وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Apabila Kami mencicipkan suatu rahmat kepada manusia, mereka gembira karenanya. Jika mereka ditimpa suatu keburukan karena apa yang tangan mereka dahulukan, seketika itu mereka berputus asa.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَاwa-idzaa adzaqnaa n-naasa rahmatan farihuu bihaaapabila Kami mencicipkan suatu rahmat kepada manusia, mereka gembira karenanya
  2. وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَwa-in tushibhum sayyi'atun bi-maa qaddamat aydiihim idzaa hum yaqnathuunajika mereka ditimpa suatu keburukan karena apa yang tangan mereka dahulukan, seketika itu mereka berputus asa

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. أَذَقْنَاadzaqnaaKami mencicipkan
  3. النَّاسَn-naasamanusia
  4. رَحْمَةًrahmatanrahmat
  5. فَرِحُواfarihuumereka bergembira
  6. بِهَاbihaadengannya
  7. وَإِنْwa-indan jika
  8. تُصِبْهُمْtushibhummenimpa mereka
  9. سَيِّئَةٌsayyi'atunkeburukan
  10. بِمَاbi-maakarena apa yang
  11. قَدَّمَتْqaddamatmendahulukan
  12. أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
  13. إِذَاidzaaseketika itu
  14. هُمْhummereka
  15. يَقْنَطُونَyaqnathuunamereka berputus asa

Inti bacaan

Frasa (بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, bi-maa qaddamat aydiihim) muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:95, 4:62, 28:47, 30:36, 42:48, dan 62:7.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً, wa-idzaa adzaqnaa n-naasa rahmatan) yang berarti "dan apabila Kami mencicipkan suatu rahmat kepada manusia". Kata (أَذَقْنَا, adzaqnaa) berakar ذ-و-ق, berbentuk keempat, dengan pelaku Kami. Kalimat lengkap itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:21 dan 30:36. Di 30:33, (أَذَاقَهُمْ, adzaaqahum) yang berarti "Dia mencicipkan kepada mereka" menyatakan tindakan yang sama dengan pelaku Dia, dan terjemahan memakai "mencicipkan" di kedua ayat. Kata rahmatan berbentuk tak tentu, sehingga terjemahan memakai "suatu rahmat". Kata (فَرِحُوا بِهَا, farihuu bihaa) yang berarti "mereka gembira karenanya" memakai kata ganti -haa yang menunjuk rahmat, dan kata kerja itu dengan bihaa juga ada di 10:22, (وَفَرِحُوا بِهَا, wa-farihuu bihaa), yang menyebut orang-orang di kapal bergembira atas angin yang baik. Akar ف-ر-ح di sini diterjemahkan "gembira", karena orang-orang itu menyambut rahmat yang dicicipkan, sedangkan di 30:32 akar yang sama diterjemahkan "bangga" karena golongan itu menyambut apa yang ada pada mereka sendiri.

Paruh kedua dibuka dengan (وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ, wa-in tushibhum sayyi'atun) yang berarti "dan jika mereka ditimpa suatu keburukan". Susunan ini muncul empat kali di empat surah, yaitu 4:78, 7:131, 30:36, dan 42:48. Ayat ini memakai dua kata syarat yang berlainan, idzaa yang berarti "apabila" untuk rahmat dan in yang berarti "jika" untuk keburukan, dan terjemahan membedakan keduanya. Pasangan yang sama ada di 42:48, (وَإِنَّا إِذَا أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً, wa-innaa idzaa adzaqnaa l-insaana minnaa rahmatan) yang berarti "dan apabila Kami mencicipkan rahmat dari Kami kepada manusia", lalu dalam ayat yang sama keburukan itu muncul. Kata (سَيِّئَةٌ, sayyi'atun) berakar س-و-ء dan diterjemahkan "keburukan", berbeda dari "mudarat" di 30:33 yang berasal dari akar ض-ر-ر. Kata kerja (تُصِبْهُمْ, tushibhum) yang berarti "menimpa mereka" berpelaku keburukan itu sendiri, dan pengirimnya tidak disebut di ayat ini.

Penyebab yang disebut berbunyi (بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, bi-maa qaddamat aydiihim). Frasa ini muncul enam kali di enam surah, yaitu 2:95, 4:62, 28:47, 30:36, 42:48, dan 62:7. Kata kerja (قَدَّمَتْ, qaddamat) berakar ق-د-م, berbentuk kedua, dan muncul empat belas kali di empat belas surah, yaitu 2:95, 3:182, 4:62, 5:80, 8:51, 18:57, 22:10, 28:47, 30:36, 42:48, 59:18, 62:7, 78:40, dan 82:5. Di 59:18, (وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ, wa-l-tanzhur nafsun maa qaddamat li-ghadin) yang berarti "dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang didahulukannya untuk esok hari", kata kerja itu menyebut apa yang dikirim lebih dulu bagi masa depan, tanpa penilaian baik atau buruk. Terjemahan memakai "mendahulukan" dan tidak menambahkan kata kesalahan, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Kata (أَيْدِيهِمْ, aydiihim) yang berarti "tangan-tangan mereka" menyebut pelakunya, dan ayat tidak merinci apa yang didahulukan tangan-tangan itu.

Ujung ayat berbunyi (إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ, idzaa hum yaqnathuuna) yang berarti "seketika itu mereka berputus asa". Frasa ini hanya ada di 30:36, dan kata kerjanya, (يَقْنَطُونَ, yaqnathuuna), berakar ق-ن-ط. Akar ini muncul di enam ayat, yaitu 15:55, 15:56, 30:36, 39:53, 41:49, dan 42:28. Di 15:56, (وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ, wa-man yaqnathu min rahmati rabbihi) yang berarti "dan siapa yang berputus asa dari rahmat Tuhannya", dan di 39:53, (لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ, laa taqnathuu min rahmati llaahi) yang berarti "janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah", akar itu bersambung dengan rahmat sebagai objeknya. Di 30:36 objeknya tidak disebut. Bentuk idzaa hum juga membuka akibat di 29:65, (إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ, idzaa hum yusyrikuuna) yang berarti "tiba-tiba mereka mempersekutukan", dan di 6:44, (فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ, fa-idzaa hum mublisuuna) yang berarti "seketika mereka putus asa".

Tafsiran

Ayat ini mengulang sebuah pola yang sudah muncul di 30:33, tetapi urutannya dibalik. Di 30:33 mudarat datang dulu dan rahmat menyusul. Di 30:36 rahmat datang dulu dan keburukan menyusul. Pada kedua ayat itu manusia bergerak dengan cepat: dari menyeru ke menyekutukan di 30:33, dan dari gembira ke putus asa di 30:36. Dua ayat itu bersama-sama membentuk gambaran yang saling melengkapi tentang satu keadaan, yakni sikap manusia yang berayun mengikuti apa yang sedang datang kepadanya.

Susunan dalam ayat ini sendiri tidak seimbang. Pada paruh pertama pelakunya Kami, yang mencicipkan rahmat, dan manusia bereaksi. Pada paruh kedua keburukan menimpa tanpa pengirim yang disebut, dan penyebab yang ditulis berupa apa yang didahulukan tangan-tangan mereka. Reaksi manusia di kedua paruh dinyatakan dengan satu kata kerja yang singkat, farihuu di awal dan yaqnathuuna di akhir.

Ayat 42:48 memuat kerangka yang sama, tetapi berakhir lain. Di sana, (فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَفُورٌ, fa-inna l-insaana kafuurun) yang berarti "maka sesungguhnya manusia sangat kufur" menutup ayat itu, sedangkan 30:36 menutup dengan putus asa. Di 42:48 yang menimpa dan penyebabnya sama dengan di 30:36, dan penilaiannya disebut oleh ayat. Di 30:36 ayat tidak menilai, dan hanya melaporkan reaksi. Ayat 30:37 membuka dengan pertanyaan tentang rezeki yang dilapangkan dan disempitkan. Hubungannya dengan 30:36 terbaca dari urutan ayat, dan 30:36 sendiri tidak menyebutnya.

Ayat ini tidak menyebut berapa banyak manusia yang bereaksi demikian. Di 30:33 kata sebagian membatasi pelaku perpindahan, sedangkan di sini kata manusia berdiri tanpa pembagian.

Renungan dan Hikmah

  • Gembira dan putus asa dalam ayat ini dialami oleh pihak yang sama, yaitu manusia, dalam rentang satu kalimat. Ayat tidak menyebut dua kelompok orang, seorang yang gembira dan seorang yang putus asa. Pembaca dapat melihat ayunan itu pada dirinya sendiri, dari hari ketika rahmat dicicipkan kepadanya sampai hari ketika keburukan datang. Bila dua hari itu dibaca berdampingan, apa yang berubah pada pembaca di antara keduanya, dan kepada siapa kegembiraan pada hari pertama itu diarahkan?
  • Kata seketika itu menaruh putus asa tepat di belakang keburukan tanpa jeda yang tertulis. Tidak ada kalimat yang menyebut waktu untuk bertanya, menunggu, atau menimbang, dan ayat langsung menutup. Pembaca dapat memperhatikan jarak antara sebuah kabar buruk dan kalimat yang pertama muncul di hatinya, apakah jaraknya cukup lebar untuk memuat sebuah pertanyaan. Pertanyaan apa yang paling mungkin diselipkan pembaca di sana, dan kepada siapa pertanyaan itu akan diarahkan?
  • Kata kerja yang dipakai untuk tangan-tangan itu berarti mengirim lebih dulu, dan di 59:18 kata itu dipakai untuk apa yang didahulukan bagi hari esok. Ayat 30:36 memakainya untuk apa yang mendahului keburukan. Gambaran ini menaruh tangan sebagai pihak yang bekerja menuju ke depan, dan 30:36 menyebut keburukan sebagai sesuatu yang datang karena apa yang dikirim itu. Pembaca dapat bertanya apa yang sedang dikirim tangannya lebih dulu hari ini, dan ke hari mana kiriman itu akan sampai.
  • Ayat ini memasangkan Kami dan rahmat pada paruh pertama, lalu tangan-tangan mereka dan keburukan pada paruh kedua, dan tidak menyebut siapa yang mengirim keburukan itu. Pembaca yang menyusun kisah hidupnya sendiri dapat memperhatikan bagaimana kedua hal itu dipasangkan: kepada siapa asal rahmat disebutkan dan kepada siapa asal keburukan. Penyebab yang ditulis ayat ini adalah apa yang didahulukan tangan manusia, sedangkan rahmat disebut dicicipkan oleh Allah. Apa yang berubah bila pembaca menyebut asal keduanya sesuai dengan kalimat ayat ini?
  • Di 30:33 perpindahan arah dilakukan oleh sebagian manusia, tetapi di 30:36 kata manusia berdiri tanpa pembagian untuk kedua reaksi. Pembaca tidak punya kata sebagian yang dapat dipakai sebagai tempat berlindung. Dalam dua reaksi itu, gembira atau putus asa, di mana pembaca mengenali dirinya lebih cepat, dan apa yang diketahuinya tentang rahmat Tuhannya ketika berada di sana?
  • Di 30:36 putus asa muncul tanpa objek, tetapi akar yang sama di 15:56 dan 39:53 bersambung dengan rahmat Tuhan atau rahmat Allah. Di 42:28 ayat menyebut Dia menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Tiga ayat itu menaruh putus asa dan rahmat dalam satu napas, sehingga putus asa yang ditulis 30:36 dapat dibaca bersama pertanyaan tentang ke arah mana putus asa itu tertuju. Ketika keburukan datang dan hati berkata habis, putus asa itu diarahkan kepada keadaan atau kepada rahmat-Nya?