يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai terhadap akhirat.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَاya'lamuuna zhaahiran mina l-hayaati d-dunyaamereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia
- وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَwa-hum 'ani l-aakhirati hum ghaafiluunasedangkan mereka lalai terhadap akhirat
Terjemahan per kata (10 kata)
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
- ظَاهِرًاzhaahiranyang tampak
- مِنَminadari
- الْحَيَاةِl-hayaatikehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- وَهُمْwa-humdan mereka
- عَنِ'aniterhadap
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- هُمْhummereka
- غَافِلُونَghaafiluunaorang-orang yang lalai
Inti bacaan
Susunan (هُمْ غَافِلُونَ, hum ghaafiluuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:7 dan 36:6.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (يَعْلَمُونَ, ya'lamuuna) yang berarti "mereka mengetahui". Kata kerja ini berakar ع-ل-م dan memakai pelaku jamak laki-laki. Bentuk yang sama sudah dipakai di ayat sebelumnya dengan penafian, (لَا يَعْلَمُونَ, laa ya'lamuuna) yang berarti "tidak mengetahui" di 30:6. Dalam Surah 30 kata ya'lamuuna muncul empat kali, yaitu di 30:6, 30:7, 30:30, dan 30:59, dan di tiga ayat selain 30:7 kata itu didahului laa. Hanya di 30:7 kata kerja itu menyatakan pengetahuan yang ada, dan langsung disusul objeknya. Terjemahan memakai "mengetahui" apa adanya, tanpa kata yang mengukur banyak atau sedikitnya, sebab tidak ada kata Arab yang melahirkan ukuran itu.
Objeknya adalah (ظَاهِرًا, zhaahiran) yang berarti "yang tampak". Kata ini berakar ظ-ه-ر, berbentuk sebutan bagi sesuatu yang tampak, dan bertanwin tanpa kata sandang, sehingga menunjuk sesuatu yang tidak ditentukan lebih jauh. Bentuk persis zhaahiran muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:22 dan 30:7. Di 18:22, (مِرَاءً ظَاهِرًا, miraa'an zhaahiran) menerangkan jenis perbantahan, sehingga padanannya "yang jelas". Di 30:7 kata yang sama berdiri sebagai sesuatu yang diketahui, dan padanannya "yang tampak". Sesudahnya datang (مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, mina l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "dari kehidupan dunia". Rangkaian yang diawali huruf min ini hanya ada di 30:7. Dengan min, yang diketahui disebut sebagai apa yang tampak dari kehidupan dunia, dan ayat tidak merinci bagian kehidupan dunia yang tidak tampak.
Kata (الدُّنْيَا, d-dunyaa) berakar د-ن-و dan berfungsi sebagai kata sifat bagi l-hayaati. Akar yang sama ada pada (أَدْنَى الْأَرْضِ, adnaa l-ardhi) yang berarti "negeri yang terdekat" di 30:3, empat ayat sebelum ayat ini. Di 30:3 akar itu diterjemahkan "terdekat", dan di 30:7 diterjemahkan "dunia"; hubungan keduanya terletak pada akarnya.
Bagian kedua dibuka dengan (وَهُمْ, wa-hum) yang berarti "sedangkan mereka". Huruf wa- di sini menghadapkan dua keadaan yang berlawanan arah pada pelaku yang sama, mengetahui di satu sisi dan lalai di sisi lain, sehingga terjemahan memakai "sedangkan". Pelaku disebut dua kali dalam bagian ini, (وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ, wa-hum 'ani l-aakhirati hum ghaafiluuna) yang berarti "sedangkan mereka lalai terhadap akhirat", karena hum muncul sebelum dan sesudah keterangan. Kerangka yang sama dipakai lima kali di ayat lain dengan huruf bi- sebagai ganti 'an, yaitu (وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ, wa-hum bi-l-aakhirati hum kaafiruuna) yang berarti "dan mereka kufur terhadap akhirat" di 11:19, 12:37, dan 41:7, serta (وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ, wa-hum bi-l-aakhirati hum yuuqinuuna) yang berarti "dan mereka yakin" di 27:3 dan 31:4. Dari lima ayat itu tiga menyebut kufur dan dua menyebut yakin, sedangkan 30:7 mengisi kerangka itu dengan kelalaian.
Kata (غَافِلُونَ, ghaafiluuna) berakar غ-ف-ل dan berbentuk sebutan bagi pelaku, berbeda dari ya'lamuuna di awal ayat yang berbentuk kata kerja. Bentuk ghaafiluuna muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu di 6:131, 7:179, 10:7, 10:92, 12:13, 16:108, 30:7, 36:6, dan 46:5. Lima di antaranya memakai (عَنْ, 'an) untuk menunjuk hal yang dilalaikan. Di 10:7, (هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ, hum 'an aayaatinaa ghaafiluuna) yang berarti "yang lalai terhadap tanda-tanda Kami", dan di 46:5, (عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ, 'an du'aa'ihim ghaafiluuna) yang berarti "lalai terhadap seruan mereka". Hal yang dilalaikan di 10:92 adalah tanda-tanda juga, dan di 12:13 ditunjuk oleh akhiran -hu. Akhirat menjadi hal yang dilalaikan hanya di 30:7. Terjemahan memakai "lalai" dan "terhadap" di sini, dan tidak memakai "menolak" atau "mengingkari", sebab ayat sesudahnya memakai kata lain untuk penolakan, (لَكَافِرُونَ, la-kaafiruuna) yang berarti "benar-benar kufur" di 30:8.
Ayat ini tidak menyebut siapa yang dimaksud dengan mereka. Ayat 30:6 menyebut (أَكْثَرَ النَّاسِ, aktsara n-naasi) yang berarti "kebanyakan manusia", dan hum dapat dibaca merujuk kepada kelompok itu, tetapi 30:7 tidak mengulang sebutan tersebut. Ayat juga tidak merinci apa saja yang termasuk "yang tampak" dan tidak menyatakan apakah kelalaian berasal dari pengetahuan yang disebut.
Tafsiran
Ayat ini mengisi bagian yang dibiarkan menggantung di akhir 30:6. Ayat 30:6 berakhir dengan (لَا يَعْلَمُونَ, laa ya'lamuuna) tanpa menyebut apa yang tidak diketahui, dan 30:7 memakai kata kerja yang sama dalam bentuk positif lalu memberi isi: mereka mengetahui yang tampak dari kehidupan dunia. Kata kerja itu berpindah dari penafian ke pernyataan tanpa pergantian pelaku yang tertulis, sehingga bacaan yang paling dekat ke teks menempatkan tidak mengetahui dan mengetahui pada kelompok yang sama, masing-masing atas hal yang berbeda. Pembacaan ini bergantung pada hum yang merujuk ke (أَكْثَرَ النَّاسِ, aktsara n-naasi) di 30:6, dan ayat sendiri tidak menyatakan rujukan itu.
Susunan ayat terdiri atas dua bagian yang sama panjang, lima kata Arab di masing-masing bagian. Bagian pertama memuat satu kata kerja dengan objeknya, dan bagian kedua memuat pelaku yang diulang beserta sebutan kelalaian. Di antara kedua bagian tidak ada kata sebab, sehingga pengetahuan dan kelalaian tampil sebagai dua keadaan yang hadir bersamaan tanpa rantai sebab yang menghubungkannya. Pembaca yang ingin menyusun rantai itu harus menambahkannya sendiri. Dua sebutan yang berhadapan juga menempati bagian sendiri-sendiri, yaitu kehidupan dunia di bagian yang diketahui dan akhirat di bagian yang dilalaikan.
Dalam alur surah, 30:2 sampai 30:6 membicarakan sebuah peristiwa, yaitu kekalahan yang disusul kemenangan, dan janji Allah. Ayat 30:7 meninggalkan peristiwa itu dan berbicara tentang manusia. Sesudahnya 30:8 mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang sama, (أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ, a-wa-lam yatafakkaruu fii anfusihim) yang berarti "apakah mereka tidak berpikir tentang diri mereka", dan 30:9 mengajak mereka bepergian di bumi. Dengan urutan itu 30:7 dapat dibaca sebagai keadaan yang dijawab dua kali, lewat pertanyaan tentang diri sendiri dan lewat ajakan melihat kesudahan orang-orang terdahulu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 30:6 menyatakan kebanyakan manusia tidak mengetahui, dan 30:7 menyatakan mereka mengetahui, dengan kata kerja yang sama. Kedua pernyataan itu berdampingan, sehingga pertanyaan apakah pembaca tahu tidak dapat dijawab dengan ya atau tidak saja, dan pertanyaan yang tersisa menyangkut hal apa yang diketahui. Hal yang disebut tepat sebelum kalimat di 30:6 itu adalah janji Allah, dan Allah tidak menyalahi janji-Nya. Pembaca yang menguasai bidangnya dapat menimbang apakah penguasaan itu sampai ke hal semacam itu, atau berhenti pada batas yang disebut 30:7. Seberapa jauh pengetahuan pembaca menjangkau janji yang disebut di ayat sebelumnya?
- Ayat ini menyebut jenis pengetahuan mereka, yaitu yang tampak dari kehidupan dunia, dan tidak menyebut ukurannya. Pengetahuan seluas apa pun masih dapat berada dalam jenis itu. Karena itu pembaca tidak dapat menenangkan diri dengan anggapan bahwa orang yang lalai pasti orang yang sedikit ilmunya. Ayat tidak mengatakan kelalaian itu lahir dari kekurangan pengetahuan; ayat menaruh pengetahuan dan kelalaian dalam satu kalimat dan membiarkan keduanya berjalan bersama. Orang yang mahir mengurus anggaran, mesin, atau perkara hukum dapat bertanya apakah kemahiran itu pernah dipakai untuk menimbang hal yang tidak tampak di meja kerjanya, dan apa yang akan ditemukannya bila menimbangnya?
- Hal yang dilalaikan disebut akhirat di 30:7, lalu pertemuan dengan Tuhan mereka di 30:8, dan di 30:11 Allah memulai penciptaan, mengembalikannya, dan kepada-Nya kalian dikembalikan. Ketiganya dapat dibaca sebagai tiga cara menyebut arah yang sama, dari sebutan yang terakhir, ke sebutan pertemuan, ke sebutan kembali kepada pihak yang memulai. Ayat-ayat itu tidak menyatakan ketiganya sama, sehingga pembacaan ini bersifat kemungkinan. Pembaca dapat memeriksa gambaran yang dipakainya sendiri untuk akhirat, apakah lebih dekat ke sesuatu yang terakhir dalam urutan, ke sebuah pertemuan, atau ke sebuah kepulangan, dan gambaran mana yang lebih sering hadir saat pembaca menyusun rencana untuk minggu depan?
- Ayat 30:7 memakai sebutan lalai untuk sikap mereka terhadap akhirat, sedangkan 30:8 memakai sebutan kufur untuk sikap banyak manusia terhadap pertemuan dengan Tuhan mereka. Dua sebutan itu tidak ditukar dalam dua ayat yang berurutan. Ayat 30:7 menyebut kelalaian pada orang yang sedang mengetahui sesuatu, dan penolakan tidak disebutnya. Pembaca yang yakin tidak pernah menolak akhirat dapat bertanya apakah keyakinan itu sudah menjawab tuduhan lalai, sebab keduanya tidak sama. Apa yang dalam keseharian pembaca membedakan tidak menolak dari tidak lalai?
- Pelaku disebut dua kali di bagian kedua ayat, hum sebelum keterangan dan hum sesudahnya, sehingga penunjuk jatuh tepat di depan kata lalai. Ayat tidak mengatakan sebagian dari mereka, dan tidak menyebut syarat apa pun bagi kelompok itu; ayat menunjuk kelompoknya lalu menyebut lalai. Kerangka yang sama dipakai di ayat lain untuk kufur dan untuk yakin, sehingga penunjuk yang diulang melayani sikap yang berbeda-beda terhadap akhirat. Pembaca yang membaca mereka sebagai orang lain dapat memeriksa kapan terakhir kali pembaca menunjuk diri sendiri dengan kata yang sama. Bagaimana rasanya membaca kata lalai ketika penunjuknya diarahkan kepada pembaca sendiri?
- Ayat memakai huruf min, dari, sehingga yang diketahui mereka adalah yang tampak dari kehidupan dunia, dan ayat tidak merinci bagian kehidupan dunia yang lain. Ayat menyebut apa yang mereka ketahui, yaitu yang tampak, dan apa yang mereka lalaikan, yaitu akhirat, lalu meninggalkan selisih antara keduanya tanpa penjelasan lebih lanjut. Pembaca dapat membedakan dalam hidupnya sendiri antara hal yang tampak, seperti jabatan, angka, dan penampilan, dan hal yang tidak tampak, seperti niat dan arah. Pada hari ketika kalian dikembalikan kepada-Nya, menurut 30:11, bagian mana dari keduanya yang masih akan dibawa pembaca?