تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ

Itu tanda-tanda Kitab yang penuh hikmah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِtilka aayaatu l-kitaabi l-hakiimiitu tanda-tanda Kitab yang penuh hikmah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. تِلْكَtilkaitu
  2. آيَاتُaayaatutanda-tanda
  3. الْكِتَابِl-kitaabiKitab
  4. الْحَكِيمِl-hakiimiyang penuh hikmah

Inti bacaan

Susunan (تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ, tilka aayaatu l-kitaabi l-hakiimi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:1 dan 31:2.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (تِلْكَ, tilka), kata tunjuk jauh yang berarti "itu". Catatan bentuk kata menandainya sebagai kata tunggal berjenis perempuan, sedangkan (ذَٰلِكَ, dzaalika) di 2:2 ditandai sebagai kata tunggal berjenis laki-laki, dan kata sesudahnya di ayat ini, (آيَاتُ, aayaatu), ditandai sebagai kata jamak berjenis perempuan. Terjemahan memakai kata tunjuk jauh untuk keduanya, dan kata tunjuk dekat disediakan untuk (هَٰذِهِ, haadzihi) di 12:108 yang berarti "ini". Susunan (تِلْكَ آيَاتُ, tilka aayaatu) ada di sebelas ayat, yaitu 2:252, 3:108, 10:1, 12:1, 13:1, 15:1, 26:2, 27:1, 28:2, 31:2, dan 45:6. Tiga di antaranya, 2:252, 3:108, dan 45:6, bersambung ke (تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ, tilka aayaatu llaahi) yang berarti "tanda-tanda Allah itu", dan delapan lainnya berada di ayat pertama atau kedua sebuah surah. Ayat ini tidak menyebut apa yang ditunjuk kata itu, sehingga teks tidak memutuskan apakah kata itu menunjuk ke tiga huruf di 31:1 atau ke tulisan yang sedang dibacakan.

Kata (آيَاتُ, aayaatu) yang berarti "tanda-tanda" berasal dari satu kata dasar yang muncul 382 kali di 353 ayat. Terjemahan memakai "tanda" karena kata dasar itu mencakup benda di luar tulisan. Di surah ini (آيَاتِهِ, aayaatihi) di 31:31 yang berarti "tanda-tanda-Nya" menyebut kapal yang berlayar di laut, dan (لَآيَاتٍ, la-aayaatin) di 45:3 yang berarti "benar-benar tanda-tanda" menyebut langit dan bumi. Kata Indonesia "ayat" dalam arti satuan tulisan tidak mencakup kapal dan langit, sedangkan "tanda" mencakup keduanya sekaligus tulisan.

Kata (الْكِتَابِ, l-kitaabi) yang berarti "Kitab" berakar ك-ت-ب dan memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan menulisnya dengan huruf awal besar, Kitab. Susunan (آيَاتُ الْكِتَابِ, aayaatu l-kitaabi) muncul tujuh kali, yaitu di 10:1, 12:1, 13:1, 15:1, 26:2, 28:2, dan 31:2, dan terjemahan di ketujuh tempat itu menulis "tanda-tanda Kitab". Terjemahan tidak menulis awalan "Al-" di tujuh tempat itu, sehingga kata Arab yang sama selalu muncul sebagai satu bentuk yang sama.

Sifat (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) yang berarti "yang penuh hikmah" berakar ح-ك-م, dan bentuk persis itu muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 3:58, 3:126, 10:1, 31:2, 36:2, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1. Angka surahnya lebih kecil karena surah 3 memuatnya dua kali. Di lima ayat, 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1, sifat itu dikenakan pada Allah, misalnya (الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ, l-'aziizi l-hakiimi) di 3:126 yang berarti "Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah", dan terjemahan menulisnya sebagai sebutan dengan "Sang". Di empat ayat lainnya, 3:58, 10:1, 31:2, dan 36:2, sifat itu dikenakan pada sebuah tulisan, misalnya (وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ, wa-l-qur'aani l-hakiimi) di 36:2 yang berarti "demi Al-Qur'an yang penuh hikmah", dan terjemahan menulisnya tanpa "Sang". Di sini sifat itu menyifati Kitab, sehingga "yang penuh hikmah" dipakai dan "Sang Penuh Hikmah" tidak.

Kitab di susunan yang sama memperoleh sifat lain di tempat lain. Di 26:2 bunyinya (تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ, tilka aayaatu l-kitaabi l-mubiini) yang berarti "tanda-tanda Kitab yang jelas", dan susunan (الْكِتَابِ الْمُبِينِ, l-kitaabi l-mubiini) ada lima kali, yaitu di 12:1, 26:2, 28:2, 43:2, dan 44:2. Susunan (تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ, tilka aayaatu l-kitaabi l-hakiimi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:1 dan 31:2. Dengan demikian Kitab di tujuh pembuka itu disifati "jelas" di lima tempat dan "penuh hikmah" di dua tempat.

Ayat ini tidak memuat kata kerja, sehingga terjemahan tidak menyisipkan "adalah", "berisi", atau kata kerja lain. Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 31:3, yang dibuka dengan (هُدًى, hudan) yang berarti "petunjuk".

Tafsiran

Ayat ini menyebut Kitab dan sifatnya lebih dulu, lalu menyerahkan tujuannya kepada ayat sesudahnya. Di 31:3 sampai 31:5 tidak ada satu kata kerja pun yang menyebut pengirim atau penurunan Kitab, dan kata kerja yang tertulis hanya menggambarkan perbuatan orang-orang yang dituju. Pembuka serupa di surah lain berbeda: di 12:2 kalimat sesudah (تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ, tilka aayaatu l-kitaabi l-mubiini) memuat kata kerja pengirim, (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ, innaa anzalnaahu) yang berarti "Sesungguhnya Kami menurunkannya", dan di 28:3 kalimat sesudahnya memuat (نَتْلُو عَلَيْكَ, natluu 'alayka) yang berarti "Kami membacakan kepadamu". Asal petunjuk baru tertulis di 31:5 lewat (مِنْ رَبِّهِمْ, min rabbihim) yang berarti "dari Tuhan mereka", dan teks tidak menghubungkannya dengan kata kerja penurunan.

Ayat 31:2 adalah yang terakhir dari tujuh pembuka berbentuk tanda-tanda Kitab dalam urutan mushaf, setelah 10:1, 12:1, 13:1, 15:1, 26:2, dan 28:2. Kata dasar sifat penuh hikmah muncul empat kali di surah ini, yaitu untuk Kitab di 31:2, untuk Allah di 31:9 dalam (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, l-'aziizu l-hakiimu) dan di 31:27 dalam (عَزِيزٌ حَكِيمٌ, 'aziizun hakiimun), serta untuk apa yang diberikan kepada Luqman di 31:12 dalam (الْحِكْمَةَ, l-hikmata). Sifat yang dikenakan pada Kitab di awal surah dengan demikian muncul lagi sebagai sifat Allah dan sebagai pemberian dari-Nya di bagian-bagian berikutnya.

Surah ini juga memakai kata tanda untuk hal di luar tulisan. Kapal di laut disebut sebagai tanda di 31:31, dan Kitab disebut tanda-tanda di 31:2, sehingga satu kata menyatukan apa yang dibaca dan apa yang dilihat. Ayat 31:7 memuat kata yang sama dalam (آيَاتُنَا, aayaatunaa) yang berarti "tanda-tanda Kami", yang dibacakan kepada orang yang berpaling dengan menyombongkan diri. Tanda-tanda Kitab di 31:2 dan tanda-tanda Kami di 31:7 dengan demikian disebut di dekat dua jenis manusia, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan di 31:3 dan orang yang berpaling di 31:7.

Renungan dan Hikmah

  • Kitab di tujuh pembuka disifati jelas di lima tempat dan penuh hikmah di dua tempat, dan surah ini memilih yang kedua. Sifat penuh hikmah juga dikenakan pada Allah di 31:9, sehingga Kitab diperkenalkan lewat sifat yang di 31:9 dipakai untuk Allah. Pembaca yang mengharapkan sebuah bacaan terang benderang mendapati bahwa bacaan ini menyebut dirinya dengan kata lain, dan pembaca itu dapat memeriksa apa yang sebenarnya dicarinya dari sebuah bacaan, kejelasan atau hikmah. Apakah keduanya sama, dan apa yang terjadi pada pembaca yang menuntut yang pertama dari bacaan yang menawarkan yang kedua?
  • Kata tanda di 31:2 dipakai juga di 31:31 untuk kapal yang berlayar di laut dengan nikmat Allah, dan di sana Dia memperlihatkan sebagian tanda-tanda-Nya kepada mereka yang diajak bicara. Dua pemakaian itu menaruh tulisan dan kapal pada satu kata yang sama. Pembaca yang menganggap tanda hanya ada di halaman mendapati bahwa kata itu juga menunjuk benda yang ia lihat tanpa membuka mushaf. Ketika kapal dilihat sebagai tanda yang diperlihatkan Allah, bagaimana caranya pembaca memperlakukan benda-benda lain di sekitarnya yang selama ini lewat tanpa dipikirkan?
  • Susunan tanda-tanda itu memuat dua pemilik, yaitu Kitab di tujuh ayat pembuka dan Allah di 2:252, 3:108, dan 45:6. Di tiga ayat yang terakhir tanda-tanda Allah dibacakan dengan benar kepada pihak yang disapa, sedangkan di 31:2 yang disebut adalah tanda-tanda Kitab, tanpa kata kerja membacakan. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana teks sendiri memakai susunan yang sama untuk dua pemilik yang berbeda, tanpa menjelaskan hubungan keduanya di ayat ini. Jika sebuah tanda menunjuk kepada pemiliknya, ke arah mana pembaca memandang ketika membaca tanda-tanda Kitab, ke halaman atau ke Allah?
  • Akar kata hikmah muncul di 31:2 sebagai sifat Kitab dan di 31:12 sebagai sesuatu yang diberikan kepada Luqman, lalu ayat itu langsung memuat perintah bersyukur kepada Allah dan menyebut bahwa Allah berkecukupan lagi terpuji. Hikmah di sini tertulis sebagai sesuatu yang diterima dan tidak sebagai hasil yang diperoleh sendiri. Pembaca yang membandingkan 31:2 dengan 31:12 mendapati bahwa kata dasar yang sama dikenakan pada bacaan dan pada orang yang menerima bagian darinya. Apakah pembaca yang merasa telah memperoleh pemahaman dari bacaan ini menganggap pemahaman itu miliknya, atau bagian yang diberikan kepadanya?
  • Ayat 31:2 menyebut sifat Kitab tanpa menyebut siapa yang menerimanya, dan syarat penerima baru tertulis di 31:3, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan. Pembaca yang berhenti di titik 31:2 akan mendapat kesan bahwa sifat itu berlaku untuk siapa pun yang membuka halamannya. Pembaca yang terus ke 31:3 mendapati bahwa kalimat yang sama masih berlanjut dan membatasi siapa yang merasakan manfaatnya. Jarak satu ayat itu cukup untuk membuat dua kesan berbeda tentang bacaan yang sama. Apa yang terjadi pada penilaian pembaca tentang sebuah bacaan bila ia memutuskan menilainya sebelum kalimatnya selesai?
  • Sifat penuh hikmah di 31:2 dikenakan pada Kitab, lalu di 31:9 dan 31:27 dikenakan pada Allah bersama sifat digdaya. Pembaca yang menempuh surah ini menemukan bahwa sifat yang dipakai untuk menyebut bacaan juga dipakai untuk menyebut Allah, dan pengulangan itu hadir di tiga ayat yang berjauhan. Pembaca dapat menimbang apakah kepercayaan kepada sebuah bacaan diletakkan pada isinya, pada sifat yang dikenakan kepadanya, atau pada Allah yang disebut memiliki sifat yang sama. Bila sifat itu lebih dulu dikenal dari bacaan, apakah pembaca lalu mengenali Allah lewat sifat itu?