فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ketaatan, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurutnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah ketaatan yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًاfa-aqim wajhaka li-d-diini haniifanmaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ketaatan
- فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاfitrata llaahi llatii fatara n-naasa alayhaafitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurutnya
- لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِlaa tabdiila li-khalqi llaahitidak ada perubahan pada ciptaan Allah
- ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَdzaalika d-diinu l-qayyimu wa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuunaitulah ketaatan yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain merender diin di sini sbg 'agama'. terjemahan ini menyeragamkan ke 'pertanggungjawaban' lintas 87 ayat akar diin. Rollout batch (b) akar diin. Penyeragaman 'pertanggungjawaban' menegakkan Prinsip #1 (konsistensi leksikal) & menyanggah reduksi 'agama=institusi'. PASS: berbasis terjemahan lain edisi terkini dgn kata diin ditukar; retrofit kau/engkau/kalian menyusul. sebagian penerjemah: 'So set thou thy face towards the doctrine, inclining to truth: the nature of God with which He created people, (there is no changing the creation of God) that is the right doctrine, (but most men know not)' Akar akar d-y-n (dyn), sense 'agama/cara-hidup/doktrin'. Diverifikasi corpus Leeds (root dyn). Konvensi terjemahan ini: diin diterjemahkan 'pertanggungjawaban' (kata payung; definisi-jangkar & entri kanonik 1:4).
Aplikasi
'Pertanggungjawaban' (diin, bukan sekadar 'agama' formal) digambarkan tertanam dalam fitrah manusia sejak penciptaan, sesuatu yang built-in, bukan pilihan eksternal yang bisa diabaikan sepenuhnya. Konkretnya: menyangkal dorongan bawaan untuk bertanggung jawab secara moral/eksistensial sama dengan melawan kodrat diri sendiri, bukan bentuk kebebasan, keselarasan hidup justru datang dari mengakui dan menjalankan tanggung jawab itu, bukan menghindarinya.