فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Maka masing-masing Kami hukum karena dosanya; di antara mereka ada yang Kami timpakan badai batu, ada yang ditimpa suara menggelegar, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada yang Kami tenggelamkan; dan Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِfa-kullan akhadznaa bi-dzanbihimaka masing-masing Kami hukum karena dosanya
  2. فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُfa-minhum man arsalnaa 'alayhi haashiban wa-minhum man akhadzat-hu sh-shayhatudi antara mereka ada yang Kami timpakan badai batu, ada yang ditimpa suara menggelegar
  3. وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَاwa-minhum man khasafnaa bihi l-ardha wa-minhum man aghraqnaaada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada yang Kami tenggelamkan
  4. وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَwa-maa kaana llaahu li-yazhlimahum wa-laakin kaanuu anfusahum yazhlimuunadan Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri

Terjemahan per kata (28 kata)

  1. فَكُلًّاfa-kullanmaka masing-masing
  2. أَخَذْنَاakhadznaaKami hukum
  3. بِذَنْبِهِbi-dzanbihikarena dosanya
  4. فَمِنْهُمْfa-minhummaka di antara mereka
  5. مَنْmanorang yang
  6. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  7. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  8. حَاصِبًاhaashibanbadai kerikil
  9. وَمِنْهُمْwa-minhumdan di antara mereka
  10. مَنْmanorang yang
  11. أَخَذَتْهُakhadzat-humenimpanya
  12. الصَّيْحَةُsh-shayhatusuara keras
  13. وَمِنْهُمْwa-minhumdan di antara mereka
  14. مَنْmanorang yang
  15. خَسَفْنَاkhasafnaaKami benamkan
  16. بِهِbihidengannya
  17. الْأَرْضَl-ardhabumi
  18. وَمِنْهُمْwa-minhumdan di antara mereka
  19. مَنْmanorang yang
  20. أَغْرَقْنَاaghraqnaaKami tenggelamkan
  21. وَمَاwa-maadan tidaklah
  22. كَانَkaanaadalah
  23. اللَّهُllaahuAllah
  24. لِيَظْلِمَهُمْli-yazhlimahumuntuk menzalimi mereka
  25. وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
  26. كَانُواkaanuumereka selalu
  27. أَنْفُسَهُمْanfusahumdiri mereka sendiri
  28. يَظْلِمُونَyazhlimuunamenzalimi

Inti bacaan

Rangkaian (فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ, fa-kullan akhadznaa bi-dzanbihi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:40.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَكُلًّا, fa-kullan) yang berarti "maka masing-masing", tersusun dari fa "maka" dan kullan "masing-masing". Kullan ditaruh di depan kata kerja, sehingga pihak yang dikenai disebut lebih dulu, dan terjemahan mengikuti urutan itu: "maka masing-masing Kami hukum". Penempatan serupa ada di 25:39, (وَكُلًّا ضَرَبْنَا لَهُ الْأَمْثَالَ, wa-kullan dharabnaa lahu l-amtsaala) yang berarti "dan masing-masing Kami buatkan baginya perumpamaan-perumpamaan", yang disusul (وَكُلًّا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا, wa-kullan tabbarnaa tatbiiran) yang berarti "dan masing-masing Kami hancurkan sehancur-hancurnya". Rangkaian lengkapnya, (فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ, fa-kullan akhadznaa bi-dzanbihi) yang berarti "maka masing-masing Kami hukum karena dosanya", hanya muncul di 29:40. Kata kerja akhadza berakar أ-خ-ذ dan arti dasarnya mengambil; di sini yang diambil adalah pihak-pihaknya sendiri dan sebabnya disebut sesudahnya dengan huruf bi-, sehingga terjemahan memakai "Kami hukum" dan "karena dosanya". Akhiran -hi pada bi-dzanbihi berbentuk tunggal mengikuti kullan. Bentuk jamak, (فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ, fa-akhadzahumu llaahu bi-dzunuubihim) yang berarti "maka Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka", dipakai di 3:11, 8:52, dan 40:21, dengan Allah disebut namanya sebagai pelaku.

Empat bentuk akibat disebut dengan pola yang sama, (فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ, fa-minhum man arsalnaa 'alayhi haashiban wa-minhum man akhadzat-hu sh-shayhatu) yang berarti "di antara mereka ada yang Kami timpakan badai batu, ada yang ditimpa suara menggelegar". Kata (حَاصِبًا, haashiban) berakar ح-ص-ب dan muncul empat kali, yaitu di 17:68, 29:40, 54:34, dan 67:17. Di keempatnya kata ini menjadi objek kata kerja yang berarti "mengirim" bersama kata 'alay, "atas", misalnya (أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ حَاصِبًا, arsalnaa 'alayhim haashiban) di 54:34 dan (يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا, yursila 'alaykum haashiban) di 17:68 dan 67:17. Hanya di 54:34 ada nama yang disebut, yaitu keluarga Lut sebagai pihak yang dikecualikan, dan korban badai itu sendiri tidak diberi nama di keempat ayat; di 29:40 korbannya dinyatakan lewat man yang berarti "orang yang". Kata (الصَّيْحَةُ, sh-shayhatu) berakar ص-ي-ح dan muncul enam kali dengan bentuk ini, yaitu di 11:67, 11:94, 15:73, 15:83, 23:41, dan 29:40. Di keenamnya kata ini menjadi pelaku bagi kata kerja akhadza, misalnya (فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ, fa-akhadzat-humu sh-shayhatu) di 15:83, dan terjemahan memakai "suara menggelegar" di semuanya.

Bentuk ketiga memakai kata kerja (خَسَفْنَا, khasafnaa) yang berarti "Kami benamkan", dari akar خ-س-ف, bersama bi- dan al-ardh: (خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ, khasafnaa bihi l-ardha) di 29:40. Susunan yang sama dengan bi- dan al-ardh muncul di 28:81, (فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ, fa-khasafnaa bihi wa-bi-daarihi l-ardha) yang berarti "maka Kami benamkan dia dan rumahnya ke dalam bumi", di 16:45, (يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ, yakhsifa llaahu bihimu l-ardha) yang berarti "Allah membenamkan mereka ke dalam bumi", dan di 34:9, (نَخْسِفْ بِهِمُ الْأَرْضَ, nakhsif bihimu l-ardha) yang berarti "Kami benamkan mereka di bumi". Bentuk keempat memakai (أَغْرَقْنَا, aghraqnaa) yang berarti "Kami tenggelamkan", dari akar غ-ر-ق. Di seluruh surah ini kata kerja itu hanya muncul di 29:40, sedangkan banjir besar di 29:14 memakai kata lain, (الطُّوفَانُ, th-thuufaanu). Di 29:40 kata kerja itu berdiri tanpa kata depan, (مَنْ أَغْرَقْنَا, man aghraqnaa) yang berarti "orang yang Kami tenggelamkan", dan ayat tidak menyebut apa yang menenggelamkan mereka.

Kalimat penutup (وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ, wa-maa kaana llaahu li-yazhlimahum) yang berarti "dan Allah tidaklah menzalimi mereka" tersusun dari maa "tidaklah", kaana "adalah", Allah, dan li-yazhlimahum "untuk menzalimi mereka". Urutan maa kaana llaahu li-yazhlimahum muncul tiga kali, yaitu di 9:70, 29:40, dan 30:9, dan di 9:70 serta 30:9 awalnya fa, (فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ, fa-maa kaana llaahu li-yazhlimahum). Di ketiganya kalimat itu muncul sesudah pernyataan bahwa utusan datang dengan keterangan yang nyata: (أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ, atat-hum rusuluhum bi-l-bayyinaati) di 9:70, (وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ, wa-jaa'at-hum rusuluhum bi-l-bayyinaati) di 30:9, dan di 29:40 pernyataan itu berada di ayat sebelumnya, 29:39. Kalimat berikutnya, (وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ, wa-laakin kaanuu anfusahum yazhlimuuna) yang berarti "tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri", memakai urutan (أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ, anfusahum yazhlimuuna) yang muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 2:57, 3:117, 7:160, 9:70, 10:44, 16:33, 16:118, 29:40, dan 30:9. Di kesembilannya "diri mereka" mendahului "menzalimi", dan terjemahan 29:40 menandai urutan itu dengan -lah pada "merekalah".

Tafsiran

Ayat ini merangkum rangkaian kisah sejak 29:14 sekaligus, tetapi daftarnya tidak memasangkan satu bentuk akibat dengan satu kaum. Surah ini sudah menyebut banjir besar untuk Nuh di 29:14, azab dari langit untuk penduduk negeri Lut di 29:34, dan gempa untuk Madyan di 29:37. Banjir dan gempa itu tidak termasuk di antara empat bentuk di 29:40, sedangkan kata kerja "Kami tenggelamkan" tidak muncul di kisah mana pun dalam surah ini. Dua ayat sebelumnya menyebut lima nama, yaitu Ad, Tsamud, Qarun, Firaun, dan Haman, sehingga jumlah bentuk akibat dan jumlah nama pun tidak sama. Dengan demikian keempat bentuk itu bekerja sebagai contoh jenis akibat, dan tidak sebagai daftar yang menutup seluruh kisah.

Kalimat penutup mengubah arah ayat, dari apa yang menimpa ke apa yang menyebabkannya. Empat kalimat pertama memakai "Kami" atau "suara menggelegar" sebagai pelaku. Pada kalimat terakhir nama Allah muncul dalam bentuk orang ketiga, kata kerjanya menjadi "menzalimi", dan sasarannya adalah diri mereka sendiri. Kata zalim sudah dipakai sebagai cap sebelumnya. Di 29:14, (وَهُمْ ظَالِمُونَ, wa-hum zhaalimuuna) yang berarti "sedang mereka orang-orang yang zalim" menyertai datangnya banjir, dan di 29:31, (إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ, inna ahlahaa kaanuu zhaalimiina) yang berarti "sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang zalim" menyertai pengumuman pembinasaan. Ayat 29:40 menyebut sasaran kezaliman itu, yaitu diri mereka sendiri, sehingga cap di 29:14 dan 29:31 mendapat objeknya.

Ayat ini juga menutup pola yang dibuka seruan Syu'aib di 29:36: seruan, penolakan, lalu akibat. Sesudahnya surah beralih ke perumpamaan di 29:41, tanpa nama dan tanpa kata kerja akibat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kullan di 29:40 memperlakukan tiap pihak secara terpisah, dan akhiran tunggal pada kata dosanya mengikuti kata itu. Pembaca yang terbiasa melihat sebuah kaum sebagai satu kesatuan dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebut perhitungan jatuh pada tiap pihak, tidak diratakan pada kelompok. Ayat-ayat lain memakai dosa dalam bentuk jamak untuk kelompok yang dihukum, jadi dua cara menghitung itu sama-sama ada dalam Al-Qur'an dan tidak saling meniadakan. Pembaca dapat bertanya bagaimana kesalahan kelompok tempatnya berada ditimbang di pikirannya sendiri, sebagai milik semua orang di dalamnya atau sebagai milik tiap orang, dan apa yang berubah dalam penilaiannya bila hitungan itu bergeser dari salah satu ke yang lain?
  • Ayat ini menyebut empat bentuk akibat, sedangkan dua ayat sebelumnya menyebut lima nama, dan banjir besar serta gempa dari 29:14 dan 29:37 tidak termasuk dalam empat itu. Pembaca cenderung mencocokkan daftar dengan daftar, satu nama dengan satu bentuk, tetapi ayat tidak menyediakan pasangannya. Ayat lain memang menyebut Qarun dibenamkan di 28:81 dan Firaun ditenggelamkan di 17:103, tetapi itu tertulis di tempat lain dengan nama yang jelas dan tidak di sini. Pembaca dapat memperhatikan kapan celah yang dibiarkan sebuah ayat diisi dengan keyakinan yang diambil dari ayat lain, dan apakah pembaca sanggup menandai mana yang tertulis di ayat ini dan mana yang ditambahkan sendiri?
  • Kalimat terakhir menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi mereka, dan sasaran kezaliman dipindahkan ke diri mereka sendiri. Pembaca yang terbiasa memahami kezaliman sebagai perbuatan seseorang terhadap orang lain mendapati bahwa kata yang sama dipakai untuk akibat perbuatan terhadap diri sendiri. Ayat tidak merinci perbuatan apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka, dan hanya menyebut dosa serta pelakunya. Pembaca dapat mengingat pilihan yang merugikan dirinya tanpa ada orang lain yang menjadi korban, lalu bertanya mengapa pilihan semacam itu jarang dihitung sebagai kezaliman, dan siapa yang sebenarnya menanggung kerugiannya?
  • Di 9:70 dan 30:9 kalimat bahwa Allah tidak menzalimi mereka datang tepat sesudah pernyataan bahwa utusan datang kepada mereka dengan keterangan yang nyata, dan di 29:40 pernyataan serupa di 29:39 mendahuluinya satu ayat. Urutan itu terulang di tiga surah. Tuduhan ketidakadilan sering muncul ketika seseorang merasa tidak diberi tahu, dan ayat-ayat ini menjawabnya dengan menunjuk bahwa keterangan sudah datang lebih dulu. Ayat tidak menyebut seberapa banyak keterangan yang diterima tiap pihak. Pembaca yang pernah merasa diperlakukan tidak adil dapat memeriksa apakah keterangan tentang aturan yang mengikatnya sudah diterima dengan jelas, atau apakah keterangan itu pernah datang dan belum didengarkan?
  • Empat kali ayat ini memakai kata man, "orang yang", dan tidak satu pun diberi nama atau kaum. Pembaca yang mendengar daftar akibat biasanya segera mencari tahu siapa sasaran tiap akibat, seolah mengukur jarak antara dirinya dan pihak-pihak itu. Ayat membiarkan tempat itu kosong, sehingga siapa pun dapat menjadi man. Daftar tanpa nama tidak memberi rasa aman bahwa yang tertulis hanya menyangkut orang lain. Pembaca dapat menimbang bagaimana kisah tentang orang yang sudah lama tiada biasa dibacanya, dan apakah nama dicari untuk memastikan bahwa kisah itu tidak sedang menunjuk ke arahnya?
  • Di 43:55 kata kerja tenggelam didahului pernyataan murka dan pembalasan, (فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ, fa-lammaa aasafuunaa intaqamnaa minhum fa-aghraqnaahum ajma'iina) yang berarti "maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami membalas mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya". Di 29:40 kata kerja yang sama muncul tanpa kata semacam itu. Ayat ini memakai bahasa dosa dan bahasa kezaliman terhadap diri sendiri, dan menutupnya dengan pernyataan bahwa Allah tidak menzalimi mereka. Dua ayat itu menggambarkan akibat yang serupa dengan nada yang berbeda, dan keduanya ada dalam Al-Qur'an. Pembaca dapat bertanya gambaran mana yang dibawa ketika membayangkan sebuah akibat yang berat, perhitungan atau amarah, dan dari ayat mana gambaran itu berasal?