ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ

Kemudian, kesudahan orang-orang yang berbuat jahat adalah yang paling buruk, karena mereka mendustakan tanda-tanda Allah dan selalu memperolok-oloknya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰtsumma kaana 'aaqibata lladziina asaa'uu s-suu'aakemudian, kesudahan orang-orang yang berbuat jahat adalah yang paling buruk
  2. أَنْ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَan kadzdzabuu bi-aayaati llaahi wa-kaanuu bihaa yastahzi'uunakarena mereka mendustakan tanda-tanda Allah dan selalu memperolok-oloknya

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. كَانَkaanaadalah
  3. عَاقِبَةَ'aaqibatakesudahan
  4. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  5. أَسَاءُواasaa'uumereka berbuat buruk
  6. السُّوأَىٰs-suu'aayang paling buruk
  7. أَنْankarena
  8. كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
  9. بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
  10. اللَّهِllaahiAllah
  11. وَكَانُواwa-kaanuudan mereka selalu
  12. بِهَاbihaapadanya
  13. يَسْتَهْزِئُونَyastahzi'uunamereka mengolok

Inti bacaan

Kesudahan paling buruk menimpa mereka yang bukan cuma mendustakan tanda-tanda Allah tetapi 'selalu memperolok-olokkannya', pola yang dihukum adalah penghinaan aktif dan berulang, bukan sekadar keraguan pasif. Konkretnya: ada beda besar antara ragu secara jujur dengan mengejek/meremehkan apa yang belum dipahami, jaga sikap rendah hati terhadap hal yang belum dimengerti, jangan jadikan bahan olok-olok.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(balasan)' dari sumber internal dihapus: 's-suu'aa' ('yang paling buruk') sudah lengkap dengan sendirinya tanpa perlu kata tambahan.

Tafsiran

Ayat ini menutup kluster dengan penyebab spesifik kehancuran, bukan sekadar kezaliman umum, melainkan pendustaan dan olok-olok terhadap tanda-tanda Allah secara khusus.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut kesudahan mereka yang paling buruk. Bukan buruk saja. Ayat sebelumnya menyebut mereka lebih kuat dan lebih makmur; yang dibandingkan ujungnya, bukan tengahnya.
  • Allah menyebut mereka mendustakan tanda-tanda-Nya dan selalu memperolok-oloknya. Mendustakan lalu mengolok. Yang kedua tumbuh dari yang pertama, dan disebut sebagai kebiasaan.
  • Kata yang Allah pakai menunjuk perbuatan yang berlangsung terus. Bukan sekali tergelincir. Yang dihitung bukan lelucon, melainkan sikap yang menetap di baliknya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

akar a-y (aayah), 353 ayat / 382 kemunculan, SATU lema, tak ada dasar morfologis utk memecahnya. tambahan terjemahan lain '(kebesaran)/(kekuasaan)' dibuang, TIDAK ADA di teks Arab.