وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ
Padahal sebelum diturunkan kepada mereka, sebelum itu, mereka benar-benar telah berputus asa.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَwa-in kaanuu min qabli an yunazzala 'alayhim min qablihi la-mublisiinapadahal sebelum diturunkan kepada mereka, sebelum itu, mereka benar-benar telah berputus asa
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَإِنْwa-indan sesungguhnya
- كَانُواkaanuumereka adalah
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- أَنْanbahwa
- يُنَزَّلَyunazzaladiturunkan
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- مِنْmindari
- قَبْلِهِqablihisebelumnya
- لَمُبْلِسِينَla-mublisiinabenar-benar orang-orang yang berputus asa
Inti bacaan
Rangkaian (إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, idzaa hum yastabsyiruuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:48 dan 39:45.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَإِنْ كَانُوا, wa-in kaanuu) yang berarti "padahal mereka dahulu". Rangkaian ini muncul di lima ayat, yaitu 3:164, 4:176, 30:49, 37:167, dan 62:2. Di 4:176 rangkaian itu disusul bagian yang dibuka dengan "maka", sehingga terjemahannya "dan jika mereka bersaudara". Di empat ayat yang lain tidak ada bagian "maka" sesudahnya, dan kalimat langsung menerangkan keadaan, seperti (وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, wa-in kaanuu min qablu la-fii dhalaalin mubiinin) di 3:164 dan 62:2 yang berarti "dan sesungguhnya sebelum itu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata". Ayat 30:49 mengikuti susunan yang kedua, sehingga terjemahannya memakai "padahal" dan tidak memakai "jika".
Kata "sebelum" muncul dua kali dalam satu kalimat: (مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ, min qabli an yunazzala 'alayhim min qablihi) yang berarti "sebelum diturunkan kepada mereka, sebelum itu". Kedua kata itu berakar ق-ب-ل, dan terjemahan menuliskan keduanya karena Arabnya mengulang. Susunan (مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ, min qabli an yunazzala) hanya muncul di 30:49. Akhiran -hi pada (قَبْلِهِ, qablihi) berarti "-nya", dan akhiran itu tidak punya penunjuk yang tertulis, sehingga dapat menunjuk penurunannya atau benda yang diturunkan. Karena itu terjemahan memakai "sebelum itu", yang membiarkan rujukannya terbuka.
Kata kerja (يُنَزَّلَ, yunazzala) berarti "diturunkan" dan berakar ن-ز-ل. Bentuk ini tidak menyebut siapa yang menurunkan. Bentuk persis yang sama hanya muncul dua kali, yaitu di 2:105 dan 30:49. Di 2:105 apa yang diturunkan ditulis jelas, (مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ, min khayrin min rabbikum) yang berarti "suatu kebaikan dari Tuhan kalian". Di 30:49 tidak ada benda yang ditulis. Pembaca dapat menautkannya dengan (وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً, wa-yunazzilu mina s-samaa'i maa'an) di 30:24, "dan Dia menurunkan air dari langit", serta dengan hujan yang keluar dari celah awan di 30:48. Penautan itu pilihan pembaca, karena 30:49 sendiri tidak menamai apa yang diturunkan.
Kata (لَمُبْلِسِينَ, la-mublisiina) berarti "benar-benar berputus asa". Awalan (لَ, la) berarti "benar-benar" dan (مُبْلِسِينَ, mublisiina) berarti "orang-orang yang berputus asa", dari akar ب-ل-س. Akar ini muncul di lima ayat: (يُبْلِسُ, yublisu) di 30:12, (مُبْلِسُونَ, mublisuuna) di 6:44, 23:77, dan 43:75, dan (مُبْلِسِينَ, mublisiina) hanya di 30:49. Di empat ayat yang lain keputusasaan itu disebut dalam suasana hukuman atau hari ketika Saat itu terjadi: sesudah orang-orang diambil tiba-tiba di 6:44, sesudah pintu azab dibuka di 23:77, di dalam azab di 43:75, dan pada hari Saat itu terjadi di 30:12. Hanya 30:49 menaruh keputusasaan itu sebelum sesuatu diturunkan kepada mereka. Kata kerja (كَانُوا, kaanuu) menempatkannya di masa lampau, sehingga terjemahan memakai "telah".
Kata ganti (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) berarti "kepada mereka" dan memakai kata ganti jamak yang sama dengan (هُمْ, hum) dalam (إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, idzaa hum yastabsyiruuna) di 30:48, yang berarti "seketika mereka bergembira". Kedua ayat berurutan dan tidak ada kata yang memperkenalkan kelompok lain, sehingga 30:49 terbaca menerangkan orang-orang yang sama: sebelum sesuatu diturunkan mereka berputus asa, dan sesudahnya mereka bergembira. Rangkaian (إِذَا هُمْ, idzaa hum) di surah ini membuka dua keadaan yang berlawanan, yaitu (يَسْتَبْشِرُونَ, yastabsyiruuna) di 30:48, yang di Al-Qur'an hanya ada lagi di 39:45, dan (يَقْنَطُونَ, yaqnathuuna) di 30:36 yang berarti "mereka berputus asa".
Akar kata kedua itu, ق-ن-ط, berbeda dari ب-ل-س, dan bahasa Indonesia memakai satu ungkapan "berputus asa" untuk keduanya. Perbedaannya terlihat pada apa yang menyusul. Di 15:56 dan 39:53 kata berakar ق-ن-ط disusul keterangan "dari rahmat", yaitu (مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ, min rahmati rabbihi) dan (مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ, min rahmati llaahi). Di kelima ayat berakar ب-ل-س tidak ada keterangan "dari ..." sesudah kata itu, sehingga keputusasaan di 30:49 ditulis tanpa menyebut kepada apa keputusasaan itu tertuju. Akar ق-ن-ط dipakai juga di 42:28, (يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا, yunazzilu l-ghaytsa min ba'di maa qanathuu) yang berarti "Dia menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa", dengan akar ن-ز-ل yang sama dengan 30:49.
Tafsiran
Ayat ini memutar waktu ke belakang. Ayat 30:48 berakhir pada orang-orang yang bergembira ketika hujan sampai kepada mereka, lalu 30:49 kembali ke masa sebelum hujan itu diturunkan. Kegembiraan di 30:48 karena itu dibaca bersama keadaan yang mendahuluinya, dan pembaca tidak diberi gambar kegembiraan tanpa gambar putus asa.
Surah ini beberapa kali mencatat orang yang keadaannya berbalik. Di 30:36 manusia bergembira ketika dicicipkan rahmat, lalu berputus asa ketika keburukan menimpa, dan ayat itu menyebut sebabnya, yaitu perbuatan tangan mereka sendiri. Di 30:49 putus asa datang lebih dulu dan hujan menyusul, serta tidak ada keburukan yang disebut mendahului keputusasaan itu.
Urutan putus asa lalu hujan ada juga di 42:28, dengan kata lain untuk putus asa dan dengan pelaku yang disebut: Dia menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa. Di 30:49 pelaku itu tidak ditulis, tetapi 30:48 sudah menyebut Allah sebagai yang mengirim angin dan yang menurunkan hujan kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki, sehingga pembaca tidak kehilangan pelakunya.
Ayat 30:50 sesudahnya menyuruh memandang jejak-jejak rahmat Allah, yaitu bumi yang dihidupkan setelah matinya. Dengan 30:49 berada di tengah, jejak itu dibaca sesudah masa putus asa, dan lamanya masa itu tidak ditulis di 30:48, 30:49, maupun 30:50.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menaruh kata sebelum dua kali dalam satu kalimat, sehingga masa putus asa dilukiskan berlapis: sebelum sesuatu diturunkan, dan sebelum itu lagi. Kalimatnya ditulis dari sisi sesudah hujan sampai, lewat kata kerja bentuk lampau, jadi keputusasaan itu sudah menjadi sesuatu yang bisa dilihat dari seberang. Orang yang sedang menunggu dapat menghitung hari dari saat mulai menunggu, dan cara menghitung itu membuat masa tunggu terasa tak berujung. Ayat ini menghitung dari arah lain, yaitu dari saat jawaban sampai, lalu menengok ke belakang. Bagian mana dari masa tunggu hari ini yang ditulis seakan-akan tidak akan berakhir?
- Kata ganti kepada mereka di 30:49 sejenis dengan mereka yang bergembira di 30:48, yaitu hamba-hamba yang Dia kehendaki menurut ayat itu. Bila keduanya dibaca sebagai kelompok yang sama, orang yang bergembira ketika hujan sampai adalah orang yang sebelumnya benar-benar berputus asa. Kata seketika di 30:48 menandai kegembiraan yang datang tanpa masa peralihan, dan ayat 30:49 menjelaskan bahwa di belakang seketika itu ada masa yang berat. Bila yang berputus asa dan yang bergembira ternyata satu orang, penilaian mana tentang hari esok yang lebih layak dipercaya, yang dibuat pada saat berputus asa atau yang dibuat sesudah hujan sampai?
- Di 30:36 putus asa menyusul keburukan yang menimpa, dan ayat itu menyebut sebabnya. Di 30:49 putus asa mendahului hujan, dan tidak ada sebab yang ditulis. Dua letak itu menghasilkan dua pengalaman yang berbeda, meskipun bahasa Indonesia memakai ungkapan yang sama untuk keduanya: yang satu terjadi sesudah pukulan, yang lain terjadi sebelum sesuatu tiba. Orang yang berputus asa dapat memeriksa di letak mana keputusasaannya sekarang berada. Apakah keputusasaannya menyusul sesuatu yang sudah terjadi, atau lahir dari sesuatu yang belum juga datang dan belum diketahui sebabnya?
- Di 42:28 Allah disebut menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa, dan di 30:48 Dia disebut mengirim angin lalu menurunkan hujan kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki. Ayat 30:49 menaruh keputusasaan di antara keduanya tanpa menyebut sebabnya dan tanpa menyebut apa yang dilakukan orang-orang itu selama menunggu. Ketiga ayat memuat urutan yang sama, yaitu putus asa, hujan, lalu gembira, dan dua dari ketiganya menyebut pelakunya. Pembaca yang sedang berada di bagian pertama urutan itu dapat memperhatikan di bagian mana ayat-ayat tersebut menaruh Dia. Pihak mana yang dianggap memegang bagian kedua ketika seseorang sendiri berputus asa?
- Di 39:53 dan 15:56 putus asa disebut bersama rahmat, yaitu rahmat Allah dan rahmat Tuhannya, sedangkan kata putus asa di 30:49 berdiri tanpa keterangan dari apa. Ayat ini mencatat keadaannya tanpa menyebut kepada siapa keputusasaan itu tertuju. Allah baru muncul di ayat sebelumnya sebagai yang mengirim angin, dan di ayat sesudahnya sebagai pemilik rahmat yang jejaknya dilihat. Keputusasaan dapat tertuju pada keadaan yang berat atau pada rahmat-Nya yang belum tiba, dan dua arah itu berbeda. Arah mana yang sekarang terasa?
- Ayat 30:50 menyuruh memandang jejak-jejak rahmat Allah, yaitu bumi yang dihidupkan setelah matinya. Dibaca bersama 30:49, kedua ayat menaruh keadaan terendah di belakang: orang-orang di 30:49 sudah melewati putus asanya, dan bumi di 30:50 sudah melewati matinya. Jejak yang diminta dilihat selalu jejak yang tertinggal sesudah sesuatu berlalu. Dari sisi sesudah itu, jejak mana dalam hidup seseorang yang dapat disebut jejak rahmat-Nya, dan seberapa jauh jejak itu baru terlihat setelah masa putus asanya lewat?