فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Apabila naik ke dalam kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan tulus dalam pertanggungjawaban kepada-Nya. Akan tetapi, ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka mempersekutukan-Nya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَfa-idzaa rakibuu fii l-fulki da'awu llaaha mukhlishiina lahu d-diinaapabila naik ke dalam kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan tulus dalam pertanggungjawaban kepada-Nya
  2. فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَfa-lammaa najjaahum ilaa l-barri idzaa hum yusyrikuunaakan tetapi, ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka mempersekutukan-Nya

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. رَكِبُواrakibuumereka naik
  3. فِيfiike dalam
  4. الْفُلْكِl-fulkikapal
  5. دَعَوُاda'awumereka menyeru
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. مُخْلِصِينَmukhlishiinadengan memurnikan
  8. لَهُlahubaginya
  9. الدِّينَd-diinapertanggungjawaban
  10. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  11. نَجَّاهُمْnajjaahumDia menyelamatkan mereka
  12. إِلَىilaakepada
  13. الْبَرِّl-barridarat
  14. إِذَاidzaaseketika itu
  15. هُمْhummereka
  16. يُشْرِكُونَyusyrikuunamenyekutukan

Inti bacaan

Frasa (فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ, fa-lammaa najjaahum ilaa l-barri) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:65 dan 31:32.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ, fa-idzaa rakibuu fii l-fulki) yang berarti "maka apabila mereka naik ke dalam kapal". Kata (رَكِبُوا, rakibuu) berakar ر-ك-ب, dan bentuk persis ini muncul sekali, di 29:65. Bentuk untuk dua orang, (رَكِبَا, rakibaa), juga muncul sekali, di 18:71, tempat dua orang menaiki (السَّفِينَةِ, s-safiinati) yang berarti "perahu". Kata (الْفُلْكِ, l-fulki) yang berarti "kapal" berakar ف-ل-ك. Bentuk persisnya muncul dua belas kali di sepuluh surah, yaitu 2:164, 7:64, 10:22, 10:73, 23:22, 23:28, 26:119, 29:65, 36:41, 37:140, 40:80, dan 43:12, dan terjemahan memakai "kapal" di semua ayat akar ini. Kata (إِذَا, idzaa) di awal ayat menaruh syarat waktu, sehingga diterjemahkan "apabila".

Doa mereka dituturkan dengan (دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, da'awu llaaha mukhlishiina lahu d-diina) yang berarti "mereka berdoa kepada Allah dengan tulus dalam pertanggungjawaban kepada-Nya". Susunan (دَعَوُا اللَّهَ, da'awu llaaha) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 10:22, 29:65, dan 31:32, dan di ketiganya langsung disusul (مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, mukhlishiina lahu d-diina). Kata (مُخْلِصِينَ, mukhlishiina) berakar خ-ل-ص. Akar yang sama dipakai untuk benda yang tidak bercampur, yaitu (لَبَنًا خَالِصًا, labanan khaalishan) yang berarti "susu murni" di 16:66, tempat susu itu keluar dari antara kotoran dan darah, dan (الدِّينُ الْخَالِصُ, d-diinu l-khaalishu) yang berarti "pertanggungjawaban yang murni" di 39:3. Dengan makna itu, kata "tulus" di sini menunjuk pertanggungjawaban yang diarahkan kepada Allah tanpa campuran, dan lawannya muncul di akhir ayat yang sama pada kata kerja yang berakar ش-ر-ك.

Kata (الدِّينَ, d-diina) berakar د-ي-ن dan diterjemahkan "pertanggungjawaban". Frasa (مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ, mukhlishiina lahu d-diina) muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5, dan di keenam ayat lainnya terjemahan memakai kata yang sama untuk d-diina.

Penyelamatan dituturkan dengan (فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ, fa-lammaa najjaahum ilaa l-barri) yang berarti "akan tetapi, ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat". Huruf (فَ, fa) di awal bagian ini melanjutkan cerita dengan keadaan baru, sehingga terjemahan memakai "akan tetapi". Kata kerja (نَجَّاهُمْ, najjaahum) berakar ن-ج-و. Pelaku penyelamatan tidak diberi nama baru; bentuk "dia" tunggal pada kata kerja itu mengikuti nama Allah yang disebut di bagian sebelumnya, sehingga terjemahan memakai "Dia". Frasa persis ini muncul dua kali, di 29:65 dan 31:32, sedangkan 17:67 memuat (نَجَّاكُمْ, najjaakum) yang berarti "Dia menyelamatkan kalian" dan juga berlanjut dengan (إِلَى الْبَرِّ, ilaa l-barri).

Bagian terakhir, (إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ, idzaa hum yusyrikuuna), berarti "tiba-tiba mereka mempersekutukan-Nya". Kata idzaa yang kedua ini berbeda dari idzaa di awal ayat. Idzaa pertama menaruh syarat waktu dan diterjemahkan "apabila", sedangkan idzaa kedua mengabarkan keadaan yang datang mendadak dan diterjemahkan "tiba-tiba". Susunan yang sama ada di 10:23, (فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ, fa-lammaa anjaahum idzaa hum yabghuuna) yang berarti "maka ketika Dia menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat aniaya". Kata kerja (يُشْرِكُونَ, yusyrikuuna) berakar ش-ر-ك dan muncul dua puluh kali di tiga belas surah. Morfologi korpus menandai kata kerja berdoa dan menyelamatkan sebagai bentuk lampau, dan kata kerja ini sebagai bentuk yang belum selesai, sehingga terjemahan menyajikan dua perbuatan pertama sebagai kejadian yang lewat dan perbuatan ini sebagai keadaan yang berlanjut. Di 16:54 dan 30:33 kata kerja ini didahului (بِرَبِّهِمْ, bi-rabbihim) yang berarti "terhadap Tuhan mereka", sedangkan di 29:65 kata kerja itu berdiri tanpa kata yang menyebut siapa yang disekutukan. Akhiran "-Nya" pada terjemahan ditambahkan agar kalimat Indonesia lengkap, dan Arabnya tidak memuat kata yang melahirkannya.

Tafsiran

Ayat ini menaruh tindakan di tempat pengakuan. Di 29:61, (لَيَقُولُنَّ اللَّهُ, la-yaquulunna llaahu) yang berarti "pasti mereka akan berkata, 'Allah'" menjadi jawaban atas pertanyaan tentang siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan 29:63 memuat jawaban yang sama atas pertanyaan tentang siapa yang menurunkan air. Pada 29:65 jawaban itu berbentuk perbuatan: ketika terancam di laut, mereka berdoa kepada Allah. Ayat ini tidak mengutip ucapan mereka sama sekali. Ayat 10:22 menuliskan isi doa dalam keadaan yang serupa, (لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ, la-in anjaytanaa min haadzihi la-nakuunanna mina sy-syaakiriina) yang berarti "sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur", sedangkan 29:65 mencatat keadaan pendoanya dan akibat yang menyusul di darat.

Ayat ini tidak membagi pelakunya. Di 31:32, sesudah keadaan yang sama, kalimat berlanjut dengan (فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ, fa-minhum muqtashidun) yang berarti "di antara mereka ada yang bersikap pertengahan". Di 16:54 dan 30:33, pelaku persekutuan disebut (فَرِيقٌ, fariiqun), yaitu sebagian dari kelompok. Di 29:65 subjeknya (هُمْ, hum) yang berarti "mereka", dan ayat ini menggambarkan satu kelompok dalam dua keadaan yang berurutan, di kapal lalu di darat.

Sebelum ayat ini, 29:64 menyebut kehidupan dunia sebagai (لَهْوٌ وَلَعِبٌ, lahwun wa-la'ibun) yang berarti "senda gurau dan permainan". Dua ayat itu berdampingan dengan 29:65, tetapi ayat ini sendiri tidak menyambungkannya dengan kehidupan dunia, dan hubungan keduanya tidak dinyatakan teks.

Ayat ini juga menyiapkan 29:66. Kata terakhir 29:65 adalah yusyrikuuna, dan 29:66 dibuka dengan (لِيَكْفُرُوا, li-yakfuruu) yang berarti "biarkanlah mereka kufur". Urutan yang sama terdapat pada 16:54 dan 16:55, serta 30:33 dan 30:34, yaitu ayat yang berakhir dengan yusyrikuuna disusul ayat yang dibuka dengan li-yakfuruu. Isi 29:66 dibahas di tempatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 29:65 mencatat bahwa orang-orang di kapal berdoa kepada Allah, tetapi isi doanya tidak dituliskan, berbeda dari 10:22 yang menyimpan janji bersyukur. Ayat ini menyimpan keadaan orang yang berseru, yaitu pertanggungjawaban yang dimurnikan bagi Allah. Pembaca yang pernah berseru kepada Allah dalam keadaan genting dapat memeriksa ingatannya sendiri, apakah yang tertinggal dari saat itu kalimat-kalimatnya atau keadaan dirinya ketika mengucapkannya. Bila yang dicatat tentang sebuah seruan adalah keadaan penyerunya, apa yang diperlihatkan seruan itu tentang orang yang menyerukannya?
  • Kapal dan darat adalah dua tempat dalam satu kalimat, dan perubahan perbuatan terjadi di antara keduanya. Ayat ini tidak menyebut dari apa mereka diselamatkan, hanya bahwa Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, dan tidak menyebut jarak waktu antara tiba di darat dan perbuatan yang menyusul, sebab kata idzaa membuatnya terbaca mendadak. Pembaca dapat menanyakan pada dirinya, di bagian hidupnya yang mana letak darat itu, yaitu saat bahaya sudah lewat dan tidak ada lagi sesuatu yang memaksanya menengadah kepada Allah dengan pertanggungjawaban yang murni.
  • Morfologi korpus menandai berdoa dan diselamatkan sebagai bentuk lampau, dan mempersekutukan sebagai bentuk yang belum selesai. Pertolongan Allah di ayat ini adalah peristiwa yang sudah lewat, dan sikap terhadapnya masih berjalan ketika ayat berhenti. Ayat ini tidak mencatat kapan keadaan itu berakhir. Pembaca yang menimbang pertolongan yang pernah diterimanya dapat membedakan antara peristiwanya, yang tidak bisa diulang atau dihapus, dan sikapnya terhadap peristiwa itu, yang masih bisa ditinjau hari ini.
  • Subjek ayat ini adalah hum, mereka. Ayat 31:32 membagi kelompok yang berada di keadaan serupa dengan menyebut sebagian yang bersikap pertengahan, dan ayat 16:54 menyebut segolongan saja yang bersekutu. Ayat ini berbicara tentang satu kelompok yang berdoa kepada Allah di kapal dan lalu bersekutu di darat, sehingga pembaca bisa menanyakan hal yang sama kepada dirinya: bila seluruh kelompok itu diselamatkan, apa yang membedakan dirinya dari mereka?
  • Orang-orang di ayat ini mampu berdoa dengan pertanggungjawaban yang murni bagi Allah, sebab ayat itu sendiri mencatatnya. Orang yang sama yang kemudian bersekutu pernah berada dalam keadaan itu, jadi kemurnian itu bukan sesuatu yang mustahil bagi mereka. Pembaca yang pernah mengalami saat ketika segala sesuatu selain Allah terasa tidak berguna dapat menganggapnya bukti dari dirinya sendiri bahwa keadaan itu mungkin. Ayat tidak menyebut apa yang mempertahankan atau memutuskan kemurnian itu, dan pertanyaan itu tetap terbuka: apa yang ada di kapal dan tidak ada di darat?
  • Ayat 29:61 dan 29:63 memuat jawaban mereka, Allah, atas pertanyaan tentang pencipta langit dan bumi dan tentang penurun air, dan ayat 29:65 memuat doa kepada Allah di kapal, lalu persekutuan di darat. Ketiganya dapat dibaca sebagai tiga keadaan dari kelompok yang sama: menjawab ketika ditanya, berseru ketika diselamatkan dari bahaya, dan bersekutu ketika sudah aman. Pembaca dapat menimbang di keadaan mana ucapannya tentang Allah paling sering diucapkan dan di keadaan mana paling jarang. Ayat ini tidak menyimpulkan apa pun dari urutan itu dan hanya menaruhnya berdampingan.