غُلِبَتِ الرُّومُ

Bangsa Romawi telah dikalahkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. غُلِبَتِ الرُّومُghulibati r-ruumubangsa Romawi telah dikalahkan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. غُلِبَتِghulibatitelah dikalahkan
  2. الرُّومُr-ruumubangsa Romawi

Inti bacaan

Nama (الرُّومُ, r-ruumu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:2, dengan kata sandang al- di depannya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri atas dua kata. Kata pertama (غُلِبَتِ, ghulibati) yang berarti "telah dikalahkan" berakar غ-ل-ب dan berbentuk selesai, sehingga terjemahan memakai "telah" agar kekalahan itu terbaca sebagai peristiwa yang sudah terjadi. Ayat ini tidak menyebut kapan peristiwa itu selesai. Bentuk kata kerjanya hanya memuat pihak yang dikenai kekalahan, dan pihak yang mengalahkan tidak ada di dalamnya.

Bentuk dari akar ini yang menyebut pihak yang dikalahkan tanpa menyebut pengalahnya muncul di empat ayat, yaitu 3:12, 7:119, 8:36, dan 30:2. Di 3:12 bunyinya (سَتُغْلَبُونَ, sa-tughlabuuna) yang berarti "kalian akan dikalahkan", di 7:119 (غُلِبُوا, ghulibuu) yang berarti "mereka dikalahkan", dan di 8:36 (يُغْلَبُونَ, yughlabuuna) yang berarti "mereka dikalahkan". Di keempat ayat itu pengalahnya tidak disebut, sehingga terjemahan 30:2 memakai "dikalahkan" tanpa menambahkan pelaku. Terjemahan juga tidak memakai "dihancurkan" atau "ditaklukkan", karena tiga ayat lainnya diterjemahkan "dikalahkan" dan kata Arab di ayat ini tidak memuat tanda kerusakan atau penguasaan wilayah.

Bentuk yang menyebut pengalahnya berbeda. Di 2:249 ada (غَلَبَتْ, ghalabat) dalam (كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً, kam min fi'atin qaliilatin ghalabat fi'atan katsiiratan) yang berarti "betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar", dan di 23:106 ada (غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا, ghalabat 'alaynaa syiqwatunaa) yang berarti "kemalangan kami telah menguasai kami". Pada keduanya pengalah tertulis sebagai kata sesudah kata kerja. Di 30:2 tempat itu kosong, dan terjemahan membiarkannya kosong.

Kata kedua (الرُّومُ, r-ruumu) yang berarti "bangsa Romawi" berupa nama, dan nama itu muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:2. Kata "bangsa" tidak punya kata Arab sendiri di ayat ini. Terjemahan menambahkannya supaya pembaca Indonesia tahu bahwa nama itu menunjuk sekelompok orang, dan petunjuknya ada di 30:3, tempat kata-kata yang menyambung ke nama ini berbentuk jamak laki-laki, yaitu (وَهُمْ, wa-hum) yang berarti "dan mereka" dan (غَلَبِهِمْ, ghalabihim) yang berarti "kekalahan mereka". Ayat 30:2 sendiri tidak merinci siapa saja yang termasuk dalam nama itu, apakah para penguasa, pasukan, atau seluruh penduduk.

Dalam (غُلِبَتِ الرُّومُ, ghulibati r-ruumu) kata kerja berdiri lebih dulu, lalu nama. Terjemahan membalik urutan itu menjadi "Bangsa Romawi telah dikalahkan", karena kalimat berita dalam bahasa Indonesia lazim dibuka dengan pokok yang dibicarakan, dan pembalikan itu tidak menambah atau mengurangi isi. Bentuk persis (غُلِبَتِ, ghulibati) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:2.

Kata pertama ayat ini tidak didahului kata penghubung. Tidak ada (فَ, fa) yang berarti "maka" dan tidak ada (وَ, wa) yang berarti "dan" di awalnya, sehingga terjemahan juga membuka tanpa "maka" atau "dan". Tanda koma di ujung terjemahan menunjukkan bahwa kalimat Arabnya belum berhenti, dan lanjutannya ada di 30:3.

Tafsiran

Ayat ini membuka isi surah dengan kabar kekalahan, dan kabar itu datang sebagai berita yang sudah selesai, tanpa kata yang mengaitkannya dengan tiga huruf di 30:1. Pembaca yang baru melewati tiga huruf tanpa keterangan langsung bertemu satu peristiwa yang kalimatnya lengkap. Urutan Arabnya menambah tekanan itu, sebab kata yang pertama terdengar sudah berarti dikalahkan, dan nama pihak yang dikalahkan baru menyusul sesudahnya.

Ayat ini juga tidak memberi bingkai. Pelaku tidak ada, tempat tidak ada, dan waktu tidak ada. Tempat datang di 30:3 lewat (فِي أَدْنَى الْأَرْضِ, fii adnaa l-ardhi) yang berarti "di negeri yang terdekat", dan rentang waktu datang di 30:4 lewat (فِي بِضْعِ سِنِينَ, fii bidh'i siniina) yang berarti "dalam beberapa tahun". Sampai kedua ayat itu tiba, pembaca memegang satu kekalahan yang belum punya alamat.

Tiga ayat lain yang memakai bentuk serupa menghubungkan kekalahan dengan keadaan pihak yang kalah. Di 3:12 dan 8:36 yang dikalahkan disebut orang-orang kufur, dan keduanya disusul penyebutan Jahanam. Ayat 30:2 tidak melakukannya: nama pihak yang dikalahkan tidak diberi sifat, tidak diberi tuduhan, dan tidak disusul ancaman. Karena itu kekalahan di ayat ini terbaca sebagai peristiwa yang disampaikan apa adanya, dan penilaiannya tidak dimuat di sini.

Hubungan ayat ini dengan 30:6 perlu dinyatakan dengan hati-hati. Ayat 30:6 menyebut janji Allah tanpa menunjuk kalimat mana yang dimaksud, dan 30:2 sendiri tidak memuat kata janji, ancaman, atau kehendak. Kalimat kekalahan ini baru tersambung ke kabar kemenangan di 30:3, sehingga dua ayat itu dapat dibaca sebagai satu kalimat yang dipecah di tengah.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 30:2 membuka isi surah dengan kekalahan, dan kata dikalahkan terdengar lebih dulu daripada nama pihak yang dikalahkan. Pembaca yang mendengar berita buruk dapat menunggu nama pihaknya sebelum merasakan beratnya, dan susunan Arab ini memperpendek masa menunggu itu. Dua kata sudah cukup bagi ayat ini, lalu terjemahannya berhenti pada tanda koma dan menyerahkan kelanjutan ke ayat berikutnya. Bagaimana rasanya menerima kabar kalah yang kalimatnya belum selesai, ketika kelanjutannya baru tiba sesudah jeda?
  • Ayat ini menyebut yang dikalahkan dan melewatkan yang mengalahkan. Pembaca yang terbiasa menelusuri siapa yang bersalah ketika mendengar kekalahan mendapati bahwa pertanyaan pertama itu tidak dijawab oleh 30:2. Perhatian pembaca dibawa ke pihak yang kalah, sebelum sempat dibawa ke pihak yang menang. Orang yang membaca berita kekalahan di sekitarnya, entah di kantor, di kampung, atau di antara tetangga, dapat memperhatikan nama siapa yang pertama dicarinya dalam berita itu.
  • Di 8:36 orang-orang kufur menginfakkan harta untuk menghalangi dari jalan Allah, lalu dikalahkan, dan di 3:12 mereka disebut akan dikalahkan lalu digiring ke Jahanam. Dalam dua ayat itu kekalahan datang bersama alasan yang tertulis. Ayat 30:2 tidak menuliskan alasan apa pun, sehingga kekalahan di sini tidak disertai penilaian atas pihak yang kalah. Orang yang gagal dalam sebuah urusan dapat membaca kegagalannya sebagai vonis atas dirinya, padahal ayat ini menaruh kabar kalah tanpa kabar salah.
  • Di 54:10 orang yang menyeru Tuhannya mengatakan bahwa dirinya dikalahkan lalu meminta pertolongan, dan permintaan itu tertulis dalam ayat yang sama dengan pengakuan kalahnya. Ayat 30:2 hanya memuat pengakuannya dan tidak memuat permintaan apa pun. Dua ayat itu berbeda pembicara dan berbeda suasana, sehingga yang satu tidak menjelaskan yang lain. Pembaca dapat bertanya, saat berada dalam keadaan kalah, apakah kabar itu lebih dulu disampaikan kepada orang lain atau kepada Tuhan.
  • Ayat 3:160 menyebut dua keadaan berurutan: bila Allah menolong, tidak ada yang dapat mengalahkan, dan bila Dia membiarkan, tidak ada yang dapat menolong sesudahnya. Ayat 30:2 tidak mengatakan keadaan mana dari kedua itu yang sedang berlaku bagi bangsa Romawi, dan teks tidak memberi bahan untuk mengisinya. Batas itu memberi contoh satu kebiasaan membaca, yaitu menahan diri dari menyimpulkan sikap Allah atas sebuah kekalahan sebelum teks menyampaikannya. Seberapa sering pembaca terburu-buru menyimpulkan sikap Dia atas peristiwa yang baru didengar setengahnya?
  • Terjemahan ayat ini berhenti pada tanda koma karena kalimat Arabnya melanjutkan diri ke 30:3, dan ayat 30:2 saja tidak memuat jawaban atas pertanyaan yang dibangkitkannya. Orang yang berhenti membaca di titik ini membawa pulang satu kabar buruk yang belum selesai diceritakan. Cerita yang dipotong di tengah dapat meninggalkan kesan yang bertahan lebih lama daripada kelanjutannya, dan kesan itu bisa mengeras menjadi kesimpulan. Siapa yang memotong cerita di tengah ketika menuturkan sebuah peristiwa kepada orang lain, dan kesimpulan apa yang tertinggal di kepala pendengarnya?