وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ

Dan Qarun, Firaun, dan Haman. Sungguh, benar-benar telah datang kepada mereka Musa dengan keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka bukanlah orang-orang yang dapat lolos.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَwa-qaaruuna wa-fir'awna wa-haamaanadan Qarun, Firaun, dan Haman
  2. وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِwa-la-qad jaa'ahum muusaa bi-l-bayyinaatisungguh, benar-benar telah datang kepada mereka Musa dengan keterangan-keterangan yang nyata
  3. فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَfa-stakbaruu fii l-ardhi wa-maa kaanuu saabiqiinatetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka bukanlah orang-orang yang dapat lolos

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَقَارُونَwa-qaaruunadan Karun
  2. وَفِرْعَوْنَwa-fir'awnadan Firaun
  3. وَهَامَانَwa-haamaanadan Haman
  4. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  5. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  6. مُوسَىٰmuusaaMusa
  7. بِالْبَيِّنَاتِbi-l-bayyinaatidengan bukti-bukti yang nyata
  8. فَاسْتَكْبَرُواfa-stakbaruumaka mereka menyombongkan diri
  9. فِيfiidi
  10. الْأَرْضِl-ardhibumi
  11. وَمَاwa-maadan tidaklah
  12. كَانُواkaanuumereka adalah
  13. سَابِقِينَsaabiqiinaorang-orang yang mendahului

Inti bacaan

Bentuk (سَابِقِينَ, saabiqiina) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:39.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan tiga nama, (وَقَارُونَ, wa-qaaruuna) yang berarti "dan Qarun", (وَفِرْعَوْنَ, wa-fir'awna) yang berarti "dan Firaun", dan (وَهَامَانَ, wa-haamaana) yang berarti "dan Haman". Ketiga nama itu bersanding dalam satu ayat hanya di 29:39 dan 40:24. Urutannya berbeda: di 29:39 Qarun disebut lebih dulu, sedangkan di 40:24, (فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ, fir'awna wa-haamaana wa-qaaruuna), Qarun disebut terakhir. Firaun dan Haman bersanding tanpa Qarun di 28:6 dan 28:8. Ayat 29:39 tidak menyatakan alasan urutan namanya, dan terjemahan mengikuti urutan Arabnya.

Kalimat (وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ, wa-la-qad jaa'ahum muusaa bi-l-bayyinaati) yang berarti "sungguh, benar-benar telah datang kepada mereka Musa dengan keterangan-keterangan yang nyata" tersusun dari wa "dan", la-qad "sungguh, benar-benar", jaa'a "datang", -hum "kepada mereka", Musa, dan bi-l-bayyinaati "dengan keterangan-keterangan yang nyata". Susunan (جَاءَهُمْ مُوسَىٰ, jaa'ahum muusaa) muncul dua kali, yaitu di 28:36 dan 29:39, dan di 28:36 yang dibawa Musa disebut (بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ, bi-aayaatinaa bayyinaatin) yang berarti "dengan tanda-tanda Kami yang nyata". Susunan (مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ, muusaa bi-l-bayyinaati) muncul dua kali pula, yaitu di 2:92 dan 29:39. Di 2:92 Musa mendatangi "kalian", (جَاءَكُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ, jaa'akum muusaa bi-l-bayyinaati), sedangkan di 29:39 Musa mendatangi "mereka". Akar ب-ي-ن di sini sama dengan tabayyana di 29:38 dan bayyinatan di 29:35. Terjemahan memakai "keterangan-keterangan yang nyata" tanpa menyebut isinya, sebab ayat ini tidak merincinya.

Kata kerja (فَاسْتَكْبَرُوا, fa-stakbaruu) yang berarti "tetapi mereka berlaku sombong" berakar ك-ب-ر. Bentuk fa-stakbaruu muncul lima kali di lima surah, yaitu 7:133, 10:75, 23:46, 29:39, dan 41:15. Di tiga yang pertama kata kerja itu disusul "dan mereka adalah kaum yang ...", sedangkan di 29:39 dan 41:15 disusul (فِي الْأَرْضِ, fii l-ardhi) yang berarti "di bumi". Susunan (فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ, fa-stakbaruu fii l-ardhi) hanya ada di dua ayat itu. Di 41:15 susunan tersebut masih disusul (بِغَيْرِ الْحَقِّ, bi-ghayri l-haqqi) yang berarti "tanpa hak", sama seperti di 28:39, (وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ, wa-stakbara huwa wa-junuuduhu fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi). Di 29:39 tambahan itu tidak ada, sehingga terjemahan tidak menambahkan "tanpa hak" atau penjelasan lain tentang bentuk kesombongannya.

Kalimat penutup (وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ, wa-maa kaanuu saabiqiina) yang berarti "dan mereka bukanlah orang-orang yang dapat lolos" memuat kata (سَابِقِينَ, saabiqiina) dari akar س-ب-ق, dan bentuk ini hanya muncul di 29:39. Akar yang sama dipakai di surah ini pada ayat pembukanya, 29:4, (أَنْ يَسْبِقُونَا, an yasbiquunaa) yang berarti "bahwa mereka akan luput dari Kami". Terjemahan memakai kata yang searah, "luput" di 29:4 dan "dapat lolos" di 29:39, sehingga kedua ayat terbaca berpasangan. Perbedaannya ada pada objek: di 29:4 objek disebut lewat akhiran -naa, "Kami", sedangkan di 29:39 ayat tidak menyebut dari siapa atau dari apa mereka tidak dapat lolos.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari nama kaum, Ad dan Tsamud di 29:38, ke nama orang, dan ketiga orang itu tidak berbicara atau bertindak di ayat ini. Tentang mereka ayat mencatat bukti yang datang dan kesombongan yang menyusul. Urutan itu penting, sebab kesombongan disebut sesudah keterangan sampai, sehingga ayat tidak menyebut kekurangan keterangan sebagai alasan. Surah ini sudah menyebut keterangan yang nyata di 29:35 dan 29:38, dan 29:39 menambahkan keterangan yang dibawa seorang utusan, di samping keterangan yang tertinggal di sebuah tempat.

Tempat kesombongan itu adalah bumi. Seruan Syu'aib di 29:36 melarang berbuat kerusakan (فِي الْأَرْضِ, fii l-ardhi) yang berarti "di bumi", dan 29:39 memakai kata yang sama untuk tempat orang-orang ini berlaku sombong. Surah ini menaruh dua ayat tentang Madyan dan Ad serta Tsamud di antara kedua penyebutan bumi itu, sehingga larangan di 29:36 dan kesombongan di 29:39 terbaca sebagai dua ujung dari rangkaian yang sama.

Kalimat penutup ayat ini menjawab pertanyaan di awal surah. Di 29:4 pertanyaannya berbunyi apakah orang-orang yang mengerjakan keburukan mengira mereka akan luput dari Kami, dan di 29:39 ketiga nama ini disebut sebagai orang yang tidak dapat lolos. Dua ayat itu dipisahkan tiga puluh lima ayat, dan di antaranya ada kisah Nuh, Lut, dan Madyan, yang masing-masing ditutup dengan sebuah akibat di 29:14, 29:34, dan 29:37. Daftar nama di 29:38 dan 29:39 menjadi penutup kisah-kisah itu sebelum 29:40 merangkum akibatnya dalam empat bentuk.

Ayat ini juga tidak memuat kata kerja kehancuran. Seperti 29:38, ayat ini berhenti pada keadaan sebelum akibat, yaitu bukti yang datang dan kesombongan yang menjawabnya. Akibatnya ditulis di ayat sesudahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 29:39 menaruh keterangan yang nyata lebih dulu dan kesombongan sesudahnya, dan tidak menyebut kekurangan keterangan sebagai alasan. Di 2:92 kalimat yang hampir sama dipakai untuk orang yang didatangi Musa dengan keterangan, dan di sana disusul tindakan lain, yaitu mengambil anak sapi. Dua ayat itu menunjukkan bahwa keterangan yang sudah sampai belum menentukan bagaimana penerimanya bersikap. Pembaca yang pernah menunda sebuah keputusan dengan alasan menunggu bukti tambahan dapat memeriksa apakah bukti yang ada memang kurang, atau apakah ada hal lain yang membuat langkah tertahan, dan sudah berapa lama alasan itu dipakai?
  • Menurut 28:76, Qarun termasuk kaum Musa sendiri, (كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ, kaana min qawmi muusaa) yang berarti "termasuk kaum Musa", sedangkan Firaun dan Haman di 28:6 dan 28:8 disebut bersama bala tentara keduanya. Ayat 29:39 memakai satu kata kerja yang sama untuk ketiganya, mereka berlaku sombong, padahal asal dan kedudukan mereka berbeda. Kesombongan dalam ayat ini tidak bergantung pada asal-usul atau pada besar kuasa yang dipegang. Pembaca dapat memeriksa siapa yang dianggapnya rawan berlaku sombong, apakah penyaringan itu berdasarkan kedudukan, dan bagaimana bila kata kerja yang sama ternyata berlaku di tempat yang tidak diperkirakan?
  • Ayat 29:39 menyebut kesombongan itu tanpa merinci bentuknya. Di 41:15 kesombongan Ad dirinci lewat ucapan mereka, (مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً, man asyaddu minnaa quwwatan) yang berarti "siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami", lalu ayat itu menjawab bahwa Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka. Pada ayat 29:39 tidak ada ucapan semacam itu, jadi pembaca tidak diberi alasan yang bisa dibantah. Kesombongan yang tidak berbunyi dengan keras mudah luput dari pengenalan, sebab tidak ada kalimat yang bisa dikutip darinya. Pembaca dapat mengamati sikapnya sendiri terhadap pengetahuan dan kuasa yang dimiliki, dan bertanya apakah ada sikap yang tidak pernah diucapkan tetapi tampak dari keputusan-keputusan?
  • Pertanyaan tentang luput dari Kami diajukan di 29:4, dan 29:5 yang mengikutinya menyebut bahwa waktu Allah pasti datang, (فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ, fa-inna ajala llaahi la-aatin) yang berarti "maka sesungguhnya waktu Allah pasti datang". Ayat 29:39 menutup daftar kisah dengan pernyataan bahwa ketiga nama itu tidak dapat lolos, tanpa menyebut dari apa. Orang yang membaca dua ayat itu berdampingan dapat memperhatikan bahwa pertanyaan di awal surah dijawab dengan contoh dan tidak dengan argumen. Pembaca dapat bertanya contoh apa yang masih dibutuhkan untuk menerima bahwa sebuah akibat tidak bisa dihindari, dan apakah contoh yang sudah ada di hadapan belum cukup?
  • Seruan Syu'aib dibuka dengan perintah mengabdi kepada Allah dan ditutup dengan larangan berbuat kerusakan di bumi, dan 29:39 menyebut bumi sebagai tempat tiga orang ini berlaku sombong. Bumi dalam kedua ayat itu adalah tempat yang sama dengan yang dihuni pembaca. Ayat tidak mengatakan bahwa kesombongan mereka sebesar bumi, tetapi menyebutnya terjadi di sana, di tempat yang terbuka bagi orang lain untuk melihat. Pembaca dapat menimbang bagian bumi yang menjadi ruang geraknya sehari-hari, lalu bertanya sikap apa yang dibawa ke sana, dan siapa saja yang bisa melihat sikap itu tanpa pernah dimintai pendapat?
  • Di 29:39 Qarun disebut pertama, sedangkan di 40:24 ia disebut terakhir, dan di kedua ayat tidak ada kalimat yang menjelaskan alasan urutan itu. Pembaca yang menyusun daftar sering membaca peringkat dari urutan, padahal urutan yang berubah antarayat menunjukkan bahwa ayat-ayat itu tidak menyusun peringkat. Ketiga nama itu diperlakukan sebagai satu kelompok dengan satu nasib, dan jarak di antara mereka tidak diukur. Pembaca dapat memeriksa apakah orang yang bersalah ditaruh dalam tingkatan di pikirannya, dan apakah tingkatan itu berasal dari teks yang dibaca atau dari kebiasaan sendiri?