إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Dia. Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍinna llaaha ya'lamu maa yad'uuna min duunihi min syay'insesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Dia
- وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-huwa l-'aziizu l-hakiimuDialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (12 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يَعْلَمُya'lamumengetahui
- مَاmaaapa yang
- يَدْعُونَyad'uunamereka menyeru
- مِنْmindari
- دُونِهِduunihiselain-Nya
- مِنْmindari
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
Inti bacaan
Susunan (مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ, maa yad'uuna min duunihi) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 22:62, 29:42, dan 31:30.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pertama berbunyi (إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ, inna llaaha ya'lamu maa yad'uuna min duunihi min syay'in) yang berarti "sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Dia". Kata kerja (يَدْعُونَ, yad'uuna) berakar د-ع-و dan berarti "mereka menyeru". Susunan (يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ, yad'uuna min duunihi) muncul tujuh kali, yaitu di 4:117, 13:14, 22:62, 29:42, 31:30, 40:20, dan 43:86. Di enam ayat di antaranya terjemahan memakai "seru" dan di 4:117 memakai "menyeru". Kata yang dipakai untuk menyembah adalah akar lain, ع-ب-د, misalnya di 16:35, (عَبَدْنَا, 'abadnaa) yang berarti "kami menyembah", sehingga terjemahan 29:42 memakai "seru" dan tidak lagi "sembah" agar kedua akar itu tidak tercampur.
Gabungan (مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ, maa yad'uuna min duunihi) yang berarti "apa saja yang mereka seru selain Dia" muncul tiga kali, yaitu di 22:62, 29:42, dan 31:30. Di 22:62 kelanjutannya (وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ, wa-anna maa yad'uuna min duunihi huwa l-baathilu) yang menyatakan bahwa apa saja yang mereka seru selain Dia batil, dan di 31:30 kalimat yang sama tanpa kata huwa. Ayat 29:42 tidak memakai penilaian itu. Di 29:42 kelanjutannya berbeda: ayat menyatakan bahwa yang diseru itu diketahui oleh Allah. Frasa (مِنْ شَيْءٍ, min syay'in) di akhir kalimat ditambahkan pada bentuk yang sudah memakai maa, sehingga cakupannya melebar ke apa saja dan tidak terbatas pada benda tertentu. Frasa (مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ, min duunihi min syay'in) ada dalam dua ayat, yaitu 16:35 dan 29:42. Kata kerja ya'lamu di sini mengambil seluruh yang diseru sebagai objeknya, dan objek itu tidak dirinci lebih jauh.
Kalimat kedua, (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) yang berarti "dan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah", muncul dua belas kali di sebelas surah, yaitu 14:4, 16:60, 29:42, 30:27, 31:9, 35:2, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 61:1, dan 62:3. Nama (الْعَزِيزُ, l-'aziizu) berakar ع-ز-ز dan diterjemahkan "Sang Digdaya", sedangkan (الْحَكِيمُ, l-hakiimu) diterjemahkan "Sang Penuh Hikmah". Pada kalimat itu ayat tidak menunjuk siapa pun selain Allah, dan sifat-sifat itu berdiri sebagai penutup kalimat pertama.
Tiga ayat berurutan memakai akar ع-ل-م, "mengetahui". Ayat 29:41 menutup dengan (يَعْلَمُونَ, ya'lamuuna) bagi orang yang menjadikan pelindung selain Allah, ayat 29:42 membuka dengan (يَعْلَمُ, ya'lamu) bagi Allah, dan ayat 29:43 menyebut (الْعَالِمُونَ, l-'aalimuuna) yang berarti "orang-orang yang berilmu". Rangkaian (إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ, inna llaaha ya'lamu) muncul empat kali, yaitu di 16:74, 16:91, 29:42, dan 49:18. Di 16:74 kalimat itu disambung dengan (وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ, wa-antum laa ta'lamuuna) yang berarti "sedangkan kalian tidak mengetahui", sehingga ketidaktahuan manusia disebut sendiri di sana, sedangkan 29:42 tidak menambahkannya.
Tafsiran
Ayat ini menjawab perumpamaan di 29:41 dengan memindahkan pengetahuan dari manusia ke Allah. Di ayat sebelumnya pengandaian "seandainya mereka mengetahui" dibiarkan tanpa isi. Di ayat ini pengetahuan itu hadir di pihak lain: Allah mengetahui apa yang mereka seru. Isi pengandaian itu tetap tidak ditulis, dan pengetahuan Allah tentang seruan itu tidak disyaratkan pada pengakuan para penyerunya.
Ayat ini tidak mengatakan apa pun tentang yang diseru. Ayat tidak menyebut yang diseru itu ada atau tidak ada, berdaya atau tidak berdaya, dan tidak menyebut namanya. Yang tertulis hanya bahwa semua itu diketahui oleh Allah, dengan cakupan "apa saja". Penutupnya menyebut dua sifat tanpa ancaman, tanpa janji, dan tanpa kata kerja yang menimpakan sesuatu pada siapa pun.
Ayat ini berdiri di antara dua ayat yang memakai kata yang sama. Ayat 29:41 menyebut orang yang tidak mengetahui, dan 29:43 menyebut orang yang berilmu serta menegaskan bahwa perumpamaan-perumpamaan itu dibuat untuk manusia. Dengan demikian pengetahuan dalam blok ini bergerak dari yang tidak dimiliki, kepada yang dimiliki Allah, lalu kepada yang dimiliki sebagian manusia. Ayat 29:42 menjadi titik tengahnya dan tidak menunjukkan cara berpindah dari satu titik ke titik lain.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di ayat ini adalah menyeru, dari akar yang berbeda dengan akar menyembah. Ayat ini menyebut bahwa Allah mengetahui apa yang diseru, dengan cakupan apa saja, dan tidak merinci apa yang diseru itu. Pembaca dapat memperhatikan kepada siapa seruan pertamanya mengarah ketika kabar buruk datang tiba-tiba, dan apakah seruan itu pernah dihitung sebagai seruan sama sekali?
- Frasa apa saja di ayat ini lebih lebar daripada daftar yang biasa disusun pembaca tentang sandaran-sandarannya. Daftar yang disusun sendiri biasanya memuat benda dan orang yang jelas, sedangkan frasa ini mencakup juga yang tidak sempat diberi nama. Allah mengetahui seluruhnya, termasuk yang pelakunya sendiri tidak ingat pernah diseru. Pembaca dapat menanyakan pada dirinya berapa banyak dari seruannya yang terjadi tanpa sadar, dan apakah daftar tak tertulis itu sama panjang dengan daftar yang bersedia disebutkan di depan orang lain?
- Ayat sebelumnya menutup dengan seandainya mereka mengetahui, lalu ayat ini menyatakan bahwa Allah mengetahui. Tidak ada kalimat yang menghubungkan keduanya, jadi pembaca menyusunnya sendiri. Ketidaktahuan satu pihak tidak mengubah apa yang diketahui oleh pihak lain, dan ayat ini cukup menaruh keduanya berdampingan. Orang yang tidak tahu bahwa sandarannya rapuh tidak membuat sandaran itu lebih kuat. Pembaca dapat bertanya hal apa dalam hidupnya yang sudah diketahui orang lain dengan jelas tetapi belum diketahui sendiri, dan siapa yang berani menyampaikannya?
- Terjemahan ayat ini memakai seru dan tidak menyembah, karena kata kerja Arabnya berasal dari akar yang berbeda dengan akar menyembah. Dengan pemisahan itu, orang yang merasa tidak pernah menyembah apa pun masih dapat memeriksa seruannya. Seruan lebih mudah luput dari pengakuan, sebab tidak ada ritual yang menyertainya dan tidak ada nama yang dilekatkan. Ayat ini menyebut seruan itu tanpa memberi penilaian di kalimat yang sama. Pembaca dapat bertanya apa yang diserunya ketika sendirian di malam hari dan tidak ada orang yang melihat, lalu apakah jawabannya sama dengan apa yang akan dikatakannya di depan umum?
- Penutup ayat menaruh Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah dalam satu kalimat. Kekuasaan yang besar tanpa kebijaksanaan menakutkan, sedangkan kebijaksanaan tanpa kekuasaan tidak sanggup menolong. Ayat ini menyebut keduanya pada Allah, pihak yang mengetahui seruan manusia. Orang yang berseru kepada pihak yang kuat tetapi sewenang-wenang, atau kepada pihak yang bijak tetapi tak berdaya, akan menimbang jawaban dari arah berbeda. Pembaca dapat memeriksa dalam seruannya, pihak mana yang dibayangkan memiliki kedua sifat itu sekaligus, dan siapa selain Allah yang pernah dibayangkan memilikinya?
- Ayat ini pendek, dan diapit oleh perumpamaan di depannya dan pernyataan tentang orang berilmu sesudahnya. Perumpamaan tentang laba-laba dibiarkan tanpa uraian, dan ayat ini tidak menafsirkannya. Pembaca yang menginginkan penjelasan lengkap di tiap ayat akan menemukan bahwa blok ini sengaja menyisakan kerja bagi pembacanya. Ayat 29:43 menyebut bahwa perumpamaan-perumpamaan itu hanya dipahami orang berilmu. Pembaca dapat menimbang apakah kegelisahannya ketika sebuah ayat tidak menjelaskan dirinya sendiri adalah tanda ayat itu kurang, atau tanda bahwa kerja memahaminya memang belum selesai dikerjakan?