وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan itu benar-benar kezaliman yang besar.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُwa-idz qaala luqmaanu li-bnihi wa-huwa ya'izhuhudan ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya
- يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِyaa bunayya laa tusyrik bi-llaahiwahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah
- إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌinna sy-syirka la-zhulmun 'azhiimunsesungguhnya, mempersekutukan itu benar-benar kezaliman yang besar
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- قَالَqaalaberkata
- لُقْمَانُluqmaanuLuqman
- لِابْنِهِli-bnihikepada anaknya
- وَهُوَwa-huwasedang ia
- يَعِظُهُya'izhuhumenasihatinya
- يَاyaawahai
- بُنَيَّbunayyaanakku
- لَاlaajanganlah
- تُشْرِكْtusyrikengkau mempersekutukan
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- إِنَّinnasesungguhnya
- الشِّرْكَsy-syirkakemusyrikan
- لَظُلْمٌla-zhulmunbenar-benar kezaliman
- عَظِيمٌ'azhiimunyang agung
Inti bacaan
Nasihat pertama Luqman kepada anaknya: 'janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan itu benar-benar kezaliman yang agung', pesan yang disampaikan dengan kelembutan personal ('wahai anakku') namun tegas dalam substansi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(Ingatlah)' untuk partikel 'idz' dihapus: diterjemahkan langsung 'dan ketika'. Tambahan '(Allah)' setelah 'mempersekutukan' dihapus: 'asy-syirka' berdiri sendiri sebagai kata benda, rujukannya sudah jelas dari bagian sebelumnya tanpa perlu diulang dalam kurung. Tanda kutip dibuka di ayat ini dan ditutup di akhir ayat ini juga: ayat 31:14-15 beralih ke suara Allah sendiri ('Kami', wasiat umum tentang orang tua), bukan lagi perkataan langsung Luqman kepada anaknya.
Tafsiran
Ayat ini membuka nasihat Luqman dengan prioritas paling mendasar: larangan syirik didahulukan sebelum semua nasihat lain, sebab mempersekutukan Allah disebut secara eksplisit sebagai 'kezaliman yang besar', bukan sekadar kesalahan biasa.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menampilkan tauhid sebagai butir pertama yang diajarkan seorang ayah kepada anaknya, mendahului nasihat-nasihat lain tentang orang tua, ibadah, dan akhlak yang menyusul; menempatkan urutan prioritas dalam mendidik generasi berikutnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. ' akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.