وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan kepada Madyan, Kami utus saudara mereka, Syuaib. Lalu ia berkata, "Wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah, dan harapkanlah hari akhir, dan janganlah berbuat kerusakan di bumi sebagai perusak."

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًاwa-ilaa madyana akhaahum syu'aybandan kepada Madyan, Kami utus saudara mereka, Syuaib
  2. فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَfa-qaala yaa qawmi 'buduu llaaha wa-rjuu l-yawma l-aakhiralalu ia berkata, wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah, dan harapkanlah hari akhir
  3. وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَwa-laa ta'tsaw fii l-ardhi mufsidiinadan janganlah berbuat kerusakan di bumi sebagai perusak

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. وَإِلَىٰwa-ilaadan kepada
  2. مَدْيَنَmadyanaMadyan
  3. أَخَاهُمْakhaahumsaudara mereka
  4. شُعَيْبًاsyu'aybanSyuaib
  5. فَقَالَfa-qaalalalu ia berkata
  6. يَاyaawahai
  7. قَوْمِqawmikaumku
  8. اعْبُدُوا'buduumengabdilah kalian
  9. اللَّهَllaahaAllah
  10. وَارْجُواwa-rjuudan harapkanlah
  11. الْيَوْمَl-yawmahari ini
  12. الْآخِرَl-aakhirayang akhir
  13. وَلَاwa-laadan janganlah
  14. تَعْثَوْاta'tsawkalian berbuat kejahatan
  15. فِيfiidi
  16. الْأَرْضِl-ardhibumi
  17. مُفْسِدِينَmufsidiinadengan membuat kerusakan

Inti bacaan

Susunan (يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ, yaa qawmi 'buduu llaaha) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:59, 7:65, 7:73, 7:85, 11:50, 11:61, 11:84, 23:23, dan 29:36, dan hanya 29:36 yang tidak disusul bunyi maa lakum min ilaahin ghayruhu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا, wa-ilaa madyana akhaahum syu'ayban) yang berarti "dan kepada Madyan, Kami utus saudara mereka, Syuaib". Bunyi itu muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 7:85, 11:84, dan 29:36. Kata kerja pengutusan tidak tertulis di ayat ini. Terjemahan memasang "Kami utus" dari kalimat serupa di 27:45, (وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا, wa-la-qad arsalnaa ilaa tsamuuda akhaahum shaalihan) yang berarti "dan sungguh Kami telah mengutus kepada Tsamud saudara mereka, Salih", yang memuat kata kerja itu dengan susunan yang sama. Kata (أَخَاهُمْ, akhaahum) yang berarti "saudara mereka" muncul delapan kali di empat surah, yaitu 7:65, 7:73, 7:85, 11:50, 11:61, 11:84, 27:45, dan 29:36, untuk Hud, Salih, dan Syuaib. Bentuk (أَخُوهُمْ, akhuuhum) muncul empat kali di satu surah, yaitu 26:106, 26:124, 26:142, dan 26:161, untuk Nuh, Hud, Salih, dan Lut. Syuaib di 26:177 disebut dengan namanya saja. Nama (شُعَيْبًا, syu'ayban) ditulis "Syuaib" di terjemahan, sama dengan 7:85 dan 11:84.

Susunan (يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ, yaa qawmi 'buduu llaaha) yang berarti "wahai kaumku, mengabdilah kepada Allah" muncul sembilan kali di empat surah, yaitu 7:59, 7:65, 7:73, 7:85, 11:50, 11:61, 11:84, 23:23, dan 29:36. Kata (قَوْمِ, qawmi) berakar ق-و-م dan sesudah yaa diterjemahkan "kaumku". Kata kerja (اعْبُدُوا, 'buduu) berakar ع-ب-د dan semua bentuk perintah akar ini diterjemahkan "mengabdilah". Delapan dari sembilan ayat itu disusul (مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ, maa lakum min ilaahin ghayruhu) yang berarti "tidak ada tuhan bagi kalian selain Dia", dan 29:36 tidak memuatnya. Huruf (فَ, fa) pada (فَقَالَ يَا قَوْمِ, fa-qaala yaa qawmi) yang berarti "lalu ia berkata, wahai kaumku" juga ada di 7:59 dan 23:23, dan terjemahan memakai "lalu ia berkata" di ketiganya.

Kata (وَارْجُوا, wa-rjuu) yang berarti "dan harapkanlah" berakar ر-ج-و dan berupa perintah kepada beberapa orang. Bentuk wa-rjuu ini hanya muncul di 29:36. Dalam surah yang sama akar itu ada di 29:5, (يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ, yarjuu liqaa'a llaahi) yang berarti "mengharapkan pertemuan dengan Allah". Bunyi (الْيَوْمَ الْآخِرَ, l-yawma l-aakhira) dengan akhiran objek muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 29:36, 33:21, dan 60:6, dan ketiganya mengikuti kata kerja dari akar ر-ج-و. Di 33:21 dan 60:6 bunyinya (يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ, yarjuu llaaha wa-l-yawma l-aakhira) yang berarti "mengharap Allah dan hari akhir".

Kata (تَعْثَوْا, ta'tsaw) yang berarti "kalian berbuat kerusakan" berakar ع-ث-و dan muncul lima kali di lima surah, yaitu 2:60, 7:74, 11:85, 26:183, dan 29:36, selalu dalam bunyi (وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ, wa-laa ta'tsaw fii l-ardhi mufsidiina). Di 2:60 bunyi itu menyusul firman tentang makan dan minum dari rezeki Allah, di 7:74 diucapkan Salih, dan di 11:85, 26:183, serta 29:36 diucapkan Syuaib. Kata (مُفْسِدِينَ, mufsidiina) yang berarti "sebagai perusak" berakar ف-س-د dan muncul delapan belas kali di sebelas surah, yaitu 2:60, 3:63, 5:64, 7:74, 7:86, 7:103, 7:142, 10:40, 10:81, 10:91, 11:85, 26:183, 27:14, 28:4, 28:77, 29:30, 29:36, dan 38:28. Terjemahan memakai dua kata Indonesia untuk dua akar Arab yang berbeda, "berbuat kerusakan" untuk ta'tsaw dan "sebagai perusak" untuk mufsidiina, seperti di 11:85 dan 26:183.

Tafsiran

Ayat ini membuka penuturan Syuaib dengan seruan yang memuat tiga perintah, yaitu mengabdi kepada Allah, mengharapkan hari akhir, dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Seruan Syuaib di ayat lain lebih panjang dan memuat takaran, misalnya 7:85, 11:84 sampai 11:85, dan 26:181 sampai 26:183. Di 29:36 takaran tidak disebut, dan perintah mengharapkan hari akhir hanya ada di sini di antara semua ucapan Syuaib yang tercatat.

Seruan ini berpasangan dengan seruan Ibrahim di surah yang sama. Di 29:16 Ibrahim berkata kepada kaumnya, (اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ, u'buduu llaaha wa-ttaquuhu) yang berarti "mengabdilah kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya", lalu 29:17 melanjutkan dengan rezeki di sisi Allah, syukur, dan kembali kepada-Nya. Dua seruan itu dibuka dengan perintah yang sama. Seruan Syuaib melanjutkannya ke hari akhir dan ke bumi, sedangkan seruan Ibrahim melanjutkannya ke rezeki dan ketakwaan.

Kata perusak mengikat ayat ini dengan 29:30. Lut di sana memohon pertolongan atas kaum yang berbuat kerusakan, dan Syuaib di sini melarang kaumnya berbuat kerusakan sebagai perusak. Sebutan itu muncul untuk kaum Lut sebagai keluhan dan untuk kaum Madyan sebagai larangan, dan surah ini tidak menyatakan apakah kaum Madyan sudah menempuh jalan itu.

Ayat 29:37 langsung menuturkan akibatnya, yaitu mereka mendustakannya lalu gempa menimpa mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Syuaib disebut saudara mereka dan memanggil kaumnya dengan wahai kaumku, sehingga ucapannya datang dari dalam kelompok itu sendiri. Di 27:45 Kami disebut mengutus kepada Tsamud saudara mereka, Salih, dengan seruan, "Mengabdilah kepada Allah!", dan sesudah seruan itu mereka menjadi dua golongan yang bertengkar. Pembaca yang pernah ditegur oleh orang yang tumbuh bersamanya mungkin mengenal rasa yang berbeda dari ditegur orang asing: teguran terasa lebih dekat dan lebih sulit disingkirkan sebagai ucapan orang luar. Pesan yang sama, bila datang dari orang yang sudah pembaca kenal sejak kecil, apakah lebih mudah didengar atau lebih mudah ditolak?
  • Syuaib menyebut tiga perintah berurutan, yaitu mengabdi kepada Allah, mengharapkan hari akhir, dan tidak berbuat kerusakan di bumi, tanpa kata penghubung yang menjelaskan hubungan di antaranya. Urutannya bergerak dari Allah ke hari akhir, lalu ke bumi tempat pembicara dan kaumnya berdiri. Seruan Ibrahim di 29:16 dan 29:17 dalam surah yang sama dibuka dengan perintah mengabdi kepada Allah juga, lalu berlanjut ke bertakwa, mencari rezeki di sisi Allah, dan bersyukur. Urutan dalam hari pembaca sendiri juga menyusun perintah-perintahnya: apa yang disebut pertama, apa yang kedua, dan pada bagian mana bumi ikut disebut?
  • Kata kerja yang dipasang pada hari akhir di 29:36 adalah harapkanlah. Di 33:21 dan 60:6 kata kerja dari akar yang sama dipakai untuk orang yang mengharap Allah dan hari akhir, sehingga di tiga ayat itu hari akhir ditaruh di sisi harapan. Cara orang memandang hari depan dapat berbeda: ada rencana yang disusun dari kecemasan, ada yang disusun dari harapan. Tiga ayat itu tidak menyatakan bagaimana harapan itu terasa, dan hanya memperlihatkan kata kerjanya. Rencana terbesar pembaca untuk tahun depan, lahir dari kecemasan atau dari harapan?
  • Larangan berbuat kerusakan di bumi ditaruh di 2:60 sesudah firman, "Makan dan minumlah dari rezeki Allah," dan di 7:74 sesudah perintah mengingat nikmat-nikmat Allah. Di 29:36 larangan itu menyusul perintah mengabdi dan mengharap hari akhir. Tiga ayat itu menaruh larangan merusak di dekat sesuatu yang diterima atau diharapkan, dan tidak menyatakan alasannya. Dua ayat pertama berbicara kepada kaum yang berbeda dengan 29:36, sehingga tidak dipakai untuk menjelaskan maksud Syuaib. Pembaca dapat memperhatikan di mana dalam hidupnya makan, minum, dan menikmati sesuatu bertemu dengan akibat bagi bumi. Dari hal yang pembaca nikmati hari ini, apa yang sedang berubah menjadi kerusakan di tempat lain?
  • Di 29:30 Lut berseru kepada Tuhannya memohon pertolongan atas kaum yang berbuat kerusakan, dengan kata mufsidiin. Di 29:36 akar yang sama dipakai dalam larangan Syuaib kepada kaumnya, agar mereka tidak berbuat kerusakan di bumi sebagai perusak. Satu akar muncul sebagai sebutan bagi kaum yang dikeluhkan di satu ayat dan sebagai jalan yang dilarang di ayat lain. Pembaca yang menyebut orang lain perusak dapat bertanya apakah sebutan itu pernah mengenai pembaca sendiri. Kalau larangan itu dibacakan di depan pembaca, bagian mana dari hidupnya yang akan menoleh?
  • Seruan Syuaib di 29:36 ditulis dalam satu ayat, dan jawaban kaumnya di 29:37 dituturkan dengan satu kata kerja, yaitu mereka mendustakannya, tanpa kutipan ucapan. Di 29:29 jawaban kaum Lut dikutip penuh sebagai permintaan, sehingga dua kisah yang bersebelahan memakai dua cara mencatat jawaban. Pembaca yang pernah menyampaikan sesuatu yang penting tahu bahwa jawaban yang paling menentukan kadang tidak berupa kata-kata. Bagaimana pembaca biasa membaca jawaban orang lain yang tidak pernah diucapkan?