كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak mengetahui.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَka-dzaalika yathba'u llaahu 'alaa quluubi lladziina laa ya'lamuunademikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak mengetahui

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  2. يَطْبَعُyathba'uDia mengunci
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. عَلَىٰ'alaaatas
  5. قُلُوبِquluubihati
  6. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  7. لَاlaatidak
  8. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Rangkaian (كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ, ka-dzaalika yathba'u llaahu 'alaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:101, 30:59, dan 40:35.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah". Rangkaian (كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ, ka-dzaalika yathba'u llaahu 'alaa) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 7:101, 30:59, dan 40:35. Dengan kata kerja dari akar yang sama, (كَذَٰلِكَ نَطْبَعُ, ka-dzaalika nathba'u) di 10:74 yang berarti "demikianlah Kami mengunci", jumlah ayatnya menjadi empat. Terjemahan memakai "demikianlah" di keempatnya.

Kata kerja (يَطْبَعُ, yathba'u) yang berarti "mengunci" berakar ط-ب-ع. Akar ini muncul sebelas kali di sebelas ayat, yaitu 4:155, 7:100, 7:101, 9:87, 9:93, 10:74, 16:108, 30:59, 40:35, 47:16, dan 63:3. Bentuk persis yathba'u muncul tiga kali, yaitu 7:101, 30:59, dan 40:35. Terjemahan memakai "mengunci" atau "dikunci" di kesebelas ayat itu. Sembilan ayat menyebut hati langsung sebagai benda yang dikunci, yaitu 7:100, 7:101, 9:87, 9:93, 10:74, 30:59, 40:35, 47:16, dan 63:3. Ayat 4:155 memakai (عَلَيْهَا, 'alayhaa) yang merujuk pada hati yang disebut sebelumnya, dan 16:108 menyebut hati, pendengaran, dan penglihatan sekaligus.

Pelaku penguncian disebut jelas di 30:59 lewat (اللَّهُ, llaahu) yang berarti "Allah". Di sebelas ayat tadi, tujuh menyebut Allah sebagai pelaku, yaitu 4:155, 7:101, 9:93, 16:108, 30:59, 40:35, dan 47:16. Dua ayat memakai "Kami", yaitu 7:100 dan 10:74, dan dua ayat memakai bentuk pasif tanpa pelaku, yaitu 9:87 dan 63:3. Terjemahan 30:59 mengikuti kata Arabnya dan menyebut Allah sebagai pelaku, tanpa tambahan alasan atau cara.

Rangkaian (عَلَىٰ قُلُوبِ, 'alaa quluubi) yang berarti "pada hati-hati" berakar ق-ل-ب dan muncul delapan belas kali di tiga belas surah, yaitu 2:7, 6:25, 6:46, 7:100, 7:101, 8:11, 9:87, 9:93, 10:74, 10:88, 16:108, 17:46, 18:14, 18:57, 30:59, 47:16, 63:3, dan 83:14. Sembilan dari delapan belas itu memakai akar ط-ب-ع, yaitu 7:100, 7:101, 9:87, 9:93, 10:74, 16:108, 30:59, 47:16, dan 63:3, sedangkan sembilan lainnya memakai kata kerja lain untuk perbuatan terhadap hati. Terjemahan memakai "hati" untuk kata qulub di semua ayat itu.

Kata (الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ, lladziina laa ya'lamuuna) yang berarti "orang-orang yang tidak mengetahui" muncul enam kali di lima surah, yaitu 2:113, 2:118, 10:89, 30:59, 39:9, dan 45:18. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 2 memuatnya dua kali. Kata kerja (يَعْلَمُونَ, ya'lamuuna) berakar ع-ل-م dan tidak memuat objek maupun kehendak. Terjemahan karena itu tidak menambahkan "mau" sehingga tidak terbaca "tidak mau mengetahui". Di 39:9 kelompok ini dihadapkan dengan (الَّذِينَ يَعْلَمُونَ, lladziina ya'lamuuna) yang berarti "orang-orang yang mengetahui", dan di 10:89 serta 45:18 kelompok ini disebut sebagai pihak yang jalan atau hawa nafsunya tidak boleh diikuti.

Letak kata laa ya'lamuuna terhadap penguncian berbeda di dua ayat. Di 9:93 bunyinya (فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ, fa-hum laa ya'lamuuna) yang berarti "sehingga mereka tidak mengetahui", dan kalimat itu menyusul kata kerja mengunci sebagai akibat. Di 30:59 kata yang sama berada sesudah (الَّذِينَ, lladziina) dan menyebut pemilik hati, jadi frasa itu menjadi sebutan bagi kelompok yang hatinya dikunci. Ayat ini tidak menyatakan bahwa tidak mengetahui itu penyebab atau akibat penguncian. Ayat lain memperlihatkan akibat yang berbeda-beda sesudah penguncian, yaitu (فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ, fa-hum laa yasma'uuna) di 7:100 yang berarti "sehingga mereka tidak mendengar", dan (فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ, fa-hum laa yafqahuuna) di 9:87 dan 63:3 yang berarti "sehingga mereka tidak memahami".

Tafsiran

Ayat ini menjawab ramalan di 30:58 dengan satu tindakan Allah pada hati. Ayat 30:58 berakhir pada ucapan orang-orang yang kufur terhadap setiap tanda yang dibawa, dan 30:59 dibuka dengan demikianlah, sehingga ucapan itu menjadi hal pertama yang dapat ditunjuk oleh kata itu. Teks tidak menyebut dengan tegas apa yang ditunjuk demikianlah, dan pembacaan itu hanya satu kemungkinan.

Urutan perbuatan dahulu, penguncian kemudian, terlihat pada empat ayat yang memakai demikianlah dan akar ط-ب-ع. Di 7:101 penguncian didahului (فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ, fa-maa kaanuu li-yu'minuu bi-maa kadzdzabuu min qablu) yang berarti "maka mereka tidak beriman pada apa yang telah mereka dustakan sebelumnya", dan di 40:35 didahului (يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ, yujaadiluuna fii aayaati llaahi bi-ghayri sulthaanin ataahum) yang berarti "memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan yang datang kepada mereka". Di 10:74 pola yang sama muncul dengan rasul-rasul yang membawa keterangan nyata. Di 30:59 yang mendahuluinya ada di ayat sebelumnya. Dalam keempat ayat itu penguncian disebut sesudah sesuatu yang dilakukan atau dikatakan oleh orang-orang itu sendiri.

Penguncian di keempat ayat itu dikaitkan dengan sebutan yang berbeda. Sebutan itu berupa (الْكَافِرِينَ, l-kaafiriina) di 7:101, (الْمُعْتَدِينَ, l-mu'tadiina) di 10:74, dan (مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ, mutakabbirin jabbaarin) untuk pemilik hati di 40:35. Di 30:59 sebutannya orang-orang yang tidak mengetahui. Sebutan terakhir itu sejalan dengan 30:56, yang menutup dengan dahulu kalian tidak mengetahui, dan dengan 30:29, tempat Allah disebut dalam (مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ, man adhalla llaahu) yang berarti "orang yang telah disesatkan Allah" sesudah orang-orang zalim mengikuti hawa nafsu tanpa ilmu. Ketiadaan ilmu dan tindakan Allah terhadap manusia bertemu di dua tempat dalam surah ini, dan keduanya menyebut manusia lebih dulu, baru tindakan Allah.

Ayat 30:60 kemudian kembali kepada orang yang disapa dengan engkau, dan memerintahkannya bersabar. Ayat 30:59 menaruh penguncian pada kelompok yang digambarkan, sedangkan perintah bersabar di 30:60 menaruh tugas pada penerima ayat itu.

Renungan dan Hikmah

  • Di empat ayat yang memakai demikianlah dan kata kerja mengunci, penguncian disebut sesudah sesuatu yang dilakukan atau dikatakan orang-orang itu. Di 7:101 mereka tidak beriman pada apa yang sudah mereka dustakan, di 40:35 mereka memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan, dan di 30:58 mereka menjawab setiap tanda dengan tuduhan yang sama. Ayat-ayat itu tidak menyebut berapa lama atau berapa kali sebelum penguncian terjadi. Pembaca dapat memperhatikan jawaban pertama yang selalu keluar ketika sebuah tanda datang, dan apakah jawaban itu masih dipilihnya atau sudah menjadi kebiasaan. Seberapa sering jawaban yang sama diulang tanpa pernah ditimbang lagi?
  • Ayat-ayat lain menyebut akibat penguncian yang berbeda-beda. Di 7:100 akibatnya mereka tidak mendengar, di 9:87 dan 63:3 mereka tidak memahami, dan di 9:93 mereka tidak mengetahui. Di 16:108 benda yang dikunci meliputi hati, pendengaran, dan penglihatan. Di 30:59 yang disebut hanya hati dan sebutan kelompoknya, tanpa akibat. Dari daftar itu terlihat bahwa kunci pada hati, yang di 9:93 dan 16:108 dilakukan Allah, disusul kegagalan mendengar, memahami, atau mengetahui. Pembaca dapat memeriksa di bagian mana dalam dirinya sebuah kabar berhenti, apakah di telinga yang menerima atau di hati yang tidak membuka. Kabar apa yang pernah didengarnya berkali-kali tetapi tidak pernah dibiarkannya sampai?
  • Di 4:155 orang-orang berkata bahwa hati mereka tertutup, dan ayat itu menjawab bahwa sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekufuran mereka. Ucapan hati tertutup di sana dijawab dengan sebab, yaitu kekufuran mereka sendiri. Di 30:59 sebab itu tidak disebut dalam ayatnya, dan sebabnya hanya dapat dicari di ayat-ayat yang berdekatan, seperti 30:58. Pembaca dapat memperhatikan kalimat hatiku sudah tertutup untuk ini yang mungkin pernah diucapkannya, dan apakah kalimat itu ia pakai sebagai kesimpulan atau sebagai alasan untuk berhenti mendengar. Siapa yang menyebut sebab bagi hati yang tertutup, dirinya atau Allah?
  • Pelaku penguncian di 30:59 adalah Allah, dan tidak ada manusia yang menjadi pelakunya di ayat itu. Ayat ini menyebut kelompok yang digambarkan, yaitu orang-orang yang tidak mengetahui, dan tidak memuat daftar nama. Karena itu ayat ini tidak menjadi dasar bagi pembaca untuk menunjuk orang tertentu sebagai pemilik hati yang terkunci. Kalimat yang menyebut Allah sebagai pelaku tidak sama dengan kalimat manusia yang menyatakan dirinya berhak membaca keadaan hati orang lain. Siapa di sekitar pembaca yang pernah ia nyatakan terkunci hatinya, dan atas dasar apa pernyataan itu dibuat?
  • Ayat 30:53 menyatakan bahwa orang yang disapa dengan engkau tidak dapat menjadi pemberi petunjuk bagi mereka yang buta dari kesesatannya, dan 30:59 menyebut Allah yang mengunci hati. Ayat 30:60 kemudian menyuruh yang disapa dengan engkau bersabar. Pembagian itu menaruh penguncian pada Allah dan menaruh kesabaran pada penerima ayat. Bagi pembaca yang mengajar, menasihati, atau mengingatkan orang lain, pembagian itu memperlihatkan bahwa hasil pada hati orang lain tidak tertulis sebagai tugasnya. Tugas yang tertulis untuknya adalah membawa tanda di 30:58 dan bersabar di 30:60. Ketika pesannya tidak diterima, pada bagian mana dari kedua tugas itu langkahnya sering melewati batas?
  • Di 9:93 tidak mengetahui disebut sebagai akibat sesudah Allah mengunci hati, sedangkan di 30:59 tidak mengetahui menjadi sebutan bagi pemilik hati yang dikunci. Ayat tidak menjelaskan urutan di 30:59, sehingga tidak mengetahui dapat dibaca sebagai keadaan awal atau sebagai hasil. Pembaca dapat memperlakukan ketidaktahuannya sendiri sebagai ruang yang masih dapat diisi atau sebagai tembok, dan dua sikap itu menghasilkan pertanyaan yang berbeda. Ruang yang kosong bertanya, tembok menolak. Ketika pembaca berkata aku tidak tahu, kalimat itu membuka pintu pertanyaan atau menutupnya?