وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

Bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, pada waktu petang dan ketika kalian berada pada waktu zuhur.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-lahu l-hamdu fii s-samaawaati wa-l-ardhibagi-Nya segala puji di langit dan di bumi
  2. وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَwa-'asyiyyan wa-hiina tuzhhiruunapada waktu petang dan ketika kalian berada pada waktu zuhur

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  2. الْحَمْدُl-hamdusegala puji
  3. فِيfiidi
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  6. وَعَشِيًّاwa-'asyiyyandan petang
  7. وَحِينَwa-hiinadan pada masa
  8. تُظْهِرُونَtuzhhiruunakalian berada pada waktu zuhur

Inti bacaan

Kata (تُظْهِرُونَ, tuzhhiruuna) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:18.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَهُ الْحَمْدُ, wa-lahu l-hamdu) yang berarti "dan bagi-Nya segala puji". Kata ini tersusun dari wa yang berarti "dan", huruf li- yang berarti "bagi", akhiran -hu yang berarti "-Nya", dan al-hamdu yang berarti "segala puji", dari akar ح-م-د. Kata sandang al- pada al-hamdu membuat pujian itu terbaca sebagai seluruh pujian, dan itu sebabnya terjemahan memakai "segala". Susunan lahu l-hamdu muncul empat kali di empat surah, yaitu 28:70, 30:18, 34:1, dan 64:1. Dengan fii sesudah al-hamdu, susunan al-hamdu fii muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 28:70, 30:18, dan 34:1. Di 34:1, (وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ, wa-lahu l-hamdu fii l-aakhirati) yang berarti "dan bagi-Nya segala puji di akhirat" dan di 28:70, (لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَىٰ وَالْآخِرَةِ, lahu l-hamdu fii l-uulaa wa-l-aakhirati) yang berarti "bagi-Nya segala puji di dunia dan di akhirat" memakai urutan Arab yang sama dengan 30:18, dan terjemahan memakai urutan Indonesia yang sama: "bagi-Nya segala puji". Tidak ada kata Arab di ayat ini yang berarti "hanya", sehingga terjemahan tidak menambahkannya.

Bagian berikutnya adalah (فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "di langit dan di bumi". Gabungan al-hamdu fii s-samaawaati wa-l-ardhi hanya muncul di 30:18. Kerangka yang mirip, wa-lahu lalu satu kata benda lalu fii s-samaawaati wa-l-ardhi, memakai kata benda lain di 30:26, (وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-lahu man fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan milik-Nya siapa yang ada di langit dan di bumi", dan di 30:27, (وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-lahu l-matsalu l-a'laa fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan milik-Nya sifat yang tertinggi di langit dan di bumi". Satu kerangka dengan tiga isi yang berbeda itu ada di surah yang sama.

Kata (وَعَشِيًّا, wa-'asyiyyan) yang berarti "dan petang" berakar ع-ش-ي. Bentuk 'asyiyyan muncul empat kali di tiga surah, yaitu 19:11, 19:62, 30:18, dan 40:46. Di 19:11 dan 19:62 kata ini berpasangan dengan bukratan, seperti dalam (بُكْرَةً وَعَشِيًّا, bukratan wa-'asyiyyan) yang berarti "pagi dan petang", dan di 40:46 dengan ghuduwwan, (غُدُوًّا وَعَشِيًّا, ghuduwwan wa-'asyiyyan) yang juga berarti "pagi dan petang". Di 30:18 tidak ada kata pasangan di depannya, dan kata untuk pagi, tushbihuuna, ada di ayat sebelumnya. Dari empat tempat itu, hanya 19:11 yang memakai 'asyiyyan bersama kata kerja menyucikan, yaitu (أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا, an sabbihuu bukratan wa-'asyiyyan) yang berarti "agar bertasbih pada waktu pagi dan petang".

Kata terakhir ayat ini, (وَحِينَ تُظْهِرُونَ, wa-hiina tuzhhiruuna) yang berarti "dan ketika kalian berada pada waktu zuhur", berakar ظ-ه-ر dan hanya muncul di 30:18. Kata kerja dari akar ini yang berpola sama dipakai di tempat lain dengan pelaku dan sasaran. Di 9:33, (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ, li-yuzhhirahu 'alaa d-diini kullihi) yang berarti "agar Dia mengunggulkannya atas semua pertanggungjawaban" memakai kata ganti -hu sebagai sasaran, dan di 40:26, (أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ, an yuzhhira fii l-ardhi l-fasaada) yang berarti "bahwa dia menampakkan kerusakan di bumi" memakai kata benda sebagai sasaran. Di 30:18 pelakunya kalian dan tidak ada sasaran sesudahnya, sama seperti tumsuuna dan tushbihuuna di 30:17 yang juga berbentuk kata kerja untuk kalian sesudah hiina. Ketiga kata kerja itu sama bentuk dan letaknya, yaitu kata kerja untuk kalian sesudah hiina. Dua di antaranya diterjemahkan "kalian berada di waktu senja" dan "kalian berada di waktu pagi", dan tuzhhiruuna mengikuti padanan yang sama: "kalian berada pada waktu zuhur". Akar yang sama membentuk kata benda (الظَّهِيرَةِ, zh-zhahiirati) di 24:58, dalam (وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ, wa-hiina tadha'uuna tsiyaabakum mina zh-zhahiirati) yang berarti "dan ketika kalian meletakkan pakaian kalian di tengah hari". Kata zh-zhahiirati di sana menyebut tengah hari, dan kata hiina mendahului kata kerja kalian seperti di 30:18. Terjemahan 30:18 memakai "zuhur", yaitu kata yang berarti tengah hari, tanpa menghubungkannya dengan ibadah tertentu karena ayat tidak menyebutnya.

Tafsiran

Ayat ini menambah dimensi ruang pada daftar waktu yang dimulai di 30:17. Ayat 30:17 hanya menyebut dua saat, senja dan pagi, sedangkan 30:18 membuka dengan pujian di langit dan di bumi lalu menyebut dua saat berikutnya, petang dan zuhur. Dengan demikian dua ayat itu menyebut empat saat dan dua ruang dalam satu rangkaian, dan pujian ditempatkan di tengah daftar itu, sesudah dua saat di ayat sebelumnya dan sebelum dua saat berikutnya.

Rangkaian ini tidak berdiri sendiri dalam surahnya. Kerangka wa-lahu, lalu satu kata benda, lalu fii s-samaawaati wa-l-ardhi, muncul tiga kali di surah ini, yaitu 30:18, 30:26, dan 30:27. Di 30:18 yang disebut milik-Nya adalah pujian, di 30:26 adalah siapa yang berada di langit dan bumi, dan ayat itu disusul (كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ, kullun lahu qaanituuna) yang berarti "semuanya taat kepada-Nya", dan di 30:27 adalah sifat yang tertinggi. Ketiga ayat itu menaruh ruang yang sama, langit dan bumi, sebagai tempat kepemilikan yang berbeda-beda isinya: pujian, penghuni, dan perumpamaan.

Ayat ini juga menyambung penyucian dengan pujian. Di 20:130, (وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ, wa-sabbih bi-hamdi rabbika) yang berarti "dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu" memakai kedua akar dalam satu perintah, dan frasa itu muncul empat kali di empat surah, yaitu 20:130, 40:55, 50:39, dan 52:48. Di 30:17 dan 30:18 kedua akar itu tidak berada dalam satu kata kerja, tetapi dalam dua ayat berurutan, penyucian di ayat pertama dan pujian di ayat kedua. Kedua ayat menyebut saat yang dijalani pendengar, tanpa perintah.

Posisi 30:18 di akhir rangkaian 30:12 sampai 30:18 juga patut dicatat. Rangkaian itu dibuka oleh hari yang membuat para pendosa berputus asa, melewati pemisahan dua kelompok, dan ditutup dengan pujian yang meliputi langit, bumi, dan empat saat. Dua ayat terakhir tidak menyebut kelompok mana pun, dan tidak menyebut pujian itu bergantung pada nasib kelompok yang disebut di 30:15 dan 30:16.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat pembuka ayat ini menyebut pujian sebagai milik-Nya di langit dan di bumi, lalu baru sesudahnya menyebut saat-saat yang dialami pendengar. Urutan itu menaruh pujian lebih dulu daripada orang yang memujinya. Orang yang terbiasa memuji hanya ketika suasana hatinya baik dapat melihat bahwa teks tidak menunggu suasana hati sebagai syarat. Seandainya pujian sudah menjadi milik-Nya dengan atau tanpa suaranya, apa yang sebenarnya berubah pada dirinya ketika ikut mengucapkannya?
  • Satu kalimat di ayat ini memuat langit dan bumi sebagai ruang, lalu petang dan zuhur sebagai saat. Dua hal itu dapat dipisahkan dalam kebiasaan, seperti tempat khusus untuk mengingat Allah dan jam khusus untuk melakukannya. Di ayat ini keduanya disebut dalam satu kalimat. Pembaca dapat memeriksa jadwal sehari-harinya dan tempat yang paling sering dilaluinya, lalu bertanya, di antara tempat dan jam itu, mana yang tidak pernah dikunjungi kalimat semacam ini sama sekali?
  • Dua ayat ini menyebut senja, pagi, petang, dan zuhur, dan tidak sekali pun menyebut keadaan batin atau kegiatan pendengar pada saat-saat itu. Yang tertulis hanya namanya. Orang yang menunggu suasana yang tepat, seperti hati yang tenang atau waktu yang lapang, sebelum berani menyebut pujian akan berhadapan dengan daftar yang tidak menyebut syarat apa pun selain saat itu sendiri. Pada empat saat yang tiap hari datang tanpa dijemput, kalimat apa yang biasanya keluar dari seseorang tanpa disengaja, dan apakah kalimat itu dapat diganti dengan yang disebut ayat ini?
  • Ayat 30:17 menyebut Allah Mahasuci, dan 30:18 menyebut segala puji bagi-Nya, sedangkan di 20:130 kedua akar itu muncul dalam satu perintah kepada Tuhanmu. Pembaca yang sering berhenti pada salah satunya, entah menyucikan atau memuji, dapat memperhatikan bahwa teks menaruh keduanya berdampingan. Bagian mana dari keduanya yang paling jarang diucapkan seseorang bila menghitung hari-harinya sendiri?
  • Di surah ini kerangka wa-lahu muncul tiga kali: pujian di 30:18, siapa yang ada di langit dan bumi di 30:26, dan sifat tertinggi di 30:27. Tiga ayat itu menyebut apa yang menjadi milik-Nya dalam tiga bentuk, dan tidak ada yang menyebut milik pembaca. Orang yang terbiasa memakai kata milikku untuk waktu, tenaga, dan reputasinya dapat membaca ketiga ayat itu sebagai latihan memperhatikan siapa pemilik yang disebut. Dari semua yang diakuinya sebagai miliknya hari ini, mana yang sebenarnya berada di dalam kerangka itu?
  • Dua ayat sebelum ini terdapat kalimat tentang orang-orang yang dihadirkan dalam azab, dan kalimat berikutnya yang menyebut pujian tidak menyinggung mereka. Teks tidak menjelaskan hubungan keduanya, dan tidak menyebut pujian itu terkait dengan siapa yang selamat. Orang yang mudah mengaitkan rasa syukurnya dengan nasibnya sendiri, bersyukur ketika selamat dan diam ketika tidak, akan menemukan bahwa ayat ini menaruh pujian pada kepemilikan-Nya atas langit dan bumi, tidak pada hasil perhitungan. Apakah rasa syukur yang dimilikinya berasal dari hasil atau dari pemilik?