وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, atau mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya? Bukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُwa-man azhlamu mimmani ftaraa 'alaa llaahi kadziban aw kadzdzaba bi-l-haqqi lammaa jaa'ahudan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, atau mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya
- أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَa-laysa fii jahannama matswan li-l-kaafiriinabukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir
Terjemahan per kata (17 kata)
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- أَظْلَمُazhlamulebih zalim
- مِمَّنِmimmanidaripada siapa
- افْتَرَىٰftaraamengada-ada
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- كَذِبًاkadzibankebohongan
- أَوْawatau
- كَذَّبَkadzdzabamendustakan
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- لَمَّاlammaaketika
- جَاءَهُjaa'ahudatang kepadanya
- أَلَيْسَa-laysabukankah
- فِيfiidi
- جَهَنَّمَjahannamaJahanam
- مَثْوًىmatswantempat tinggal
- لِلْكَافِرِينَli-l-kaafiriinabagi orang-orang yang kufur
Inti bacaan
Penutup (أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ, a-laysa fii jahannama matswan li-l-kaafiriina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:68 dan 39:32.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ, wa-man azhlamu mimmani) yang berarti "dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang". Kata (أَظْلَمُ, azhlamu) berakar ظ-ل-م dan berarti "lebih zalim", sedangkan (مِمَّنِ, mimmani) menggabungkan (مِنْ, min) yang berarti "daripada" dengan (مَنِ, mani) yang berarti "orang yang". Bentuk (أَظْلَمُ مِمَّنِ, azhlamu mimmani) muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 6:21, 6:93, 6:144, 7:37, 10:17, 11:18, 18:15, 29:68, dan 61:7. Di Surah 29 pertanyaan ini muncul sekali, di ayat ini.
Perbuatan pertama dituturkan dengan (افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا, ftaraa 'alaa llaahi kadziban) yang berarti "mengada-adakan kebohongan terhadap Allah". Susunan ini muncul sepuluh kali di delapan surah, yaitu 6:21, 6:93, 6:144, 7:37, 10:17, 11:18, 18:15, 23:38, 29:68, dan 42:24. Kata (افْتَرَىٰ, ftaraa) berakar ف-ر-ي, sedangkan (كَذِبًا, kadziban) berakar ك-ذ-ب dan berarti "kebohongan", sebuah kata benda. Di 39:32 bagian pertama pertanyaan yang serupa memakai kata kerja lain, yaitu (كَذَبَ عَلَى اللَّهِ, kadzaba 'alaa llaahi) yang berarti "berdusta terhadap Allah". Terjemahan memakai "berdusta" untuk kata kerja dasar kadzaba dan "mengada-adakan kebohongan" untuk ftaraa yang disertai kadziban.
Perbuatan kedua dituturkan dengan (أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ, aw kadzdzaba bi-l-haqqi lammaa jaa'ahu) yang berarti "atau mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya". Kata (كَذَّبَ, kadzdzaba) berakar sama dengan kadzaba tetapi dengan huruf dzal digandakan, dan berarti "mendustakan", yaitu menolak kebenaran yang datang dari pihak lain. Susunan (أَوْ كَذَّبَ, aw kadzdzaba) muncul empat kali, yaitu di 6:21, 7:37, 10:17, dan 29:68. Di tiga yang pertama objeknya (بِآيَاتِهِ, bi-aayaatihi) yang berarti "tanda-tanda-Nya", dan di 29:68 objeknya (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "kebenaran" dengan akar ح-ق-ق. Pelaku "datang" di bagian ini adalah kebenaran, sedangkan akhiran (هُ, -hu) pada (جَاءَهُ, jaa'ahu) yang berarti "datang kepadanya" menunjuk orang yang mendustakan. Bentuk tunggal itu berbeda dari 6:5 dan 50:5, yang memuat (كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ, kadzdzabuu bi-l-haqqi lammaa jaa'ahum) yang berarti "mereka mendustakan kebenaran ketika ia datang kepada mereka", dengan pelaku jamak.
Bagian penutup, (أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ, a-laysa fii jahannama matswan li-l-kaafiriina), berarti "bukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir". Kata (أَلَيْسَ, a-laysa) membuka pertanyaan yang berarti "bukankah", dan bentuk ini muncul tiga belas kali di delapan surah. Kalimat penutup yang lengkap muncul dua kali, yaitu di 29:68 dan 39:32, sedangkan separuh pertamanya, (أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ, a-laysa fii jahannama), muncul tiga kali di dua surah, yaitu 29:68, 39:32, dan 39:60. Di 39:60 kalimat itu berakhir dengan (لِلْمُتَكَبِّرِينَ, li-l-mutakabbiriina) yang berarti "bagi orang-orang yang takabur". Kata (مَثْوًى, matswan) berakar ث-و-ي dan muncul lima kali di empat surah, yaitu 29:68, 39:32, 39:60, 41:24, dan 47:12, dan terjemahan memakai "tempat tinggal" di semuanya.
Tafsiran
Ayat ini menaruh dua perbuatan di bawah satu pertanyaan tentang kezaliman, lalu menutupnya dengan pertanyaan tentang tempat. Bentuk wa-man azhlamu menanyakan siapa yang lebih zalim, dan ayat tidak menyebut nama siapa pun sebagai jawabannya. Dua perbuatan di dalamnya dihubungkan dengan kata aw, atau: mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan mendustakan kebenaran. Pertanyaan itu tidak menimbang perbuatan yang satu terhadap yang lain, sehingga ayat ini tidak menyatakan salah satu lebih berat.
Bagian pertama menyebut perbuatan, dan bagian kedua menyebut golongan. Kata kafir muncul hanya pada pertanyaan kedua, sesudah kedua perbuatan selesai dituturkan. Dapat dibaca bahwa orang-orang yang dimaksud pada pertanyaan kedua mencakup pelaku kedua perbuatan itu, tetapi teks tidak memakai kata penghubung yang menyatakannya. Kalimat penutup yang sama ada di 39:32, sesudah pertanyaan yang juga membahas dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran.
Dalam urutan ayat, 29:68 mengikuti 29:67, yang menyebut percaya kepada yang batil dan kufur atas nikmat Allah. Ayat 29:67 menyebut yang batil dan nikmat Allah, sedangkan 29:68 menyebut kebohongan dan kebenaran, tetapi 29:68 tidak menyatakan bahwa pelaku di kedua ayat adalah orang yang sama. Perbedaan lain ada pada bentuk pertanyaannya. Ayat 29:67 menanyakan apa yang mereka percayai dan kufuri, sedangkan 29:68 mengajukan pertanyaan perbandingan yang mengukur kezaliman.
Ayat ini juga membuka pasangan penutup surah. Pertanyaannya berakhir pada orang-orang kafir, dan ayat sesudahnya, 29:69, dibuka dengan kelompok lain yang disebut dengan wa-lladziina jaahaduu dan ditutup dengan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dua ayat terakhir surah ini menyebut dua golongan berurutan, masing-masing dengan akhir kalimatnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut dua cara menjauh dari kebenaran: menambah sesuatu atas nama Allah, dan menolak kebenaran yang sudah datang. Yang pertama bergerak ke arah mengisi, yang kedua ke arah mengosongkan. Dua kecenderungan itu berlawanan arah, dan ayat memasukkan keduanya ke dalam satu pertanyaan tentang kezaliman. Pembaca dapat memeriksa kecenderungannya sendiri: lebih mudah tergoda menambahkan sesuatu pada apa yang dikatakan tentang Allah, atau menolak apa yang sudah sampai kepadanya?
- Ayat ini memakai kata datang untuk kebenaran: kebenaran yang bergerak, dan orang yang ditanya berada di tempatnya menerima. Mendustakan kebenaran berarti menolak sesuatu yang sudah sampai, bukan sesuatu yang dicari. Ini menaruh pertanyaan ayat pada saat kedatangan, dan pada apa yang dilakukan seseorang pada saat itu. Pembaca dapat mengingat kapan terakhir sesuatu yang benar sampai kepadanya tanpa dicari, dan apa yang pertama dilakukannya terhadap hal itu: menerima, menunda, atau menyingkirkannya?
- Pertanyaan dalam ayat ini tidak menyebut nama siapa pun dan hanya menyebut perbuatan. Ayat ini mengukur kezaliman dengan apa yang dikerjakan, yaitu berkata bohong tentang Allah dan menolak kebenaran, dan tidak menyebut ciri lain seperti kelompok atau keturunan. Pembaca yang cenderung membaca ayat serupa sebagai tentang orang lain dapat melihat bahwa ayat ini menyediakan ukuran yang bisa dipakai pada dirinya sendiri. Bila perbuatan menjadi ukurannya, perbuatan apa dalam sehari yang paling dekat dengan dua yang disebut ayat ini?
- Perbuatan pertama menaruh Allah sebagai sasaran perkataan palsu, dan ayat tidak merinci isi kebohongan itu. Sasarannya cukup disebut dengan terhadap Allah, dan itu sudah cukup untuk menaruhnya pada pertanyaan zalim yang paling tajam. Pembaca yang pernah berkata bahwa Allah menghendaki sesuatu dapat menimbang bobot kalimat semacam itu di hadapan ayat ini. Bila kalimat tentang Allah dapat jatuh ke dalam pertanyaan ini, seberapa teliti dasar perkataan itu diperiksa sebelum diucapkan?
- Ayat ini menyebut dua perbuatan lebih dulu, baru kemudian orang-orang kafir. Nama golongan muncul sesudah apa yang dikerjakan, dan tidak sebelumnya. Pembaca yang cepat memberi nama kepada orang lain dapat memperhatikan urutan ini, bahwa ayat bermula dari perbuatan dan menyebut sebutan sesudahnya. Urutan itu tidak memberi alasan untuk memakai sebutan itu kepada seseorang sebelum perbuatannya diperiksa. Seberapa sering sebutan bagi seseorang mendahului pemeriksaan atas perbuatannya, padahal ayat ini bermula dari perbuatan?
- Ayat ini memakai bentuk tunggal, ketika kebenaran datang kepadanya, sedangkan 6:5 dan 50:5 memakai bentuk jamak, kepada mereka. Bentuk tunggal membuat saat kedatangan kebenaran terbaca sebagai urusan seseorang dengan kebenaran itu. Ayat tidak menyebut siapa saja yang berada di sekitar penerima itu. Pembaca dapat membayangkan kebenaran sampai kepadanya sendirian, tanpa orang lain yang menyetujui atau menolak lebih dulu. Dalam keadaan itu, ke mana pembaca menoleh sebelum menjawab, kepada Allah atau kepada orang di sekelilingnya?