مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sebagai orang-orang yang kembali kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, tegakkanlah salat, dan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. مُنِيبِينَ إِلَيْهِmuniibiina ilayhisebagai orang-orang yang kembali kepada-Nya
  2. وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَwa-ttaquuhu wa-aqiimuu sh-shalaatabertakwalah kepada-Nya, tegakkanlah salat
  3. وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَwa-laa takuunuu mina l-musyrikiinadan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. مُنِيبِينَmuniibiinaorang-orang yang kembali
  2. إِلَيْهِilayhikepada-Nya
  3. وَاتَّقُوهُwa-ttaquuhudan bertakwalah kalian kepada-Nya
  4. وَأَقِيمُواwa-aqiimuudan tegakkanlah kalian
  5. الصَّلَاةَsh-shalaatasalat
  6. وَلَاwa-laadan janganlah
  7. تَكُونُواtakuunuukalian menjadi
  8. مِنَminadari
  9. الْمُشْرِكِينَl-musyrikiinaorang-orang musyrik

Inti bacaan

Frasa (مُنِيبِينَ إِلَيْهِ, muniibiina ilayhi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:31 dan 30:33.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مُنِيبِينَ إِلَيْهِ, muniibiina ilayhi) yang berarti "sebagai orang-orang yang kembali kepada-Nya". Kata (مُنِيبِينَ, muniibiina) berakar ن-و-ب dan berbentuk pelaku jamak yang menerangkan keadaan para penerima perintah. Bentuk persis ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:31 dan 30:33, keduanya di surah yang sama. Akar yang sama dipakai dalam bentuk tunggal di 39:8, (دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ, da'aa rabbahu muniiban ilayhi) yang berarti "menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya", di 50:33, (بِقَلْبٍ مُنِيبٍ, bi-qalbin muniibin) yang berarti "dengan hati yang kembali", dan sebagai perintah di 39:54, (وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ, wa-aniibuu ilaa rabbikum) yang berarti "dan kembalilah kepada Tuhan kalian". Terjemahan memakai "kembali" di ketiganya dan tidak menambahkan "bertobat", karena akar ت-و-ب tidak ada di ayat ini.

Kata ganti -hi pada ilayhi menunjuk Allah, yang disebut dua kali di 30:30, yaitu (فِطْرَتَ اللَّهِ, fithrata llaahi) yang berarti "fitrah Allah" dan (لِخَلْقِ اللَّهِ, li-khalqi llaahi) yang berarti "ciptaan Allah". Di 30:31 sendiri nama itu tidak muncul, sehingga ayat ini terbaca sebagai sambungan dari ayat sebelumnya. Kata ganti yang sama menempel pada kata kerja berikutnya, (وَاتَّقُوهُ, wa-ttaquuhu) yang berarti "dan bertakwalah kepada-Nya". Kata ini perintah bentuk kedelapan dari akar و-ق-ي untuk beberapa orang yang disapa. Bentuk persis wa-ttaquuhu muncul empat kali di empat surah, yaitu 6:72, 29:16, 30:31, dan 71:3. Di 29:16, (اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ, u'buduu llaaha wa-ttaquuhu) dan di 71:3, takwa mengikuti perintah mengabdi, sedangkan di 6:72 dan 30:31 takwa berdampingan dengan salat.

Perintah berikutnya, (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ, wa-aqiimuu sh-shalaata) yang berarti "dan tegakkanlah salat", memakai kata kerja dari akar ق-و-م. Akar ini sama dengan (فَأَقِمْ, fa-aqim) di 30:30, tempat objeknya wajah dan terjemahan memakai "hadapkanlah". Frasa lengkap wa-aqiimuu sh-shalaata muncul delapan kali di enam surah, yaitu 2:43, 2:83, 2:110, 4:77, 10:87, 24:56, 30:31, dan 73:20. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 2 memuatnya tiga kali. Gabungan perintah ini dengan wa-ttaquuhu dalam satu ayat hanya ada di dua tempat, yaitu 6:72, (وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَاتَّقُوهُ, wa-an aqiimuu sh-shalaata wa-ttaquuhu), dan 30:31. Urutannya berlawanan: di 6:72 salat disebut lebih dulu, di 30:31 takwa lebih dulu.

Larangan penutupnya, (وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ, wa-laa takuunuu mina l-musyrikiina) yang berarti "dan janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik", memakai partikel (مِنَ, mina) yang berarti "dari". Terjemahan "termasuk" dipilih karena larangannya menyangkut keanggotaan dalam sebuah kelompok. Kata (الْمُشْرِكِينَ, l-musyrikiina) berakar ش-ر-ك, akar yang sama dengan (يُشْرِكُونَ, yusyrikuuna) di 30:33 dan 30:35. Bentuk jamak wa-laa takuunuu mina l-musyrikiina hanya muncul di 30:31. Di 6:14, 10:105, dan 28:87 larangan serupa memakai bentuk dengan penegas, (وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ, wa-laa takuunanna mina l-musyrikiina), dan terjemahan ketiganya memakai "engkau". Kelompok yang dijauhi sama di semuanya. Frasa mina l-musyrikiina sendiri muncul tujuh belas kali di sembilan surah, yaitu 2:135, 3:67, 3:95, 6:14, 6:79, 6:137, 6:161, 9:1, 9:3, 9:4, 9:6, 10:105, 12:108, 16:120, 16:123, 28:87, dan 30:31, dengan surah 3, 6, 9, dan 16 memuatnya lebih dari sekali.

Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat ini belum selesai, dan 30:32 meneruskannya dengan (مِنَ الَّذِينَ, mina lladziina) yang berarti "dari orang-orang yang".

Tafsiran

Ayat ini memberi tiga perintah kepada orang-orang yang sudah digambarkan sebagai pihak yang kembali kepada Allah, dan susunannya dua perintah disusul satu larangan. Sapaannya jamak, berbeda dari 30:30 yang menyapa satu orang lewat (وَجْهَكَ, wajhaka) yang berarti "wajahmu". Perpindahan dari tunggal ke jamak dapat dibaca sebagai perluasan: perintah menghadapkan wajah di 30:30 kini dibebankan kepada banyak orang. Pembacaan ini bertumpu pada urutan dua ayat yang bersambung tanpa jeda, sedangkan ayat sendiri tidak menyatakannya.

Kalimat ayat ini berhenti dengan koma, dan 30:32 membuka kelanjutannya dengan (مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ, mina lladziina farraquu diinahum) yang berarti "dari orang-orang yang memecah-belah pertanggungjawaban mereka". Dapat dibaca bahwa larangan menjadi musyrik di 30:31 dirinci oleh 30:32, dan rincian pertama yang diberikan berupa pemecahan menjadi kelompok-kelompok, tidak berupa penyebutan sesembahan. Pembacaan ini bergantung pada hubungan partikel mina antara dua ayat, dan ayat tidak memberi tanda yang lebih pasti.

Susunan serupa ada di 10:105, tempat (وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا, wajhaka li-d-diini haniifan) yang berarti "wajahmu kepada pertanggungjawaban dengan lurus" langsung disusul larangan bentuk tunggal untuk menjadi musyrik. Frasa wajah yang dihadapkan kepada pertanggungjawaban dengan lurus hanya ada dua kali, yaitu di 10:105 dan 30:30, dan keduanya disusul larangan menjadi musyrik: di 10:105 untuk satu orang, di 30:31 untuk banyak orang.

Ayat ini juga membentuk bingkai dengan 30:33. Pembuka ayat ini, muniibiina ilayhi, dipakai lagi di 30:33 untuk orang yang menyeru Tuhannya ketika tertimpa mudarat, dan 30:33 berakhir dengan yusyrikuuna, bentuk kata kerja dari akar yang sama dengan musyrikiina. Dua ujung 30:31 tampil sebagai perintah, sedangkan di 30:33 keduanya tampil sebagai kejadian yang berurutan. Ayat tidak menyatakan bahwa 30:33 menggambarkan pelanggaran atas 30:31; pasangan itu tersusun oleh pemakaian kata yang sama di awal dan di akhir.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 30:31 menyebut keadaan lebih dulu daripada perintah: pihak yang disapa digambarkan sebagai orang-orang yang kembali kepada-Nya, lalu menyusul tiga hal yang diminta dari mereka. Takwa, salat, dan larangan datang kepada orang yang sudah digambarkan menghadap ke satu arah. Pembaca yang mendengar banyak tuntutan sekaligus dapat memeriksa urutan itu pada diri sendiri, yaitu apakah lebih dulu bergerak kembali kepada Allah lalu mencari apa yang harus dikerjakan, atau mengerjakan sejumlah kewajiban sambil berharap arahnya menyusul. Ke arah mana pembaca itu sedang menghadap pada saat mulai bertakwa?
  • Ayat 30:30 menyapa satu orang, lalu 30:31 berpindah ke bentuk jamak: bertakwalah, tegakkanlah, dan janganlah kalian termasuk. Orang yang membaca ayat ini sendirian di kamarnya tetap termasuk dalam kata kalian, sehingga perintah itu tidak dapat dititipkan kepada orang lain di kelompoknya. Satu pembacaan yang dapat dicoba: bentuk jamak mengumpulkan orang-orang yang masing-masing diminta kembali kepada Allah, tidak menggambarkan satu kelompok yang kembali lewat wakilnya. Bila perintah itu diucapkan kepada ruangan yang penuh orang, siapa yang masih merasa tidak sedang disapa?
  • Takwa dalam ayat ini diberi alamat lewat kata ganti, yaitu bertakwalah kepada-Nya, bukan kepada sebuah daftar larangan atau sebuah kelompok. Orang yang berhati-hati dalam hidupnya dapat bertanya kepada siapa kehati-hatiannya tertuju. Kehati-hatian yang tertuju pada daftar dapat berhenti ketika daftarnya habis, sedangkan kehati-hatian yang tertuju kepada Dia tidak bergantung pada isi daftar mana pun. Bagaimana cara seseorang memeriksa bahwa kewaspadaannya masih mengarah kepada-Nya dan belum berpindah ke pengawasan orang di sekitarnya?
  • Larangan penutup ayat ini menyebut keanggotaan, yaitu janganlah kalian termasuk orang-orang musyrik, tidak berbunyi janganlah kalian mempersekutukan Allah. Larangan itu menyangkut keanggotaan dalam sebuah kelompok. Orang yang tidak merasa pernah menyembah selain Allah dapat tetap bertanya kelompok mana yang ia ikuti.
  • Takwa dan salat berdampingan di 6:72 dan di 30:31, tetapi urutannya dibalik: salat lebih dulu di ayat pertama, takwa lebih dulu di ayat kedua. Teks memuat kedua urutan dan tidak memberi alasan untuk memilih salah satunya. Pembaca yang menimbang mana yang harus mendahului mana dapat melihat bahwa dua ayat itu menaruh keduanya pada alamat yang sama, yaitu kepada Allah, dan tidak menyuruh menunggu salah satunya sempurna sebelum mengerjakan yang lain. Apakah salat yang ditegakkannya lahir dari takwa, atau takwanya tumbuh dari salat yang sudah dijaganya?
  • Frasa kembali kepada-Nya di 30:33 dipakai untuk orang yang sedang tertimpa mudarat, sedangkan di 30:31 frasa itu disebut sebagai keadaan yang menyertai takwa dan salat tanpa menyebut mudarat sama sekali. Pembaca dapat membandingkan dua keadaan itu pada diri sendiri: kapan terakhir kali menghadap kepada Allah ketika tidak ada kesulitan yang mendorong. Ayat ini tidak menyebut kesulitan sebagai syarat arah itu. Bila arah kembali baru pernah dipakai pada saat sempit, apa yang terjadi pada arah itu ketika keadaannya lapang?
  • Ayat ini berakhir dengan koma, dan keterangan tentang siapa yang dimaksud larangan itu baru datang di 30:32. Pembaca yang menghentikan bacaannya di akhir 30:31 membawa tiga perintah tanpa gambaran tentang kelompok yang harus dijauhi. Cara memotong bacaan menentukan apa yang terbawa pulang, dan ayat ini memperlihatkannya dengan jelas karena terjemahan ayat ini sendiri berakhir dengan koma. Dari bunyi dua ayat itu, apa yang akan hilang dari pembaca bila kalimat yang disampaikan Allah dipotong di tengah?