ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ
Kemudian, kesudahan orang-orang yang berbuat jahat adalah yang paling buruk, karena mereka mendustakan tanda-tanda Allah dan selalu mengolok-oloknya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰtsumma kaana 'aaqibata lladziina asaa'uu s-suu'aakemudian, kesudahan orang-orang yang berbuat jahat adalah yang paling buruk
- أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَan kadzdzabuu bi-aayaati llaahi wa-kaanuu bihaa yastahzi'uunakarena mereka mendustakan tanda-tanda Allah dan selalu mengolok-oloknya
Terjemahan per kata (13 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- كَانَkaanaadalah
- عَاقِبَةَ'aaqibatakesudahan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- أَسَاءُواasaa'uumereka berbuat buruk
- السُّوأَىٰs-suu'aayang paling buruk
- أَنْankarena
- كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
- بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
- اللَّهِllaahiAllah
- وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
- بِهَاbihaapadanya
- يَسْتَهْزِئُونَyastahzi'uunamereka mengolok
Inti bacaan
Bentuk (أَسَاءُوا, asaa'uu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:10 dan 53:31, dan hanya di 30:10 ia disusul s-suu'aa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ, tsumma kaana 'aaqibata lladziina) yang berarti "kemudian, kesudahan orang-orang yang". Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" menyambung ayat ini dengan 30:9, tempat kata 'aaqibah yang sama muncul dalam pertanyaan, (كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ, kayfa kaana 'aaqibatu) yang berarti "bagaimana kesudahan". Kata itu berakar ع-ق-ب dan di 30:10 dipakai dalam jawaban. Bentuk persis 'aaqibata dengan akhiran -a hanya muncul dua kali, yaitu di 11:49 dan 30:10. Terjemahan memakai "kesudahan" di kedua ayat 30:9 dan 30:10 agar pertanyaan dan jawabannya memakai kata yang sama.
Kata (أَسَاءُوا, asaa'uu) yang berarti "mereka berbuat jahat" berakar س-و-ء. Bentuk ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:10 dan 53:31, dan di keduanya terjemahan memakai "orang-orang yang berbuat jahat". Di 53:31, (الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا, lladziina asaa'uu bi-maa 'amiluu) yang berarti "orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang mereka kerjakan", sebutan itu berpasangan dengan lawannya, (أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى, ahsanuu bi-l-husnaa) yang berarti "berbuat baik dengan yang terbaik". Di 30:10 kata kerja itu diikuti (السُّوأَىٰ, s-suu'aa) yang berarti "yang paling buruk", berakar sama dan berbentuk tingkat tertinggi, sejajar dengan (أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ, ahsanuu l-husnaa) yang berarti "berbuat baik, yang terbaik" di 10:26. Bentuk persis s-suu'aa hanya ada di 30:10, sedangkan lawannya, al-husnaa, berpasangan dengan ahsanuu di 10:26 dan 53:31. Terjemahan memakai "yang paling buruk" karena padanan al-husnaa dalam terjemahan ini adalah "yang terbaik", dan keduanya diperlakukan sebagai dua ujung dari akar yang sama.
Kata (أَنْ, an) di (أَنْ كَذَّبُوا, an kadzdzabuu) diterjemahkan "karena", sehingga terjemahan membaca pendustaan sebagai alasan kesudahan yang paling buruk. Huruf an dengan kata kerja bentuk lampau diterjemahkan "karena" juga di 80:2, (أَنْ جَاءَهُ, an jaa'ahu) yang berarti "karena orang buta datang kepadanya", dan di 38:4, (أَنْ جَاءَهُمْ, an jaa'ahum) yang berarti "karena datang kepada mereka". Huruf an diterjemahkan "yaitu" di ayat-ayat lain, dan bila dibaca demikian di sini, kesudahan yang paling buruk menjadi sama dengan perbuatan mendustakan itu sendiri. Terjemahan menolak bacaan itu sebab s-suu'aa menyebut akibat, sedangkan mendustakan menyebut perbuatan.
Kata (كَذَّبُوا, kadzdzabuu) yang berarti "mereka mendustakan" memakai bentuk kedua dari akar ك-ذ-ب, dengan huruf dzal bersyaddah, dan terjemahan memakai "mendustakan" untuk bentuk ini di seluruh ayat yang memuatnya. Objeknya adalah (بِآيَاتِ اللَّهِ, bi-aayaati llaahi) yang berarti "tanda-tanda Allah", dan rangkaian kadzdzabuu bi-aayaati llaahi, (كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ, kadzdzabuu bi-aayaati llaahi), muncul tiga kali, yaitu di 10:95, 30:10, dan 62:5. Terjemahan memakai "tanda-tanda" untuk aayaat tanpa tambahan "kebesaran" atau "kekuasaan", sebab tambahan itu tidak berasal dari kata Arab di ayat ini.
Bagian terakhir adalah (وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ, wa-kaanuu bihaa yastahzi'uuna) yang berarti "dan selalu mengolok-oloknya". Kata (يَسْتَهْزِئُونَ, yastahzi'uuna) berakar ه-ز-ء dan muncul empat belas kali di tiga belas surah, yaitu di 6:5, 6:10, 11:8, 15:11, 16:34, 21:41, 26:6, 30:10, 36:30, 39:48, 40:83, 43:7, 45:33, dan 46:26. Tiga belas di antaranya berbunyi kaanuu bihi yastahzi'uuna, dengan akhiran -hi, misalnya (كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ, kaanuu bihi yastahzi'uuna) di 36:30, dengan seorang rasul sebagai sasaran olok-olok. Hanya di 30:10 akhirannya -haa, (بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ, bihaa yastahzi'uuna), dan akhiran itu menunjuk aayaat yang disebut tepat sebelumnya. Terjemahan memakai "selalu" untuk kaanuu di depan kata kerja ini dan "mengolok-olok" untuk yastahzi'uuna, sama dengan 15:11, 36:30, dan 43:7, yang berbunyi "mereka selalu mengolok-oloknya".
Ayat ini tidak menyebut apa isi kesudahan yang paling buruk itu, kapan terjadinya, dan seberapa sering olok-olok itu berlangsung. Ayat juga tidak menyatakan bahwa pendustaan menyebabkan olok-olok, sebab keduanya hanya disambung dengan huruf wa-.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan 30:9. Ayat 30:9 bertanya bagaimana kesudahan orang-orang terdahulu, lalu menyebut kekuatan mereka, keramaian bumi yang mereka buat, dan rasul-rasul yang datang kepada mereka, dan 30:10 menyebut kesudahan itu dengan satu kata, yang paling buruk. Dengan jawaban itu kekuatan dan keramaian bumi yang disebut di ayat sebelumnya dapat dibaca sebagai hal yang tidak mengubah tingkat kesudahan tersebut.
Ayat 30:10 juga menamai apa yang oleh 30:9 disebut menzalimi diri sendiri. Ayat 30:9 menyatakan bahwa mereka menzalimi diri mereka, dan 30:10 menyebut dua perbuatan: mendustakan tanda-tanda Allah dan mengolok-oloknya. Pembacaan yang menyamakan kedua perbuatan itu dengan kezaliman di 30:9 bersifat kemungkinan, sebab ayat tidak menghubungkannya dengan kata penyambung. Dalam bacaan itu, bukti yang dibawa para rasul di 30:9 dan tanda-tanda Allah di 30:10 menunjuk sasaran penolakan yang sama.
Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai pada 30:7. Ayat 30:7 menyebut mengetahui yang tampak dan lalai terhadap akhirat, 30:8 menyebut kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan, 30:9 menyebut kesudahan orang-orang terdahulu, dan 30:10 menyebut kesudahan paling buruk lewat pendustaan dan olok-olok. Sesudahnya 30:11 mengubah pelaku kalimat menjadi Allah, yang memulai penciptaan dan mengembalikannya. Dengan perpindahan itu bagian tentang sikap manusia berakhir pada kesudahan, dan bagian berikutnya membicarakan siapa yang memulai dan siapa yang mengembalikan.
Renungan dan Hikmah
- Kesudahan orang-orang yang berbuat jahat disebut yang paling buruk, dan di 10:26 orang-orang yang berbuat baik mendapat yang terbaik, dengan akar kata yang sama pada tiap pasangnya. Di 53:31 pasangan itu muncul dalam satu kalimat, agar Dia membalas orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang mereka kerjakan dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan yang terbaik. Dua ujung itu dinamai, sehingga pembaca tidak berhadapan dengan satu kata saja. Pembaca dapat menimbang bahwa yang terburuk di 30:10 mempunyai lawan yang disebut di dua ayat lain. Di sisi mana pembaca meletakkan arah hidupnya hari ini?
- Dua perbuatan disebut berurutan, mendustakan tanda-tanda Allah dan mengolok-oloknya, dengan sasaran yang sama, yaitu tanda-tanda itu. Ayat tidak menyatakan yang pertama menyebabkan yang kedua, dan hanya menyambungnya dengan kata dan. Pembaca dapat membayangkan dua keadaan yang berbeda: menolak sesuatu karena sudah memeriksanya, dan menjadikannya bahan tertawa tanpa memeriksa. Ayat tidak memilih di antara keduanya. Jika pembaca pernah menertawakan sesuatu sebelum mengetahui isinya, apakah tawa itu datang sebelum atau sesudah pertimbangan?
- Di 36:30, 15:11, dan 43:7 sasaran olok-olok itu rasul atau nabi yang datang kepada mereka, dan di 21:41 rasul-rasul sebelumnya. Di 30:10 sasaran itu bergeser ke tanda-tanda Allah, dengan akhiran yang menunjuk tanda-tanda tersebut. Dalam ayat-ayat tadi sasarannya orang yang datang membawa kabar, dan di sini sasarannya tanda itu sendiri. Pembaca yang pernah menolak sebuah kabar karena tidak menyukai pembawanya dapat memeriksa apakah penolakan itu mengenai pembawanya atau mengenai tandanya. Kapan terakhir pembaca memisahkan keduanya?
- Surah ini menyebut tanda-tanda Allah di ayat-ayat sesudahnya: penciptaan manusia dari tanah di 30:20, pasangan yang diciptakan dari diri mereka sendiri di 30:21, dan penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna di 30:22. Tanda-tanda yang didustakan di 30:10 dapat dibaca meliputi hal-hal itu, meskipun ayat 30:10 sendiri tidak merincinya. Dengan bacaan itu tanda yang diperolok-olok dekat dengan pembaca, sebab ia berupa tanah, pasangan, dan keragaman manusia. Tanda mana di antara itu yang paling jarang diperhatikan pembaca, dan siapa yang disebut sebagai penciptanya di 30:20 sampai 30:22?
- Ayat menyebut kesudahan itu yang paling buruk dan tidak menguraikan isinya. Rinciannya muncul kemudian dan bertahap, misalnya para pendosa berputus asa di 30:12 dan mereka dihadirkan dalam azab di 30:16. Ayat membiarkan kata paling buruk berdiri sendiri lebih dulu, sehingga setiap pembaca membawa gambarannya sendiri ke dalam kata itu. Gambaran itu dapat menjadi cermin bagi apa yang dianggap pembaca sebagai kerugian terbesar. Apa yang pertama kali terbayang oleh pembaca ketika membaca kata paling buruk, dan apakah bayangan itu berasal dari ayat atau dari tempat lain?
- Empat sikap disebut dalam empat ayat yang berdekatan: lalai terhadap akhirat di 30:7, kufur terhadap pertemuan dengan Tuhan di 30:8, mendustakan tanda-tanda Allah di 30:10, dan mengolok-oloknya di 30:10. Ayat-ayat itu tidak menyusunnya sebagai tangga, dan tidak menyatakan apakah keempatnya milik kelompok yang sama. Pembaca dapat menandai di antara keempatnya mana yang pernah menjadi sikapnya sendiri, tanpa mengira bahwa hanya yang terakhir yang berat. Sikap mana di antara keempatnya yang paling mudah tidak dikenali sebagai sikap oleh orang yang menjalaninya?