خَالِدِينَ فِيهَا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Mereka kekal di dalamnya sebagai janji Allah yang benar. Dia Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. خَالِدِينَ فِيهَاkhaalidiina fiihaamereka kekal di dalamnya
  2. وَعْدَ اللَّهِ حَقًّاwa'da llaahi haqqansebagai janji Allah yang benar
  3. وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-huwa l-'aziizu l-hakiimuDia Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. خَالِدِينَkhaalidiinakekal
  2. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  3. وَعْدَwa'dajanji
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. حَقًّاhaqqansebagai kewajiban
  6. وَهُوَwa-huwadan Dia
  7. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
  8. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah

Inti bacaan

Susunan (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) muncul dua belas kali di Al-Qur'an (14:4, 16:60, 29:42, 30:27, 31:9, 35:2, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 61:1, 62:3).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (خَالِدِينَ فِيهَا, khaalidiina fiihaa) yang berarti "mereka kekal di dalamnya". Kata (خَالِدِينَ, khaalidiina) berakar خ-ل-د dan berakhiran -iina yang menandai orang banyak, yaitu orang-orang yang disebut di 31:8. Kata ganti -haa pada (فِيهَا, fiihaa) berbentuk perempuan tunggal dan menunjuk taman-taman di ayat sebelumnya, sehingga terjemahan menulis "di dalamnya". Susunan (خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا, khaalidiina fiihaa abadan) muncul sebelas kali di delapan surah, yaitu 4:57, 4:122, 4:169, 5:119, 9:22, 9:100, 33:65, 64:9, 65:11, 72:23, dan 98:8, dengan surah 4 memuatnya tiga kali dan surah 9 dua kali. Di 31:9 kata (أَبَدًا, abadan) tidak ada, dan terjemahan tidak menambahkan "selama-lamanya" seperti pada terjemahan 4:122.

Kata (وَعْدَ, wa'da) yang berarti "janji" berakar و-ع-د, dan kata (حَقًّا, haqqan) yang berarti "yang benar" berakar ح-ق-ق. Susunan (وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا, wa'da llaahi haqqan) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 4:122, 10:4, dan 31:9, dan terjemahan memakai "janji Allah yang benar" di ketiganya. Di 4:122 janji itu mengikuti kalimat tentang orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang kekal di taman-taman, sedangkan di 10:4 janji itu mengikuti kalimat tentang tempat kembali semua orang. Kata haqqan ada juga di (وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا, wa'dan 'alayhi haqqan) yang berarti "janji atas-Nya yang benar", dua kali di dua surah, yaitu 9:111 dan 16:38.

Kata haqqan berarti lain ketika disusul (عَلَى, 'alaa) yang berarti "atas". Susunan (حَقًّا عَلَى, haqqan 'alaa) muncul tiga kali di satu surah, yaitu 2:180, 2:236, dan 2:241, dan terjemahan memakai "sebagai kewajiban bagi". Di 31:9, berbeda dari pola itu, tidak ada 'alaa sesudah haqqan, sehingga bacaan "kewajiban" tidak dipakai dan haqqan menerangkan janji itu sendiri.

Sifat yang sama diucapkan dalam bentuk lain di (إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ, inna wa'da llaahi haqqun) yang berarti "sesungguhnya janji Allah itu benar", delapan kali di tujuh surah, yaitu 10:55, 30:60, 31:33, 35:5, 40:55, 40:77, 45:32, dan 46:17, dengan surah 40 memuatnya dua kali. Di delapan ayat itu haqqun berdiri sebagai pernyataan sendiri sesudah inna, sedangkan di 31:9 haqqan melekat pada kalimat tentang kekekalan.

Kata (وَهُوَ, wa-huwa) yang berarti "dan Dia" memakai kata ganti tunggal laki-laki, dan di sini kata ganti itu kembali kepada Allah dari (اللَّهِ, llaahi) di kalimat sebelumnya. Dua sifat sesudahnya, (الْعَزِيزُ, l-'aziizu) dari akar ع-ز-ز dan (الْحَكِيمُ, l-hakiimu) dari akar ح-ك-م, sama-sama memakai kata sandang al-. Susunan (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu) muncul dua belas kali di sebelas surah, yaitu 14:4, 16:60, 29:42, 30:27, 31:9, 35:2, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 61:1, dan 62:3, dengan surah 59 memuatnya dua kali. Terjemahan memakai "Sang Digdaya" untuk l-'aziizu seperti di 14:4, 16:60, dan 30:27, dan "Sang Penuh Hikmah" untuk l-hakiimu.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dimulai di 31:8, karena tidak memuat pokok kalimat sendiri dan bergantung pada orang-orang yang di sana disebut. Isinya bergerak dalam tiga langkah: keadaan orang-orang itu, yaitu kekal di dalam taman-taman, lalu pemilik janjinya, yaitu Allah, lalu dua nama yang disebut untuk-Nya. Ayat 31:8 memberi isi janji tanpa menyebut pemberinya, dan 31:9 melengkapinya dengan nama itu.

Kalimat "janji Allah itu benar" muncul lagi di 31:33, tetapi di sana kalimat itu ditujukan kepada seluruh manusia lewat seruan (يَا أَيُّهَا النَّاسُ, yaa ayyuhaa n-naasu) yang berarti "wahai manusia", dan disusul larangan agar kehidupan dunia dan si penipu memperdaya kalian tentang Allah. Di 31:9 kalimat yang sama menutup kabar tentang kekekalan bagi orang-orang beriman, sehingga satu pernyataan dipakai dalam dua suasana, penutup kabar dan pembuka peringatan.

Dua nama di ujung ayat tidak disertai penjelasan mengapa keduanya yang dipilih. Dapat dibaca bahwa Sang Digdaya menopang janji dari sisi kemampuan menepatinya, dan Sang Penuh Hikmah dari sisi ketepatan isinya, tetapi pembacaan itu tidak dinyatakan oleh ayat. Kata ganti Dia yang membuka bagian terakhir ini tidak disertai kata kerja, dan ayat 31:10 sesudahnya membuka dengan kata kerja bentuk tunggal laki-laki tanpa menyebut pelaku. Dapat dibaca bahwa pelaku itu adalah Dia yang disebut di ujung 31:9, tetapi 31:10 memang tidak menamainya.

Renungan dan Hikmah

  • Sebelas ayat menyambung kata kekal di dalamnya dengan kata selama-lamanya, dan 31:9 menyebut kekal tanpa kata itu. Kalimatnya menyatakan keadaan tanpa satuan waktu, tanpa hitungan tahun, tanpa batas, dan tanpa rincian tentang apa yang dikerjakan di dalam. Pembaca yang terbiasa menilai sesuatu dari berapa lama sesuatu berlangsung menemukan bahwa ayat ini tidak memberinya ukuran untuk dihitung. Bagaimana pembaca menimbang sebuah tawaran yang berlangsung singkat bila yang ditawarkan ayat ini tidak diukur dengan waktu?
  • Sifat benar pada janji di 16:38 diucapkan sebagai jawaban atas orang-orang yang bersumpah bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati, dan jawaban itu berupa janji atas-Nya yang benar. Di 9:111 susunan yang sama menyertai kalimat tentang orang-orang mukmin yang diberi taman. Satu sifat dipakai di satu ayat untuk menjawab penolakan dan di ayat lain untuk menguatkan orang yang menerima. Pembaca yang pernah memegang janji yang diragukan banyak orang dapat menimbang apakah kepastian sebuah janji bergantung pada siapa yang mempercayainya. Apakah sebuah janji berubah kebenarannya ketika semua orang di sekitarnya meragukannya?
  • Di 4:122 janji Allah yang benar disusul pertanyaan "siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?", sedangkan di 31:9 disusul dua nama, Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah. Dua ayat itu menopang janji yang sama dengan dua cara: pertanyaan yang menunggu jawaban pembaca, dan nama-nama yang diucapkan langsung. Pembaca yang diminta mempercayai sebuah janji dapat memeriksa cara mana yang lebih meyakinkannya, pertanyaan yang dijawabnya sendiri atau pernyataan yang diterimanya. Bila pembaca membutuhkan jawaban yang ditemukan sendiri, apa yang akan dikatakannya tentang pertanyaan di 4:122?
  • Dia disebut dengan dua nama di ujung ayat, dan dua nama itu berbeda sifatnya: Sang Digdaya dapat dibaca sebagai daya untuk menepati, Sang Penuh Hikmah sebagai ketepatan isi yang dijanjikan. Pembaca yang pernah menerima janji dari seseorang dapat menandai dua pertanyaan yang muncul di benaknya, mampukah janji itu ditepati dan pantaskah isinya. Ayat ini menaruh dua nama itu di ujung, seakan-akan menjawab keduanya sebelum ditanyakan. Bila pembaca sendiri yang berjanji, nama sifat apa yang rela ditaruhnya di ujung janji itu sebagai jaminan?
  • Sifat benar pada janji Allah di 31:9 diucapkan lagi di 31:33 dalam bentuk lain, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan di sana menyusul larangan agar kehidupan dunia dan si penipu memperdaya kalian tentang Allah. Pernyataan itu tidak membawa nada yang sama di dua tempat: di 31:9 pernyataan itu berada di tengah kabar tentang taman, di 31:33 berada di depan sebuah peringatan. Pembaca dapat memperhatikan kapan janji terasa seperti hiburan dan kapan terasa seperti pengingat. Pada saat apa dalam sehari janji Allah terasa lebih dekat sebagai hiburan, dan pada saat apa sebagai pengingat?
  • Ayat 31:8 menyebut taman-taman itu sebagai milik lewat kata bagi mereka, dan 31:9 menyebutnya sebagai tempat yang tidak ditinggalkan lewat kata kekal di dalamnya. Dua kata itu menaruh taman pada dua hubungan dengan orang-orangnya, hubungan memiliki dan hubungan berdiam. Pembaca yang punya rumah dapat mengenali dua hubungan itu pada rumahnya sendiri, yaitu yang tertulis di surat kepemilikan dan yang dirasakan ketika pulang. Bila hanya satu yang boleh dipilih untuk menggambarkan hubungannya dengan rumah itu, mana yang akan dipilih, dan siapa yang tinggal di dalamnya selain pembaca?