فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Maka mereka mendustakannya, lalu gempa menimpa mereka, maka jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggal mereka.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُfa-kadzdzabuuhu fa-akhadzat-humu r-rajfatumaka mereka mendustakannya, lalu gempa menimpa mereka
- فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَfa-ashbahuu fii daarihim jaatsimiinamaka jadilah mereka bergelimpangan di tempat tinggal mereka
Terjemahan per kata (7 kata)
- فَكَذَّبُوهُfa-kadzdzabuuhulalu mereka mendustakannya
- فَأَخَذَتْهُمُfa-akhadzat-humumaka menimpa mereka
- الرَّجْفَةُr-rajfatugempa
- فَأَصْبَحُواfa-ashbahuumaka jadilah mereka
- فِيfiidalam
- دَارِهِمْdaarihimnegeri mereka
- جَاثِمِينَjaatsimiinamati bergelimpangan
Inti bacaan
Susunan (فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ, fa-akhadzat-humu r-rajfatu) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:78, 7:91, dan 29:37.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَكَذَّبُوهُ, fa-kadzdzabuuhu) yang berarti "maka mereka mendustakannya". Bentuk ini tersusun dari awalan fa yang berarti "maka", kata kerja kadzdzabuu yang berarti "mereka mendustakan", dan akhiran -hu yang berarti "-nya". Kata kerjanya berakar ك-ذ-ب dan memakai bentuk yang berarti menolak kebenaran yang datang dari pihak lain, berbeda dari bentuk dasar yang berarti berdusta sendiri, sehingga terjemahan memakai "mendustakan". Akhiran -hu menunjuk satu orang, yaitu orang yang di 29:36 disebut (أَخَاهُمْ شُعَيْبًا, akhaahum syu'ayban) yang berarti "saudara mereka, Syu'aib". Terjemahan tidak menambahkan "seruannya" sesudah "mendustakannya", sebab tidak ada kata Arab untuk itu di ayat ini. Pembuka yang sama dengan awalan fa menyambung ke akibat yang berbeda di tempat lain. Di 26:139, (فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ, fa-kadzdzabuuhu fa-ahlaknaahum) berarti "maka mereka mendustakannya, lalu Kami membinasakan mereka", dan di 7:64, (فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ, fa-kadzdzabuuhu fa-anjaynaahu) berarti "maka mereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia". Pendustaannya sama, dan akibatnya ditentukan oleh kata kerja sesudah fa. Di 29:37 kata kerja itu menyebut gempa.
Kata kerja berikutnya, (فَأَخَذَتْهُمُ, fa-akhadzat-humu) yang berarti "lalu menimpa mereka", tersusun dari fa "lalu", akhadzat "menimpa", dan -humu "mereka". Akhiran -at pada akhadzat menandai pelakunya berbentuk perempuan, yaitu (الرَّجْفَةُ, r-rajfatu) yang berarti "gempa", dari akar ر-ج-ف. Kata r-rajfatu muncul empat kali di dua surah, yaitu 7:78, 7:91, 7:155, dan 29:37, dan di keempatnya kata ini menjadi pelaku bagi kata kerja akhadza. Di 7:155 gempa itu menimpa tujuh puluh orang yang dipilih Musa dari kaumnya, (أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ, akhadzat-humu r-rajfatu) yang berarti "gempa menimpa mereka", jadi kata ini tidak terikat pada satu kaum. Akar yang sama muncul sebagai kata kerja di 73:14, (تَرْجُفُ, tarjufu) yang berarti "berguncang", dan terjemahan membedakan keduanya: kata benda r-rajfatu menjadi "gempa" dan kata kerja tarjufu menjadi "berguncang".
Awalan fa dipakai tiga kali berturut-turut di ayat ini, dan awalan itu tidak mengukur lamanya jeda. Di 29:14, (فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ, fa-labitsa fiihim alfa sanatin illaa khamsiina 'aaman fa-akhadzahumu th-thuufaanu) berarti "lalu ia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun, kemudian banjir besar menimpa mereka", dan fa yang sama menyambung masa tinggal sepanjang itu dengan datangnya banjir. Karena itu terjemahan 29:37 memakai "lalu" dan "maka" tanpa menambahkan "seketika" atau "segera".
Kata (فَأَصْبَحُوا, fa-ashbahuu) yang berarti "maka jadilah mereka" menyambung peristiwa dengan keadaan yang tertinggal. Sesudah kata kerja ini ayat berhenti menceritakan gerak dan mulai menyebut posisi. Pola itu tetap di semua tempat kata (جَاثِمِينَ, jaatsimiina) muncul, yaitu 7:78, 7:91, 11:67, 11:94, dan 29:37: di kelimanya fa-ashbahuu mendahuluinya. Kata jaatsimiina berakar ج-ث-م dan akar ini tidak dipakai di tempat lain dalam bentuk apa pun, sehingga artinya hanya bisa diuji pada adegan yang sama, yaitu orang-orang yang berada di tempat tinggal mereka sesudah dihantam. Terjemahan memakai "bergelimpangan" karena kata itu menyebut keadaan tubuh banyak orang di satu tempat, dan tidak menyebut sebab atau jumlah mereka.
Tempat jatuhnya mereka disebut (فِي دَارِهِمْ, fii daarihim) yang berarti "di tempat tinggal mereka". Kata daar berakar د-و-ر, dan susunan fii daarihim dengan bentuk tunggal ini ada di 7:78, 7:91, dan 29:37. Di 11:67 dan 11:94 kata yang dipakai berbentuk jamak, (فِي دِيَارِهِمْ, fii diyaarihim) yang berarti "di rumah-rumah mereka". Terjemahan menjaga perbedaan itu: bentuk tunggal menjadi "tempat tinggal" dan bentuk jamak menjadi "rumah-rumah". Ayat tidak menyatakan apakah tempat tinggal itu satu rumah, satu kampung, atau satu negeri.
Tafsiran
Ayat ini menutup kisah Madyan dengan satu kalimat berisi tiga langkah yang dibuka awalan fa: kaum itu mendustakan, gempa menimpa mereka, lalu mereka bergelimpangan di tempat tinggal sendiri. Di antara ketiganya tidak ada ucapan siapa pun yang dikutip dan tidak ada ukuran waktu. Seruan Syu'aib di 29:36 berisi tiga hal, yaitu mengabdi kepada Allah, mengharapkan hari akhir, dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Jawaban kaumnya tidak dikutip, dan yang tertulis hanya tindakan mereka: mendustakan.
Surah ini memakai satu kata kerja untuk menutup kisah-kisah yang berlainan. Di 29:14, (فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ, fa-akhadzahumu th-thuufaanu) yang berarti "lalu banjir besar menimpa mereka" menutup kisah Nuh, dan kata kerja akhadza yang sama muncul lagi di 29:37 serta dua kali di 29:40. Pembaca menerima akibat yang jenisnya berbeda, banjir besar, gempa, dan empat bentuk lain di 29:40, lewat satu kata kerja yang sama.
Kisah Syu'aib dituturkan jauh lebih panjang di tempat lain. Di 7:88 para pemuka kaumnya menjawab dengan ancaman pengusiran, di 7:90 mereka memperingatkan sesama kaum, dan di 7:93 Syu'aib berpaling dari mereka sambil berbicara sesudah peristiwa itu. Ayat 29:37 tidak memuat satu pun dari ucapan-ucapan itu, jadi kisahnya dipadatkan sampai tinggal garis besarnya.
Sebutan bagi pukulan itu juga berbeda antarsurah. Madyan tertimpa gempa di 7:91, yang mengikuti pengutusan (أَخَاهُمْ شُعَيْبًا, akhaahum syu'ayban) di 7:85, dan di 29:37. Di 11:94, yang mengikuti pengutusan yang sama di 11:84, suara menggelegar menimpa mereka, (وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ, wa-akhadzati lladziina zhalamuu sh-shayhatu) yang berarti "dan suara yang menggelegar menimpa orang-orang yang zalim". Kaum Tsamud mengalami hal serupa: gempa di 7:78, sesudah pengutusan Saleh di 7:73, dan suara menggelegar di 11:67, sesudah pengutusan di 11:61. Teksnya tidak menyatakan apakah gempa dan suara itu satu kejadian dengan dua sebutan atau dua kejadian. Dua kosakata dipakai untuk kaum yang sama, dan 29:40 menyebut suara menggelegar sebagai salah satu dari empat bentuk tersendiri.
Renungan dan Hikmah
- Di 7:88 para pemuka Madyan menjawab Syu'aib dengan ancaman pengusiran, (لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ, la-nukhrijannaka yaa syu'aybu) yang berarti "sungguh kami akan mengusirmu, wahai Syu'aib", dan di 7:90 mereka memperingatkan sesama kaum tentang kerugian bila mengikutinya. Ayat 29:37 membuang semua jawaban itu dan menyisakan satu kata kerja, mendustakan. Di 7:93 Syu'aib sendiri menyebut apa yang telah disampaikannya, yaitu (رِسَالَاتِ رَبِّي, risaalaati rabbii) yang berarti "risalah-risalah Tuhanku", jadi menurut ucapannya yang ditolak kaum itu adalah pesan dari Tuhannya. Pembaca yang pernah menolak sesuatu dengan alasan panjang, dengan basa-basi, atau dengan diam dapat melihat bahwa kosakata ayat ini tidak membedakan caranya. Apakah penolakan yang paling sopan dan penolakan yang paling kasar sama-sama tercatat dengan satu kata yang sependek itu?
- Sebelum 29:37 mencatat pendustaan, 29:36 sudah menyebut Syu'aib dengan sebutan (أَخَاهُمْ, akhaahum) yang berarti "saudara mereka", sebutan yang sama dipakai bagi Saleh di 7:73 dan 11:61. Kata ganti -hu pada kadzdzabuuhu menunjuk orang yang baru saja disebut saudara itu. Ayat tidak menyebut sejak kapan kaum itu mengenalnya. Ayat hanya mencatat bahwa seruannya dibuka dengan perintah mengabdi kepada Allah dan bahwa seruan itu didustakan. Pembaca dapat bertanya pada diri sendiri, ketika teguran datang dari orang yang sudah dikenal sebagai bagian dari lingkungannya, apakah teguran itu terdengar lebih ringan atau lebih berat daripada teguran orang asing, dan apakah ukuran itu dipakai untuk menimbang isinya atau untuk menimbang siapa yang bicara?
- Seruan di 29:36 melarang berbuat kerusakan (فِي الْأَرْضِ, fii l-ardhi) yang berarti "di bumi", tempat yang tidak punya batas, dan seruan itu dibuka dengan perintah mengabdi kepada Allah. Kesudahan di 29:37 disebut dengan kata yang jauh lebih sempit, "di tempat tinggal mereka". Ayat tidak mengatakan bahwa kerusakan itu dilakukan di tempat tinggal mereka, dan tidak menyebut jenis kerusakannya. Yang tercatat adalah perpindahan dari kata yang menyebut bumi ke kata yang menyebut tempat yang dikenal tiap orang sebagai miliknya. Pembaca dapat menimbang apakah kalimat "yang rusak ada di luar sana" lebih mudah diucapkan daripada "yang rusak ada di tempat aku tinggal", dan kalimat mana yang dipakai pembaca ketika menilai keadaan sekelilingnya?
- Tiga awalan fa di ayat ini membuat urutannya terasa cepat, padahal 29:14 memakai awalan yang sama untuk menyambung seribu tahun kurang lima puluh tahun dengan datangnya banjir. Ayat 29:37 tidak menyebut berapa lama jarak antara pendustaan dan gempa, dan tidak menyebut berapa kali seruan diulang sebelumnya. Rasa cepat itu datang dari pembaca, tidak dari angka di teks. Orang yang membaca kisah ini lalu merasa masih punya banyak waktu, atau merasa semuanya sudah terlambat, sedang mengisi ruang yang dibiarkan kosong oleh ayat. Ukuran waktu apa yang dibawa pembaca ketika membaca kata "lalu", dan dari mana ukuran itu datang?
- Sesudah kata bergelimpangan, 7:92 melanjutkan dengan (كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا, ka-an lam yaghnaw fiihaa) yang berarti "seakan-akan belum pernah tinggal di sana". Ayat 29:37 berhenti satu langkah sebelumnya, pada gambar orang-orang di tempat tinggal mereka. Tempat tinggal biasanya berisi hasil kerja bertahun-tahun, seperti perabot, kebiasaan, dan rencana, dan ayat ini menaruh penghuninya di tengah semua itu. Pembaca yang menata rumahnya dengan cermat dapat memperhatikan apa yang sebenarnya ia kumpulkan di dalamnya, dan apa yang dari semua itu masih terhitung ketika gambar yang tersisa hanya orang-orangnya?
- Kaum yang sama ditimpa gempa di satu surah dan suara menggelegar di surah lain, dan teks tidak mencocokkan keduanya. Dua catatan itu menyertai seruan yang sama, yaitu mengabdi kepada Allah, di 7:85 dan 11:84. Pembaca yang menemukan dua kosakata yang tampak bersaing biasanya terdorong menyatukannya sekarang juga, dan penyatuan itu mengharuskan salah satu kata dibuang atau dilunakkan. Al-Qur'an membiarkan keduanya berdampingan di surah yang berbeda. Pembaca dapat bertanya apa yang hilang bila salah satu kata dibuang demi catatan yang rapi, dan apa yang tersisa bila keduanya dibaca apa adanya?