فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada pertanggungjawaban, fitrah Allah yang menurutnya Dia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itu pertanggungjawaban yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًاfa-aqim wajhaka li-d-diini haniifanmaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada pertanggungjawaban
  2. فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاfithrata llaahi llatii fathara n-naasa 'alayhaafitrah Allah yang menurutnya Dia menciptakan manusia
  3. لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِlaa tabdiila li-khalqi llaahitidak ada perubahan pada ciptaan Allah
  4. ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَdzaalika d-diinu l-qayyimu wa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuunaitu pertanggungjawaban yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. فَأَقِمْfa-aqimmaka hadapkanlah
  2. وَجْهَكَwajhakawajahmu
  3. لِلدِّينِli-d-diinikepada agama
  4. حَنِيفًاhaniifanyang lurus
  5. فِطْرَتَfithratafitrah
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. الَّتِيllatiiyang
  8. فَطَرَfatharamenciptakan
  9. النَّاسَn-naasamanusia
  10. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  11. لَاlaatidak
  12. تَبْدِيلَtabdiilaperubahan
  13. لِخَلْقِli-khalqibagi ciptaan
  14. اللَّهِllaahiAllah
  15. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  16. الدِّينُd-diinuagama
  17. الْقَيِّمُl-qayyimuyang lurus
  18. وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
  19. أَكْثَرَaktsarakebanyakan
  20. النَّاسِn-naasimanusia
  21. لَاlaatidak
  22. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Kata (فِطْرَتَ, fithrata) "fitrah" muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:30.

Penjelasan pilihan kata

Susunan (أَقِمْ وَجْهَكَ, aqim wajhaka) yang berarti "hadapkanlah wajahmu" ada di tiga ayat, yaitu 10:105, 30:30, dan 30:43, dan ketiganya diikuti (لِلدِّينِ, li-d-diini) yang berarti "kepada pertanggungjawaban". Kata kerja (أَقِمْ, aqim) berasal dari akar ق-و-م yang berarti "berdiri", sehingga harfiahnya "tegakkanlah wajahmu". Wajah yang ditegakkan ke arah sebuah tujuan berarti orangnya menghadap tujuan itu, dan karena itu terjemahan memakai "hadapkanlah" di ketiga ayat tersebut, sedangkan (وَجْهَ, wajh) tetap diterjemahkan "wajah". Akar ق-و-م yang sama hadir di 30:25 pada (تَقُومَ, taquuma) yang berarti "berdiri", dan di ayat ini pada (الْقَيِّمُ, l-qayyimu).

Kata (حَنِيفًا, haniifan) menerangkan keadaan orang yang menghadap, dan terjemahan memakainya sebagai "dengan lurus". Dalam bentuk ini kata itu ada di sepuluh ayat, yaitu 2:135, 3:67, 3:95, 4:125, 6:79, 6:161, 10:105, 16:120, 16:123, dan 30:30. Susunan (لِلدِّينِ حَنِيفًا, li-d-diini haniifan) ada di dua ayat, yaitu 10:105 dan 30:30. Terjemahan memakai "lurus" di 6:79, 10:105, dan 30:30, tempat kata itu menerangkan orang yang menghadapkan wajah atau dirinya, dan memakai "hanif" di 3:67, 3:95, 4:125, 6:161, 16:120, dan 16:123, tempat kata itu menyifati Ibrahim atau ajarannya.

Kata (فِطْرَتَ, fithrata) yang berarti "fitrah" muncul satu kali di Al-Qur'an. Kata kerja (فَطَرَ, fathara) yang berarti "menciptakan" ada di delapan ayat, yaitu 6:79, 11:51, 17:51, 20:72, 21:56, 30:30, 36:22, dan 43:27; 82:1 tidak dihitung karena kata di sana berbentuk lain. Di enam ayat objek penciptaan itu manusia, yaitu penutur sendiri, "kalian", atau "manusia" (11:51, 17:51, 20:72, 30:30, 36:22, 43:27), dan di dua ayat lainnya langit dan bumi (6:79, 21:56). Di 30:30 kata kerja itu diikuti (عَلَيْهَا, 'alayhaa) yang berarti "menurutnya", dengan -haa yang menunjuk pada fitrah. Kata (الَّتِي, allatii) berbentuk perempuan, sama seperti kata fitrah, sedangkan kata kerja fathara berbentuk "dia" laki-laki. Karena itu terjemahan menyusun "fitrah Allah yang menurutnya Dia menciptakan manusia": fitrah menjadi dasar tempat penciptaan berlangsung, dan pelakunya Dia.

Susunan (لَا تَبْدِيلَ, laa tabdiila) yang berarti "tidak ada perubahan" ada di dua ayat, yaitu 10:64 dan 30:30. Di 10:64 kata itu berpasangan dengan (لِكَلِمَاتِ اللَّهِ, li-kalimaati llaahi) yang berarti "bagi kalimat-kalimat Allah", dan di 30:30 dengan (لِخَلْقِ اللَّهِ, li-khalqi llaahi) yang berarti "bagi ciptaan Allah". Terjemahan memakai "perubahan" untuk tabdiila di kedua ayat itu. Di 4:119 seorang pembicara menyatakan rencana (فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ, fa-la-yughayyirunna khalqa llaahi) yang berarti "lalu mereka mengubah ciptaan Allah", dengan kata kerja dari akar lain, yaitu غ-ي-ر. Dua ayat itu berbeda jenisnya: 4:119 mengutip rencana, dan 30:30 menyatakan keadaan, sehingga keduanya tidak saling menafsirkan.

Rangkaian (ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ, dzaalika d-diinu l-qayyimu) yang berarti "itu pertanggungjawaban yang lurus" ada di tiga ayat, yaitu 9:36, 12:40, dan 30:30. Kalimat penuhnya bersama ekornya, (ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ, dzaalika d-diinu l-qayyimu wa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuuna), ada di dua ayat, yaitu 12:40 dan 30:30. Di 12:40 kalimat itu menyusul (أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ, amara allaa ta'buduu illaa iyyaahu) yang berarti "Dia memerintahkan agar kalian tidak mengabdi kecuali kepada-Nya", dan di 9:36 menyusul penyebutan bilangan bulan. Ekor kalimat itu sendiri, (وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ, wa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuuna) yang berarti "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", ada di sebelas ayat, yaitu 7:187, 12:21, 12:40, 12:68, 16:38, 30:6, 30:30, 34:28, 34:36, 40:57, dan 45:26.

Kata (الْقَيِّمُ, l-qayyimu) berakar ق-و-م dan ada di tujuh ayat dalam bentuk dasarnya, yaitu 9:36, 12:40, 18:2, 30:30, 30:43, 98:3, dan 98:5. Terjemahan memakai "lurus" untuk qayyim di 9:36, 12:40, 30:43, dan 98:5, dan kata yang sama dipakai untuk haniifan di ayat ini. Kedua kata Arab itu berlainan: haniifan menerangkan keadaan orang yang menghadap, sedangkan qayyim menerangkan pertanggungjawaban itu sendiri dan berakar dari kata berdiri.

Tafsiran

Ayat ini mengubah bentuk pembicaraan. Ayat 30:29 menggambarkan orang-orang dengan kata ganti "mereka", dan 30:30 memberi perintah kepada satu orang dengan "engkau": hadapkanlah wajahmu. Ayat 30:31 kemudian beralih ke "kalian" jamak, sehingga perintah itu lebih dulu jatuh pada satu orang sebelum diperluas.

Perintah itu memakai akar yang sama dengan tegaknya langit dan bumi di 30:25. Di 30:25 langit dan bumi berdiri dengan perintah-Nya, dan di 30:30 wajah ditegakkan menuju pertanggungjawaban yang disebut tegak. Kesamaan akar tidak menyatakan hubungan makna di dalam teks, tetapi dua ayat itu memakai akar yang sama pada hal yang berdiri, dan kedua ayat berada di surah yang sama.

Setelah perintah, ayat ini menyusun tiga hal: fitrah sebagai dasar penciptaan manusia, tidak adanya perubahan pada ciptaan, dan penilaian bahwa pertanggungjawaban itu lurus. Penutupnya, kebanyakan manusia tidak mengetahui, bertemu dengan "tanpa ilmu" di 30:29 dan dengan kalimat yang sama di 30:6. Ayat ini tidak merinci isi fitrah, dan tidak ada ayat lain yang memakai kata itu untuk menjelaskannya. Yang diberikan adalah dua hubungan: manusia diciptakan menurut fitrah, dan ciptaan itu tidak berubah.

Ayat ini tidak menyatakan bahwa perintahnya adalah jawaban atas 30:29, tetapi urutannya menaruh perintah itu tepat sesudah gambaran orang yang tidak punya penuntun dan penolong. Dalam tiga ayat, 30:28 sampai 30:30, pembaca bergerak dari perumpamaan, ke gambaran penyimpangan, ke perintah menghadap.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah di ayat ini ditujukan kepada satu orang, "engkau", dan baru di 30:31 beralih ke "kalian". Pembaca yang menunggu perintah itu diumumkan kepada orang banyak lebih dulu mendapati bahwa kalimatnya jatuh pada satu wajah. Tidak ada kata di ayat ini yang menyebut siapa yang memeriksa apakah wajah itu sudah dihadapkan. Ayat ini juga tidak menyebut bahwa perintah itu menunggu giliran orang lain untuk lebih dulu mengerjakannya. Apa yang dikerjakan seseorang dengan perintah yang memanggil namanya sendiri sebelum memanggil nama orang lain, dan bagaimana perintah itu dijawab di hadapan Allah?
  • Wajah dalam ayat ini dihadapkan ke satu tujuan, yaitu pertanggungjawaban, dan keadaannya disebut dengan lurus. Wajah tidak dapat menghadap dua arah sekaligus, sehingga perintah ini dapat dibaca sebagai pertanyaan tentang arah yang sedang ditempuh pembaca saat ini. Ayat tidak menyebut arah-arah lain yang mungkin dihadapi wajah itu. Perintah menghadap ini tidak menyebut lamanya, dan tidak menyebut kapan wajah boleh berpaling. Ke arah mana wajah pembaca menghadap pada saat membaca kalimat ini, dan seberapa lama wajah itu bertahan menghadap Dia yang disebut ayat?
  • Ayat ini menyebut fitrah Allah sebagai dasar tempat manusia diciptakan, lalu menyatakan bahwa tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Isi fitrah itu tidak dirinci. Pembaca yang merasa harus membangun dirinya dari awal membaca bahwa ayat ini menaruh dasarnya pada sesuatu yang bukan buatan pembaca. Ayat ini tidak memberi daftar bagian dasar itu, sehingga pembaca perlu menimbang sendiri mana yang termasuk. Apa pada diri pembaca yang tidak dibuatnya sendiri, dan bagaimana bagian itu diperlakukan sepanjang hidupnya?
  • Ayat ditutup dengan kebanyakan manusia tidak mengetahui, kalimat yang juga ada di 30:6 dan 12:40. Kalimat itu menyebut jumlah, dan tidak menyebut siapa saja yang termasuk di dalamnya. Pembaca yang membaca kalimat ini sebagai gambaran orang lain mendapati bahwa kalimat itu tidak memuat nama dan tidak memuat pengecualian untuk pembacanya. Dapatkah seseorang memastikan dirinya berada di luar golongan itu hanya karena ia sedang membaca ayat yang menyebutnya?
  • Wajah ditegakkan menuju pertanggungjawaban yang disebut tegak, dengan akar yang sama dengan langit dan bumi yang berdiri dengan perintah-Nya di 30:25. Keduanya memakai kata berdiri pada hal yang tidak bergeser. Pembaca yang menghadap sesuatu yang bergeser mengikuti selera mendapati bahwa ayat ini menaruh tujuan yang berdiri pada sisi lain dari wajah yang ditegakkan. Apakah wajah pembaca selama ini menghadap sesuatu yang berdiri atau sesuatu yang berpindah mengikuti keadaan hatinya?
  • Sesudah 30:29 menyebut orang yang tidak punya penuntun dan penolong, pembaca tidak diberi penghiburan di 30:30. Pembaca diberi perintah kepada dirinya sendiri. Ayat tidak menjelaskan mengapa perintahnya ditaruh tepat di situ. Fitrah Allah dan ciptaan Allah yang disebut sesudahnya dapat dibaca sebagai sandaran perintah itu, tetapi sandaran tersebut tidak ditulis sebagai alasan. Bagaimana seseorang membaca perintah yang datang sesudah gambaran orang lain, sebagai kabar tentang orang itu atau sebagai pertanyaan kepada dirinya?