أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami menjadikan tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitar mereka diculik? Maka apakah mereka percaya kepada yang batil dan kufur atas nikmat Allah?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْa-wa-lam yaraw annaa ja'alnaa haraman aaminan wa-yutakhaththafu n-naasu min hawlihimapakah mereka tidak melihat bahwa Kami menjadikan tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitar mereka diculik
- أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَa-fa-bi-l-baathili yu'minuuna wa-bi-ni'mati llaahi yakfuruunamaka apakah mereka percaya kepada yang batil dan kufur atas nikmat Allah
Terjemahan per kata (15 kata)
- أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
- يَرَوْاyarawmereka melihat
- أَنَّاannaabahwa Kami
- جَعَلْنَاja'alnaaKami menjadikan
- حَرَمًاharamantanah suci
- آمِنًاaaminanyang aman
- وَيُتَخَطَّفُwa-yutakhaththafudan diculik
- النَّاسُn-naasumanusia
- مِنْmindari
- حَوْلِهِمْhawlihimsekitar mereka
- أَفَبِالْبَاطِلِa-fa-bi-l-baathilimaka apakah pada kebatilan
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
- وَبِنِعْمَةِwa-bi-ni'matidan dengan nikmat
- اللَّهِllaahiAllah
- يَكْفُرُونَyakfuruunakufur
Inti bacaan
Pasangan (حَرَمًا آمِنًا, haraman aaminan) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 28:57 dan 29:67.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَوَلَمْ يَرَوْا, a-wa-lam yaraw) yang berarti "apakah mereka tidak melihat". Kata ini tersusun dari huruf tanya (أَ, a), (وَ, wa) yang berarti "dan", (لَمْ, lam) yang berarti "tidak", dan (يَرَوْا, yaraw) yang berarti "mereka melihat". Bentuk persis ini muncul tiga belas kali di dua belas surah, yaitu 13:41, 16:48, 17:99, 26:7, 27:86, 29:19, 29:67, 30:37, 32:27, 36:71, 41:15, 46:33, dan 67:19. Kata sesudahnya, (أَنَّا, annaa) yang berarti "bahwa Kami", mengikuti bentuk itu di lima ayat, yaitu 13:41, 27:86, 29:67, 32:27, dan 36:71, dan susunan (أَنَّا جَعَلْنَا, annaa ja'alnaa) yang berarti "bahwa Kami menjadikan" muncul dua kali, di 27:86 dan 29:67.
Ayat ini meminta pandangan tertuju pada (حَرَمًا آمِنًا, haraman aaminan) yang berarti "tanah suci yang aman". Kata (حَرَمًا, haraman) berakar ح-ر-م dan, dalam bentuk ini, muncul dua kali, yaitu 28:57 dan 29:67, selalu bersama (آمِنًا, aaminan) yang berakar أ-م-ن. Ayat 28:57 memuat (أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا, a-wa-lam numakkin lahum haraman aaminan) yang berarti "bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka di tanah suci yang aman". Kata aaminan sendiri muncul enam kali di enam surah, yaitu 2:126, 3:97, 14:35, 28:57, 29:67, dan 41:40. Empat di antaranya menyifati tempat, seperti (بَلَدًا آمِنًا, baladan aaminan) yang berarti "negeri yang aman" di 2:126. Dua lainnya menyifati orang, yaitu (كَانَ آمِنًا, kaana aaminan) yang berarti "ia menjadi aman" di 3:97 dan (يَأْتِي آمِنًا, ya'tii aaminan) yang berarti "datang dengan aman" di 41:40. Ayat 29:67 tidak menyebut nama tempat itu, sehingga terjemahan memakai "tanah suci" tanpa menambahkan nama negeri.
Kalimat berikutnya, (وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ, wa-yutakhaththafu n-naasu min hawlihim), berarti "sedang manusia di sekitar mereka diculik". Kata kerja (يُتَخَطَّفُ, yutakhaththafu) berakar خ-ط-ف, dan bentuknya menaruh manusia sebagai pihak yang dikenai perbuatan; pelakunya tidak disebut. Kata dari pola yang sama muncul sekali di tiga ayat, yaitu (يَتَخَطَّفَكُمُ, yatakhaththafakumu) di 8:26, (نُتَخَطَّفْ, nutakhaththaf) di 28:57, dan yutakhaththafu di 29:67. Di 8:26, (يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ, yatakhaththafakumu n-naasu) yang berarti "orang-orang menculik kalian" menaruh kata (النَّاسُ, n-naasu) sebagai pelaku, sedangkan di 29:67 kata yang sama menjadi pihak yang diculik. Di 28:57 pola itu muncul pada ucapan (نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا, nutakhaththaf min ardhinaa) yang berarti "kami direnggut dari negeri kami".
Pertanyaan kedua, (أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ, a-fa-bi-l-baathili yu'minuuna), berarti "maka apakah mereka percaya kepada yang batil". Kata (الْبَاطِلِ, l-baathili) berakar ب-ط-ل dan muncul dua belas kali di sembilan surah, yaitu 2:42, 2:188, 3:71, 4:29, 4:161, 9:34, 16:72, 18:56, 21:18, 29:52, 29:67, dan 40:5. Susunan (أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ, a-fa-bi-l-baathili yu'minuuna) muncul dua kali, di 16:72 dan 29:67. Kata (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna) berakar أ-م-ن, akar yang sama dengan aaminan di bagian pertama ayat ini. Di 29:52 pasangan yang serupa tertulis (آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ, aamanuu bi-l-baathili wa-kafaruu bi-llaahi) yang berarti "mereka percaya kepada yang batil dan kufur kepada Allah".
Bagian terakhir, (وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ, wa-bi-ni'mati llaahi yakfuruuna), berarti "dan kufur atas nikmat Allah". Kata (نِعْمَةِ, ni'mati) berakar ن-ع-م. Ayat 16:72 memuat bagian ini dengan tambahan (هُمْ, hum), yaitu (وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ, wa-bi-ni'mati llaahi hum yakfuruuna) yang berarti "sedangkan terhadap nikmat Allah mereka kufur", sedangkan di 29:67 tambahan itu tidak ada. Frasa (بِنِعْمَةِ اللَّهِ, bi-ni'mati llaahi) muncul dua kali, di 16:71 dan 29:67. Di 16:71 kata kerjanya (يَجْحَدُونَ, yajhaduuna) yang berarti "mereka mengingkari", dan di 29:67 (يَكْفُرُونَ, yakfuruuna), yang muncul empat belas kali di sebelas surah.
Tafsiran
Ayat ini mengajukan bukti yang dapat dilihat di tengah rangkaian tentang sikap. Ayat 29:65 menuturkan perbuatan di kapal dan di darat, ayat 29:66 menamai tanggapan itu dan menundanya pada pengetahuan yang belum tiba, dan ayat 29:67 mengajak melihat. Pembukanya a-wa-lam yaraw mengalihkan dari kata-kata ke penglihatan, dan bukti yang diajukan berupa keadaan di sekitar mereka: tanah suci yang aman berdampingan dengan manusia yang diculik. Pertanyaan itu memuat dua hal, keamanan yang diberikan kepada satu pihak dan bahaya yang menimpa pihak lain, dan ayat tidak menyebut siapa penculiknya.
Ayat ini juga menjawab kekhawatiran yang tercatat di 28:57. Di sana sebuah ucapan menyatakan bahwa kelompok itu akan direnggut dari negerinya, dan jawaban ayat itu berupa pertanyaan yang dibuka dengan a-wa-lam dan memuat haraman aaminan, yaitu a-wa-lam numakkin lahum haraman aaminan. Di 29:67 jawaban itu muncul lagi dengan Kami sebagai pelaku, menjadikan tanah suci yang aman. Karena rumusannya sama, 29:67 dapat dibaca menunjuk keadaan yang sama dengan yang dijadikan jawaban di 28:57, tetapi teks tidak menyatakan bahwa kedua ayat berbicara tentang kelompok yang sama.
Dalam urutan ayat, 29:65 dan 29:67 menaruh dua tempat keamanan berurutan. Keamanan pertama berupa darat sesudah laut, dan keamanan kedua berupa tanah suci. Keduanya diikuti sikap yang berlawanan dengan keamanan itu: bersekutu di 29:65, percaya kepada yang batil dan kufur atas nikmat Allah di 29:67. Dengan susunan itu surah memperlihatkan dua cara datangnya keamanan, lewat pertolongan di tengah bahaya dan lewat tempat yang sudah dijadikan aman, dan tidak menyebut perbedaan di antara tanggapan atasnya.
Ayat ini juga menyiapkan 29:68. Dua pertanyaan di ujungnya tidak dijawab dalam ayat itu sendiri, dan ayat berikutnya mengajukan pertanyaan lain yang dibuka dengan wa-man azhlamu. Hubungan 29:67 dengan 29:66 sudah dibahas di tempat ayat itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 29:67 meminta keamanan dilihat lewat perbandingan: tanah suci yang aman berdiri di tengah manusia di sekitarnya yang diculik. Keamanan yang sudah lama dialami dapat berhenti terasa sebagai pemberian dan baru terlihat ketika ada sesuatu di sampingnya untuk dibandingkan. Ayat ini menyebut pelaku yang menjadikan tempat itu aman dengan kata Kami, lalu menutup dengan nikmat Allah sebagai sesuatu yang dikufuri. Pembaca dapat menanyakan pada diri sendiri, apa yang terjadi di sekitarnya yang tidak menimpa dirinya, dan siapa yang disebutnya menjadikan perbedaan itu?
- Ayat ini tidak dibuka dengan penjelasan atau perintah, tetapi dengan pertanyaan tentang penglihatan. Bukti yang diajukan sudah berada di depan mata orang yang ditanya, yaitu tanah yang aman dan manusia yang diculik di sekitarnya, dan tidak memerlukan kutipan dari tempat lain. Pertanyaan semacam itu mengandaikan bahwa yang ditanya sudah memiliki bahan untuk menjawab. Pembaca dapat memeriksa apakah ada hal yang sudah lama terlihat olehnya dan belum pernah dilihat sebagai bukti, dan apa yang berubah dalam cara ia menyebut Allah bila hal itu dilihat sebagai bukti.
- Kata yang berarti aman di awal ayat dan kata yang berarti mereka percaya di tengahnya berakar sama, yaitu أ-م-ن. Ayat ini mengumpulkan keduanya: tempat dijadikan aman oleh Kami, dan kepercayaan dialamatkan kepada yang batil. Rasa aman dan rasa percaya tumbuh dari akar yang sama dan dapat diarahkan ke alamat yang berlainan. Ayat tidak mengatakan bahwa rasa aman itu yang menyebabkan salah alamat, tetapi menaruh keduanya berdampingan. Pembaca yang merasakan aman dan percaya dapat menanyakan ke arah mana rasa percayanya mengalir, kepada Allah yang menjadikan keamanan itu atau kepada sesuatu yang lain?
- Kata an-naas di 8:26 adalah pelaku yang dikhawatirkan menculik, dan di 29:67 kata yang sama menjadi pihak yang diculik. Ancaman dan yang terancam berasal dari jenis yang sama, yaitu manusia. Keadaan penghuni tanah suci di ayat ini berbeda karena tempat itu dijadikan aman oleh Kami, dan ayat tidak menyebut kekuatan para penghuninya. Pembaca yang pernah merasa terancam oleh sesama manusia dapat memperhatikan pada apa ayat ini menaruh sumber keamanan. Dari mana rasa aman yang dimilikinya sekarang berasal, dan seberapa sering sumber itu disebutnya dengan nama Allah?
- Ayat 29:65 mencatat keselamatan di laut dan 29:67 mencatat keamanan di tanah suci. Yang pertama pertolongan di tengah bahaya, yang kedua keadaan aman yang melekat pada sebuah tempat. Sesudah keduanya, tanggapan yang tercatat bergerak ke arah yang sama: bersekutu di 29:65, percaya kepada yang batil dan kufur atas nikmat Allah di 29:67. Dari dua ayat itu dapat dibaca bahwa keadaan yang berlainan tidak dengan sendirinya menghasilkan tanggapan yang berlainan, tetapi teks tidak menyimpulkan lebih jauh. Syukur kepada Allah lebih sulit bertahan di kapal yang bergoyang atau di tanah yang tenang?
- Ayat 29:67 menyebut percaya kepada yang batil lebih dulu, lalu kufur atas nikmat Allah. Urutan itu terlihat juga di 29:52 dan 16:72, yang menulis penolakan kepada Allah atau nikmat-Nya berdampingan dengan kepercayaan kepada yang batil. Dalam ketiga ayat itu penolakan tidak ditulis sendirian, dan teks tidak menjelaskan apa isi kepercayaan lain itu di tiap tempat. Pembaca dapat mengamati rangkaian tersebut tanpa menarik kesimpulan yang tidak tertulis. Bila di ketiga ayat itu penolakan ditulis bersama kepercayaan lain, apa yang mengisi tempat yang ditinggalkan ketika seseorang berhenti bersyukur kepada Allah?