أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Tidakkah mereka bepergian di bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka, dan mereka telah mengolah bumi serta meramaikannya melebihi apa yang telah mereka ramaikan. Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْa-wa-lam yasiiruu fii l-ardhi fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihimtidakkah mereka bepergian di bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka
- كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَاkaanuu asyadda minhum quwwatan wa-atsaaruu l-ardha wa-'amaruuhaa aktsara mimmaa 'amaruuhaaorang-orang itu lebih kuat dari mereka, dan mereka telah mengolah bumi serta meramaikannya melebihi apa yang telah mereka ramaikan
- وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِwa-jaa'at-hum rusuluhum bi-l-bayyinaatirasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas
- فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَfa-maa kaana llaahu li-yazhlimahum wa-laakin kaanuu anfusahum yazhlimuunaAllah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri
Terjemahan per kata (32 kata)
- أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
- يَسِيرُواyasiiruumereka berjalan
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- فَيَنْظُرُواfa-yanzhuruumaka mereka memperhatikan
- كَيْفَkayfabagaimana
- كَانَkaanaadalah
- عَاقِبَةُ'aaqibatukesudahan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- مِنْmindari
- قَبْلِهِمْqablihimsebelum mereka
- كَانُواkaanuumereka adalah
- أَشَدَّasyaddalebih keras
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- قُوَّةًquwwatankekuatan
- وَأَثَارُواwa-atsaaruudan mereka menggali
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- وَعَمَرُوهَاwa-'amaruuhaadan mereka memakmurkannya
- أَكْثَرَaktsarakebanyakan
- مِمَّاmimmaadaripada apa yang
- عَمَرُوهَا'amaruuhaamereka memakmurkannya
- وَجَاءَتْهُمْwa-jaa'at-humdan datang kepada mereka
- رُسُلُهُمْrusuluhumrasul-rasul mereka
- بِالْبَيِّنَاتِbi-l-bayyinaatidengan bukti-bukti yang nyata
- فَمَاfa-maamaka tidaklah
- كَانَkaanaadalah
- اللَّهُllaahuAllah
- لِيَظْلِمَهُمْli-yazhlimahumuntuk menzalimi mereka
- وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
- كَانُواkaanuumereka selalu
- أَنْفُسَهُمْanfusahumdiri mereka sendiri
- يَظْلِمُونَyazhlimuunamenzalimi
Inti bacaan
Susunan (فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ, fa-maa kaana llaahu li-yazhlimahum) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:70 dan 30:9.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ, a-wa-lam yasiiruu fii l-ardhi) yang berarti "tidakkah mereka bepergian di bumi". Bentuknya sama dengan pembuka 30:8, yaitu huruf tanya, wa-, dan lam, sehingga dua ayat berurutan memuat dua pertanyaan dengan susunan yang sama. Kata kerja yasiiruu berakar س-ي-ر dan disambung dengan fa- kepada kata kerja berikutnya, (فَيَنْظُرُوا, fa-yanzhuruu) yang berarti "lalu melihat", sehingga bepergian dan melihat terbaca sebagai dua langkah berurutan. Objek melihat itu berbunyi (كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ, kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihim) yang berarti "bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka". Rangkaian fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu muncul enam kali di lima surah, yaitu di 12:109, 30:9, 35:44, 40:21, 40:82, dan 47:10, dan rangkaian kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihim muncul lima kali di lima surah, yaitu di 12:109, 30:9, 35:44, 40:82, dan 47:10. Pembuka a-wa-lam yasiiruu fii l-ardhi fa-yanzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu lladziina min qablihim secara utuh hanya ada di 30:9 dan 35:44.
Kalimat berikutnya dibuka dengan (أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً, asyadda minhum quwwatan) yang berarti "lebih kuat dari mereka". Kata asyadda berakar ش-د-د dan berbentuk perbandingan, minhum menyebut pihak yang dibandingkan, dan quwwatan berakar ق-و-ي menyebut segi yang diukur, yaitu kekuatan. Susunan asyadda minhum quwwatan muncul tiga kali, yaitu di 30:9, 35:44, dan 40:21, dan di 43:8 asyadda minhum disusul kata lain, (أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا, asyadda minhum bathsyan). Terjemahan memadatkan asyadda dan quwwatan menjadi "lebih kuat". Di 40:21 susunan itu disambung dengan (وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ, wa-aatsaaran fii l-ardhi) yang berarti "dan peninggalan di bumi", sedangkan di 30:9 penyambungnya berbunyi (وَأَثَارُوا الْأَرْضَ, wa-atsaaruu l-ardha). Tulisan tanpa harakat kedua frasa itu nyaris sama, tetapi 40:21 memakai kata benda dari akar أ-ث-ر, dan 30:9 memakai kata kerja dari akar ث-و-ر.
Akar ث-و-ر muncul lima kali dalam bentuk kata kerja, yaitu di 2:71, 30:9, 30:48, 35:9, dan 100:4. Di 30:48, (فَتُثِيرُ سَحَابًا, fa-tutsiiru sahaaban) yang berarti "lalu ia menggerakkan awan", objeknya awan, dan di 100:4, (فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا, fa-atsarna bihi naq'an) yang berarti "lalu menerbangkan debu dengannya", objeknya debu. Hanya di 2:71 dan 30:9 objeknya bumi atau tanah, yaitu (تُثِيرُ الْأَرْضَ, tutsiiru l-ardha) di 2:71 dan wa-atsaaruu l-ardha di 30:9. Ayat 2:71 menyebut ladang yang tidak diairi, sehingga padanannya "membajak". Ayat 30:9 tidak menyebut ladang atau alat, dan terjemahan memakai kata yang lebih luas, "mengolah".
Kata (وَعَمَرُوهَا, wa-'amaruuhaa) yang berarti "serta meramaikannya" berakar ع-م-ر. Bentuk lampau dengan akhiran -haa ini hanya muncul di 30:9, dua kali, dan akhiran itu menunjuk bumi, yaitu (أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا, aktsara mimmaa 'amaruuhaa) yang berarti "melebihi apa yang telah mereka ramaikan". Akar yang sama dipakai di 9:17 dan 9:18 dengan objek masjid-masjid Allah, (يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ, ya'muruu masaajida llaahi) di 9:17 dan (يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ, ya'muru masaajida llaahi) di 9:18, dan di 11:61, (وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا, wa-sta'marakum fiihaa) yang berarti "dan menjadikan kalian peramainya", dengan bumi sebagai tempat. Terjemahan memakai "meramaikan" di keempat ayat itu. Pelaku kata kerja kedua tidak ditandai, sebab Arabnya memakai akhiran -uu yang sama pada kedua kata kerja, sehingga pembanding "apa yang mereka ramaikan" dapat dibaca sebagai orang-orang terdahulu atau sebagai mereka yang kini ditanya. Terjemahan mempertahankan ketaksaan itu dengan memakai "mereka" pada keduanya.
Kata (رُسُلُهُمْ, rusuluhum) yang berarti "rasul-rasul mereka" berakar ر-س-ل dan memakai akhiran -hum, sehingga rasul itu disebut milik orang-orang yang didatangi. Bentuk ini muncul sebelas kali di delapan surah, yaitu di 7:101, 9:70, 10:13, 14:9, 14:10, 14:11, 30:9, 35:25, 40:22, 40:83, dan 64:6. Susunan jaa'at-hum rusuluhum bi-l-bayyinaati, (جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ, jaa'at-hum rusuluhum bi-l-bayyinaati) yang berarti "rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas", muncul enam kali, yaitu di 7:101, 10:13, 14:9, 30:9, 35:25, dan 40:83. Kata (بِالْبَيِّنَاتِ, bi-l-bayyinaati) berakar ب-ي-ن, dan huruf bi- sesudah kata kerja datang diterjemahkan "dengan membawa" agar rasul itu terbaca datang membawa sesuatu.
Kalimat penutup dibuka dengan (فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ, fa-maa kaana llaahu li-yazhlimahum) yang berarti "maka Allah tidak menzalimi mereka". Susunan ini muncul dua kali, yaitu di 9:70 dan 30:9, dan di keduanya ia menyusul rasul-rasul yang datang dengan bukti-bukti. Susunan maa kaana llaahu li- dengan kata kerja sesudahnya ada di delapan ayat, yaitu 2:143, 3:179, 8:33, 9:70, 9:115, 29:40, 30:9, dan 35:44. Kata kerja (لِيَظْلِمَهُمْ, li-yazhlimahum) berakar ظ-ل-م. Kalimat itu dilanjutkan dengan (وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ, wa-laakin kaanuu anfusahum yazhlimuuna) yang berarti "tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri". Rangkaian ini muncul tujuh kali di enam surah, yaitu di 2:57, 7:160, 9:70, 16:33, 16:118, 29:40, dan 30:9. Objek (أَنْفُسَهُمْ, anfusahum) berdiri di depan kata kerja, dan terjemahan menyatakan urutan itu dengan akhiran -lah pada "merekalah". Kata anfus yang sama sudah dipakai di 30:8 sebagai hal yang dipikirkan.
Ayat ini tidak menyebut siapa saja orang-orang sebelum mereka, di mana mereka tinggal, dan bagaimana kesudahan mereka, sebab kesudahan itu dijawab oleh ayat berikutnya. Ayat juga tidak merinci bukti-bukti yang dibawa para rasul.
Tafsiran
Ayat ini menggeser ajakan berpikir tentang diri di 30:8 menjadi ajakan melihat di bumi, dan isinya menyiapkan jawaban yang baru tertulis di 30:10. Pertanyaan tentang kesudahan di 30:9 memakai kata 'aaqibah, dan 30:10 memakainya lagi dalam jawaban, (ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ, tsumma kaana 'aaqibata lladziina), sehingga dua ayat itu terbaca sebagai pertanyaan dan jawabannya. Ayat 30:9 sendiri menyiapkan latar jawaban itu dengan tiga keterangan tentang orang-orang terdahulu: mereka lebih kuat, mereka mengolah dan meramaikan bumi lebih banyak, dan rasul-rasul mereka datang dengan bukti-bukti.
Dua dari tiga keterangan itu menyangkut apa yang tampak dari hasil kerja manusia, yaitu kekuatan dan keramaian bumi, sedangkan keterangan ketiga menyangkut kabar yang datang dari luar mereka. Dengan susunan itu orang-orang terdahulu digambarkan unggul dalam hal yang di 30:7 disebut diketahui oleh mereka yang lalai terhadap akhirat, yaitu yang tampak dari kehidupan dunia. Ayat 30:9 tidak menyebut orang-orang terdahulu lalai; pendustaan dan olok-olok baru dinyatakan di 30:10. Pembacaan yang menghubungkan 30:9 dengan 30:7 bersifat kemungkinan, sebab 30:9 tidak merujuk ke ayat itu.
Kalimat penutup menutup tiga keterangan tadi dengan pernyataan tentang pelaku kezaliman. Allah tidak menzalimi mereka, dan merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. Pernyataan itu berada sesudah rasul-rasul datang dengan bukti, persis seperti urutan di 9:70, sehingga urutannya terbaca tetap: bukti datang, lalu kesudahan ditanggung oleh pelakunya.
Dalam alur surah, pertanyaan di 30:9 dan perintah di 30:42, (سِيرُوا فِي الْأَرْضِ, siiruu fii l-ardhi) yang berarti "berjalanlah di bumi", membingkai bagian surah di antara keduanya. Ayat 30:42 mengulang ajakan itu sebagai perintah dan menyebut bahwa kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik, (كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ, kaana aktsaruhum musyrikiina), sehingga ajakan melihat kesudahan di surah ini muncul dua kali, sekali sebagai pertanyaan dan sekali sebagai perintah.
Renungan dan Hikmah
- Orang-orang terdahulu disebut lebih kuat dari mereka yang ditanya, dan mereka mengolah bumi serta meramaikannya lebih banyak. Dua keterangan itu menyangkut hasil kerja yang tampak, dan keduanya disebut sebelum pertanyaan tentang kesudahan terjawab di ayat berikutnya. Karena itu pembaca tidak memperoleh dasar untuk menenangkan diri dengan besarnya kekuatan atau ramainya apa yang dibangun. Pembaca yang menilai sebuah usaha berhasil dari ukurannya dapat menimbang apakah ayat ini menyebut ukuran itu sebagai jaminan atau sebagai bahan perbandingan. Apa yang tersisa dari ukuran itu pada orang-orang yang disebut ayat ini?
- Para rasul disebut rasul-rasul mereka, dengan akhiran mereka, sehingga tiap kaum yang diceritakan memiliki utusannya sendiri yang datang dengan bukti-bukti. Di 10:13 generasi-generasi yang dibinasakan disebut berbuat zalim padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan keterangan yang nyata, dan di 7:101 rasul-rasul mereka datang, tetapi mereka tidak mau beriman pada apa yang telah mereka dustakan sebelumnya. Bukti yang datang dan bukti yang dipahami adalah dua hal yang dapat terpisah. Adakah bukti yang sudah lama ada di depan pembaca dan belum pernah ditimbang dengan sungguh-sungguh?
- Sesudah menyebut kekuatan, keramaian bumi, dan rasul yang datang, ayat menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi mereka, dan pernyataan itu diletakkan sebelum ada yang menuduh. Susunan yang sama ada di 9:70, juga sesudah rasul-rasul datang dengan bukti. Lalu ayat menamai pelaku kezaliman, yaitu merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. Pembaca dapat memeriksa penjelasan apa yang pertama kali disusunnya ketika sesuatu yang dibangunnya runtuh, dan apakah penjelasan itu menyebut pihak lain lebih dulu daripada pembaca sendiri. Siapa yang pertama kali disebut pembaca ketika menjelaskan keruntuhan?
- Ayat tidak mengabarkan kesudahan itu dan menyuruh melihatnya lewat bepergian di bumi. Dengan kata sambung lalu, melihat disambungkan kepada bepergian sebagai langkah berikutnya, sehingga kesudahan diperlakukan sebagai sesuatu yang dapat dijumpai dan tidak hanya didengar. Ayat tidak merinci apa yang akan dilihat. Pembaca yang lebih sering mengetahui sesuatu lewat ringkasan dapat bertanya apa yang tidak terbawa oleh ringkasan itu. Kapan terakhir pembaca mendatangi sendiri sebuah tempat yang sudah sering didengarnya dari orang lain?
- Kata diri muncul di 30:8 sebagai hal yang diminta dipikirkan, dan di 30:9 sebagai hal yang dizalimi. Dua ayat berurutan memakai kata itu untuk dua keadaan yang berlawanan arah, dan ayat tidak menghubungkannya dengan kata sebab. Pembaca dapat menaruh keduanya berdampingan tanpa menyimpulkan lebih dari yang tertulis. Ada diri yang diajak berpikir, ada diri yang dizalimi, dan pelaku kezaliman itu disebut pemiliknya sendiri, sedangkan Allah dinyatakan tidak menzalimi mereka. Apa yang dapat terjadi pada diri yang belum pernah diajak berpikir?
- Di 35:44 kalimat tentang orang-orang yang lebih kuat dari mereka disusul pernyataan bahwa tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang dapat melemahkan Allah. Di 30:9 kalimat yang sama disusul pernyataan tentang kezaliman terhadap diri sendiri. Kedua ayat tidak memakai perbandingan itu untuk memuji atau merendahkan siapa pun, dan keduanya memakainya sebagai pijakan bagi kalimat berikutnya. Bila pembaca menyusun kalimat sesudah mengakui bahwa orang-orang terdahulu lebih kuat, apakah kalimat itu akan menyebut kezaliman terhadap diri sendiri, atau akan menyebut Allah yang tidak dapat dilemahkan oleh apa pun?