini memulai dengan memanggil, Tuhanku, dan baru sesudahnya meminta. Panggilan itu singkat, hanya satu kata, tanpa pujian panjang dan tanpa rincian tentang apa yang sudah terjadi. Di 29:26 kata yang sama dipakai untuk menyebut tujuan, dan di sini dipakai untuk memanggil. Satu kata yang sama menanggung dua tugas dalam dua ayat yang dipisahkan tiga ayat lain. Pembaca dapat melihat bahwa menyebut nama Tuhan bisa menjadi pernyataan arah dan bisa pula menjadi panggilan. Apakah kata Tuhanku dalam percakapannya sendiri lebih sering berfungsi sebagai arah yang dituju, atau sebagai nama yang dipanggil ketika terdesak?
- Akar kata tolong muncul di surah ini pada empat tempat. Ayat 29:10 menyebut pertolongan yang datang dari Tuhanmu, 29:22 dan 29:25 menyebut ketiadaan penolong, dan 29:30 menyebut permintaan tolong. Empat tempat itu berurutan dari kabar, lalu pernyataan ketiadaan dua kali, sampai seruan. Pembaca dapat menaruh keempatnya berdampingan dan menanyakan di bagian mana dirinya berada saat ini: menerima kabar tentang pertolongan, menghitung penolong yang tidak ada, atau sedang meminta kepada Tuhan? Apa yang berubah dalam hidupnya bila ia berpindah dari satu bagian ke bagian berikutnya?
- Ayat ini berakhir pada permintaan dan tidak memuat jawaban. Ayat 29:31 memulai dengan para utusan yang datang kepada Ibrahim, dan kedatangan itu tidak dinyatakan sebagai jawaban atas doa ini. Doa dicatat sebagai doa, dan hasilnya belum dicatat di tempat yang sama. Pembaca dapat memperhatikan bahwa catatan tentang sebuah permintaan kepada Tuhan tidak selalu disusul catatan tentang jawabannya di ayat yang sama. Bagaimana pembaca menunggu jawaban atas permintaan yang sudah diucapkan, dan apa yang dikerjakannya selama menunggu?