وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan itu benar-benar kezaliman yang agung.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُwa-idz qaala luqmaanu li-bnihi wa-huwa ya'izhuhudan ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya
- يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِyaa bunayya laa tusyrik bi-llaahiwahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah
- إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌinna sy-syirka la-zhulmun 'azhiimunsesungguhnya, mempersekutukan itu benar-benar kezaliman yang agung
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- قَالَqaalaberkata
- لُقْمَانُluqmaanuLuqman
- لِابْنِهِli-bnihikepada anaknya
- وَهُوَwa-huwasedang ia
- يَعِظُهُya'izhuhumenasihatinya
- يَاyaawahai
- بُنَيَّbunayyaanakku
- لَاlaajanganlah
- تُشْرِكْtusyrikengkau mempersekutukan
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- إِنَّinnasesungguhnya
- الشِّرْكَsy-syirkamempersekutukan
- لَظُلْمٌla-zhulmunbenar-benar kezaliman
- عَظِيمٌ'azhiimunyang agung
Inti bacaan
Susunan (لَظُلْمٌ عَظِيمٌ, la-zhulmun 'azhiimun) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 31:13.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ, wa-idz qaala luqmaanu) yang berarti "dan ketika Luqman berkata". Susunan (وَإِذْ قَالَ, wa-idz qaala) muncul sembilan belas kali di dua belas surah, yaitu 2:30, 2:54, 2:67, 2:126, 2:260, 3:42, 5:20, 5:116, 6:74, 7:164, 14:6, 14:35, 15:28, 18:60, 31:13, 33:13, 43:26, 61:5, dan 61:6, tetapi dengan Luqman sebagai pelaku kata kerjanya hanya di 31:13. Kata (إِذْ, idz) menyebut waktu terjadinya ucapan, sehingga terjemahan memakai "ketika". Ayat ini tidak memuat kata perintah (اذْكُرْ, udzkur), dan terjemahan tidak menambahkan "ingatlah".
Kata (لِابْنِهِ, li-bnihi) yang berarti "kepada anaknya" tersusun dari huruf li yang berarti "kepada", kata ibn yang berarti "anak", dan akhiran -hi yang berarti "-nya". Nama anak itu tidak disebut. Di dalam ucapannya Luqman memakai (يَا بُنَيَّ, yaa bunayya) yang berarti "wahai anakku", sapaan dari akar ب-ن-ي, akar yang sama dengan ibn. Sapaan itu muncul enam kali di empat surah, yaitu 11:42, 12:5, 31:13, 31:16, 31:17, dan 37:102. Di keenam ayat itu penuturnya seorang ayah dan lawan bicaranya anaknya sendiri: Nuh di 11:42, ayah Yusuf di 12:5, seorang ayah di 37:102 yang dijawab anaknya dengan (يَا أَبَتِ, yaa abati) yang berarti "wahai ayahku", dan Luqman di tiga ayat surah ini. Terjemahan memakai "wahai anakku" di semua kemunculan itu.
Kata (وَهُوَ يَعِظُهُ, wa-huwa ya'izhuhu) yang berarti "saat dia menasihatinya" memuat kata kerja (يَعِظُهُ, ya'izhuhu) dari akar و-ع-ظ yang menandai perbuatan sedang berlangsung. Awalan wa pada (وَهُوَ, wa-huwa) menempelkan perbuatan itu pada ucapan Luqman, sehingga ucapan dan nasihat dibaca berjalan bersamaan. Kata kerja dengan dasar (يَعِظُ, ya'izhu) yang menempel pada kata ganti muncul lima kali, yaitu 2:231, 4:58, 16:90, 24:17, dan 31:13. Di empat ayat pertama pelakunya Allah dan yang dinasihati banyak orang, ditandai -kum, misalnya (يَعِظُكُمُ اللَّهُ, ya'izhukumu llaahu) yang berarti "menasihati kalian" di 24:17. Di 31:13 pelakunya Luqman dan yang dinasihati satu orang, ditandai -hu. Terjemahan memakai "menasihati" dan menyebut sasarannya lewat -nya.
Kata (لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ, laa tusyrik bi-llaahi) yang berarti "janganlah engkau mempersekutukan Allah" tersusun dari (لَا, laa) yang berarti "janganlah", kata kerja (تُشْرِكْ, tusyrik) dari akar ش-ر-ك, dan (بِاللَّهِ, bi-llaahi) yang berarti "dengan Allah". Larangan untuk satu orang dengan bentuk (لَا تُشْرِكْ, laa tusyrik) muncul dua kali, yaitu di 22:26 dan 31:13. Di 22:26 bunyinya (أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا, an laa tusyrik bii syay'an) yang berarti "janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun", ditujukan kepada Ibrahim, dan memuat kata (شَيْئًا, syay'an) yang berarti "apa pun". Di 31:13 kata itu tidak ada dan Allah disebut dengan namanya, sehingga terjemahan tidak menambahkan "apa pun". Kata kerja yang sama dalam bentuk (تُشْرِكَ بِي, tusyrika bii) yang berarti "engkau mempersekutukan Aku" kembali di 29:8 dan 31:15, dalam kalimat tentang paksaan kedua orang tua.
Kata (الشِّرْكَ, sy-syirka) yang berarti "mempersekutukan" memakai kata sandang al- dan berakar sama dengan tusyrik di kalimat sebelumnya. Bentuk bersandang itu muncul satu kali, di 31:13. Kata benda dari akar yang sama tanpa kata sandang, (شِرْكٌ, syirkun), muncul di 34:22, 35:40, dan 46:4, dan dengan awalan bi- di 35:14. Di tiga ayat pertama kata itu menyebut bagian yang dimiliki pihak selain Allah, misalnya (أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ, am lahum syirkun fii s-samaawaati) yang berarti "ataukah mereka mempunyai andil di langit" di 46:4, dan (مِنْ شِرْكٍ, min syirkin) yang berarti "andil apa pun" di 34:22. Di 35:14, (بِشِرْكِكُمْ, bi-syirkikum) yang berarti "kemusyrikan kalian", kata itu menyebut perbuatan orang yang diajak bicara. Terjemahan 31:13 memakai "mempersekutukan" sebagai nama perbuatan, karena kata sandang al- menunjuk kembali pada perbuatan yang baru dilarang di kalimat sebelumnya, tidak pada bagian yang dimiliki sebuah pihak.
Kata (لَظُلْمٌ عَظِيمٌ, la-zhulmun 'azhiimun) yang berarti "benar-benar kezaliman yang agung" memuat awalan (لَ, la-) yang berarti "benar-benar" dan menguatkan kalimat yang dibuka dengan (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya". Kata (ظُلْمٌ, zhulmun) yang berarti "kezaliman" berakar ظ-ل-م, dan (عَظِيمٌ, 'azhiimun) yang berarti "agung" berakar ع-ظ-م. Bentuk zhulmun dengan akhiran -un muncul satu kali, di 31:13. Terjemahan memakai "agung" untuk 'azhiimun, seperti pada (وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ, wa-lahum 'adzaabun 'azhiimun) yang berarti "dan bagi mereka azab yang agung" di 2:7. Di 4:48, (إِثْمًا عَظِيمًا, itsman 'azhiiman) yang berarti "dosa yang agung" menjadi sifat dosa bagi (وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ, wa-man yusyrik bi-llaahi) yang berarti "siapa pun yang mempersekutukan Allah". Susunan itsman 'azhiiman muncul satu kali, di 4:48, sehingga 31:13 dan 4:48 memakai sifat yang sama untuk perbuatan yang sama, yang satu dengan kata kezaliman dan yang lain dengan kata dosa.
Tafsiran
Ayat ini menaruh larangan mempersekutukan Allah di mulut seorang ayah, sesudah dua ayat yang berbicara kepada khalayak. Ayat 31:11 menantang orang menunjukkan apa yang diciptakan pihak selain Allah dan menyebut orang-orang zalim berada dalam kesesatan yang nyata, lalu 31:12 menyebut hikmah yang diberikan kepada Luqman, yaitu perintah bersyukur kepada Allah. Ayat 31:13 tidak mengulang tantangan itu dan tidak menyebut hikmah. Luqman mengucapkan satu larangan dan satu alasan, dan alasannya berupa penilaian: mempersekutukan itu kezaliman yang agung.
Kata zalim muncul dua kali dalam tiga ayat itu, yaitu orang-orang zalim di 31:11 dan kezaliman di 31:13, dan di seluruh surah ini akar ظ-ل-م hanya ada di dua tempat itu. Pembaca dapat meletakkan keduanya berdampingan, tetapi teks tidak menyatakan bahwa orang-orang zalim di 31:11 adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Tantangan serupa dengan 31:11 ada di 35:40 dan 46:4. Kedua ayat itu menyuruh orang memperlihatkan apa yang telah diciptakan pihak yang diseru selain Allah, lalu bertanya apakah mereka mempunyai andil di langit, dengan kata syirk yang akarnya sama dengan kata di 31:13. Ayat 31:11 tidak memuat pertanyaan tentang andil itu. Dalam surah ini akar ش-ر-ك baru muncul di mulut Luqman, di 31:13, lalu di 31:15.
Dari seluruh ucapan Luqman yang dikutip, larangan ini yang pertama. Perintah menegakkan salat baru dikutip di 31:17 dan larangan bersikap sombong di 31:18. Teks tidak menyatakan bahwa urutan kutipan sama dengan urutan Luqman mengajarkannya, dan hanya urutan kutipan dalam surah yang dapat dinyatakan. Suara Luqman juga terputus oleh dua ayat berikutnya, tempat suara berganti ke "Kami" di 31:14 dan "Aku" di 31:15, sebelum sapaan "wahai anakku" kembali di 31:16.
Renungan dan Hikmah
- Dari seluruh ucapan Luqman kepada anaknya yang dikutip surah ini, kalimat pertama berisi larangan mempersekutukan Allah, sedangkan perintah menegakkan salat baru dikutip di 31:17 dan larangan bersikap sombong di 31:18. Orang tua yang menasihati anaknya dapat menengok urutan kalimatnya sendiri, mana yang diucapkan lebih dulu dan mana yang ditunda ke percakapan berikutnya. Urutan kutipan belum tentu urutan ajaran, dan teks tidak menyatakannya demikian, tetapi susunan surah memperlihatkan bahwa hal yang mendahului di mulut Luqman berkaitan dengan Allah. Kalimat apa yang paling dulu didengar seorang anak dari orang tuanya tentang Allah?
- Larangan di 31:13 disusul langsung oleh alasan yang dibuka kata "sesungguhnya": mempersekutukan itu kezaliman yang agung. Larangan yang sama di 22:26 ditujukan kepada Ibrahim dan disusul perintah menyucikan Rumah, tanpa kalimat alasan. Kedua ayat itu tidak dibandingkan oleh teks, dan masing-masing berbicara kepada pihak yang berbeda. Pembaca yang pernah melarang sesuatu kepada orang yang lebih muda dapat membandingkan dua kebiasaan: melarang lalu menunggu, atau melarang lalu menyebut alasannya pada kalimat berikutnya. Apakah anak yang menerima larangan tentang Allah beserta alasannya mendengar sesuatu yang berbeda dari anak yang menerima larangan itu saja?
- Larangan itu didahului sapaan "wahai anakku", yang dalam enam kemunculannya di empat surah selalu diucapkan seorang ayah kepada anaknya sendiri, dan di surah ini terdapat pada tiga ayat. Sapaan itu menaruh hubungan di depan isi pembicaraan, sebelum kata larangan keluar. Orang tua yang hendak berbicara tentang Allah kepada anaknya dapat mengamati apakah sapaannya mendahului atau menyusul perintahnya, dan apa yang terjadi pada nada percakapan bila urutannya dibalik. Nama anak itu tidak disebut, dan pembaca yang membaca ayat ini sebagai anak maupun sebagai orang tua sama-sama menemukan tempat di dalamnya.
- Luqman memakai kata kezaliman untuk perbuatan mempersekutukan Allah, dan sifat agung yang menyertainya dipakai juga di 4:48 untuk dosa orang yang mempersekutukan Allah. Pembaca yang memikirkan hubungannya dengan Allah dapat bertanya pada tingkat apa ia menaruh perkara ini dalam penilaiannya sendiri, sebagai perbedaan pendapat, sebagai kekeliruan, atau sebagai kezaliman. Di dalam surah ini akar kata zalim hanya ada pada dua ayat, 31:11 dan ayat ini, sehingga pilihan kata itu tidak tersebar di banyak tempat dalam surah. Bagaimana sebuah perkara tentang Allah terasa berbeda ketika namanya berganti dari kekeliruan menjadi kezaliman?
- Ayat ini mengutip kata-kata Luqman dan tidak mengutip jawaban anaknya, berbeda dari 37:102, tempat jawaban sang anak, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu", dikutip berdampingan dengan ucapan ayahnya. Nasihat di 31:13 sedang berlangsung, sebagaimana kata "saat dia menasihatinya", dan teks tidak mencatat bagaimana anak itu menanggapi kata Allah yang muncul dalam sebuah larangan. Pembaca yang pernah menjadi anak dalam percakapan semacam itu dapat mengingat bahwa jawaban yang tidak terucap pun ada. Apa yang tinggal di dalam diri anak ketika nama Allah pertama kali ia dengar dalam bentuk sebuah larangan?
- Ayat 31:11 menyapa banyak orang dengan tantangan "perlihatkanlah kepadaku" tentang apa yang diciptakan selain Allah. Ayat 31:13 menyapa anak Luqman dengan larangan yang bersangkutan dengan Allah pula, tetapi tanpa tantangan, dalam suasana menasihati. Luqman tidak dikutip mengulang tantangan 31:11. Pembaca yang berbicara tentang Allah kepada orang yang berbeda dapat mencatat dua nada yang tersedia di surah ini: nada menguji bukti di depan khalayak dan nada menasihati di dalam keluarga. Apakah orang yang sama dapat membutuhkan kedua nada itu pada waktu yang berbeda?