وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Dan milik-Nya siapa yang ada di langit dan di bumi; semuanya taat kepada-Nya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-lahu man fii s-samaawaati wa-l-ardhidan milik-Nya siapa yang ada di langit dan di bumi
  2. كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَkullun lahu qaanituunasemuanya taat kepada-Nya

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  2. مَنْmanorang yang
  3. فِيfiidi
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  6. كُلٌّkullunmasing-masing
  7. لَهُlahubaginya
  8. قَانِتُونَqaanituunaorang-orang yang taat

Inti bacaan

Susunan (وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-lahu man fii s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 21:19 dan 30:26.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَلَهُ, wa-lahu) yang berarti "dan milik-Nya" tersusun dari wa- yang berarti "dan", li- yang berarti "milik", dan -hu yang berarti "-Nya". Susunan (وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-lahu man fii s-samaawaati wa-l-ardhi) ada di dua ayat, yaitu 21:19 dan 30:26. Bagian (مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, man fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "siapa yang di langit dan di bumi" ada di sembilan ayat, yaitu 3:83, 13:15, 17:55 (dengan bi- di depannya), 19:93, 21:19, 24:41, 27:65, 30:26, dan 55:29. Di enam ayat di antaranya, yaitu 3:83, 13:15, 19:93, 24:41, 27:65, dan 55:29, mereka yang berada di langit dan di bumi menjadi pelaku sebuah kata kerja: berserah diri, tunduk, datang kepada Ar-Rahman, bertasbih, tidak mengetahui yang gaib, dan meminta kepada-Nya. Di 17:55 mereka menjadi pihak yang diketahui Tuhanmu, dan sebagai milik mereka disebut di 21:19 dan 30:26.

Kata (مَنْ, man) diterjemahkan "siapa", sama dengan 21:19, sedangkan (مَا, maa) diterjemahkan "apa". Ayat 2:116 membuka dengan (لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu maa fii s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik-Nya apa yang di langit dan di bumi", lalu menutup dengan (كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ, kullun lahu qaanituuna), yang sama persis dengan penutup ayat ini. Kalimat penutupnya sama, tetapi yang dimiliki disebut "apa" di satu ayat dan "siapa" di ayat yang lain, dan terjemahan menjaga perbedaan itu.

Kata (قَانِتُونَ, qaanituuna) berakar ق-ن-ت dan berbentuk jamak untuk pelaku laki-laki, sehingga cocok dengan (كُلٌّ, kullun) yang berarti "semuanya". Akar ق-ن-ت ada di dua belas ayat, yaitu 2:116, 2:238, 3:17, 3:43, 4:34, 16:120, 30:26, 33:31, 33:35, 39:9, 66:5, dan 66:12. Di sepuluh ayat di luar 2:116 dan 30:26, kata itu dikenakan pada orang tertentu, misalnya perempuan saleh di 4:34, Ibrahim di 16:120, dan Maryam di 66:12. Terjemahan memakai "taat" di sembilan dari sepuluh ayat itu, kecuali 3:43 yang memuat bentuk perintah. Karena ayat ini memakai kata yang sama, terjemahannya "taat", dan subjeknya meluas dari orang tertentu ke seluruh isi langit dan bumi.

Ayat ini tidak menyebut cara ketaatan itu dijalankan. Dua ayat lain yang juga membicarakan siapa yang di langit dan di bumi menyebutnya: (طَوْعًا وَكَرْهًا, thaw'an wa-karhan) yang berarti "dengan suka atau terpaksa", di 3:83 bersama kata kerja berserah diri dan di 13:15 bersama kata kerja tunduk. Keterangan cara itu tidak dibawa ke terjemahan 30:26, sebab Arab ayat ini tidak memuatnya.

Kata (السَّمَاوَاتِ, s-samaawaati) berbentuk jamak, sedangkan (السَّمَاءُ, s-samaa'u) di 30:25 berbentuk tunggal. Terjemahan memakai "langit" untuk keduanya, sehingga perbedaan bentuk itu hanya tampak di Arab. Kata (الْأَرْضِ, l-ardhi) yang berarti "bumi" menyebut tempat yang sama dengan yang berdiri dan yang menjadi asal panggilan di ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini tidak memuat satu kata kerja pun yang berdiri sendiri. Sebagai gantinya ayat ini memakai (قَانِتُونَ, qaanituuna) yang menyebut pelaku dalam keadaannya. Karena itu 30:26 terbaca sebagai keterangan keadaan, sedangkan 30:25 memuat tiga peristiwa berurutan: langit dan bumi berdiri, sebuah panggilan datang, dan kalian keluar.

Kata "kalian" yang mengisi ayat sebelumnya tidak muncul di sini. Lingkarannya dibuka dari yang dipanggil ke semua yang berada di langit dan di bumi, memakai dua nama tempat yang sama dengan 30:25. Kepemilikan disebut lebih dulu dan ketaatan menyusul, dengan kata ganti -hu yang sama di kedua ujung kalimat. Dengan begitu pemilik dan tujuan ketaatan menjadi satu pihak, dan pihak itu sejalan dengan pemilik tanda-tanda dan perintah di ayat sebelumnya.

Kata "semuanya" disebut tanpa daftar dan tanpa pengecualian, sementara 30:29 menyebut orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu. Teks tidak mempertemukan dua keadaan itu dalam satu kalimat. Ayat 3:83 dan 13:15 memberi petunjuk bahwa "siapa yang di langit dan di bumi" mencakup yang menjalankannya dengan suka maupun terpaksa, tetapi kedua ayat itu berada di surah lain dan tidak menjelaskan 30:29.

Sesudah pernyataan keadaan ini, 30:27 kembali ke kata kerja, yaitu memulai penciptaan dan mengembalikannya. Urutan 30:25 sampai 30:27 dengan demikian bergerak dari peristiwa, ke keadaan, lalu ke peristiwa penciptaan yang sifatnya berulang.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 2:116 berakhir dengan kalimat yang sama, tetapi yang dimilikinya disebut apa, sedangkan 30:26 menyebut siapa. Pembaca termasuk dalam kelompok yang disebut siapa, sehingga daftar milik-Nya memuat pembaca itu sendiri dan tidak berhenti pada benda-benda. Perbedaan kecil antara dua kata Arab itu membawa pembaca dari urusan barang ke urusan dirinya. Apa yang berubah pada cara seseorang menyebut kata "milikku" bila namanya sendiri tercantum dalam daftar milik Allah?
  • Di 3:83 dan 13:15 siapa yang di langit dan di bumi disebut menjalani ketundukan dengan suka atau terpaksa, sedangkan 30:26 menyebut bahwa semuanya taat tanpa keterangan cara. Pembaca yang membaca ketiganya bersama mendapati kata semuanya tidak menunggu persetujuan setiap pihak, meskipun ayat ini sendiri diam tentang cara. Tidak ada kata di ayat ini yang menentukan apakah ketaatan itu dirasakan sebagai beban atau kerelaan. Seseorang dapat bertanya, jika ketaatan itu sudah berlaku atas siapa pun di langit dan di bumi, apa yang masih tersisa untuk diputuskan sendiri di hadapan Dia yang memiliki semuanya?
  • Ayat 30:25 mencatat tiga peristiwa berurutan, dan 30:26 tidak memuat kata kerja yang berdiri sendiri: kata yang dipakai menunjuk pelaku dalam keadaannya. Pembaca yang terbiasa menghitung ketaatan sebagai rangkaian tindakan mendapati ayat ini menyebutnya sebagai keadaan semua yang di langit dan di bumi. Kata yang dipakai menyebut pelaku dalam keadaan itu tanpa menyebut kapan keadaan itu dimulai atau berakhir. Seseorang dapat bertanya, jam mana dalam harinya yang disebut jam ketaatan, dan bagaimana jam-jam di luarnya disebut di hadapan Allah?
  • Ayat 30:25 menyebut sebuah panggilan kepada kalian, dan 30:26 langsung menyatakan bahwa siapa yang di langit dan di bumi menjadi milik-Nya. Pembaca yang dipanggil itu sudah berada di dalam daftar kepemilikan sebelum panggilan datang, sehingga panggilan tersebut datang dari pemilik kepada yang dimiliki. Teks tidak memuat kalimat yang menghubungkan keduanya secara langsung, jadi hubungan ini adalah pembacaan atas urutan ayat dan perlu diperlakukan demikian. Bagaimana pembaca menempatkan dirinya, sebagai tamu yang diundang dari luar atau sebagai bagian dari rumah yang memanggil?
  • Kata ganti -hu muncul di awal ayat sebagai pemilik dan di akhir ayat sebagai tujuan ketaatan, dan keduanya merujuk pada Dia yang sama. Ayat tidak menyebut pemilik kedua atau tujuan ketaatan kedua. Pembaca yang mengarahkan sebagian ketaatannya ke arah lain mendapati ayat ini hanya menyebut satu alamat. Kepada siapa sisa ketaatan yang dibagi-bagi itu pada akhirnya dibayarkan, bila yang memiliki semuanya satu?
  • Kata semuanya tidak diikuti daftar nama. Pembaca yang membandingkan kedudukannya dengan orang lain mendapati pembanding itu ikut berada di dalam kata yang sama. Ayat 19:93 menyusun kalimat serupa dengan bentuk lain: tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai hamba. Dua ayat itu berbeda kalimatnya dan tidak disamakan, tetapi sama-sama menaruh semua orang di bawah satu kata. Pembaca dapat membayangkan orang yang dianggapnya paling tinggi dan paling rendah berdiri dalam barisan yang sama, di hadapan Dia yang disebut ayat ini.