وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَلَئِنْ جِئْتَهُمْ بِآيَةٍ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُبْطِلُونَ

Sungguh, Kami benar-benar telah menjelaskan dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan kepada manusia. Sungguh, jika engkau membawa suatu tanda kepada mereka, pastilah orang-orang kafir itu akan berkata, "Kalian hanyalah orang-orang yang berbuat batil."

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍwa-la-qad dharabnaa li-n-naasi fii haadzaa l-qur'aani min kulli matsalinsungguh, Kami benar-benar telah menjelaskan dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan kepada manusia
  2. وَلَئِنْ جِئْتَهُمْ بِآيَةٍ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُبْطِلُونَwa-la-in ji'tahum bi-aayatin la-yaquulanna lladziina kafaruu in antum illaa mubthiluunasungguh, jika engkau membawa suatu tanda kepada mereka, pastilah orang-orang kafir itu akan berkata, kalian hanyalah orang-orang yang berbuat batil

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. ضَرَبْنَاdharabnaaKami membuat
  3. لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
  4. فِيfiidalam
  5. هَٰذَاhaadzaaini
  6. الْقُرْآنِl-qur'aaniAl-Qur'an
  7. مِنْmindari
  8. كُلِّkullisegala
  9. مَثَلٍmatsalinperumpamaan
  10. وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
  11. جِئْتَهُمْji'tahumengkau mendatangi mereka
  12. بِآيَةٍbi-aayatindengan tanda
  13. لَيَقُولَنَّla-yaquulannasungguh ia akan berkata
  14. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  15. كَفَرُواkafaruukufur
  16. إِنْinjika
  17. أَنْتُمْantumkalian
  18. إِلَّاillaakecuali
  19. مُبْطِلُونَmubthiluunaorang-orang yang membatalkan

Inti bacaan

Pengakuan tentang keterbatasan pengaruh perumpamaan: 'jika engkau membawa suatu tanda kepada mereka, pastilah orang-orang kafir itu akan berkata, Kalian hanyalah pembuat kepalsuan', penolakan yang konsisten terlepas dari kualitas bukti yang disajikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyebut sesuatu yang sudah dikerjakan, lalu meramalkan tanggapan atas sesuatu yang belum dikerjakan.

Bagian pertamanya menyatakan segala macam perumpamaan sudah dibuatkan bagi manusia. Rangkaian membuat perumpamaan bagi manusia ini muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (30:58, 39:27). Cakupannya disebut penuh, yaitu segala macam, bukan sekian banyak. Yang kurang bukan jumlah caranya.

Bagian keduanya berpindah ke pengandaian: sekalipun sebuah tanda didatangkan, tanggapannya sudah diketahui. Mereka akan menuduh sebagai orang yang berbuat batil. Susunan ini menutup satu alasan yang sering diajukan, yaitu bahwa penolakan terjadi karena buktinya kurang. Kalau tanggapan terhadap bukti baru pun sudah bisa diramalkan, maka yang menahan bukan ketiadaan bukti.

Tuduhan yang mereka pakai patut diperhatikan, sebab ia justru sebutan yang paling tepat untuk keadaan mereka sendiri. Yang berdiri di atas sesuatu tanpa dasar menamai orang lain sebagai pembuat kebatilan. Cara membantah seperti ini memulangkan sebutan kepada yang mengucapkannya.

Tuduhan yang diramalkan ayat ini memakai kata yang berulang. Bentuk “orang-orang yang berbuat batil” (مُبْطِلُونَ, mubthiluuna) muncul lima kali di dalam Al-Qur'an (7:173, 29:48, 30:58, 40:78, 45:27). Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang sia-sia dan tidak punya dasar. Yang menarik, sebutan itu justru dipakai oleh pihak yang berdiri di atas sesuatu tanpa dasar untuk menamai pihak lain.

Kata kerja pembukanya (ضَرَبْنَا, dharabnaa), yaitu membuat perumpamaan bagi manusia, muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (30:58, 39:27). Di kedua tempat itu yang disebut sesudahnya adalah tanggapan manusia, bukan mutu perumpamaannya. Susunan yang berulang itu menandai sesuatu: yang diperkarakan bukan cukup tidaknya keterangan, melainkan apa yang terjadi sesudah keterangan diberikan.

Bentuk pengandaian di paruh keduanya perlu dibaca teliti. Yang dikatakan bukan mereka telah menolak tanda, melainkan sekalipun engkau mendatangkan tanda, mereka pasti berkata begitu. Sebuah ramalan tentang tanggapan terhadap sesuatu yang belum terjadi hanya bisa diucapkan kalau polanya sudah cukup jelas. Dan pola itu memang sudah disebut di paruh pertama.

Susunan dua paruh itu menutup satu alasan yang paling sering diajukan. Kalau keterangan sudah lengkap dan tanda baru pun sudah bisa diramalkan tanggapannya, maka permintaan akan satu bukti lagi bukan permintaan yang sungguh-sungguh. Ayat ini tidak menyatakan hal itu sebagai tuduhan; ia menyatakannya sebagai ramalan, dan ramalan bisa diuji oleh orang yang merasa dituju.

Tafsiran

Ayat ini menyingkap pola penolakan yang tak terpuaskan: betapapun banyak perumpamaan dijelaskan, tanda baru pun akan tetap ditolak dengan tuduhan yang sama. Yang membuatnya bekerja adalah bentuk pengandaian di paruh keduanya.

Yang dikatakan bukan bahwa mereka sudah menolak, melainkan bahwa seandainya sebuah tanda didatangkan, tanggapannya sudah bisa disebutkan sekarang. Sebuah ramalan tentang tanggapan terhadap sesuatu yang belum terjadi hanya bisa diucapkan kalau polanya sudah cukup jelas, dan pola itu memang sudah disebut di paruh pertama, yaitu segala macam perumpamaan sudah diberikan.

Susunan dua paruh itu menutup satu alasan yang paling sering diajukan. Kalau keterangan sudah lengkap dan tanggapan terhadap tanda baru pun sudah bisa diramalkan, maka permintaan akan satu bukti lagi tidak sedang menunggu bukti. Yang menahan bukan kekurangan di luar. Ayat ini tidak mengucapkannya sebagai tuduhan, melainkan sebagai ramalan, dan ramalan bisa diuji oleh siapa pun yang merasa dituju.

Tuduhan yang mereka pakai adalah bagian yang paling patut direnungkan. Mereka menamai pihak lain sebagai orang yang berbuat batil, padahal sebutan itu justru menggambarkan keadaan mereka sendiri, yaitu berdiri di atas sesuatu tanpa dasar. Cara membantah dengan memulangkan sebutan kepada yang mengucapkannya bukan hal yang jarang. Ia biasanya muncul justru ketika seseorang tidak punya bahan lain untuk dikatakan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut Dia sudah menjelaskan segala macam perumpamaan. Segala macam. Yang kurang bukan jumlah caranya. Menyebut segala macam juga menutup satu pembelaan yang biasa dipakai, yaitu bahwa caranya tidak cocok. Kalau semua cara sudah dipakai, keberatan atas caranya kehilangan dasar, dan yang tersisa cuma keberatan atas isinya.
  • Bahkan tanda baru pun Dia sebut akan ditolak. Jawabannya sudah diketahui. Yang menolak bukan kekurangan bukti, melainkan keputusan yang sudah diambil. Kalimatnya berbentuk pengandaian yang jawabannya sudah dipastikan lebih dahulu. Bentuk seperti itu jarang dipakai untuk manusia, sebab ia mengumumkan sesuatu yang belum terjadi seakan sudah selesai. Yang diumumkan bukan nasib mereka, melainkan pola sikap yang sudah mereka pegang sendiri.
  • Tuduhan yang mereka pakai kalian orang-orang yang berbuat batil. Dibalik. Sebutan untuk mereka sendiri dipulangkan kepada yang membawa tanda. Membalik tuduhan adalah cara termurah untuk menghindari pemeriksaan. Ia mengubah perkara dari apa yang benar menjadi siapa yang salah, dan pertukaran itu selalu menguntungkan pihak yang tidak punya alasan.
  • Allah menyebut tanggapan terhadap tanda baru pun sudah bisa diramalkan, sehingga yang menahan bukan ketiadaan bukti. Ketika kita menuntut satu bukti lagi sebelum bersedia berubah, benarkah bukti itu yang sedang kita tunggu? Bukti tambahan biasanya diminta oleh orang yang sudah memutuskan, sebab orang yang belum memutuskan justru sibuk memeriksa yang sudah ada. Permintaan bukti tambahan karena itu bukan tanda kehati-hatian melainkan tanda bahwa perkaranya sudah ditutup di dalam. Cara mengenalinya sederhana: tanyakan pada diri sendiri bukti seperti apa yang akan membuat kita berubah. Kalau tidak ada satu pun yang bisa disebutkan, yang sedang kita minta memang bukan bukti, melainkan izin untuk tetap di tempat.
  • Rangkaian وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 30:58 dan 39:27, dan bunyinya sama huruf demi huruf. Yang berbeda cuma lanjutannya. Di sini lanjutannya penolakan yang sudah dipastikan, sedangkan di 39:27 lanjutannya harapan supaya mereka mengambil pelajaran. Satu pembuka, dua ujung. Allah memakai kalimat yang sama untuk menyebut dua akibat yang berlawanan dari satu pemberian yang sama, dan pembacanya sendiri yang menentukan ia berdiri di ujung yang mana.
  • Kata مُبْطِلُونَ muncul lima kali di seluruh Al-Quran, di 7:173, 29:48, 30:58, 40:78, dan 45:27. Di empat tempat lainnya kata itu menyebut orang yang memang mengada-ada, sedangkan di ayat ini kata itu diletakkan Allah di mulut mereka sebagai tuduhan kepada pihak yang membawa tanda. Sebutan yang sama berpindah arah. Orang yang mengada-ada menuduh orang lain mengada-ada, dan itu bentuk pembelaan yang paling sering dipakai karena paling tidak memerlukan bahan.