بِنَصْرِ اللَّهِ ۚ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
Dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Sang Digdaya lagi Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- بِنَصْرِ اللَّهِbi-nashri llaahidengan pertolongan Allah
- يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُyanshuru man yasyaa'uDia menolong siapa yang Dia kehendaki
- وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُwa-huwa l-'aziizu r-rahiimuDia Sang Digdaya lagi Sang Pengasih
Terjemahan per kata (8 kata)
- بِنَصْرِbi-nashridengan pertolongan
- اللَّهِllaahiAllah
- يَنْصُرُyanshurumenolong
- مَنْmanorang yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih
Inti bacaan
Pasangan (الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, l-'aziizu r-rahiimu) muncul sebelas kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:9, 26:68, 26:104, 26:122, 26:140, 26:159, 26:175, 26:191, 30:5, 32:6, dan 44:42.
Penjelasan pilihan kata
Frasa pembuka (بِنَصْرِ اللَّهِ, bi-nashri llaahi) yang berarti "dengan pertolongan Allah" tersusun dari awalan (بِ, bi) yang berarti "dengan", kata (نَصْرِ, nashri) yang berarti "pertolongan" dan berakar ن-ص-ر, serta nama Allah. Awalan bi- yang melekat pada nashr muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:13, 8:26, 8:62, dan 30:5. Di tiga ayat pertama, kata yang sama berbunyi (بِنَصْرِهِ, bi-nashrihi) yang berarti "dengan pertolongan-Nya", dan terjemahan memakai "dengan" di ketiganya, sejalan dengan kata per kata 30:5 sendiri. Terjemahan 30:5 karena itu memakai "dengan", padanan yang sama dengan bi- pada nashr di tiga ayat lain, dan tidak memakai "karena", yang menetapkan hubungan sebab yang tidak tertulis di ayat ini. Pola yang sama berlaku bagi kata kerja bergembira dari 30:4: di 10:58 dan 13:36 awalan bi- sesudah kata itu diterjemahkan "dengan".
Ayat ini dibuka dengan (بِنَصْرِ اللَّهِ, bi-nashri llaahi) tanpa kata kerja, sehingga tidak tertulis apa yang berlangsung dengan pertolongan itu. Frasanya dapat dibaca menempel pada kegembiraan orang-orang beriman di 30:4, dan dapat pula dibaca menempel pada kemenangan di 30:3. Terjemahan mempertahankan keterbukaan itu dengan membuka tanpa kata penghubung dan tanpa kata kerja tambahan.
Kata (يَنْصُرُ, yanshuru) yang berarti "Dia menolong" berakar sama dengan nashr dan berbentuk tunggal laki-laki. Kata ganti "Dia" tidak ditulis sebagai kata terpisah di sini, tetapi terkandung di dalam bentuk kata kerjanya, dan pelakunya jelas dari (وَهُوَ, wa-huwa) yang berarti "dan Dia" di bagian ketiga ayat serta dari nama Allah yang tertulis langsung sebelumnya. Itu sebabnya terjemahan menulis "Dia" dengan huruf besar. Dalam (يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ, yanshuru man yasyaa'u) yang berarti "Dia menolong siapa yang Dia kehendaki", kata kerja menolong disusul susunan man yasyaa'u. Kata benda nashr dan susunan man yasyaa'u berada dalam satu ayat di dua tempat, yaitu 3:13, (وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ, wa-llaahu yu'ayyidu bi-nashrihi man yasyaa'u) yang berarti "dan Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki", serta 30:5. Di kedua ayat itu tidak tertulis syarat bagi orang yang dikehendaki.
Bagian ketiga, (وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, wa-huwa l-'aziizu r-rahiimu), memuat dua nama yang masing-masing diberi kata sandang al-. Kata sandang itu diterjemahkan "Sang", sehingga bunyinya "Sang Digdaya lagi Sang Pengasih"; padanan ini sama dengan penerjemahan al-'aziiz di ayat-ayat lain yang bertakrif. Kata "lagi" menyambung dua nama yang di dalam Arab berdampingan tanpa kata penghubung. Pasangan (الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, l-'aziizu r-rahiimu) muncul sebelas kali di empat surah, yaitu di 26:9, 26:68, 26:104, 26:122, 26:140, 26:159, 26:175, 26:191, 30:5, 32:6, dan 44:42. Pasangan al-'aziiz dengan nama lain jauh lebih sering: (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, l-'aziizu l-hakiimu) muncul 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:129, 3:6, dan 3:18.
Kata nashr dan 'aziiz berada dalam satu ayat di empat tempat, yaitu 3:126, 8:10, 30:5, dan 48:3. Di 3:126 dan 8:10 kalimatnya (وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, wa-maa n-nashru illaa min 'indi llaahi) yang berarti "dan tidak ada pertolongan kecuali dari sisi Allah", dan di keduanya nama kedua sesudah 'aziiz adalah hakiim, "penuh hikmah". Di 30:5 nama kedua adalah rahiim. Di 48:3 kata 'aziiz menerangkan nashr itu sendiri, sehingga terjemahan di sana memakai "pertolongan yang digdaya". Terjemahan mencatat perbedaan nama kedua apa adanya dan tidak menyeragamkannya. Titik di ujung terjemahan menandai bahwa ayat ini berhenti, dan 30:6 membuka dengan kata lain.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan yang dibiarkan terbuka oleh tiga ayat sebelumnya, yaitu dengan apa semua itu terjadi. Ayat 30:2 menyebut kekalahan, 30:3 menyebut pembalikan, dan 30:4 menyebut waktu, pemilik urusan, dan kegembiraan. Ayat 30:5 memberi satu jawaban lewat pertolongan Allah, dan jawaban itu diberikan dalam bentuk pernyataan umum tentang kehendak, tidak dalam bentuk rincian tentang siapa saja yang ditolong.
Siapa yang ditolong tidak disebut. Ayat ini memakai (مَنْ يَشَاءُ, man yasyaa'u) yang berarti "siapa yang Dia kehendaki" tanpa daftar penerima dan tanpa syarat. Hubungannya dengan ayat lain dalam surah yang sama perlu dicatat dengan hati-hati: di 30:47, (وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ, wa-kaana haqqan 'alaynaa nashru l-mu'miniina) yang berarti "dan menolong orang-orang beriman adalah kewajiban atas Kami", penerimanya disebut dan pertolongan itu disebut kewajiban. Dua ayat itu berbicara dengan cara yang berbeda tentang pertolongan, dan teks tidak menyatukan keduanya.
Urutan ayat ini ialah sumber, lalu kehendak, lalu dua nama. Sumber disebut lebih dulu dalam (بِنَصْرِ اللَّهِ, bi-nashri llaahi), kehendak menyusul dalam man yasyaa'u, dan kalimat ditutup dengan kekuatan dan kasih yang disebut berdampingan. Kehendak karena itu tidak berdiri telanjang di akhir ayat. Kehendak itu diapit oleh sumber di depan dan dua nama di belakang. Di 3:126 kalimat serupa tentang pertolongan ditutup dengan kekuatan dan hikmah, sedangkan di 30:5 kekuatan disandingkan dengan kasih. Perbedaan itu ada dalam teks, dan ayat tidak menjelaskan sebabnya.
Bagi alur 30:2 sampai 30:6, ayat ini menaruh Allah sebagai pokok kalimat untuk pertama kali sebagai pelaku, sebab di 30:4 Allah muncul sebagai pemilik dan di 30:5 sebagai penolong. Kemenangan di 30:3 dan kegembiraan di 30:4 sekarang punya sumber yang tertulis, tetapi ayat ini tidak menyebut apakah pihak yang ditolong adalah mereka yang menang di 30:3 atau orang-orang beriman di 30:4.
Renungan dan Hikmah
- Di 30:5 pertolongan datang kepada siapa yang Dia kehendaki, dan di 30:47 pertolongan bagi orang-orang beriman disebut kewajiban atas Kami. Kedua ayat berada dalam satu surah dan memakai bahasa yang berbeda tentang hal yang berdekatan, yang satu bahasa kehendak dan yang lain bahasa kewajiban. Teks tidak mendamaikan keduanya dalam satu kalimat, dan membaca satu ayat dengan membuang ayat lain berarti membuang separuh bahan. Pihak yang menolong ditulis Dia di 30:5 dan Kami di 30:47, dan cara seseorang menaruh harapan kepada Allah dapat berbeda tergantung ayat mana yang lebih dulu diingat. Ayat mana yang biasanya lebih dulu muncul di benak ketika pertolongan sedang dibutuhkan?
- Ayat ini menyebut pertolongan Allah sebelum menyebut siapa yang ditolong. Cerita tentang keberhasilan dapat disusun dari pelaku ke hasil, lalu ke syukur. Ayat 30:5 menyusunnya terbalik: sumber lebih dulu, lalu kehendak, lalu nama-nama. Pembaca yang menceritakan sebuah keberhasilan dapat memperhatikan urutannya sendiri, yaitu apa yang pertama kali disebutnya dan apa yang baru muncul di ujung kalimat.
- Kalimat tentang kehendak di ayat ini tidak berdiri sendirian. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, lalu Dia disebut Sang Digdaya lagi Sang Pengasih. Kekuatan dan kasih berada di satu napas yang sama dengan kehendak itu, dan teks tidak memisahkannya. Orang yang membayangkan kehendak Allah sebagai sesuatu yang acak atau semena-mena mendapati bahwa ayat ini menaruh dua nama di belakangnya. Apa yang berubah dalam cara seseorang berdoa ketika kekuatan dan kasih disebut berdampingan sebagai latar kehendak?
- Di 3:13 Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan ayat itu ditutup dengan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. Di 30:5 kalimat serupa ditutup dengan dua nama dan tidak dengan pelajaran. Kedua ayat tidak memuat daftar syarat bagi siapa yang dikehendaki. Pembaca yang ingin menghitung pantas atau tidaknya dirinya menerima pertolongan mendapati bahwa kedua ayat tidak menyediakan hitungan itu. Apakah ada ukuran yang selama ini dipakai pembaca untuk menimbang layak tidaknya pertolongan sampai kepadanya, dan dari ayat mana ukuran itu berasal?
- Kalimat tentang pertolongan yang berasal dari Allah ditutup dengan Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah di 3:126 dan dengan Sang Digdaya lagi Sang Pengasih di 30:5. Dapat dibaca bahwa nama kedua dipilih sesuai keadaan yang sedang dibicarakan, tetapi ayatnya tidak mengatakan demikian, dan pembacaan itu hanya kemungkinan. Hal yang tertulis ialah nama kedua berbeda sedangkan nama pertama sama. Orang yang sedang menunggu pertolongan dapat memperhatikan nama mana dari kedua nama itu yang paling diperlukannya pada saat itu, dan alasan apa yang membuat pilihannya demikian.
- Kegembiraan orang-orang beriman di 30:4 disusul di 30:5 oleh frasa dengan pertolongan Allah. Ayat 10:58 menautkan kegembiraan pada karunia Allah dan rahmat-Nya, dan 30:4 sampai 30:5 menautkannya pada pertolongan-Nya. Kegembiraan yang punya alamat lain, misalnya pada kecerdikan sendiri atau pada kekalahan lawan, tidak ditemukan dalam dua ayat itu. Orang yang baru berhasil dapat memeriksa kegembiraannya dengan satu pertanyaan sederhana: kepada apa kegembiraan itu terikat, dan apakah Dia termasuk di dalam jawabannya?