بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Akan tetapi, orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu. Maka, siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍbali ttaba'a lladziina zhalamuu ahwaa'ahum bi-ghayri 'ilminakan tetapi, orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu
  2. فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُfa-man yahdii man adhalla llaahumaka, siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah
  3. وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَwa-maa lahum min naashiriinatidak ada seorang penolong pun bagi mereka

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. بَلِbalibahkan
  2. اتَّبَعَttaba'amengikuti
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. ظَلَمُواzhalamuuberbuat zalim
  5. أَهْوَاءَهُمْahwaa'ahumkeinginan mereka
  6. بِغَيْرِbi-ghayritanpa
  7. عِلْمٍ'ilminpengetahuan
  8. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  9. يَهْدِيyahdiimemberi petunjuk
  10. مَنْmanorang yang
  11. أَضَلَّadhallalebih sesat
  12. اللَّهُllaahuAllah
  13. وَمَاwa-maadan tidaklah
  14. لَهُمْlahumbagi mereka
  15. مِنْmindari
  16. نَاصِرِينَnaashiriinapara penolong

Inti bacaan

Susunan (مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ, man adhalla llaahu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:88 dan 30:29.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَهْوَاءَهُمْ, ahwaa'ahum) yang berarti "hawa nafsu mereka" ada di dua belas ayat, yaitu 2:120, 2:145, 5:48, 5:49, 13:37, 23:71, 28:50, 30:29, 42:15, 47:14, 47:16, dan 54:3. Di 2:120, 2:145, dan 13:37 kata itu mengikuti kalimat pengandaian "jika engkau mengikuti ...", di 5:48, 5:49, dan 42:15 kata itu berada dalam larangan "janganlah engkau mengikuti ...", dan di 28:50, 30:29, 47:14, 47:16, dan 54:3 kata itu menjadi sesuatu yang diikuti sekelompok orang. Di 23:71 kata itu muncul dalam pengandaian tentang kebenaran yang mengikutinya. Kata kerja yang dipakai ayat ini, (اتَّبَعَ, ittaba'a) yang berarti "mengikuti", memakai pelaku sekelompok orang, yaitu (الَّذِينَ ظَلَمُوا, alladziina zhalamuu) yang berarti "orang-orang yang zalim".

Susunan (بِغَيْرِ عِلْمٍ, bi-ghayri 'ilmin) yang berarti "tanpa ilmu" ada di dua belas ayat, yaitu 6:100, 6:108, 6:119, 6:140, 6:144, 16:25, 22:3, 22:8, 30:29, 31:6, 31:20, dan 48:25. Di antara dua belas ayat itu, 6:119 menyandingkannya dengan hawa nafsu seperti 30:29, dalam (بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ, bi-ahwaa'ihim bi-ghayri 'ilmin) yang berarti "dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu". Di 2:120 dan 13:37 hawa nafsu berdampingan dengan ilmu dari arah sebaliknya: ilmu sudah datang kepada orang yang disapa, yaitu (مِنَ الْعِلْمِ, mina l-'ilmi) yang berarti "dari ilmu". Di 28:50 hawa nafsu yang diikuti disebut (بِغَيْرِ هُدًى, bi-ghayri hudan) yang berarti "tanpa petunjuk", yaitu petunjuk dari Allah.

Kata (ظَلَمُوا, zhalamuu) di ayat ini tidak diikuti objek, sehingga ayat tidak menyebut siapa yang mereka zalimi. Di surah yang sama, 30:9 memuat (كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ, kaanuu anfusahum yazhlimuuna) yang berarti "mereka menzalimi diri mereka sendiri", tentang orang-orang sebelum mereka, dan 30:57 memakai (الَّذِينَ ظَلَمُوا, alladziina zhalamuu) tentang hari ketika dalih tidak berguna bagi mereka.

Susunan (مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ, man adhalla llaahu) yang berarti "orang yang telah disesatkan Allah" ada di dua ayat, yaitu 4:88 dan 30:29, dan terjemahan memakai bentuk "sesat" di keduanya. Di 4:88 susunan itu berada dalam pertanyaan kepada orang-orang yang hendak memberi petunjuk, (أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ, a-turiiduuna an tahduu man adhalla llaahu), dan didahului keterangan bahwa mereka dikembalikan karena apa yang mereka usahakan. Di 45:23 pertanyaan serupa, (فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ, fa-man yahdiihi min ba'di llaahi) yang berarti "maka siapakah yang memberinya petunjuk setelah Allah", datang sesudah (اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ, ttakhadza ilaahahu hawaahu) yang berarti "menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya" dan (وَأَضَلَّهُ اللَّهُ, wa-adhallahu llaahu) yang berarti "dan Allah menyesatkannya".

Ayat lain yang menyebut Allah menyesatkan juga menyebut sasarannya: (وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ, wa-yudhillu llaahu zh-zhaalimiina) yang berarti "dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim" di 14:27, (يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ, yudhillu llaahu l-kaafiriina) di 40:74, (يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ, yudhillu llaahu man huwa musrifun murtaabun) yang berarti "Allah menyesatkan orang yang melampaui batas lagi ragu" di 40:34, dan (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ, wa-maa yudhillu bihi illaa l-faasiqiina) yang berarti "dan tidak ada yang disesatkan dengannya kecuali orang-orang fasik" di 2:26.

Kata (نَاصِرِينَ, naashiriina) yang berarti "penolong" ada di tujuh ayat, yaitu 3:22, 3:56, 3:91, 16:37, 29:25, 30:29, dan 45:34. Kalimat (وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ, wa-maa lahum min naashiriina) ada di lima ayat, yaitu 3:22, 3:56, 3:91, 16:37, dan 30:29. Di 16:37 kalimat itu menyusul (فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ, fa-inna llaaha laa yahdii man yudhillu) yang berarti "sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang Dia sesatkan", susunan yang sejajar dengan 30:29: pernyataan tentang petunjuk, lalu tidak adanya penolong. Terjemahan 30:29 memakai bentuk yang sama dengan 16:37, yaitu "seorang penolong pun". Di surah ini, 30:13 menyebut (وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ مِنْ شُرَكَائِهِمْ شُفَعَاءُ, wa-lam yakun lahum min syurakaa'ihim syufa'aa'u) yang berarti "dan tidak ada bagi mereka pemberi syafaat dari sekutu-sekutu mereka".

Tafsiran

Ayat ini membalik arah pembicaraan. Ayat 30:28 berakhir pada kaum yang mengerti, dan 30:29 beralih ke orang-orang yang zalim dengan keadaan sebaliknya: hawa nafsu mengarahkan langkah dan ilmu tidak ada. Peralihan itu memuat satu kalimat tentang apa yang dilakukan orang-orang itu, lalu dua kalimat tentang apa yang tidak tersedia bagi mereka, yaitu penuntun dan penolong.

Pertanyaan di tengah ayat ditujukan kepada pembaca dan jawabannya tidak ditulis, sama seperti pertanyaan di 30:28. Dua ayat berurutan menaruh pertanyaan tanpa jawaban tertulis, sehingga pembaca menjawabnya sendiri dua kali.

Ayat ini tidak menyatakan bahwa orang yang zalim dan orang yang telah disesatkan termasuk satu kelompok. Urutan kalimat mengarah ke pembacaan itu, dan 14:27 yang menyebut Allah menyesatkan orang-orang yang zalim mendukungnya. Ayat 45:23 menaruh hawa nafsu sebagai tuhan seseorang dan penyesatan oleh Allah dalam satu kalimat. Di 2:26 perumpamaan yang dibuat Allah menyesatkan banyak orang dan memberi petunjuk banyak orang, dengan orang fasik sebagai yang disebut sebagai sasaran penyesatan itu. Karena 30:28 berisi perumpamaan, ayat ini dapat dibaca sebagai akibat perumpamaan itu pada orang yang mengikuti hawa nafsunya, tetapi ayat ini tidak menyatakannya.

Ayat 30:30 menjawab dengan perintah kepada satu orang untuk menghadapkan wajah kepada pertanggungjawaban, sesudah ayat ini menyebut tidak adanya penuntun dan penolong bagi yang menyimpang. Perubahan dari kata ganti "mereka" ke "engkau" mengubah pembicaraan dari gambaran tentang orang lain menjadi tindakan yang diminta dari penerima ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua hal sekaligus: hawa nafsu yang diikuti dan ilmu yang tidak ada. Di 2:120 dan 13:37 ilmu sudah datang kepada orang yang disapa dan hawa nafsu masih disebut sebagai kemungkinan yang dilarang, sehingga kedua ayat itu memperlakukan ilmu dan hawa nafsu sebagai dua hal yang dapat berdampingan. Pembaca yang sudah merasa tahu masih menemukan peringatan di ayat-ayat itu. Pada hal apa keinginannya bergerak lebih cepat daripada pengetahuannya, dan siapa yang memeriksa keduanya selain dirinya sendiri?
  • Di 4:88 pertanyaan tentang memberi petunjuk ditujukan kepada orang-orang yang hendak memberi petunjuk, sehingga pertanyaan di 30:29 dapat dibaca menyapa penuntun juga. Pembaca yang pernah mencoba menuntun orang lain mendapati bahwa ayat tidak menyuruhnya berhenti dan tidak menyuruhnya terus, dan hanya menaruh pertanyaannya. Apa yang tersisa dari peran seorang penuntun bila pertanyaan siapa yang dapat memberi petunjuk ditujukan juga kepadanya, dan apa yang diserahkannya kepada Dia?
  • Ayat ini menyebut perbuatan orang-orang itu lebih dulu, lalu penyesatan, lalu tidak adanya penolong. Ayat-ayat lain yang dikutip penjelasan menyebut sasaran penyesatan bersama keadaannya: zalim, kafir, melampaui batas, fasik. Urutan penulisan tidak memutuskan urutan kejadian, dan teks tidak menguraikan seluruh caranya. Pembaca yang takut pada kata menyesatkan mendapati kata itu ditulis bersama keadaan sasarannya. Apa yang diperiksa lebih dulu pada diri sendiri, keadaan yang disebut ayat-ayat itu atau kata menyesatkan itu, dan apakah keduanya ditimbang di hadapan Allah?
  • Ayat ini menutup pintu penolong, dan 30:13 menutup pintu pemberi syafaat dari sekutu-sekutu mereka. Dua penutup itu memotong dua jalan yang dapat ditempuh seseorang untuk dibela. Pembaca yang menghitung siapa yang akan membelanya bila perkaranya sulit mendapati bahwa kedua ayat ini mengosongkan daftar itu bagi orang yang digambarkan, lalu mengundang pembaca memeriksa daftarnya sendiri. Siapa saja yang tercantum dalam daftar penolong pembaca, dan di mana Dia berada dalam daftar itu?
  • Ayat ini menggambarkan sekelompok orang, sedangkan 5:48, 5:49, dan 42:15 memuat larangan mengikuti hawa nafsu yang sama kepada "engkau". Pembaca yang membaca 30:29 sebagai gambaran orang lain mendapati bahwa ayat-ayat lain menaruh larangan itu pada yang disapa. Hawa nafsu itu muncul sebagai gambaran dan sebagai larangan, dalam kalimat yang berbeda. Di tempat mana pembaca menaruh dirinya, dalam kalimat gambaran tentang orang-orang itu atau dalam kalimat larangan yang menyapa "engkau"?
  • Ayat tidak menyebut siapa yang dizalimi orang-orang itu, dan 30:9 menyebut orang-orang terdahulu menzalimi diri mereka sendiri. Pembaca yang mengikuti keinginan tanpa ilmu dapat bertanya siapa yang menanggung akibatnya, dirinya atau orang di sekitarnya. Ayat 30:29 tidak menjawab dan hanya menyebut bahwa penolong tidak ada. Siapa saja yang ikut menanggung akibat bila sebuah pilihan diambil tanpa ilmu, dan bagaimana pembaca menyebut tanggungan itu di hadapan Allah?