وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ

Apabila manusia ditimpa mudarat, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya. Kemudian, apabila Dia mencicipkan kepada mereka suatu rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Tuhannya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِwa-idzaa massa n-naasa dhurrun da'aw rabbahum muniibiina ilayhiapabila manusia ditimpa mudarat, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya
  2. ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَtsumma idzaa adzaaqahum minhu rahmatan idzaa fariiqun minhum bi-rabbihim yusyrikuunakemudian, apabila Dia mencicipkan kepada mereka suatu rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian mereka mempersekutukan Tuhannya

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. مَسَّmassamenyentuh
  3. النَّاسَn-naasamanusia
  4. ضُرٌّdhurrunmudarat
  5. دَعَوْاda'awmereka menyeru
  6. رَبَّهُمْrabbahumTuhan mereka
  7. مُنِيبِينَmuniibiinaorang-orang yang kembali
  8. إِلَيْهِilayhikepada-Nya
  9. ثُمَّtsummakemudian
  10. إِذَاidzaaapabila
  11. أَذَاقَهُمْadzaaqahummencicipkan kepada mereka
  12. مِنْهُminhudari-Nya
  13. رَحْمَةًrahmatanrahmat
  14. إِذَاidzaatiba-tiba
  15. فَرِيقٌfariiqunsegolongan
  16. مِنْهُمْminhumdari mereka
  17. بِرَبِّهِمْbi-rabbihimkepada Tuhan mereka
  18. يُشْرِكُونَyusyrikuunamenyekutukan

Inti bacaan

Frasa (بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ, bi-rabbihim yusyrikuuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 16:54 dan 30:33.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مَسَّ النَّاسَ, massa n-naasa) yang berarti "menimpa manusia", lalu menyebut (ضُرٌّ, dhurrun) yang berarti "mudarat" sebagai penimpanya. Kata dhurrun berakar ض-ر-ر dan muncul tiga kali di dua surah, yaitu 30:33, 39:8, dan 39:49. Di 39:8, (وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ, wa-idzaa massa l-insaana dhurrun da'aa rabbahu) yang berarti "dan apabila mudarat menimpa manusia, ia menyeru Tuhannya", dan di 39:49, (فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا, fa-idzaa massa l-insaana dhurrun da'aanaa) yang berarti "maka apabila mudarat menimpa manusia, ia menyeru Kami", urutannya sama dengan 30:33: mudarat menyentuh, lalu penyeruan. Perbedaannya, kedua ayat itu menyebut (الْإِنْسَانَ, l-insaana) sebagai pihak yang disentuh, dengan kata kerja menyeru berbentuk tunggal, sedangkan 30:33 menyebut n-naasa dengan kata kerja menyeru berbentuk jamak. Terjemahan memakai "mudarat" di ketiga ayat, dan kata "keburukan" dipakai di 30:36 untuk akar lain, س-و-ء, supaya dua kata Arab itu tidak tertukar.

Kata (دَعَوْا رَبَّهُمْ, da'aw rabbahum) yang berarti "mereka menyeru Tuhan mereka" hanya ada di 30:33 dalam bentuk persis ini. Kata (رَبَّهُمْ, rabbahum) berakar ر-ب-ب dan kembali di ujung ayat sebagai (بِرَبِّهِمْ, bi-rabbihim). Pihak yang diseru dan pihak yang disekutukan dinyatakan dengan kata yang sama, sehingga terjemahan memakai "Tuhannya" di kedua tempat. Frasa (مُنِيبِينَ إِلَيْهِ, muniibiina ilayhi) yang berarti "dengan kembali kepada-Nya" sama dengan frasa pembuka 30:31, dan di sini frasa itu menerangkan cara mereka menyeru.

Kata kerja (أَذَاقَهُمْ, adzaaqahum) yang berarti "Dia mencicipkan kepada mereka" berakar ذ-و-ق dan berbentuk keempat. Bentuk persis ini hanya ada di 30:33. Pelakunya Dia dan kata ganti pada (مِنْهُ, minhu) yang berarti "dari-Nya" menunjuk Tuhan yang diseru di awal ayat. Pemakaian minhu untuk rahmat yang datang dari Tuhan terlihat juga di 11:63, (وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً, wa-aataanii minhu rahmatan) yang berarti "dan Dia memberiku rahmat dari-Nya", dan gabungan minhu rahmatan muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu 11:63 dan 30:33. Di 30:36, (وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً, wa-idzaa adzaqnaa n-naasa rahmatan) yang berarti "dan apabila Kami mencicipkan rahmat kepada manusia", tindakan yang sama dinyatakan dengan pelaku Kami, dan kalimat itu muncul dua kali, yaitu di 10:21 dan 30:36. Terjemahan memakai "mencicipkan" di 30:33 dan 30:36 dan tidak menambahkan kata "sedikit", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya. Kata (رَحْمَةً, rahmatan) berbentuk tak tentu, sehingga terjemahan memakai "suatu rahmat".

Kata (إِذَا, idzaa) muncul tiga kali dalam ayat ini. Dua kemunculan pertama berarti "apabila", sedangkan kemunculan ketiga, dalam (إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ, idzaa fariiqun minhum), langsung mendahului kata benda tanpa penghubung dan diterjemahkan "tiba-tiba". Susunan idzaa fariiqun muncul empat kali, yaitu di 4:77, 16:54, 24:48, dan 30:33, dan terjemahan memakai "tiba-tiba" di keempatnya. Kata (فَرِيقٌ, fariiqun) berakar ف-ر-ق, sama dengan farraquu di 30:32, dan terjemahannya "sebagian" karena disusul (مِنْهُمْ, minhum) yang berarti "dari mereka". Ayat tidak menyebut berapa besar bagian itu dan tidak menyebut apa yang dikerjakan bagian yang lain.

Frasa (بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ, bi-rabbihim yusyrikuuna) yang berarti "mereka mempersekutukan Tuhan mereka" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 16:54 dan 30:33. Kata kerja (يُشْرِكُونَ, yusyrikuuna) berakar ش-ر-ك, akar yang sama dengan musyrikiina di 30:31, dan bersama bi- kata kerja itu menyebut pihak yang disekutukan, yaitu Tuhan mereka. Apa yang dijadikan sekutu tidak disebut di ayat ini. Pemicu perpindahan itu berbeda di antara kedua ayat. Di 16:54 pemicunya (كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ, kasyafa dh-dhurra 'ankum) yang berarti "Dia menghilangkan mudarat dari kalian", sedangkan di 30:33 pemicunya mencicipkan rahmat. Di 29:65 pemicunya penyelamatan, (فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ, fa-lammaa najjaahum ilaa l-barri) yang berarti "maka ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat", disusul (إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ, idzaa hum yusyrikuuna) yang berarti "tiba-tiba mereka mempersekutukan".

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan satu adegan dalam empat gerak: mudarat menimpa manusia, mereka menyeru Tuhan mereka, Dia mencicipkan rahmat kepada mereka, lalu sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhan itu. Kata ganti pada ilayhi dan minhu, serta kata rabb yang diulang di bi-rabbihim, menunjuk pihak yang sama. Satu Tuhan menjadi pihak yang diseru ketika mudarat, pemilik rahmat yang dicicipkan, dan pihak yang disekutukan sesudahnya. Ayat tidak menyebut siapa atau apa yang menempati posisi sekutu itu, dan yang tertulis berupa perpindahan dari menyeru-Nya ke menyekutukan-Nya.

Adegan ini punya dua saudara di surah lain. Di 16:53, (وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ, wa-maa bikum min ni'matin fa-mina llaahi) yang berarti "dan nikmat apa pun yang ada pada kalian, itu dari Allah", disusul mudarat dan seruan, (فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ, fa-ilayhi taj'aruuna) yang berarti "maka kepada-Nya kalian meminta pertolongan". Ayat 16:54 kemudian menyebut penghilangan mudarat, dan sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhan mereka. Di 29:65 pelakunya orang-orang di atas kapal yang menyeru Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban bagi-Nya, dan perpindahan terjadi sesudah penyelamatan. Ketiga ayat itu, yaitu 16:54, 29:65, dan 30:33, sama-sama disusul kalimat li-yakfuruu bi-maa aataynaahum di 16:55, 29:66, dan 30:34. Pola yang tampak di tiga tempat itu: seruan di saat sempit, perpindahan sesudah kesempitan berlalu atau sesudah rahmat datang, dan satu kalimat penutup yang sama. Pemicu perpindahan berbeda-beda, dan di 30:33 pemicunya rahmat yang dicicipkan, bukan penghilangan mudarat. Ayat 16:53 menaruh asal nikmat dalam kalimat tersendiri sebelum adegan mudarat, sedangkan 30:33 menyatakan asal rahmat lewat satu kata ganti, minhu.

Terhadap 30:32, ayat ini mengalihkan pandangan dari golongan-golongan ke manusia secara umum, dan dari keadaan sesudah terpecah ke saat seorang manusia menyeru. Kata fariiqun di sini dan farraquu di ayat sebelumnya bersumber dari akar yang sama, sehingga bagian-bagian yang terpisah tetap menjadi tema, meski sudut pandang ayat berubah.

Renungan dan Hikmah

  • Tuhan yang diseru ketika mudarat, yang rahmatnya dicicipkan, dan yang disekutukan sesudah itu adalah satu alamat yang sama dalam ayat ini. Pembaca yang pernah mengucapkan terima kasih atas sesuatu yang datang kepadanya dapat memeriksa ke alamat mana ucapan itu diarahkan: kepada Dia yang diseru pada waktu sempit, kepada keadaan yang membaik, atau kepada orang yang kebetulan ada di dekatnya. Ayat ini menyebut rahmat itu datang dari-Nya, dan pertanyaannya tertuju pada cara pembaca menyebut asal pemberian.
  • Ayat ini menyebut sebagian dari mereka yang mempersekutukan, tanpa ukuran dan tanpa kabar tentang bagian yang lain. Pembaca tidak dapat membaca ayat ini sebagai tuduhan kepada semua orang dan juga tidak dapat menyimpulkan dirinya berada di bagian yang selamat. Bagian yang tidak disebut itu tidak dapat diisi dengan harapan maupun dengan kekhawatiran. Yang dapat diperiksa pembaca adalah perilakunya sendiri pada hari-hari lapang. Pada hari seperti itu, arah mana yang paling sering diambilnya?
  • Rahmat dalam ayat ini dinyatakan lewat kata kerja yang berarti membuat orang merasakan, dan perpindahan arah terjadi sesudah rasa itu. Pembaca yang mengingat kebaikan yang pernah datang kepadanya dapat membedakan antara kebaikan yang dirasakan sebagai pemberian dari Tuhan dan kebaikan yang disebut dengan nama hasil usahanya sendiri. Kapan pembaca terakhir kali menamai sebuah kenikmatan sebagai cicipan dari-Nya?
  • Ayat ini memperlihatkan arah kembali kepada-Nya ketika mudarat menimpa dan arah yang berpindah ketika rahmat datang. Kalimatnya tidak membandingkan mana yang lebih berat. Urutannya memperlihatkan bahwa perpindahan itu datang sesudah rahmat dicicipkan. Pembaca dapat bertanya kapan hatinya lebih mudah bergeser dari arah semula, ketika sedang tertimpa atau ketika sedang dicicipi, dan apakah penjagaan yang disiapkan untuk dua waktu itu sama kuat.
  • Kata kerja yang dipakai ayat ini menyebut Tuhan sebagai pihak yang disekutukan. Ayat ini tidak menyebut apakah mereka masih menyeru-Nya sesudah rahmat datang, dan hanya menyebut bahwa sebagian mereka mempersekutukan Tuhannya. Pembaca yang merasa tidak pernah meninggalkan Allah dapat memeriksa apa yang ia letakkan di sisi-Nya ketika menjelaskan keberhasilan, kesehatan, atau perlindungan yang ia terima. Ayat tidak menyebut apa pun yang dijadikan sekutu, sehingga daftar itu hanya dapat diisi oleh pembaca sendiri.
  • Perpindahan arah yang sama dikisahkan tiga kali dengan tiga pemicu: penghilangan mudarat di 16:54, penyelamatan ke darat di 29:65, dan rahmat yang dicicipkan di 30:33, dan ketiganya disusul kalimat yang sama. Kelegaan dari mudarat, keselamatan dari bahaya, dan kebaikan tambahan tampil sebagai tiga pintu ke arah yang sama, dan ayat tidak memihak salah satunya. Pembaca dapat bertanya pintu mana di antara ketiganya yang paling dekat dengan hidupnya, dan bagaimana nasib seruan yang pernah diucapkan kepada Allah sebelum kelegaan itu datang.