وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

Dan engkau tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelumnya, dan tidak menuliskannya dengan tangan kananmu; sekiranya demikian, niscaya orang-orang yang berbuat batil akan ragu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍwa-maa kunta tatluu min qablihi min kitaabindan engkau tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelumnya
  2. وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَwa-laa takhuththuhu bi-yamiinikadan tidak menuliskannya dengan tangan kananmu
  3. إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَidzan la-rtaaba l-mubthiluunasekiranya demikian, niscaya orang-orang yang berbuat batil akan ragu

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. كُنْتَkuntaengkau adalah
  3. تَتْلُوtatluumembaca
  4. مِنْmindari
  5. قَبْلِهِqablihisebelumnya
  6. مِنْmindari
  7. كِتَابٍkitaabinkitab
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. تَخُطُّهُtakhuththuhuengkau menulisnya
  10. بِيَمِينِكَbi-yamiinikadengan tangan kananmu
  11. إِذًاidzanjika demikian
  12. لَارْتَابَla-rtaabasungguh akan ragu
  13. الْمُبْطِلُونَl-mubthiluunaorang-orang yang membatalkan

Inti bacaan

Bentuk (تَخُطُّهُ, takhuththuhu) tercatat satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:48.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا كُنْتَ, wa-maa kunta) yang berarti "dan engkau tidak pernah". Kata (كُنْتَ, kunta) adalah kata kerja lampau dari akar ك-و-ن untuk satu orang yang diajak bicara. Rangkaian (وَمَا كُنْتَ, wa-maa kunta) muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 3:44, 12:102, 28:44, 28:45, 28:46, 28:86, dan 29:48. Di 3:44, 12:102, 28:44, 28:45, dan 28:46 kalimat itu menyangkal kehadiran penerima di sebuah peristiwa. Di 28:86 kalimat itu menyangkal pengharapan akan Kitab, (وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَىٰ إِلَيْكَ الْكِتَابُ, wa-maa kunta tarjuu an yulqaa ilayka l-kitaabu) yang berarti "dan engkau tidak pernah mengharap agar Kitab itu diturunkan kepadamu". Di 29:48 kalimat itu menyangkal tindakan membaca, (كُنْتَ تَتْلُو, kunta tatluu) yang berarti "engkau membaca", dan rangkaian itu muncul satu kali di Al-Qur'an. Kata (تَتْلُو, tatluu) berakar ت-ل-و, akar yang sama dengan (اتْلُ, utlu) di 29:45.

Kata (مِنْ قَبْلِهِ, min qablihi) yang berarti "sebelumnya" tersusun dari (مِنْ, min) yang berarti "dari", (قَبْلِ, qabli) yang berarti "sebelum" dari akar ق-ب-ل, dan akhiran -hi yang berarti "-nya". Akhiran -hi menunjuk Kitab yang disebut di 29:47. Kata (مِنْ كِتَابٍ, min kitaabin) yang berarti "suatu kitab pun" muncul tiga kali, yaitu di 3:81, 29:48, dan 42:15. Di 3:81 dan 42:15 kata itu menyebut kitab yang diberikan atau diturunkan Allah, sedangkan di 29:48 kata itu berada dalam penyangkalan. Karena (كِتَابٍ, kitaabin) berbentuk tak tentu, penyangkalan itu tidak dibatasi pada Kitab di 29:47 saja, dan terjemahan memakai "suatu kitab pun".

Kata kerja (تَخُطُّهُ, takhuththuhu) yang berarti "engkau menuliskannya" berakar خ-ط-ط. Akar ini muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 29:48, dan bentuk (تَخُطُّهُ, takhuththuhu) juga satu kali. Dalam ayat yang sama, kata benda (كِتَابٍ, kitaabin) berakar ك-ت-ب, sehingga kata kerja menulis dan kata benda kitab berasal dari dua akar yang berbeda. Kata (بِيَمِينِكَ, bi-yamiinika) yang berarti "dengan tangan kananmu" tersusun dari (بِ, bi) yang berarti "dengan", (يَمِينِ, yamiini) dari akar ي-م-ن, dan akhiran -ka yang berarti "-mu". Bentuk (بِيَمِينِكَ, bi-yamiinika) muncul dua kali, yaitu di 20:17 dan 29:48. Di 20:17, (وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ, wa-maa tilka bi-yamiinika) yang berarti "dan apa itu di tangan kananmu", huruf bi diterjemahkan "di", sedangkan di 29:48 diterjemahkan "dengan" karena tangan itu menjadi alat menulis.

Kata (إِذًا, idzan) yang berarti "sekiranya demikian" membuka akibat dari keadaan yang dibayangkan. Di 23:91 akibat serupa menyusul dua penyangkalan, (مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ, maa ttakhadza llaahu min waladin) yang berarti "Allah tidak mengambil seorang anak" dan (وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ, wa-maa kaana ma'ahu min ilaahin) yang berarti "dan tidak ada tuhan bersama-Nya", lalu (إِذًا لَذَهَبَ, idzan la-dzahaba) yang berarti "jika demikian, niscaya ... membawa". Di 17:42 akibat itu menyusul pengandaian, (لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ, law kaana ma'ahu aalihatun) yang berarti "sekiranya ada tuhan-tuhan bersama-Nya", lalu (إِذًا لَابْتَغَوْا, idzan la-btaghaw) yang berarti "tentu mereka mencari". Di 29:48 keadaan yang dibayangkan tidak ditulis sebagai pengandaian tersendiri, dan dibaca dari dua penyangkalan sebelumnya, yaitu seandainya penerima Kitab pernah membaca atau menulis.

Kata (لَارْتَابَ, la-rtaaba) yang berarti "niscaya akan ragu" tersusun dari penegas (لَ, la) dan kata kerja (ارْتَابَ, irtaaba) dari akar ر-ي-ب, dan bentuk (لَارْتَابَ, la-rtaaba) muncul satu kali, yaitu di 29:48. Di 74:31, (وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ, wa-laa yartaaba lladziina uutuu l-kitaaba) yang berarti "dan agar orang-orang yang diberi kitab tidak ragu", keraguan dikaitkan dengan orang yang diberi kitab, sedangkan di 29:48 keraguan dikaitkan dengan (الْمُبْطِلُونَ, l-mubthiluuna) yang berarti "orang-orang yang berbuat batil". Kata itu berakar ب-ط-ل dan berbentuk pelaku jamak. Bentuk persis dengan kata sandang al- ini muncul empat kali di empat surah, yaitu 7:173, 29:48, 40:78, dan 45:27. Terjemahan di keempat tempat itu berbeda-beda, yaitu "pelaku kebatilan" di 7:173 dan 40:78, "orang-orang yang membatalkan" di 45:27, dan "orang-orang yang berbuat batil" di 29:48. Di surah ini akar yang sama muncul lagi di 29:52, (وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ, wa-lladziina aamanuu bi-l-baathili) yang berarti "dan orang-orang yang memercayai kebatilan", dan di 29:67, (أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ, a-fa-bi-l-baathili yu'minuuna) yang berarti "maka apakah mereka percaya kepada yang batil".

Tafsiran

Ayat ini menunjuk orang yang menerima Kitab di 29:47 dan menyebut dua hal yang tidak pernah dilakukannya sebelum Kitab itu: membaca kitab apa pun dan menuliskannya dengan tangan kanan. Keduanya dapat dibaca sebagai penutup dua jalan yang bisa dibayangkan untuk Kitab itu, yaitu dibaca dari kitab lain dan ditulis sendiri. Akibat yang disebut ayat ini berbentuk pengandaian: seandainya salah satu jalan itu ditempuh, orang-orang yang berbuat batil akan ragu. Keraguan itu tidak dinyatakan sedang terjadi. Ayat ini menunjuk tempat keraguan akan mendapat pijakan, dan dengan menunjuknya ayat ini menutup tempat itu.

Keadaan penerima sebelum Kitab digambarkan dari beberapa sisi di ayat lain. Ayat 28:86 menyangkal pengharapan akan Kitab, dan 42:52 menyangkal pengetahuan tentang apa itu Kitab dan apa itu iman. Bersama 29:48, ketiga ayat itu menyebut tiga hal yang tidak ada pada penerima, yaitu membaca dan menulis, mengharap, dan mengetahui, dan tidak ada ayat yang menyatakan ketiganya sebagai satu keadaan.

Akar membaca di kelompok ayat ini muncul sebagai perintah di 29:45, sebagai penyangkalan di 29:48, dan sebagai kata kerja pasif di 29:51, tempat Kitab dibacakan kepada pihak lain. Ayat 29:48 dan 29:49 menyebut dua bagian tubuh secara berurutan: tangan kanan yang tidak dipakai menulis, lalu dada orang-orang berilmu yang menjadi tempat tanda-tanda yang jelas. Ayat 29:49 dimulai dengan kata sebenarnya, sehingga arah pembicaraan berbalik dari tulisan ke dada tanpa penghubung lain.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini memakai dua hal yang tidak pernah dilakukan sebagai bahan bukti, tanpa menambahkan bukti lain. Di 29:45 pengetahuan Allah dikaitkan dengan apa yang diperbuat orang banyak, dan 29:48 menyebut apa yang tidak diperbuat oleh satu orang. Kesaksian semacam itu membutuhkan pihak yang mengetahui riwayat sebelumnya, dan ayat tidak menyebut siapa yang mengetahuinya. Pembaca dapat menimbang riwayatnya sendiri dari sisi lain, yaitu daftar hal yang tidak pernah dikerjakannya, dan kesaksian apa yang dikandung daftar itu. Apakah daftar tersebut pernah dibaca sebagai keterangan tentang dirinya?
  • Keraguan orang-orang yang berbuat batil di ayat ini dinyatakan sebagai akibat dari sebuah pengandaian, dan tidak digambarkan sebagai keadaan yang sedang berlangsung. Ayat menyebut tempat keraguan itu akan masuk akal, yaitu bila penerima Kitab pernah membaca atau menulis, dan dengan menyebutnya ayat menutup tempat itu. Di 40:78 kata yang sama untuk pelaku kebatilan dikaitkan dengan datangnya perintah Allah dan keputusan dengan hak. Dalam percakapan dengan orang yang ragu, mengakui tempat keraguan itu akan masuk akal berbeda dari menolaknya sebelum dipahami. Dari mana keraguan pembaca sendiri pernah berpijak?
  • Ayat 29:48 menyebut tangan kanan sebagai alat menulis yang tidak dipakai, dan ayat sesudahnya menaruh tanda-tanda yang jelas di dalam dada orang-orang berilmu. Dua bagian tubuh itu berurutan tanpa kalimat yang menjelaskan hubungan keduanya, sehingga pembaca menyusun hubungannya sendiri. Pembaca dapat memeriksa tempat sebuah bacaan disimpan, apakah pada lembar yang ditulis tangan atau di dalam diri. Bila tanda-tanda yang jelas berada di dalam dada, bagaimana ia diperiksa ketika dada itu milik orang lain?
  • Ayat-ayat lain menggambarkan keadaan penerima sebelum Kitab dari sisi yang berbeda. Di 28:86 penerima tidak pernah mengharap Kitab itu diturunkan kepadanya, dan Kitab itu disebut rahmat dari Tuhanmu. Di 42:52 penerima tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman. Bersama 29:48, ketiga ayat itu menyebut ketiadaan membaca dan menulis, ketiadaan harapan, dan ketiadaan pengetahuan, tanpa menyebutnya sebagai satu keadaan. Pembaca dapat menimbang bahwa ketiadaan bekal disebut berulang kali sebagai latar sesuatu yang datang dari Tuhan. Apa yang dianggap pembaca sebagai bekal wajib bagi sesuatu yang datang kepadanya?
  • Dalam surah ini akar kata batil muncul dalam beberapa bentuk: pelaku di 29:48, dan hal yang dipercaya di 29:52 dan 29:67. Di 29:52 orang-orang yang memercayai kebatilan disandingkan dengan orang yang kufur kepada Allah, dan di 29:67 pertanyaannya adalah apakah mereka percaya kepada yang batil dan kufur atas nikmat Allah. Surah ini menanyakan sasaran kepercayaan. Pembaca yang ditanya apa yang dipercayainya dapat memperhatikan bahwa pertanyaan itu menunjuk sasarannya. Apa yang ditaruh pembaca sebagai sasaran kepercayaan ketika kepercayaan itu tidak sedang dipertanyakan?
  • Tiga ayat berurutan menyebut tiga sebutan bagi pihak yang berhadapan dengan Kitab: orang-orang kafir yang mengingkari tanda-tanda di 29:47, orang-orang yang berbuat batil yang akan ragu di 29:48, dan orang-orang zalim yang mengingkari tanda-tanda di 29:49. Mengingkari dan meragukan disebut sebagai dua keadaan yang berbeda, dan ayat tidak menyatakan bahwa orang yang ragu sama dengan orang yang mengingkari. Pembaca dapat membedakan keduanya dalam dirinya sendiri terhadap hal yang diterimanya dari orang lain. Antara menyangkal dan meragukan, mana yang lebih sering dialami pembaca?